
Nora sudah siap menceramahi Daren sejak dia keluar ruangan dan menuju ke lift. Sudah tidak sabar ingin sampai di kantin untuk memperingatkan Daren.
Nora memasuki area kantin yang lebih ramai daripada biasanya. Dia tau kenapa, tentu saja karena kedatangan si CEO muda tampan yang jadi incaran banyak wanita. Nora tau, jika saja Daren tidak bawa bodyguardnya, banyak sekali gadis modelan Oki yang sudah minta berfoto dengannya.
Nora sangat risih setiap kali orang-orang menatap Daren dengan tatapan takjub seolah melihat malaikat. "Memangnya tidak ada laki-laki tampan lain di dunia ini?" pikir Nora.
Gadis itu duduk di hadapan Daren dengan ekspresi datar. Beberapa orang yang memata-matai secara diam-diam saling berbisik.
"Bisakah kau mengabariku dulu sebelum menemuiku di sini?" tanya Nora dengan nada standarnya. "Kedatanganmu kemari membuat gempar banyak orang," suaranya agak merendah.
"Maaf, aku cuma mau membicarakan tentang kemarin. Terima kasih sudah menemani adikku melakukan tugas kuliahnya."
"Ya, sama-sama," sahut Nora agak mengalihkan pandangan.
"Micky bilang dia sangat senang bekerja sama denganmu."
Nora mengulum senyum.
"Berikan nomor kartu kreditmu."
Nora mengerutkan kening kebingungan. "Kartu kredit? Untuk apa?"
"Untuk membayarmu."
Nora menggeleng. "Aku melakukannya dengan ikhlas, terima kasih atas tawarannya."
Daren menggeleng kecil. "Aku juga memberimu uang dengan ikhlas. Terima saja."
Nora masih bersikeras. "Tidak, terima kasih."
"Anggap saja ini sebagai ganti rugiku karena sudah membawa pergi kameramu. Bagaimana?"
Nora mengerling. Dia ingat satu hal. Kamera rusak yang membuatnya tak akan dapat gaji selama tiga bulan. Kenapa dia menolak mentah-mentah tawaran uang dari orang lain selagi mereka ikhlas memberikannya?
"Mana kartumu?"
Nora mengambil kartunya dari balik softcase ponsel. Lalu memberikan kepada Daren tanpa menatap Daren sedikitpun.
"Kamera itu rusak dan aku tidak akan dapat gaji selama tiga bulan sebagai hukumannya," gerutu Nora sangat lirih. Dia berharap Daren mendengarnya, dan ternyata usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1
"Aku akan kirimkan gajimu selama tiga bulan ke depan kalau begitu," sahut Daren membuat Nora menatap takjub.
Daren memberikan kartu Nora kembali. "Aku akan menghubungimu kalau Micky butuh kau lagi."
Nora mengalihkan pandangan tanpa menjawab apa-apa.
"OH, ASTAGA!" seru seseorang dari kejauhan. Nora mengenal suara itu. Dia adalah Indah.
Janda muda berpakain formal itu menatap takjub ke arah Daren. "Selamat datang di Viewna Entertainment, Sir Daren Mahendra!" sapa Indah sambil mengulurkan tangan. "Saya Indah Dewi, CEO perusahaan ini." Giginya terpampang di antara dua bibir merahnya.
Daren menerima jabatan itu tanpa ragu, mengangguk hormat.
Indah menyuruh Nora bergeser dari kursi dengan menendang betis gadis itu. Nora sempat berdesis kesakitan, lalu dia paham Indah sedang memberinya kode.
Indah duduk dengan posisi sangat anggun. Menatap satu persatu bodyguard Daren yang berdiri di belakang bos mereka.
"Saya sangat senang melihat kedatangan Anda ke kantor kami," kata Indah tanpa melunturkan senyum di bibirnya.
"Saya juga merasa terhormat bisa datang ke sini dan bertemu Anda."
"Apakah ada keperluan pribadi sampai Anda tidak datang untuk menemuiku terlebih dahulu?" tanya Indah untuk mencari kejelasan. Dia menatap Daren dan Nora satu persatu.
Indah pun berusaha menutup ekspresi syok dengan deheman singkat. Bola matanya melirik ke arah Nora yang seolah tak peduli.
