CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Micky Pergi


__ADS_3

Micky mengusap air mata di pipi Daren. Dia tidak terbiasa melihat kakaknya menangis, apalagi hanya karena melihat dia sakit sedangkan orang yang seharusnya lebih pantas Daren tangisi ada di sampingnya yaitu Nora.


"Berjanjilah untuk kembali!" kata Daren kepada Micky yang sudah mengenakan pakaian operasi dan siap dibawa oleh dokter pergi.


Micky tersenyum dan mengangguk. "Berjanjilah untuk selalu bersama dengan Nora!"


"Kami akan selalu bersama, intinya kau fokus pada dirimu sendiri. Kau harus berjuang. Kau mengerti?!" Nora ikut menyemangati Micky.


Micky mengangguk pelan-pelan. Giliran ayah dan ibunya yang memberinya beberapa pesan. Nancy menangis, sedangkan Krish cuma menatap pilu seolah tak ingin melepas Micky ikut dengan dokter ke ruangan operasi.


Nancy mencium puncak kepala Micky tanpa bisa mengatakan apa-apa. Krish mencium punggung tangan Micky dan tersenyum menenangkan.


"Aku tau kau bisa," kata sang ayah membuat Micky terharu.


Dokter menyampaikan kepada semua orang bahwa operasi akan segera dimulai dan Micky harus segera dibawa.


"Kau pasti bisa!" kata Daren ke arah Micky yang sedang menelan saliva karena gugup. Dua perawat meraih brangkarnya untuk bersiap dibawa keluar ruangan.


Micky sempat menatap Nora, Daren, dan kedua orang tuanya satu persatu. Lalu titik bening menetes di ujung matanya. Dia tidak tau apakah dia akan bisa bertahan atau tidak.


***


Waktu berjalan sangat cepat. Empat jam yang lalu Micky dibawa ke rumah sakit, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dokter akan keluar. Krish dan Nancy sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi karena beralasan tempat itu hanya akan membuat mereka semakin putus asa.


Daren dan Nora duduk di bangku tunggu. Daren tidak bicara atau pun mencuri perhatian Nora, dia tidak punya waktu untuk melakukan itu selagi pikirannya disita oleh keadaan Micky.


Nora menoleh ke arah Daren, lalu menatap arloji di tangannya. "Kau belum sarapan?" tanya Nora membuat daren agak menoleh. "Kita bisa ke kantin kalau kau mau."


Daren tidak lekas menjawab. Dia lebih dulu menatap ke arah pintu operasi yang masih tertutup rapat dan memperlihatkan lampu merah menandakan operasi masih berlangsung. Dia punya banyak waktu untuk makan sampai dokter keluar dari ruangan. Masalahnya, Daren kehilangan selera makan. Dia sudah tidak sabar mendengar berita bahwa operasi berjalan dengan lancar.

__ADS_1


"Daren, jangan paksa dirimu sendiri untuk mengobarkan kesehatanmu," pesan Nora.


Daren menghela napas. Meskipun dia dalam keadaan sedih dan tidak punya selera makan, dia akhirnya setuju karena menghargai bujukan Nora.


Akhirnya keduanya pergi ke kantin di lantai tujuh yang letaknya cukup jauh dari ruangan operasi. Nora senang, Daren masih peduli dengan kesehatannya. Dia sama sekali tidak peka Daren setuju hanya untuk menghargai permintaannya.


***


Daren dan Nora kembali lagi ke depan ruangan operasi. Mereka cuma menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam karena sudah tak sabar ingin mendengar hasil operasi Micky. Sang ayah dan ibu juga sudah berada di rumah sakit untuk menunggu hasil seperti Daren. Mereka bercakapan singkat dengan jarak cukup jauh dari Daren dan Nora.


Setelah hampir enam jam menunggu, akhirnya status di depan pintu menandakan bahwa operasi telah selesai. Daren bangkit dari duduknya, menunggu pintu besi itu menggeser membuka.


Orang tua Daren melakukan hal yang sama. Jantung mereka berdegup sangat kencang, tak sanggup mendengar apa yang akan dokter katakan.


Akhirnya yang ditunggu keluar juga. Pintu menggeser terbuka. Dokter keluar sambil melepas masker dan penutup rambut. Ekspresinya datar sehingga Daren tidak bisa memastikan dengan jelas apa yang terjadi.


"Semuanya berjalan lancar!" ungkap Dokter mendapat helaan napas panjang dari semua orang. "Kami sudah melakukan yang terbaik dan Micky berjuang sangat keras untuk keberhasilan operasi ini."


