
Selama lebih dari sepuluh menit di tengah perjalanan, terjadi keheningan ekstrim antara Nora dan Isaiah. Padahal Isaiah adalah tipe orang yang tidak tahan diam selama itu. Ada sesuatu yang aneh dengannya. Bibirnya tersenyum memikirkan sesuatu, itulah yang membuatnya tidak banyak bicara.
Nora sendiri sedang memikirkan bagaimana dia ingin mengatakan kekagumannya yang selama ini ia sembunyikan kepada Isaiah. Jika dia mengatakan secara terus terang, mungkin ini bukanlah waktu yang tepat, karena itulah dia lebih memilih untuk diam. Mungkin setelah sampai di rumah, barulah dia akan mengatakan kejujurannya kepada Isaiah.
Nora berdehem untuk mengisi kekosongan.
"Ada masalah?" tanya Isaiah.
Nora tersenyum kecil dan menggeleng. "Berapa lama kita akan sampai?"
Isaiah tertawa. Dia mengira Nora akan mengatakan sesuatu yang lebih penting. "Ehm ... sekitar lima belas menit. Apa kau sudah tidak sabar?"
"Tidak sabar?" Nora mengernyitkan sebelah alisnya.
"Ya ... tidak sabar untuk ...." tiba-tiba Isaiah berubah tegang seolah baru saja salah bicara. Nora jadi penasaran karena tingkahnya.
"Tidak sabar untuk beristirahat? Kurasa begitu."
Isaiah mengalihkan pandangan. Menggeleng kecil.
Nora ikut mengalihkan pandangan ke arah luar. Melihat gemerlap kota Dubai yang megah. Mendadak dia teringat akan kesulitan yang selama dia hadapi. Tidak punya teman, keluarga yang tidak menyayanginya, gagal menikah, kecewa karena Ravka, semua itu membuat Nora berubah dalam kurun waktu kurang dari sebulan.
Nora lelah mengharapkan kebahagiaan. Setiap kali dia berusaha mencari meskipun cuma sekecil debu, dia tetap tidak menemukan dimana keberadaan itu berada.
"Tolong jangan pikirkan apa yang aku bicarakan tadi. Aku bersumpah, itu tidak sengaja," kata Isaiah agak melirik ke arah Nora dengan ekspresi tegang.
Nora menggeleng. "Aku sama sekali tidak memikirkan itu."
Isaiah mengerling. "Lalu?"
Nora tersenyum miris, sama sekali tidak sesuai dengan tatapan mata sayunya. "Tidak apa-apa."
Isaiah mengedikkan bahunya. Dia tau apa yang Nora pikirkan. Dia tau semuanya, ada seseorang yang memberitahunya beberapa hari terakhir.
Kendaraan itu sampai di depan rumah Isaiah. Rumah yang pertama kali Nora kunjungi bersama Daren, sosok yang sampai saat ini masih dia rindukan.
Nora berharap dia akan bertemu Daren lagi. Dia ingin melanjutkan pernikahan mereka yang sempat tertunda. Nora menyesal pernah berpikir untuk bersama dengan Ravka, tapi ternyata pria itu lupa segalanya tentang kenangan mereka.
"Selamat datang. Aku punya kejutan untukmu!" kata Isaiah membuat Nora tersenyum.
__ADS_1
"Hey!" seru Nora sebelum mereka sampai di depan koridor pintu utama. "Aku mau mengatakan sesuatu."
Isaiah mengerling. Menatap kebingungan. "Ya? Kau mau menyuruhku mengantarmu mencari tempat tinggal?"
Nora menggeleng. "Aku ... aku ingin bilang kalau aku menyukaimu. Maksudku, aku senang menjadi sahabatmu."
Isaiah membeku selama beberapa detik. Nora takut Isaiah salah mengambil kesimpulan.
"Maksudku, aku mengagumimu. Bukan menyukaimu .... Aku tau kau tidak tertarik pada gadis sepertiku. Ya, aku memang tidak tau diri dan ...."
"Tunggu!" sela Isaiah membuat Nora menghentikan kalimatnya.
Nora menatap tegang. Napasnya seolah tercekat. Dia takut apa yang akan dikatakan Isaiah selanjutnya.
Isaiah menelan ludah. "Kemarilah! Peluk aku." Senyumnya terbit lagi. Kedua tangannya terentang.
Nora mengerjapkan mata dua kali, lalu sadar Isaiah sedang tidak main-main. Isaiah benar-benar menunjukkan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan. Nora buru-buru memeluk Isaiah.
"Kau ingat, aku pernah bilang aku punya kejutan untukmu setelah sampai."
