
Nora tidak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Dia baru saja menaruh simpati yang amat besar kepada Daren, bahkan mungkin hampir menerima keberadaan pria itu di dalam hidupnya, tetapi Daren justru memanfaatkan kebaikannya.
Siapa yang mau menikah dengan Daren? Apa yang terjadi beberapa hari lalu hanyalah pura-pura. Nora tidak pernah berniat untuk jadi istri Daren, meskipun Daren kaya, populer, dan juga tampan seperti yang dibicarakan orang-orang.
Nora menyetir dengan tangan gemetar. Takut Daren telah sampai di rumahnya dan mengutarakan tujuannya untuk melamar Nora.
Nora harus bergegas menghentikan Daren karena dia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan diberikan ayahnya ketika orang populer dan kaya seperti Daren melamarnya. Ayahnya pasti akan sangat setuju. Lalu Eza akan memaksa Nora untuk mengikuti perintahnya dan tak peduli Nora sama sekali tidak menyukai Daren. Eza pasti akan memaksanya naik ke pelaminan meskipun dengan tangan berceceran darah.
Nora menangkap mobil Daren dari sudut matanya. Dia sudah hafal mobil abu-abu milik Daren, tidak perlu menebak apakah dia Daren atau bukan. Jelas jawabannya adalah iya.
Nora mengklakson mobil itu. tak peduli pengendara di samping yang menggunakan sepeda motor nyaris oleng karena kaget.
Nora meraih ponselnya untuk menghubungi Daren. Lalu dia menekan klakson lagi. Panggilan itu sama sekali tidak dijawab. Nora emosi setengah mati. Ledakan-ledakan bunga api di dalam apinya sudah kelewat banyak.
Tin ...
Nora menggeram marah.
Akhirnya mobil Daren berhenti di sebuah kawasan jalan setapak yang sepi. Taman di sampingnya sedang ditutup, sehingga tidak satupun wisatawan yang berkunjung.
Nora ikut memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Tak peduli dia akan dapat peringatan dari pengendara lain ataupun ditilang polisi. Gadis itu keluar dengan langkah menggebu-gebu. Dia mengintip kaca depan mobil Daren. Keempat mata itu beradu pandang meskipun secara tidak langsung.
"Buka pintunya!" teriak Nora sambil menggedor-gedor jendela itu.
__ADS_1
Daren tidak tau kenapa Nora harus bersikap seganas ini padahal dia sedang berkendara santai---jika Nora tidak tau tentang kemana dia akan pergi.
Begitu Daren keluar mobil, Nora langsung menampar Daren. Rasa panas menjalar di area pipi Daren, lebih panas daripada matahari siang ini.
Daren menatap terperangah. Sama sekali tidak menyangka Nora akan mempermalukannya di ruangan terbuka seperti ini.
"Kau tidak bilang padaku kalau kau mau melamarku. Kau curang! Seharusnya kau bilang kalau kau suka padaku!" bentak Nora kehilangan kesabaran. Suaranya bergetar hampir menangis.
Kini Daren tau sepenuhnya, bahwa Nora tidak pernah punya perasaan untuknya meskipun cuma sedikit. Tidak sepertinya yang sudah jatuh pada pandangan pertama. Meskipun beberapa saat terakhir dia masih berhubungan dengan Nelan, hanya Nora lah yang menghiasi hari-harinya setiap dia menutup mata.
"Maafkan aku karena tidak meminta persetujuanmu---"
"Karena sudah jelas akan menolaknya. Jangan macam-macam denganku, Daren. Kau pikir aku seperti gadis lain yang tergila-gila karena kesuksesan dan ketampananmu? Aku tidak seperti mereka."
"Tapi aku suka orang lain," sahut Nora. Air matanya sudah menggenang. "Aku sudah bertunangan ... dengan seseorang."
Daren kehilangan kata-kata. Rasa waspada karena mereka bertengkar di tengah umum kini terabaikan, tergantikan dengan rasa kecewa yang membuatnya seketika lemas.
"Aku sudah bertunangan dan kami akan menikah sebentar lagi. Jadi ... jangan coba-coba mengikatku dengan hubungan apapun. Sudah sejak dulu aku tidak tertarik padamu. Kebaikanku kepada Micky bukan berarti aku menyukaimu," jelas Nora dengan nada lebih tenang.
