
Mobil taxi yang membawa Nora terus melaju diatas jalan raya. Dia baru saja dari rumah sakit dan berniat pergi ke rumah Daren untuk mencari tau bantuan apa yang diinginkan laki-laki itu darinya. Mungkin sebagai seorang model, tebak Nora sambil mengingat waktu di mana dia terpaksa dipotret menggunakan pakaian rancangan Micky.
Ponsel Nora berdering. Wajah Daren memenuhi layar ponselnya. Pria itu tidak berhenti menghubunginya sejak dia sampai di rumah sakit.
Daren : Nora, apa kau akan datang?
Nora melirik ke arah pesan di layar ponselnya. Segalanya semakin aneh. Nora tau Daren sangat menyayangi Micky sampai rela mengabulkan apa yang anak itu inginkan, tetapi menghubungi Nora seperti pegawai bank yang ingin menarik hutang dari nasabah, bukanlah hal yang wajar.
"Pak, tolong cepat sedikit!" kata nora kepada supir taxi yang langsung mengangguk dan menginjak pedal gas untuk menaikkan kecepatan.
Nora tidak mengangkat telpon Daren entah kenapa dia merasa tak perlu mendengar suara laki-laki itu karena beberapa menit kedepan mereka akan segera bertemu. Dia jadi teringat saat dia khawatir setengah mati melihat Daren dipukuli oleh para bandit di Dubai.
Saat itu adalah untuk pertama kalinya Nora merasa seluruh tubuhnya ikut sakit saat dia melihat orang lain sakit. Nora merasa ada sesuatu yang mengaitkan dirinya dan Daren sehingga perasaanya kepada Daren berubah menjadi lebih buruk. Setiap kali Nora melihat atau mendengar hal sekecil apapun tentang Daren, seperti kemeja biru langit, kamera, wajah datar dan dingin, dia langsung teringat akan Daren. Itu memabukkan, tetapi memuakkan.
"Sudah sampai, Nona!"
Nora terlonjak kaget. Dia mengerjapkan matanya dan menyadari taxi yang ia tumpangi sudah berhenti di depan sebuah gerbang besar nan mewah yang pernah ia datangi beberapa saat yang lalu.
Nora keluar dari taxi itu dan mengucapkan terima kasih. Dengan mudahnya, dia diberikan akses masuk oleh satpam yang sudah menunggu di depan gerbang. Nora tidak ingin datang dengan buru-buru meskipun Daren terus saja memanggilnya dan membuatnya berpikir ada hal mendesak, dia takut saat dia masuk ke dalam rumah itu, justru dia membuat kesalahan seperti yang pernah ia perbuat di hotel.
Nora menekan tombol bel. Dia menunggu sampai lima belas detik. Seorang pelayan berambut klimis dan digelung mengangguk hormat kepada Nora.
"S-saya Nora," kata Nora saat kedua tatapan mereka beradu cukup lama dalam diam.
"Masuk saja, sudah ditunggu Tuan Daren dan Nyonya."
Nora mengerutkan kening kebingungan. "Nyonya?" pikirnya. Dia langsung mengira Nyonya yang dimaksud adalah Ibu Daren. Seperti apa wanita itu? Dingin seperti Daren atau hangat seperti Micky? Nora menebak pilihan pertama. Tetapi dia sudah tidak punya pilihan selain maju ke depan dan menemui Daren apapun yang terjadi.
__ADS_1
Nora berjalan melewati lantai yang begitu luas. Dia dibawa ke sebuah ruangan. Micky memakai pakaian berwarna merah yang senada dengan topi di atas kepalanya. Menoleh antusias ke arah Nora.
"Hay!" sapa Micky. Berlarian ke arah Nora untuk memeluk Nora.
"Eh, hay." Nora menatap ragu ke arah Micky. Dia sedang menajamkan indra pendengarannya untuk menangkap kalimat-kalimat bernada keras dari ruangan sebelah.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Nora.
Micky menciutkan senyumnya. Menepuk dagu seolah mencari jawaban yang tepat. "Tidak, kecuali Daren ... ya, kau harus bantu Daren."
