CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Darren dan Nelan


__ADS_3

Nora mengalami mabuk perjalanan yang sangat parah setelah menghabiskan lebih dari delapan jam di dalam pesawat. Dia bahkan tidak sadar Juan sedang mengantarnya ke hotel menggunakan mobil yang berbeda dengan mobil yang dipakai Daren dan Nelan.


Nora tak punya banyak tenaga untuk berpikir, karena itulah dia cuma tertidur di tengah perjalanan.


Dalam waktu yang singkat saja, Juan berhasil membawa Nora sampai ke hotel seolah Juan sudah terbiasa dengan jalan di sekitar kota besar ini.


Nora keluar dari mobil dengan mata berkunang-kunang dan tubuh sempoyongan. Dia sudah tidak tahan ingin sampai di kamarnya untuk tidur.


Juan mengajak Nora masuk ke dalam hotel. Nora mengangguk setuju. Ekspresinya terlihat tidak bersemangat. Tetapi dia tetap melangkah meskipun dengan kaki yang ditarik-tarik di atas lantai.


Daren sudah sampai sejak tadi, bahkan Nelan sudah lebih dulu masuk ke ruangannya. Sedangkan Daren menyusul Nora di lantai satu karena khawatir mereka salah jalan.


Nora hampir saja ambruk saat dia masuk ke dalam lift, beruntung Daren langsung menangkap tubuhnya dan menyandarkan kepala Nora ke dadanya.


"Aduh ... ada yang berputar-putar di atas kepalaku," gerutu Nora terdengar reperti racauan.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau mabuk perjalanan?" tanya Daren. Namun Nora justru merangkul bahunya seolah tak menyadari mereka seharusnya punya konflik.


Lift terus merangkak ke lantai enam, tempat kamar ruangan mereka berada. Daren masih menahan tubuh Nora, takut gadis itu tiba-tiba terjatuh ke lantai. Ada banyak orang di lift, mereka menatap sekilas Nora tidur di pelukan Daren dengan nyaman.


Lift berhenti dan pintunya membuka. Daren menggoyangkan bahu Nora. "Kau bisa jalan?"


Nora berdehem singkat. Matanya masih menutup rapat.


"Ayo, kita jalan."


"Aku mengantuk sekali," sahut Nora sambil mengeratkan pelukannya.


Daren harus ekstra hati-hati membawa Nora keluar lift dalam keadaan seperti ini. Untung saja, ruangan yang ia pesan tidak jauh dari lift sehingga dia tidak perlu susah-susah menggendong Nora, atau bahkan sampai naik tangga.

__ADS_1


Daren membuka pintu sebuah ruangan yang ia pesankan untuk Nora. Sedangkan ruangannya terletak di sisi kanan ruangan ini.


"Masuklah, ini ruanganmu. Barang-barangmu sudah ditata rapi." Daren menunjuk kamar tidur di tengah-tengah ruangan.


Nora masih tak berkutik, justru napasnya semakin tenang dan dalam. Daren kebingungan, bagaimana mungkin gadis itu bisa tidur dalam keadaan berdiri? Atau justru Nora sedang mencuri kesempatan untuk memeluknya? Mengingat dia juga pernah mencuri-curi fotonya di kantor memakai kamera flash.


Daren menutup pintu. Mengantar Nora ke atas tempat tidur.


"Kita sudah sampai. Lepaskan aku!" perintah Daren. Nora merengek manja.


"Aku harus pergi," sahut Daren kesal.


"Aku mengantuk sekali," racau Nora sambil mengucek kedua matanya dengan punggung tangan. Daren menatap gemas wajah Nora yang cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya itu.


"Kalau begitu, tidurlah. Kau sudah sampai di ruanganmu. Coba buka matamu sekali saja!"


Nora mendengar suara samar-samar di telinganya semakin jelas. Kepalanya yang pusing membuatnya susah membedakan suara siapa yang cuma berjarak beberapa senti dari depannya itu. Saat dia membuka mata sayunya, dia terkejut karena tubuhnya menempel dengan tubuh Daren.


"Melindungimu," sahut Daren datar.