Nora menatap heran. "Apa itu?"
Nora menautkan alis.
"Perusahaan tempatmu bekerja, kau tidak tau itu punya siapa?" tanya Isaiah dengan ekspresi misterius.
Nora semakin kebingungan. "Apa yang kau bicarakan?"
Isaiah mengedikkan bahu. Lalu mengajak Nora masuk lewat pintu utama.
Begitu pintu itu terbuka, Nora baru tau apa yang Isaiah maksud dengan kejutan. Kakinya mendadak berhenti melangkah dan berubah kaku selayaknya batu. Tubuhnya berubah panas dingin sampai dia tak merasakan seberapa cepat detakan jantungnya sendiri. Matanya menangkap sosok di ujung sana yang juga sedang melihat ke arahnya dengan cara yang sama. Dia adalah Daren.
Nora mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu menelan saliva. Dia masih ragu apakah dia masih ketiduran di dalam pesawat dan bermimpi bertemu Daren ataukah ini nyata.
"Nora!" Daren mendekat ke arah Nora dengan wajah serius. Dia mengenakan pakaian santai yang sangat berbeda dengan pakaian formalnya ketika masih menjadi seorang pemilik perusahaan di Indonesia.
Jadi, Daren kabur dari pernikahan untuk tinggal di sini?
"Kau marah padaku?" suara dalam dan tegas itu membuat telinga Nora berdenging. "Maafkan aku."
__ADS_1
Nora sadar kakinya berpijak di atas bumi. Ini nyata, bukan mimpi. Jika saja ini mimpi, dia ingin memeluk Daren sebelum dia terbangun.
Nora berlarian ke arah Daren dan memeluk laki-laki itu. Dia menangis di dada Daren dan menyesali pernah menyia-nyiakan Daren, bahkan membuat masalah dengannya.
"Maaf! Aku yang mau minta maaf. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Seharusnya aku bilang sejak dulu." Nora bicara di tengah isakannya.
Daren mendekap Nora sangat erat. Mencium pucuk kepala gadis itu.
"Kau tau tentang Ravka, karena itulah kau pergi dari pernikahan. Iya, 'kan?" Nora menatap Daren dengan ekspresi menyedihkan. "Kau ... seharusnya kau tidak pergi. Seharusnya kau tetap bersamaku."
"Dan Ravka melupakanmu, karena itulah kau mencariku."
Nora memeluk Daren lagi. "Semua orang marah. Semua orang berbalik membenciku lagi."
"Aku tau, karena itulah aku ingin bertanggung jawab sekarang. Aku akan menikahimu di sini."
Nora menghentikan isakannya. Menatap ke dalam mata Daren yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan.
"Aku serius, kita akan menikah di sini." Daren menyatukan dahi mereka. Menangkup kedua pipi Nora dengan tangannya.
Nora menoleh ke arah Isaiah yang sedang tersenyum dari tempatnya berdiri. "Aku akan jadi saksi," katanya dengan nada riang. Sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian dramatis di depannya.
"Lalu, bagaimana selanjutnya? Bagaimana dengan seluruh hubungan yang sudah hancur di rumah sana?"
"Hubungan hancur?" Daren mengerling. "Tidak ada hubungan yang hancur. Kita akan mengundang semua orang datang ke sini untuk menghadiri pesta pernikahan itu."
Nora menggeleng frustasi. "Aku tidak mau menunggu lebih lama. Aku tidak mau ada kejadian buruk lagi. Kita akan menikah secepatnya."
"Hey ... hey!" Daren berusaha menenangkan Nora. "Aku sudah mengatur semuanya sejak tau dari Oki kalau Ravka membuatmu patah hati. Semua orang akan datang untuk menyaksikan pernikahan kita. Kau tau, kenapa Isaiah memintamu untuk datang ke sini? Itu adalah rencanaku untuk membawamu kemari."
Nora mengerling ke arah Isaiah yang sedang mengalihkan pandangan. "Jangan bilang kalau kalian sedang mengerjaiku."
Daren dan Isaiah saling menatap, lalu tertawa kecil. Nora menarik napas emosi, sebelum dia beralih jadi Nora yang dulu lagi, Daren buru-buru mencium gadis itu hingga muncul keheningan.
Isaiah buru-buru mengalihkan pandangan. "A-aku akan siapkan beberapa hal untuk acara kalian!" seru Isaiah dengan nada cemas. Dia melangkah seperti cicak menyusuri dinding untuk mencapai ruangan lain.
Daren melepas ciumannya. Menatap serius ke dalam mata Nora.
"Aku berjanji, mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita," bisik Nora di telinga Daren.
__ADS_1
TAMAT...