CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Dua kemungkinan


__ADS_3

Ini adalah hari pertama Nora akan berangkat di kantor Daren. Semua anggota keluarga sudah tau bahwa dia dapat pekerjaan, karena itulah Eza tidak lagi mencibir tentangnya setiap kali sedang membawa koran di ruang makan.


Nora mendapatkan bagian di departemen informasi, seperti yang dikatakan Daren kemarin. Nora sangat kaget melihat kebanyakan dari orang-orang di sana adalah laki-laki, dan beberapa dari mereka sering Nora lihat membully-nya di media sosial karena video viral tentang Daren itu.


Nora berusaha menguatkan diri untuk bersikap normal. Kantor ini memang punya peraturan yang lebih ketat daripada tempatnya bekerja dulu. Dia berusaha menyesuaikan diri agar tidak ketinggalan dengan karyawan lain.


"Hey!" sapa seorang laki-laki berkacamata yang seumur-umur belum pernah Nora temui. "Aku dengar, kau mau menikah dengan bos. Jadi, apa yang membuatnya beralih menyukaimu padahal kau sudah mempermalukannya? Jangan-jangan kau hamil anaknya?"


Nora membelalak terkejut. "Tolong jaga mulutmu!"


Pria iu tertawa. "Aku tau tipe-tipe gadis sepertimu. Mereka ada banyak di dunia ini dan bisa ditemukan di mana saja."


Nora menyipitkan mata. Merasa tak terima dikatain seperti itu. "Oh, jadi kau playboy kelas kakap yang selalu berhubungan dengan para gadis, karena itulah kau tau banyak tentang tipe-tipe gadis di dunia ini?"


Pria itu menyiutkan senyumnya dan beralih menatap emosi. "Jangan tuduh sembarangan!"


"Kalau begitu, jangan menuduhku sesuka hatimu," sahut Nora dengan nada emosi.


"Ada apa ini?" tanya wanita ketua departemen informasi sambil mengawasi Nora dan pria playboy itu. "Jangan bertengkar di jam kerja. Lanjutkan pekerjaan kalian!" perintahnya membuat Nora menarik kursinya jauh-jauh dari area toxic itu. Untung saja saat itu Daren datang entah dari mana untuk mengajaknya pergi dari ruangan itu.


Nora mengikuti Daren dan berhenti di lobi utama. Ekspresinya masih terlihat kesal, tapi bukan karena DAren. Melainkan karena di pria yang sudah menghinanya tadi.


"Bagaimana pengalaman kerja di hari pertamamu?" tanya Daren.


"Buruk."


"Kenapa?"


Nora menghela napas panjang. "Kenapa?" tanyanya balik. "Kenapa kau menyuruhku datang ke sini di jam kerja?"


"Pihak rumah sakit baru saja meneleponku, mereka bilang Micky meminta kita untuk datang ke rumah sakit nanti sore. Aku cuma memastikan kalau kau bisa datang."


Nora memikirkan kesempatan itu. Sejak Micky sakit, dia lebih sering datang ke rumah sakit. Itu artinya, dia semakin sering dekat dengan Ravka. "Baiklah, aku akan datang."


"Bagus, kita akan datang ke sana."


"Tapi ... Micky baik-baik saja, 'kan?" tanya Nora yang agak heran.


Daren mengedikkan bahu. Tersenyum tenang.

__ADS_1


Nora menghela napas lega. Dia masih belum tau tentang luka cedera di otak Micky dan masih menganggap Micky cuma sakit ringan.


***


Micky menyugar rambutnya. Helaian tajam rambut itu menusuk kening dan pipinya. Dia benar-benar sudah tidak tahan ingin bangkit dari ranjang ini dan beraktifitas seperti sedia kala, tetapi seluruh tubuhnya tidak mendukungnya untuk bisa bangkit lagi.


Micky merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, yang membuatnya semakin memburuk dan terus memburuk. penglihatan Micky semakin pudar dan kepalanya selalu terasa sakit. Bahkan kemarin dia nyaris tidak mengenali teman dekatnya sendiri yang biasa menemainya di kampus.


Satu-satunya hal yang membuat Micky tetap tersenyum adalah kedatangan dua orang yang selalu dia tunggu. Daren dan Nora sudah berada di hadapannya. Mereka tersenyum hangat ke arahnya.


"Kami akan menikah!" kata Daren membuat Micky tak bisa menyembunyikan senyum bahagia di tengah rasa sakitnya.


"K-kapan?" tanya Micky dengan nada sayu.


