
Nora, Daren, dan Isaiah sudah berada di dalam satu mobil untuk kembali ke hotel tempat mereka berdua menginap. Semuanya berjalan lancar, tidak seribet yang Nora bayangkan.
Nora sempat membayangkan dia jadi tunawisma di Dubai yang penuh dengan gemerlap kemewahan karena tak punya satupun sen untuk membeli makanan apalagi membawanya pulang. Rupanya, masih ada orang baik di dunia ini, Isaiah adalah malaikat baginya.
"Aku sangat menyesal mendengar seluruh ceritamu. Kejadian semalam adalah kejadian tragis," jelas Isaiah dari kursi kemudi. Agak melirik ke arah Daren di sampingnya atau Nora yang duduk di kursi belakang.
"Kejadian seperti itu sudah beberapa kali terjadi. Kebanyakan dari mereka yang melakukannya adalah orang tak berpendidikan, mereka banyak yang rasis, apalagi kalian orang Asia."
"Aku cuma menebak, tapi kau bukan orang Asia, 'kan?" kata Nora dari kursi belakang.
"Daren, kau tidak ceritakan padanya tentang aku?" Isaiah justru bertanya kepada Daren.
"Untuk apa aku menceritakan padanya tentangmu?"
"Kau bilang Nora bekerja bersamamu untuk menulis biografimu. Aku adalah orang penting dalam hidupmu, seharusnya aku masuk di bografi itu," tuntut Isaiah.
"Kau bukan orang penting," sahut Daren dingin.
Isaiah menepuk keningnya. "Ya, terserah. Tapi akulah yang sering membuatmu dipuji-puji di kampus karena kau jadi mahasiswa menonjol daripada teman-temanmu yang brengsek ini."
"Itu tidak penting."
Isaiah menggeleng pasrah. "Kurasa Nora tidak suka kalau kau bertahan jadi dingin seperti ini."
"Fokus saja menyetir, atau aku yang akan gantikan." Daren kehilangan kesabaran.
"Oke oke, santai, kawan!" Isaiah tertawa kecil. Nora hanya bengong-bengong dari belakang.
Mobil berhenti di parkiran hotel. Suara ombak sampai mengisi kekosongan. Nora bisa merasakan angin pantai yang sejuk saat dia keluar dari mobil. Dia lega bisa sampai ke tempat ini, seolah pertolongannya sudah di depan mata.
"Aku akan cari Juan dan Doni. Mereka sedang berada di ruanganku. Kau jangan menghilang, karena setelah ini kita akan langsung pulang!" perintah Daren kepada Nora yang mengangguk polos kepadanya.
Daren masuk ke dalam hotel sambil berlarian.
Nora menghela napas. Menikmati belaian angin pantai yang menerbangkan rambutnya.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan bisa bertahan dengan Daren meskipun cuma lima belas hari. Kau hebat bisa sampai selama ini," kata Isaiah. Dia sudah keluar dari mobil. Sedang senderan di muka mobil sambil menatap ke arah Nora.
__ADS_1
"Tuntutan pekerjaan, mau bagaimana lagi."
"Bekerja di bawah tekanan, pasti itu adalah salah satu syarat untuk bekerja di kantormu."
Nora menatap ke arah pantai yang ramai alih-alih menjawab Isaiah. Mungkin ini adalah saat terakhirnya melihat pantai Dubai. Untuk apa menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hey, mau kemana?" tanya Isaiah saat Nora berlarian ke arah tanah berpasir.
"Liburan terakhir sebelum pulang," sahut Nora. Suaranya kabur terkena hembusan angin.
Isaiah menatap ke pintu hotel yang masih tertutup. Tidak ada tanda-tanda Daren akan keluar. Dia mengikuti Nora hingga sampai di tepi pantai.
Nora menyelinap di tengah kerumunan orang-orang yang memakai bikini dan celana kolor. Beberapa bermain volly pantai dan ada yang membuat istana pasir. Isaiah lebih tertarik mengikuti Nora hingga sampai di bibir pantai.
Nora menghirup udara segar sekali lagi. Dia menutup mata, lalu merentangkan tangan. "Untuk semua kenanganku yang hilang, aku harap kau masih bisa kembali."
Isaiah mendengar permohonan Nora meskipun gadis itu mengatakannya dengan berbisik.
