CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Menggunjing Darren.


__ADS_3

"Pergilah, aku baik-baik saja," pesan Daren saat Nora menatap cemas ke arahnya. "Aku hanya butuh sendiri selama beberapa saat."


"Kau yakin?" Nora menatap iba. "Panggil aku kalau kau butuh sesuatu."


Daren mengangguk mengerti. Ekspresinya terlihat tak bersemangat. Nora terpaksa meninggalkannya sendirian. Dia menutup pintu ruangan itu untuk memberi Daren privasi.


Barulah Nora mengikuti si laki-laki berambut coklat yang akan segera menuntutnya ke sebuah ruangan jauh dari ruangan Daren.


Isaiah berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya agak terbuka. Nora agak mengintip ke dalam, dia bisa merasakan aura kemewahan meskipun belum masuk ke dalam sana.


"Aku lupa siapa namamu," kata Isaiah sambil menggaruk tengkuknya.


"Aku Nora."


"Oh ya, Nora. Selamat datang di rumah ini."


"Terima kasih."


"Ini ruanganmu. Kau bisa panggil aku kalau butuh sesuatu."


Nora mengangguk mengerti. Dia masuk ke dalam kamarnya, tetapi Isaiah tak kunjung pergi. Pria itu menoleh ke arah Nora dengan wajah penasaran.


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada kalian berdua. Tunggu, sebelum aku tau tentang kasus perampokan itu, aku cuma mau memastikan kau pasti bukan pacarnya Daren, 'kan? Dia tidak punya pacar, aku bisa menebaknya."


Nora mengerling. "Daren punya pacar," sahutnya membuat Isaiah menatap terperangah. "Tetapi aku bukan pacarnya. Pacarnya orang Dubai, dia baru saja menghianati Daren di dalam bus."


"Apa?!" Isaiah menatap terkejut. Lebih daripada ketika dia melihat Daren datang ke rumah ini pertama kali.


"Ceritanya panjang, aku sendiri juga baru tau kalau Daren punya pacar. Apalagi pacarnya adalah gadis tak tau diri seperti Nelan. Daren terlihat sangat terpukul."


"Itu sebabnya dia terlihat lebih menyedihkan daripada keadaan orang normal yang babak belur. Dia dulu tidak pernah dengan satu pun gadis, kau harus tau itu. Sampai teman-temanku mengira dia gay. Aku bersumpah," jelas Isaiah membuat NOra menaikkan alis keheranan.


"Kau serius?"


"Ya," Isaiah menatap antusias. "Ada banyak gadis mengidolakannya di kampus, tapi tidak ada satupun gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta atau bahkan menoleh. Aku sampai kaget saat melihat bersama denganmu. Kupikir dia sudah tobat dan beralih menikah dengan gadis sepertimu."


Nora menggeleng. "Sayangnya tidak, aku cuma ikut dia karena aku bertugas."


"Kau bekerja dengannya?"


"Sebenarnya tidak. Aku mendapatkan tugas dari kantor untuk meliput keseharian Daren. Kau tau, orang-orang di negaraku sangat antusias untuk mengetahui kehidupan pribadi Daren. Aku adalah tumbal yang mereka kirimkan untuk menghabiskan hari-hariku dengan Daren."


"Tumbal?" Isaiah tertawa.

__ADS_1


"Ya, aku harus merasakan betapa menyiksanya berada di sisi Daren selama lebih dari seminggu."


"Kau tidak suka bekerja dengannya?"


Nora mengedikkan bahunya. "Entahlah. Mungkin aku suka karena terbebas dari kesibukan di kantorku, tapi aku juga tidak suka karena bersama dengan Daren membuatku kesal."


"Aku tau, kau pasti tipe karyawan iseng yang suka bolos dari kantor."


Nora membelalak karena karakternya dengan mudah ditebak. Lalu dia tertawa melihat ekspresi serius di wajah Isaiah. "Kau peramal, ya? Bagaimana kau tau?"


"Daren adalah orang yang sangat tau aturan. Hanya orang-orang tak tau aturan yang benci dengannya. Aku kadang benci juga karena dia terlalu kaku, tapi dia sudah seperti kakak sendiri bagiku."


Nora tertawa. Tidak sadar suaranya terlalu keras dan mungkin sampai ke kamar Daren, meskipun dia tau jaraknya sangat jauh dari sini. "Jangan sampai dia dengar, dia juga pemarah."