Nora tak sempat menjawab apa-apa saat Micky menarik lengannya untuk melewati ambang pintu ruang keluarga. Mereka berhadapan dengan Daren dan Nancy sekaligus. Perhatian langsung tertuju ke arah Nora, terutama tangannya yang dipegang erat oleh Micky, dan Micky tersenyum puas alih-alih takut padahal dia penakut dengan orang asing.
"Mom, ini Nora!" seru Micky membuat Nora kikuk.
"Ya, dia pacarku," sambung Daren membuat Nora membuka mulut terperangah.
"Kau tidak perlu carikan aku istri karena aku bisa mencarinya sendiri. Aku sudah menemukannya." Daren menggenggam lengan Nora dengan erat.
Nora masih tak mengerti keadaan seperti apa yang sedang ia alami saat ini. Pertama, Daren menghubunginya di luar jam kerja, Daren menghubunginya berkali-kali sampai Nora muak, lalu Micky bilang dia tak butuh pertolongan melainkan Daren, dan sekarang pria itu mengatakan di depan ibunya bahwa dia adalah pacar Daren yang akan dijadikan istri?
Nancy kehilangan kata-kata. Dia ingin memprotes hubungan Daren dan Nora karena dia sama sekali tidak latar belakang Nora, tetapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa karena Micky terlihat menyukai Nora.
"Maafkan aku, aku sedang berusaha berlindung. Dia akan menjodohkanku dengan perempuan asing," bisik Daren nyaris tak menggerakkan bibirnya saat tepat di telinga Nora.
Nora bisa merasakan kecemasan pada suara Daren. Nada suaranya seolah memohon kepadanya. Nora tidak tahan mendengar orang lain memintainya permohonanan.
"Eh ... Tante, aku dan Micky ... maksudku, aku dan Daren, kami ... kami saling mencintai. Dia juga berhak memilih hubungannya dengan siapa nantinya," kata Nora berusaha membantu Daren.
__ADS_1
"Di mana kau bekerja?" tanya nancy dengan nada datar.
"Aku di Viewna Entertainment."
Nancy terdiam, sama sekali tidak menyangka mendengar perusahaan itu disebutkan. Mungkin dia trauma dengan Nelan yang ia ketahui sebagai pengangguran dan hanya memanfaatkan Daren sebagai bank berjalan.
"Kami bertemu di sana." Nora menggigit lidah. Entah sudah berapa banyak kebohongan yang ia ucapkan, dia merasa berdosa.
"Aku akan menunggu kabar baik dari kalian," sahut Nancy akhirnya luluh. Dia berjalan dengan ekspresi lebih tenang keluar ruangan.
Micky berteriak histeris setelah tubuh Nancy menghilang di balik pintu.
"Akhirnya kau akan jadi kakak iparku." Micky memeluk Nora. "Itu benar, 'kan? Kalian saling mencintai? Kalian akan menikah?"
Nora dan Daren saling menatap kebingungan.
"Kami masih punya banyak pekerjaan yang harus dipikirkan selain menikah."
"Tapi aku ingin tinggal bersama Nora, Daren," sanggah Micky.
Daren tak bisa menjawab. Menolak perintah Micky adalah pantang baginya, jadi dia cuma diam saja.
Nora menatap Daren dan Micky satu persatu. Mengabaikan rasa tegangnya karena baru saja berbohong di depan orang lain, dia cukup gemas melihat bagaimana sikap Daren ketika dibuat membeku oleh adiknya. Ternyata sosok es batu, bisa lebih beku daripada es batu itu sendiri.
"Pergilah Micky, aku ingin berdiskusi dengan Nora," kata Daren.
"Berdiskusi?" Micky menaikkan sebelah alisnya. "baiklah, aku tidak akan ganggu. Jangan lupa pertimbangkan permintaan ku tadi, ya!" Lalu Micky menghilang dari ruang keluarga.
__ADS_1
Tersisa Daren dan Nora yang masih diliput canggung. Nora berusaha menetralkan rasa bersalahnya karena sudah berbohong. Dia ingin meminta Daren untuk tanggung jawab tentang kebohongannya, tapi mulutnya tidak bisa dia gunakan untuk bicara.