"Kau mau macam-macam, 'kan? Pergi sana!" Nora mendorong bahu Daren. Memaksakan matanya membelalak lebar agar Daren takut. Nyatanya, Daren cuma menaikkan sebelah alis karena heran dengan sikap Nora.


Daren keluar dari ruangan itu, sementara Nora langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur begitu melihat betapa nyamannya kasur empuk itu.


***


Nora tidak menyangka dia akan menghabiskan waktunya di Dubai untuk tidur, butuh banyak istirahat untuk meredakan mabuk perjalanannya. Dia sangat menyesal meninggalkan momen pagi hari pertamanya di Dubai.


Nora menguap lebar. Dia menyibakkan selimut. Menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu sadar dia berada di sebuah hotel mewah VIP yang disewakan khusus untuknya dari Daren.

__ADS_1


Ada kaca besar yang menghadap ke arah samudera di sisi kanan, dengan begitu, Nora bisa melihat matahari tenggelam lewat kaca itu dalam beberapa menit ke depan.


Nora menatap takjub. Seluruh jiwanya seolah dibuat tenang saat kedua matanya menangkap guliran ombak di kejauhan. Dia mendekat ke arah kaca dan mengintip ke bawah, ada pantai di bawah sana, ramai oleh para pengunjung meskipun hari menjelang malam.


Mungkin inilah saatnya Nora menikmati momennya di Dubai. Karena selain berniat untuk melakukan pekerjaannya, sebenarnya Nora punya niatan untuk mencari pengalaman di sini. Jadi, untuk apa berdiam diri di dalam kamar hanya untuk melihat senja dari balik kaca tebal ini?


Nora meraih ponsel dan dompetnya. Memasukkan ke saku celana. Dia keluar dari ruangannya. Dia tau ruangan Daren di ada di samping ruangannya. Butuh izin dari Daren untuk keluar, karena itulah dia memutuskan untuk pergi ke ruangan Daren.


Nora mengerutkan kening melihat pintu ruangan Daren yang tidak terkunci. Ada celah yang membuat Nora bisa melihat bagian dalam ruangan Daren. Dia membuka pintu itu semakin lebar untuk memastikan Daren ada di dalam.


"****," umpatanya sambil menutup pintu itu rapat-rapat dan menggigit bibir karena baru saja menyaksikan hal yang seharusnya tidak ia lihat.


Tunggu, itu nyata? Dia tidak salah lihat, 'kan? Dia baru saja lihat Daren ciuman dengan Nelan di atas tempat tidur. Mereka ciuman? Daren? Nora menahan terkejutnya sambil menutup mulut dengan telapak tangan.


"Mereka jelas bukan teman, tapi pacar," pikir Nora. Dia cemas apakah wajahnya sudah lebih dulu pasangan itu lihat ketika dia tak sengaja memergoki mereka berdua.


Nora berjalan menghindar dari sana.


"Nora!" seru Daren membuat Nora menegang di tempat.


Nora menelan salivanya kuat-kuat. Lalu dia berbalik untuk bertukar pandang dengan Daren. Dia mengaku lewat tatapannya, bahwa dia memang bersalah karena menonton adegan panas mereka meskipun cuma sekilas.


"Tolong, jangan katakan kepada siapapun tentang hubunganku dengan Nelan!" kata Daren dengan nada datar tetapi penuh ketelitian.


Nelan yang berdiri di samping Daren, menatap tak suka ke arah Daren. Pakaiannya agak berantakan, Nora tau itu adalah ulah pria yang dia kenal dingin dan tak tersentuh oleh satu pun wanita itu.


"Aku sudah menduganya sejak awal kalau kalian punya hubungan lebih dari sebuah pertemanan. Tenang saja, aku tidak akan mengatakan kepada siapa-siapa?"


"Kau serius, tidak akan mengatakan kepada media?"

__ADS_1


Nora mengangguk. Entah kenapa sangat sulit baginya untuk tersenyum sejak melihat Daren ciuman dengan Nelan. Tanpa menunggu jawaban lain dari Daren, Nora langsung meninggalkan pasangan itu dari sana.


Dia butuh ketenangan, lebih daripada melihat senja dan mendengar gemuruh ombak. Dia masih perlu mencerna tentang sikap asli Daren yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan orang-orang.


__ADS_2