
Tangan Micky terpasang sebuah infus yang menusuk pergelangan tangannya di bagian pembuluh darah. Selang oksigen menjuntai di hidung Micky. Darena tidak tega melihat gadis ceria itu berada dalam keadaan seperti ini. Dia tidak berhenti mengalihkan pandangan setiap rasa ibanya sudah berada di puncaknya. Mick adalah segalanya baginya, apa yang bisa mengalahkan Micky dari prioritasnya selama ini?
"Bagaimana , Dokter?" tanya Daren setelah dokter selesai memeriksa Micky dengan berbagai alat medisnya.
Daren tau dia tidak akan mendapatkan kabar baik, terlihat dari cara Dokter yang menatapnya dengan ekspresi tak mendukung. Daren menghela napas kecewa sebelum mendengar pernyataan apapun dari dokter.
"Saya ingin mengatakan bahwa ini adalah kabar buruk," kata dokter membuat Daren ingin tau lebih banyak tentang keadaan Micky.
"Ada lebam-lebam dan luka di sekujur tubuhnya, saya bisa memastikan itu adalah pukulan dan beberapa tindakan kekerasan."
DAren menatap tak percaya.
"Karena usianya yang masih muda, saya yakin dia mengalami pembullyan."
"Pembullyan?" Daren mengalihkan pandangan untuk memikirkan teori dalam otaknya. Kenapa Micky dibully? Dia gadis ceria yang punya banyak teman, dia sering cerita teman-temannya selalu baik dengannya. Jika Micky berbohong, kenapa baru sekarang Daren melihat luka-luka itu tubuh Micky?
Oh tidak, Daren ingat satu hal. Kasus video itu pastilah penyebab pembullyan yang dialami Vicky, itu adalah kemungkinan yang paling tepat.
Daren mengepalkan tangannya sangat erat.
"Masih ada yang lebih buruk, Tuan!" kata Dokter dengan nada lebih rendah.
Daren menatap tegang.
"Micky mengalami cedera parah di kepalanya yang berkaitan langsung dengan sumsum tulang belakang dan saraf di otaknya. Saya sngat menyesal mengatakan, kemungkinan dia tidak akan bisa berjalan."
Daren menurunkan ketegangan di kedua bahunya. Bukan karena dia lega, melainkan karena dia tak bisa berkata apa-apa.
"Dokter ...," kata Daren akhirnya. "Tolong, berikan pengobatan terbaik untuknya. Aku akan berusaha mencari tau apa yang terjadi. Tolong, Dokter!" Daren tidak malu memohon kepada orang lain jika itu demi adiknya.
__ADS_1
"Kami akan berikan yang terbaik. Kami juga berharap tubuhnya merespon dengan cara yang terbaik." Dokter menepuk bahu Daren untuk memberikan ketenangan. Dia tersenyum singkat lalu meninggalkan ruangan.
DAren mendekat ke arah brankar. Menatap tangan kecil adiknya yang biasanya terangkul di bahunya ketika mereka duduk bersama. Kini tangan itu tergeletak tak berdaya.
"Siapapun yang membuatmu berada dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan mengampuninya." Daren menyuruh Juan dan Doni menjaga Micky di dalam ruangan, sementara dia kembali ke rumah untuk menginvestigasi ponsel Micky. Pasti ada petunjuk di dalam ponsel itu.
Daren mengendarai mobil hingga sampai di rumah. Dia berjalan masuk dan menuju ke kamar Micky. Keantusiasan untuk kembali ke kantor telah dia lupakan, dia lebih tertarik mencari tau si pembully yang akan segera Daren mintai pertanggujawabannya.
Daren meraih ponsel di dalam tas. Dia beruntung ponsel itu tidak dikunci dengan sandi. Dia langsung membuka nomor-nomor terbaru yang Micky hubungi.
Seluruh chat sudah dibersihkan, tetapi ada satu nomor yang berada di urutan paling atas. Nomor itu lima belas kali menghubungi Micky, dan Micky menjawabnya beberapa kali.
Nomor itu bertuliskan : Bu Andin SMA Taruna Putri
Sma Taruna Putri? Itu adalah tempat Micky lulus setahun yang lalu, pikir Daren. Siapa Bu Andin? Daren melihat nomor Andin untuk menatap foto profil perempuan itu.
