CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Mengizinkan


__ADS_3

Nora tidak kembali ke kantor Daren setelah peristiwa memalukan di hotel. Dia justru pulang ke rumah untuk memikirkan informasi mendadak yang Daren berikan.


Pikiran Nora campur aduk. Dia tidak ingin menghabiskan waktu di tempat asing bersama dengan Daren. Tentu saja bukan hanya bersama Daren, melainkan bersama dengan Juan, Doni, dan mungkin beberapa orang tambahan, tetapi tetap saja Nora merasa asing berada di antara mereka.


Siapa yang akan Nora mintai pertolongan jika dia dalam masalah atau minimal dia mengalami hal memalukan bersama Daren di hotel tadi?


Nora masuk ke dalam rumah. Kedatangannya sebelum petang membuat sang ayah yang sedang duduk santai di teras rumah langsung melirik sinis ke arahnya.


"Sejak kapan kau ingat pulang?" sindir Eza saat Nora ingin masuk melalui pintu utama.


"Hay, ayah," sapa Nora berusaha ramah. "Aku pulang lebih awal karena ...," dia baru saja ingin bilang tentang kepergiannya ke Dubai, tapi dia pikir ini bukan saat yang tepat. Masih ada waktu lain yang bisa Nora pergunakan untuk meminta izin, mungkin setelah Andin pulang nanti.


Rasanya, sudah berabad-abad Nora tidak tiduran di atas tempat tidurnya sambil halu peristiwa tak jelas dalam hidupnya. Dia mengecek ponsel untuk melihat notifikasi. Tidak ada satupun pesan dari orang-orang yang terlihat peduli padanya.


Setelah menghabiskan sore dengan berendam di air hangat, Nora keluar kamar mandi dengan pakaian bersih tepat saat hari menjelang malam. Nora tau kakaknya sudah pulang dari mengajar.


Nora berjalan keluar kamar untuk menuju ke ruangan di sebelahnya, itu adalah kamar Andin.


Nora langsung membuka pintu tanpa perlu membukanya. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil ketika masuk ke kamar ini.


"Aku mau bicara ...." Kalian Nora terhenti saat dia menemukan kakaknya sedang menangis di atas tempat tidur. Nora mengerutkan kening keheranan. "Ada apa ini?"


Andin buru-buru mengusap air matanya dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Dia sama sekali tidak memprediksi adiknya akan masuk ke kamar ini.


Nora duduk di ujung tempat tidur. Memperhatikan ekspresi Andin yang dipaksakan untuk tersenyum.


"Ada masalah?" tanya Nora tanpa menurunkan intensitas curiga.


"Tidak," sahut Andin membuat Nora menghela napas.


"Sejak dulu, kau selalu juara menyembunyikan masalah. Oke, aku tidak akan banyak tanya. Aku cuma mau bilang kalau aku harus ke Dubai, menurutmu bagaimana aku minta izin kepada ayah dan ibu?"


Andin berubah keheranan. "Ke Dubai? Untuk apa?"


"Untuk melakukan pekerjaanku," sahut Nora.


"Bersama siapa?"

__ADS_1


"Bersama Daren."


"Pria? Kau pergi dengan seorang pria?" Andin menatap cemas.


"Ya, tapi dia bukan pria buruk. Dia pria baik-baik, dan kami pergi karena pekerjaan."


Andin terdiam beberapa saat. mAta sayunya teralihkan dari wajah Nora. Terlihat lewat ekspresinya, dia tidak setuju.


"Ayolah, Kak. Baru beberapa minggu lalu aku ke Thailand, dan kau terlihat sangat antusias."


Andin memusatkan perhatian ke arah Nora lagi. "Waktu itu kau pergi dengan Oki dan Thailand itu tidak sejauh Dubai."


Nora tersenyum menenangkan. "Aku akan jaga diri. Sekarang, bantu aku minta izin kepada ayah dan ibu karena aku harus berangkat lusa atau pekerjaanku akan dalam masalah."


Andin menghela napas. "Bilang saja secara langsung kepada mereka."


Nora mengangkat sebelah alisnya. Ide itu adalah ide terburuk yang pernah dia dengar. "Lalu aku akan dimarahi karena dikira tidak peduli anggota keluarga ini dan sibuk dengan pekerjaanku sendiri? Setiap kali aku mendengar kalimat itu dari ayah, rasanya sangat sakit. Ketika aku hanya berada di rumah tanpa bekerja, mereka memarahiku sebagai pengangguran. Ketika aku bekerja keras, mereka mengataiku tak punya waktu untuk keluarga. Aku serba salah. Padahal aku tidak bekerja untuk menghindar dari kalian." Meskipun sebenarnya ada sebagian kecil dari Nora yang berbohong.