"Oh ya? Setahuku dia sangat perhatian dan penyabar."


Nora tertawa lagi. "Terkadang memang begitu, apalagi kalau bersama dengan adiknya."


"Kau baik-baik saja, 'kan?" Isaiah tiba-tiba bertanya dengan nada lebih serius.


Nora menghentikan tawa kecilnya. "Aku? Aku baik. Kenapa?"


"Melihat Daren terluka, aku khawatir kau juga mengalami hal yang sama."


"Kurasa kau butuh istirahat," kata Isaiah setelah melihat lamunan Nora. "Beristirahatlah. Ini sudah malam. Jangan lupa bangun pagi untuk ganti bajumu yang terkena pasir itu."


Nora melirik bajunya. Dia baru sadar pakaiannya kotor, terutama di bagian depannya. "Baiklah."


"Sampai jumpa besok pagi." Isaiah keluar lewat pintu. Baru dua detik dia menghilang, wajahnya muncul lagi. "By the way, aku suka potongan rambutmu."


Nora menyentuh rambutnya yang tergerai berantakan. "Terima kasih. Untuk pertama kalinya aku dengar ada yang suka dengan model buruk ini."


"Itu sempurna!" sahut Isaiah hampir tak bersuara, lalu dia menghilang dari ambang pintu.


Nora menoleh ke arah cermin di ujung ruangan. Bagian mana yang terlihat mengesankan sampai Isaiah menyebutnya sempurna? Nora mengedikkan bahu tak peduli. Dia ingin tidur. Itu yang ia butuhkan setelah mengalami puluhan peristiwa tak menyenangkan hari ini.


Nora menutup matanya perlahan. Otaknya berkecamuk tak karuan.


"Paspor dan visaku hilang," pikir Nora saat matanya tertutup. "Uang dan ponselku juga sudah dirampas. Aku tidak punya apa-apa sekarang. Kenapa aku bisa sesantai ini?"


Kedua mata Nora membelalak terbuka. Wajahnya berubah tegang. "Bagaimana aku bisa pulang?!"


***

__ADS_1


Pagi harinya, Nora kaget melihat Isaiah mengetuk pintu yang sudah setengah terbuka.


"Maaf, apa aku mengganggumu?"


Nora mengerling dari tempat tidur. Dia menguap. "Tidak, masuk saja."


"Kau mau ganti pakaian? Ada pakaian di dalam lemari sana. Itu punya saudara perempuanku."


Nora melirik ke arah lemari yang menempel di dinding kamar. "Oke, baiklah. Tapi, apakah saudarimu tidak akan marah kalau aku pakai pakaiannya?"


"Tidak, dia sudah tiada."


Senyum Nora luntur seketika. "Maaf, aku tidak bermaksud ..."


"Tidak apa-apa, santai saja. Oh ya, aku akan buatkan sarapan, turun saja kalau sudah selesai."


"Kau ... membuat sarapan?"


Isaiah mengangguk. "Sampai sekarang Daren selalu menganggapku koki karena saat kami satu apartemen bersama teman-teman akulah yang sering memasak."


Nora mengulum senyum. "Terlihat tidak menjanjikan."


"Aku tidak peduli, masakanku enak," sahut Isaiah sambil tersenyum puas.


Nora tertawa dari atas tempat tidur. Kantuknya seketika menghilang. Dia bangkit untuk menuju ke arah lemari.


"Eh ... kenapa tidak bisa dibuka?"


"Oh ya?" Isaiah masuk untuk memastikan. "Padahal tidak pernah dikunci," gerutunya sambil mendekati lemari itu sekaligus Nora.


"Kalau tidak salah, hampir tiga bulan yang lalu terakhir kali aku membukanya."


"Pantas saja. Pasti engselnya sudah karatan."


"Tidak, aku tidak yakin." Isaiah menarik pintu lemari sekuat tenaga. Dalam percobaan ketiga, tepat saat Daren lewat di depan pintu, lemari itu akhirnya terbuka.


"Pilihlah pakaian yang kau suka."


"Kau serius?"


"Ya, aku senang melihat pakaian adikku dipakai orang lain. Aku akan merasakan kehadirannya," jelas Isaiah dengan nada lebih tenang dan dalam daripada biasanya.


Nora tersenyum sambil menepuk bahu Isaiah. Tak sadar Daren sedang melihat mereka dari ambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2