"Boleh kita menemuinya, Dokter?" tanya Daren sudah tak sabar.


Dokter mengangguk ragu. Ada sesuatu yang membuatnya menatap datar alih-alih tersenyum padahal kabar ini adalah kabar yang baik. "Maaf, Pak. Bisa ikut saya sebentar?" Dokter bicara kepada Krish yang sama-sama berekspresi datar.


Krish dan dokter meninggalkan ruangan itu untuk menuju ke ruangan lain. Tidak ada satupun yang curiga dengan mereka karena ketiga orang itu lebih dulu tak sabar melihat keadaan Micky.


Suasana ruangan masih gelap. Lampu operasi dan beberapa alat sedang dirapikan oleh perawat. Daren menyela di balik kursi untuk menatap wajah Micky yang tertutup masker oksigen. Dahinya terbalut perban sehingga wajahnya nyaris tak bisa dikenali.


Nora meraih lengan Micky yang sangat dingin. Dia melihat kedua mata tertutup itu. Terlihat menyedihkan.


Alat-alat medis berbunyi terus, menjadi satu-satunya suara yang mengisi kekosongan. DAren tak berhenti tersenyum karena akhirnya Micky akan kembali seperti semula setelah masa pemulihan nanti. Bebannya seakan menghilang begitu saja, dia merasa sangat-sangat lega sampai tak sabar mengajak Micky pulang dan melihat adiknya itu berangkat kuliah seperti sedia kala.

__ADS_1


Hampir lima belas menit, mereka berdiri dalam diam sambil menatap mata tertutup Micky dan mendengarkan alat-alat medis yang terus berbunyi.


Kelopak mata Micky bergerak-gerak. Itu membuat Daren seketika terlonjak. Dia menepuk bahu ibunya untuk memberitahu tanda Micky akan sadar itu. Nora tersenyum takjub.


Bunyi alat medis di samping Micky semakin nyaring. Daren tidak tau artinya, tetapi dia yakin ini adalah pertanda baik.


Kedua mata Micky membuka sempurna. Sorotan dari dalam sana terlihat cerah seolah dia sedang tidak sakit. Sayangnya, dia tidak bisa bicara ataupun sekedar memperlihatkan senyum karena setengah wajahnya tertutup masker oksigen. Hanya tangannya yang masih berada di genggaman Nora, bergerak-gerak untuk menahan Nora sangat erat.


Nora menatap cemas alih-alih bahagia seperti Daren dan ibunya.


Beberapa saat kemudian, Krish datang dengan ekspresi datar. Dia baru saja bicara dengan dokter. Pembicaraan itu yang membuatnya terlihat pasrah. Tidak ada sedikitpun raut senyuman di wajahnya.


Kedua bola mata Micky menatap satu persatu orang yang ada di sekelilingnya. Tangannya yang memegang Nora semakin erat dan suara monitor semakin nyaring.


"Beristirahatlah!" kata Daren. "Operasinya berhasil."


Micky menggerakkan bola matanya lagi. Ada sesuatu yang tidak beres. Dia ingin mengungkapkan sesuatu seandainya dia bisa melakukannya. Sayangnya, dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain memperlihatkan kecemasan lewat sorotan matanya.


Micky menggeserkan bola matanya ke arah Nora, berharap Nora tau rasa sakit yang sedang dia rasakan saat ini.


Nora paham apa yang sedang Micky sampaikan lewat matanya. Nora menatap iba melihat air mata Micky berjatuhan. Ini bukanlah hasil operasi yang Nora harapkan.


Pegangan tangan Micky semakin lama semakin melemah. Suara monitor yang semula putus-putus, kini berbunyi makin kencang. Senyum Daren pudar ketika melihat kedua mata Micky sayup-sayup menutup. Nora sudah lebih dulu menangis, apalagi Nancy, dia sudah sesenggukan di pelukan sang suami.


"Micky!" sapa Daren untuk memastikan Micky baik-baik saja. "MICKY!" seru Daren saat monitor di samping brankar menunjukkan garis lurus. Bunyi dengung itu membuat tangis Daren pecah.


Mata Micky sudah menutup dengan sempurna, tangannya terkulai lemas. Seluruh darahnya telah berhenti mengalir.


"Micky!" isak Daren tak peduli dia terkenal sebagai seorang yang dingin dan tak berperasaan.

__ADS_1


Nora menutup mulut tak menyangka. Micky telah tiada.


__ADS_2