Andin menepuk bahu adiknya. "Aku akan membantumu. Ayo!"


"Serius?"


Nora bangkit bersama dengan Andin. Mereka keluar kamar untuk menuju ke ruang keluarga. Sang ayah sedang menonton berita, sedangkan sang ibu sedang membaca buku di ujung sofa. Keduanya tampak terdiam, tetapi saling mengisi kekosongan.


"Ayah ...." Andin duduk di samping sang ayah. Semua perhatian segera tertuju padanya.


Eza menatap tajam sekaligus sinis. Tidak biasanya putrinya menyapanya lebih dulu dengan ekspresi antusias seperti ini. Itu berarti bahwa ada permintaan yang akan segera dia dengar dari mulut putrinya.


"Nora akan pergi ke Dubai untuk melakukan pekerjaannya, bagaimana menurutmu?"


Eza menoleh ke arah Nora yang sedang mengalihkan pandangan. Lalu menatap Andin yang sedang menatap penuh harap.


"Boleh, 'kan?"


Eza menghela napas. "Tanya ibumu."


Nora terperangah. Apakah itu berarti ayahnya dengan mudah memberinya izin? Dia berusaha menahan senyum di bibirnya. Mendapat izin dari sang ibu lebih mudah karena ibu sering sependapat dengan ayah.

__ADS_1


"Bagaimana, Ibu?" tanya Andin ke arah sang ibunda yang sedang mengangguk. Tersenyum hangat.


Nora tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya lagi. "Terima kasih," katanya membuat sang ibu mengangguk lagi. Sedangkan ayah mengalihkan pandangan sambil menghela napas bosan.


"Aku akan memasakkan makan malam istimewa untuk kalian, aku janji," kata Andin sambil bangkit dari sofa untuk membawa Nora keluar dari ruangan itu.


"Sudah kubilang, sangat mudah, 'kan?" bisik Andin ke telinga Nora saat mereka berjalan keluar ruang keluarga.


"Kenapa aku justru berpikir kebaikan mereka kali ini agak aneh, ya?" sahut Nora dengan perasaan tak enak.


"Apa maksudmu?"


"Mereka merencanakan sesuatu, karena itulah mereka bersikap baik kepada kita."


Andin tertawa dan menggeleng. "Kau terlalu berprasangka."


***


Setelah mendapatkan izin dari keluarga, kali ini Nora harus datang ke kantornya. Orang yang seharusnya tau untuk pertama kalinya tentang kepergiannya ke Dubai yang secara mendadak ini adalah Indah, tapi sampai sekarang bosnya itu sama sekali belum tau.


Nora masuk ke ruangan Indah pagi hari keesokan harinya. Indah sedang menonton sesuatu bersama dengan Oki di layar komputer mereka. Wajah kedua orang itu terlihat terperangah.


"Oh tidak, itu dia orangnya datang!" seru Oki saat Nora menonton keantusiasan mereka dari depan pintu.


"Oh Nora ... aku sangat bangga padamu." Indah memeluk Indah beberapa kali. "Keantusiasan orang-orang terhadap perusahaan kita semakin besar karenamu. Aku tidak tau bagaimana harus berterima kasih padamu."


"Bos, aku buru-buru. Aku cuma mau bilang kalau aku harus pergi ke Dubai besok."


"Hah?!" Oki dan Indah menatap terkejut.


"Daren akan pergi ke Dubai dan dia mengajakku."


Ekspresi Oki dan Indah berubah terperangah. Keduanya saling menatap, lalu tertawa bahagia.


"Astaga ... kau penuh dengan misteri. Aku harap kau benar-benar punya hubungan istimewa dengan Daren."


Nora menghela napas. "Kau mengizinkanku atau tidak?"

__ADS_1


"Tentu saja, sayang. Pergilah, dan kembalilah dengan hatinya."


"Kami pergi untuk mengurus pekerjaan, bukan untuk bulan madu. Lanjut saja menontonnya, aku tidak akan ganggu." Nora keluar ruangan Indah dengan perasaan kecewa.


__ADS_2