"Tidak lama lagi."


Micky melirik ke arah Nora yang mengangguk. Dia melihat ada keterpaksaan di sela-sela senyuman Nora. Meskipun begitu, dia tetap lega.


"Kalian tidak bercanda, 'kan?" Micky menyipitkan mata, menatap penuh selidik.


"Tidak," sahut Nora membuat Micky semakin yakin dengan kalimat Daren.


Micky memaksakan diri untuk tertawa. "Aku sudah sembuh, Daren dan dokter yang melarangku untuk pulang."


Nora tertawa kecil. Daren menggeleng tak kentara. "Kita tunggu keputusan dokter sampai kau boleh pulag, baru aku akan membawamu kembali."


Micky memperlihatkan ekspresi kesal.


***


Daren dipanggil oleh dokter ke ruangan saat Daren berencana untuk berjalan pulang karena Micky butuh istirahat. Nora ikut masuk ke ruangan karena dia akan pulang bersama DAren.


Lagi-lagi, ekspresi dokter tak sebahagia biasanya. Ada kabar buruk yang akan segera sampai ke telinga Daren. Daren tidak siap menerima kabar buruk itu.


Dokter memperlihatkan layar tabletnya tanpa bicara apa-apa. Daren sudah tau apa maksud dokter. Dia menatap ke arah layar, di samping, Nora cuma bengong-bengong tak mengerti.


"Lukanya melebar?" tanya Daren.


Dokter mengangguk tak tega. "Ternyata obat-obatan tidak mencegah luka itu semakin melebar."

__ADS_1


Daren menunduk sedih. Menyerahkan tablet kepada dokter lagi. "Langkah apa selanjutnya, Dokter?"


"Tidak ada jalan lain selain operasi."


"Tunggu!" sela Nora dengan ekspresi syok. Selama ini dia tau bahwa Micky cuma mengalami luka ringan, lalu kenapa sekarang Daren sedih melihat gambar enam lapisan otak di layar tablet yang menunjukkan kerusakan. Apakah itu adalah penggambaran luka di kepala Micky? "Siapa yang operasi?"


"Micky," sahut Daren tak bersemangat.


"Dia mengalami luka serius karena pembullyan itu, Nona."


Rasa bersalah Nora semakin menjadi-jadi. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendengar kabar ini.


Dokter berusaha terlihat tegar. "Apa kau siap menerima konsekuensinya, jika adik Anda dioperasi?"


Daren menatap datar ke arah dokter. Ada luka sangat dalam yang sedang dia sembunyikan di dalam hatinya. "Konsekuensi apa, Dokter?"


"Aku tidak suka mengatakannya dengan jujur. Operasi ini sangat berisiko, apalagi Micky baru berusia sembilan belas tahun."


"Apa yang akan terjadi?" Daren semakin penasaran.


"Hanya ada dua kemungkinan, operasi berhasil atau gagal."


"Bagaimana jika gagal?" dada Daren turun naik tak karuan. Emosinya sudah mencapai tenggorokan.


"Mari kita berpikir positif. Jangan sampai operasi itu gagal."


Daren menunduk lagi. "Aku tidak siap menerima risiko itu, Dokter."


Nora menatap iba ke arah Daren. Untuk pertama kalinya dia melihat Daren patah semangat separah ini.


"Jika dibiarkan dalam keadaan seperti itu tanpa operasi, justru risikonya lebih besar," sahut dokter berusaha tenang.


Daren bangkit dari duduknya sebelum mencapai kesepakatan. Pikirannya kacau dan dia butuh waktu untuk terhindar dari seluruh masalah yang sedang menghadapinya.


Nora buru-buru menyusul Daren untuk menenangkan pria itu. Dia sempat meminta maaf karena tingkah kurang sopan Daren.


Nora berhenti di kursi tunggu karena Daren duduk sedang duduk di sana untuk melamun dan berkecamuk dengan pikiran sekaligus rasa sedihnya.


"Terkadang kita harus memilih antara dua pilihan yang punya risiko yang sama. Jangan sampai kau tidak memilihnya," pesan Nora.

__ADS_1


Daren bangkit dari duduknya untuk memeluk Nora sangat erat. Dia sudah tidak tahan untuk menahan rasa sedihnya. Untuk pertama kalinya Nora menerima pelukan itu dengan senang hati, bahkan dia menautkan lengannya sangat erat ke punggung Daren agar pelukan mereka tidak terlepas begitu saja.


__ADS_2