
Nora kembali ke rumah dengan perasaan hampa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Daren. Pria itu menangis untuk pertama kalinya di mata Nora samai Nora tidak mengenali Daren sebagai sosok yang dingin dan arogan.
Rasa sedih Nora membuat Andin bertanya-tanya begitu Andin melihat Nora ingin masuk ke kamarnya.
"Micky meninggal," isak Nora membuat Andin menatap terperangah sambil menutup mulutnya karena tak menyangka. Dia lekas memeluk Nora untuk menguatkan gadis itu. Dia sendiri juga merasa iba. Micky adalah salah satu siswa yang akrab dengannya. Sangat disayangkan gadis itu akan tiada di usianya yang masih sangat muda.
Nora yakin bukan dia saja yang masih sedih keesokan harinya. Ketika dia berangkat ke kantor dan berniat datang ke ruangan Daren untuk menghibur pria itu, ternyata Daren tidak berangkat. Nora semakin yakin rasa sedih Daren sangat tak tertahankan. Lebih daripada ketika Daren kehilangan Nelan.
Di samping kesedihan Nora karena kehilangan Micky sekaligus prihatin dengan keadaan DAren, Nora tidak melupakan tentang Ravka. Dia masih menunggu pria itu terbangun dari komanya, apalagi baru beberapa saat lalu dia mendapat laporan dari dokter bahwa keadaan Ravka mengalami perubahan yang signifikan selama seminggu terakhir. Keyakinan Nora tentang Ravka semakin bertambah.
Nora mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pulang. Ini adalah hari Sabtu dan besok weekend. Nora berniat untuk mengunjungi rumah sakit untuk bertemu Ravka, lalu dia akan datang untuk menghibur Daren dari kesedihannya.
Sepertinya rencana Nora tidak akan berjalan lancar, karena ketika dia sampai di rumah untuk pulang, dia melihat ada banyak mobil terparkir tepat di depan rumahnya. Nora mengenal mobil-mobil itu, ini bukan pertama kalinya mobil-mobil itu terparkir di sini.
Nora buru-buru masuk ke dalam rumah. Dia melihat keluarga Daren bersama dengan Daren sedang duduk di sofa ruang tamu. Nora bukan lagi syok seperti saat dia melihat pertama kali. Kali ini dia hanya menghela napas panjang, berdoa agar diskusi yang mereka lakukan tidak akan berdampak padanya.
"Sini, Nora!" seru ibu Nora, mengajak Nora duduk di sampingnya dan Andin.
Nora menurut. Dia menatap Daren dan keluarganya satu persatu. Masih ada sisa kesedihan di wajah mereka.
"Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian," kata Eza membuat jantung Nora berdegup tak beraturan. "Seminggu lagi."
"Apa?!" pekik Nora membuat semua orang memperhatikannya. Perasan Nora berubah kalut. Bagaimana mungkin dia diberi sisa waktu satu minggu untuk bersiap padahal dia belum mengambil keputusan dengan jelas apakah dia bersedia menikah Daren ataukah tidak? Nora masih ingin menunggu Ravka, apalagi Ravka sudah menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Nora tidak ingin terlambat. meskipun dia menyukai Daren, dia masih punya janji dengan Ravka.
"Kalau kau keberatan, kami bisa mengundurkan tanggalnya ...."
__ADS_1
"Tidak," sela Eza, memotong kalimat Daren. "Nora tidak keberatan. Iya kan, Nak?"
Nora menatap ke arah Eza yang sedang memaksanya untuk mengangguk lewat sorotan mata tajamnya. Nora yang sudah tak tahan ingin menangis hanya bisa menelan luda dan terpaksa mengangguk.
"Seminggu lagi. Kami akan siapkan perayaan yang paling meriah."
"Tapi bahkan pernikahan Andin masih tiga bulan lagi, Ayah," bisik Nora.
"Apa salahnya?" sahut Eza. Berusaha tersenyum di depan calon besannya agar tidak memberi kesan mengerikan. "Lebih cepat lebih baik. Pernikahan ini akan jadi penghormatan untuk adik Daren yang baru saja meninggal."