"Oh ya?" tanya Indah yang sudah tak tahan ingin berseru memuji sejak tadi. "Seharusnya kau kabari kami kalau kau mau datang, aku akan menyiapkan tempat yang aman dan kondusif."
"Tidak masalah. Aku senang bisa bertemu kalian, terutama Nora."
Nora mengerutkan kening kebingungan. Dia tak berani menoleh ke arah sekeliling, tempat orang-orang sedang meliriknya dengan ekspresi tak menyangka.
Daren bersiap untuk pergi. Dia meraih ponselnya yang sempat ia letakkan di atas meja. "Aku harus pergi." Daren menjawab Indah dan tersenyum penuh hormat. "Sampai jumpa, Nora!" sapa Daren sebelum dia berbalik dan berjalan menjauh diingiri Juan dan Doni.
Sepeninggal Daren, kantin langsung ramai dengan seruan dan desas-desis para karyawan yang sedang istirahat.
Nora sedang memijit pelipisnya sambil menatap ke arah permukaan meja. Sebenarnya dia sedang menghindar dari tatapan Indah yang masih menatap terperangah ke arahnya.
"Kau serius, Nora?" seru Indah dengan nada tak menyangka.
Nora mengerling. "Serius apa, Bos?"
__ADS_1
"Kau dan Daren punya hubungan apa? Jujur!" tuntut Indah.
Nora menggeram marah. Dia tidak suka obrolan memalukan ini didengar oleh banyak orang. Nora bangkit dan menarik Indah keluar dari area kantin. Mereka sampai di area sepi, barulah Nora menjawab. "Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Daren."
"Aku tidak percaya," sahut Indah meremehkan. "Lalu kenapa dia bersikap manis padamu? Dan dia bilang tadi ... kalau kau akrab dengan adiknya? Astaga, kau sudah melangkah dua kali lebih maju daripada aku. Kau langsung mengincar keluarga untuk dapatkan restu mereka."
Nora menepuk kening. "Bos, apa yang kau bicarakan?"
"Tentangmu dan Daren," sahut Indah gemas. "Kau tau Daren terkenal tak pernah bersikap seperti ini kepada satupun gadis di dunia ini, 'kan? Kau satu-satunya gadis yang diperlakukan dengan manis oleh sosok Daren Mahendra!" seru Indah sambil menggoyangkan bahu Nora.
"Bos, kita tidak tau seperti apa Daren yang sebenarnya. Dia bisa saja punya pacar di belakang media."
"Tidak mungkin laki-laki dingin itu punya pacar," sahut Indah. "Kecuali pacarnya adalah kau, satu-satunya gadis yang mencairkan es kutub itu."
Indah memeluk Nora berkali-kali. "Aku senang mendengarnya. Aku bahagia mendengar vlogger kesayanganku akhirnya punya pacar dan pacarnya adalah CEO muda terkenal incaran banyak orang."
Nora menghela napas. "Dia bukan pacarku."
"Terserah," sahut Indah tak peduli. "Kau harus datang meeting malam ini. Jangan sampai absen karena kau tidak datang di meeting kemarin. Ingat itu!"
"Hm," sahut Nora tak bersemangat.
"Aku serius, Nora. Ini meeting yang sangat penting."
"Iya, Bos," sahut Nora disertai helaan napas.
Setelah itu, Indah meninggalkannya pergi begitu saja.
Nora menghela napas lega. Dia pikir ancamannya akan segera berakhir, rupanya ancaman yang sesungguhnya baru saja akan datang. Oki sedang berlarian sampai nyaris tersandung-sandung untuk menuju ke hadapannya.
"Kau tidak bilang padaku kalau Daren datang. Mana dia? Mana!?" Oki menatap ke arah pintu kantin yang terlihat ramai daripada biasanya.
"Telat, dia sudah pergi," sahut Nora.
"Apa?!" Oki menatap syok. Lalu dia berteriak kesal, membuat Nora harus menutup telinganya rapat-rapat.
"Salahmu sendiri, tidak datang sejak tadi."
"Aku baru saja baikan dengan Kenan dan kami ... ehm ... seharusnya ada yang datang ke ruanganku untuk memberitahuku." Dia membuat suara seperti seorang bayi yang sedang menangis.
__ADS_1