"Mungkin dia guru SMA Micky," Daren menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam otaknya sendiri.
Daren menemukan kejanggalan di dalam otaknya. Dia harus tau semua jawaban dari kejanggalan-kejanggalan itu. Dia keluar dari rumah untuk menuju mobilnya. Dia akan pergi ke Sma Taruna Putri, tempat wanita bernama Andin itu berada.
Terakhir kali Daren pergi ke Sma ini adalah di hari kelulusan Micky. Dia menghadiri undangan untuk menemani Micky dan jadi sorotan beberapa wali murid maupun teman-teman Micky. Untung saja saat itu Daren membawa serta dua anteknya sehingga dia tetap aman dan bisa menikmati acara sampai selesai. Tetapi kali ini Daren cuma sendiri, dan dia punya misi yang aneh. Dia ingin mencari tau tentang Micky, dari seorang guru Sma.
Daren memarkirkan mobilnya di tengah barisan yang penuh dengan kendaraan para siswa. Tanpa pikir panjang, dia melewati koridor yang saat itu penuh dengan para siswa berkeliaran. Daren sudah terbiasa jadi pusat perhatian. Namun entah kenapa, kali ini dia merasa risih diperhatiakn oleh gadis-gadis seumuran adiknya.
Daren menemukan ruang guru yang saat itu ramai karena jam menunjukkan waktu istirahat. Ini kesempatan besar bagi Daren untuk bisa menemui sosok bernama Andin itu.
"Selamat siang!" sapa Daren saat di mengunjungi ruang Tu di samping ruang guru.
Petugas tu yang merupakan seorang wanita bertubuh gemuk mendekati Daren dengan ekspresi antusias. "Ya, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Saya ingin bertemu dengan Bu Andin," sahut Daren terus terang.
Wanita itu tampak terkejut mendengar tujuan Darena datang ke sini. Andin bukanlah guru yang mencolok diantara guru-guru yang lain, mendengar namanya dicari oleh CEO muda terkenal adalah sesuatu yang langka baginya.
"Silahkan duduk, saya akan panggilkan!" kata wanita itu sambil menunjuk sofa di tengah ruangan.
Daren duduk di sofa itu untuk sekedar menghela napas. Beberapa saat kemudian, dia bisa melihat sosok bernama Andin yang sering berhubungan dengan adiknya lewat telfon itu. Daren agak terperangah melihat kemiripan Andin dengan Nora, lalu dia menyadarkan diri sendiri, bahwa dia selalu melihat Nora dimana-mana.
"Saya Andin!" kata Andin dengan nada tegang bercampur heran. Duduk di hadapan Daren. Berusaha berpikir positif. Selama ini dia tau tentang Daren tentang Nora. Melihat reaksi Daren saat melihatnya, membuat Andin yakin Daren tidak tau kalau dia adalah kakaknya Nora.
"Saya ingin tau ada hubungan apa antara Anda dengan adik saya, Micky?" Daren menatap penuh selidik.
Andin menurunkan ketegangan. Dia pikir kedatangan Daren untuk membahas hubungan Daren dengan Nora. "Oh, Micky? Dia gadis yang sangat baik."
"Kau menghubunginya 15 kali selama seminggu terakhir, kenapa?"
Nadin agak tersenyum. "Dia konsultasi tentang pembelajaran di kampus bersamaku."
"Konsultasi?" Daren belum menurunkan intensitas curiganya.
Andin semakin yakin ada yang tidak beres. "Ya, dia agak kesulitan dalam pembelajaran. Aku sering memberinya tips dan beberapa pesan."
"Apa saja yang sering dia ceritakan padamu?"
Andin mengalihkan pandangan. Sekarang dia menemukan ada keganjilan dari nada suara Daren yang mengintimidasi. "Bagaimana dia belajar di kampus, teman-temannya, dia bahkan meminta konsultasi psikologis dariku."
"Kalian pernah bertemu?"
Andin menggeleng. Berusaha tersenyum. "Tidak, terakhir kali kami bertemu satu tahun lalu. Saat dia masih jadi siswa di sekolah ini."
__ADS_1
"Kau sering mendengar cerita darinya. Jadi, kau pasti tau siapa yang memukul dan membully-nya hingga dia mengalami cedera?"
"Apa? Dia cedera?"