"Bagaimana jika ....." Ravka bangun tepat setelah aku resmi jadi istri Daren? Nora tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dengan suara. Dia hanya mengalihkan pandangan dan menahan kelopak matanya yang sudah memanas.
"Aku rasa, aku butuh istirahat." Nora bangkit dari duduknya begitu saja. Dia tidak peduli ayahnya sudah berencana untuk membentaknya setelah semua tamunya pergi karena caranya meninggalkan ruang tamu dengan lagak tak sopan.
Nora sudah tidak tahan. Dia ingin segera sampai di kamarnya dan mengunci diri di dalam sana.
Rasa bersalah, kasihan, kesal, semuanya bercampur menjadi satu. Nora merasa kepalanya terasa ingin pecah ketika mengingat seluruh masalah yang sedang dia alami. Sialnya lagi, tidak ada satupun orang yang mau mendengar curhatannya, padahal curhat kepada orang lain adalah satu-satunya obat yang bisa membuatnya melupakan masalahnya.
Tok tok ...
Nora menghentikan isakannya. Memasang telinga kuat-kuat untuk memastikan dia tidak salah dengar. Dia menoleh ke arah pintu yang agak bercelah karena belum tertutup sempurna.
"Boleh aku masuk?" tanya Daren membuat Nora buru-buru menyembunyikan fotonya dengan Ravka di laci meja. Daren menyipitkan mata mengawasi gerak-gerik Nora yang mencurigakan.
Daren tau dari ekspresi Nora, dia diperbolehkan untuk masuk, dan dia lega karena hal itu. "Apa kau keberatan dengan tanggal pernikahan kita?"
__ADS_1
"Sejak awal aku memang keberatan menikah denganmu."
Daren terdiam. Merenungi kalimat itu di dalam otaknya. Lalu dia menghela napas. "Orang yang kau cintai, apa dia sudah tau tentang kabar pernikahan kita?"
Nora mengerling ke arah Daren. Matanya menyipit, seolah mengatakan betapa beraninya Daren menanyakan hal itu.
"Aku tidak akan merebutmu darinya seandainya aku bisa. Maafkan aku."
Nora menahan isakannya yang sempat dia bendung sejak Daren datang. Dia menghargai kebaikan Daren, tetapi itu bukan berarti dia jatuh hati padanya.
Drtt...
Nora menoleh ke arah ponselnya. Itu adalah panggilan dari rumah sakit. Nora langsung terlonjak kaget. Apakah dokter memanggilnya karena Ravka sudah bangun dari komanya? Nora bangkit dari duduknya dengan ekspresi tegang. Tidak biasanya dokter memanggilnya, apalag malam-malam seperti ini. Perasaaan Nora menjadi-jadi.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Daren saat Nora meraih mantel hangat dan memakainya dengan terburu-buru.
"Jangan bilang kepada siapa-siapa kalau kau kabur!" kata Nora sambil meloncat dari balkon kamar ke luar.
Daren menatap tak percaya. Bukan karena tingkah petakilan Nora, tapi karena dia penasaran siapa sosok yang membuat Nora pergi dengan terburu-buru padahal Nora sedang sedih. Apakah itu adalah lelaki yang Nora sukai?
Daren menahan rasa cemburu di dadanya. Dia mendekat ke arah laci tempat Nora memasukkan sebuah benda dengan ekspresi tegang tadi. Daren tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Daren membuka laci itu. Hal pertama yang ia lihat adalah pigura yang menghadap ke bawah. Daren mengawasi jendela tempat Nora keluar. Dia terlihat seperti penguntit, tapi dia sudah tidak tahan untuk melihat siapa di balik figura itu.
Daren membalikkan foto itu dengan perasaan tegang. Dia pikir dia akan menemukan foto Isaiah bersama dengan Nora.
__ADS_1
Sosok pria ini bukan Isaiah, Daren berani bertaruh. Kening Daren berkerut heran. Foto ini sudah agak lama, terlihat dari gambar Nora yang mengenakan baju SMA beserta si laki-laki tak dikenal itu.
Siapapun pria itu, dia sudah membuat Daren merasa cemburu setengah mata padahal Daren tidak punya hak untuk cemburu karena Nora sama sekali tidak menyukainya.