"Maaf, Nora. Tapi aku tidak percaya. Aku akan tetap datang ke rumahmu untuk memintamu, meskipun tidak saat ini."
Nora mendelik marah. "Jangan lakukan, Daren. Aku peringatkan."
__ADS_1
"Aku tidak percaya bahwa kau sudah bertunangan. Aku lebih percaya kalau kau sedang menyembunyikan rasa cintamu padaku dengan membawa nama orang lain di tengah-tengah kita."
Nora tidak mengerti kenapa kata itu begitu tepat menggambarkan dirinya saat ini. Dia sadar, kata-kata itu benar. Dia tertarik kepada Daren, tetapi dia punya ego yang sangat besar dan malu mengakuinya secara langsung. Tetapi membawa nama orang lain di tengah hubungan mereka bukanlah dalih Nora, itu adalah nyata. Dia memang sudah bertunangan.
"Aku tidak salah, 'kan? Kau sering memperhatikanku di kantor, kau sering melamun setiap kali kita saling menatap. Lalu kau merasa sakit ketika melihat aku sakit, itu cinta, Nora," jelas Daren dengan nad penuh penekanan. "Kau mungkin tidak ingin mengakuinya sekarang. Tapi aku yakin suatu saat aku akan berhasil meruntuhkan egomu. Terima kasih untuk tamparannya, aku belajar banyak hal dari itu." Daren meninggalkan Nora yang masih berdiri dalam posisi tak menyangka.
Daren ingin sekali berbalik untuk menolong Nora, mengingat gadis itu adalah orang yang ia kasihi, tetapi emosinya lebih dulu menguasainya. Dia melajukan mobilnya pergi dari sana.
Nora baru sadar nafasnya tercekat selama lebih dari tiga puluh detik. Ada beberapa pejalan menatap keheranan saat melihat air mata bercucuran di wajah Nora. Nora buru-buru menghapusnya. Dia masuk ke dalam mobil untuk melampiaskan seluruh kekesalannya. Tidak akan ada yang tau dia sedang menjerit, menangis, dan menggeram marah.
"Beraninya kau ...." Setelah hampir dua bulan yang lalu, Nora akhirnya jatuh depresi lagi. Jika sudah sejauh ini, bahkan berendam di bak mandi pun tidak akan meredakan emosinya. Dia harus menuju ke tempat di mana dia bisa mendapatkan ketenangan, rumah sakit.
***
Emosi Nora justru menjadi-jadi setiap kali dia berusaha untuk tidur. Dia terus terngiang tentang ucapan Daren yang mengatakan bahwa selama ini dia berusaha menutupi rasa tertariknya dengan ego yang besar. Nora benci karena itu sangat sesuai dengannya. Dia benci dianggap orang yang munafik, meskipun sebenarnya dia memang begitu.
"Aku tidak bisa tenang sampai ...." Nora duduk di atas tempat tidur. Menatap lurus ke depan, tetapi dia sedang hidup di dalam pikirannya.
Nora baru saja mendapatkan ide paling mengerikan yang pernah dia dapatkan dalam situasi seperti ini. Dia bangkit menuju ke kursi kerjanya. Mengambil kamera genggam. Menghapus sisa air mata di pipinya, lalu menghidupkan kamera.
Wajah sayu Nora terlihat di layar kamera genggam itu. Untuk pertama kalinya, dia terlihat dalam keadaan buruk di depan kameranya.
"Aku, Nora Febriyana, ingin menceritakan sesuatu yang suram kepada kalian." suaranya masih terdengar sesenggukan. "Aku tidak merekomendasikan kalian untuk menonton video ini sampai akhir, karena ini akan membuat kalian kecewa," jelasnya sebagai permulaan. Sebelum dia akan menjelaskan semua gagasan yang sudah muncul di dalam otaknya.
__ADS_1
"Aku bertemu dengan seorang pria di sebuah insiden. Kami tidak saling mengenal, tetapi akhirnya kami saling mengenal. Tetapi dia menghinaku dan menganggap remeh posisiku yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaannya ...."