"Aku membutuhkan kalian, karena hanya kalian yang bisa membuatku merasa tidak sendirian."
Nora membayangkan seluruh kenangan yang selama ini tercetak di benaknya. Kenangan yang dulu ia dapatkan bersama orang-orang terdekatnya. Mendadak dia ingin segera sampai ke Indonesia, tempat di mana orang-orang terdekatnya berada. Barulah dia akan merasa aman.
"Maaf, aku aneh, ya?" Nora menendang-nendang pasir di bawah kakinya.
Isaiah mengerling serius. "Sepertinya, kenangan-kenanganmu sangat manis."
Nora tertawa. "Ya, sampai aku tak bisa melupakannya meskipun itu cuma sebagian kecil."
"Semanis apa? Kau bisa ceritakan padaku."
Nora menggeleng. "Aku bisa memberitahumu secara langsung seandainya ponselku tidak dirampok, di sanalah seluruh kenanganku berada."
Isaiah terperangah. "Jadi, kau sedang berdoa foto-fotomu tidak hilang?"
"Ya," sahut Nora puas. "Foto-foto itu adalah kenangan yang kumaksud."
Isaiah menghela napas. "Kupikir kau sedang berdoa untuk sesuatu yang lebih penting."
__ADS_1
Nora berubah emosi. "Foto itu penting," tegasnya. "Kau akan mengingat hal yang kau lupakan bertahun-tahun lalu hanya karena melihat sebuah foto. Itulah keajaiban foto."
Isaiah menggaruk tengkuknya. "Ya ya ... aku mengerti."
"Jangan menyepelekan aku, isaiah. Aku tidak bohong."
Isaiah mengangguk sekali lagi. "Semoga foto-fotomu tercadangkan di icloud agar kau bisa mendownloadnya lagi dan mengenangnya lagi," jelasnya sambil menahan tawa. Nora hanya menatapnya sinis karena ucapannya dikira lelucon.
"Nora!!" teriak Daren dari kejauhan.
Nora dan Isaiah belum sadar ada yang memanggil mereka. Karena itulah keduanya masih tertawa-tawa lepas sambil menciptakan lelucon dan menertawakan satu sama lain.
Juan dan Doni harus angkat kaki untuk menarik mereka dari bibir pantai ke hadapan Daren.
Nora nyaris terlonjak saat menyadari ada pria bertubuh besar sedang berdiri di sampingnya. "Bos memanggilmu."
Nora menoleh ke belakang, ada Daren berdiri di depan mobil. Mobil itu yang akan mereka gunakan untuk membawanya ke bandara.
"Aku harus kembali," kata Nora.
"Aku akan mengantar kalian sampai bandara. Bagaimana?"
"Sebaiknya kau tanya Daren."
"Dia pasti akan mengizinkannya." Isaiah berjalan beriringan dengan Juan dan Nora menuju ke hadapan Daren. Tak perlu minta persetujuan. DAren hanya menatap datar dan bukan masalah bagi Isaiah untuk mengantar mereka sampai ke bandara.
Ketiga mobil itu berjalan beriringan. Nora satu mobil dengan Daren yang sibuk menceritakan peristiwa semalam kepada Juan. Nora sedikit menguping, Daren bisa saja melakukan tuntutan kepada pemilik trem yang membahayakan para penumpangnya karena bekerjasama dengan para bandit. Juan hanya mengangguk-angguk mengerti dan tidak memberi saran apa-apa karena itu bukan wewenangnya.
Sebentar saja, mereka telah sampai di bandara. Untung saja, Daren bisa dengan mudah mendapatkan saldo dari kartu kredit yang dicuri itu. Dia bisa menggelontorkan uang sebanyak apapun, bahkan memesan kursi level kelas first class untuk kembali ke Indonesia.
"Kapan pesawatnya lepas landas?" tanya Isaiah begitu mereka sampai di bandara.
"Sekitar satu jam lagi."
"Syukurlah. Aku senang bisa bertemu kalian. Selamat jalan!" Isaiah memeluk Nora sekilas. Dia sudah setengah jalan ingin memeluk Daren, tapi pria itu cepat-cepat menghindar. "Kalau kalian datang ke Dubai, wajib mampir ke rumahku. Bukan cuma ketika terkena perampokan saja."
"Aku akan usahakan," sahut Daren. Nora juga tersenyum dan mengangguk kepadanya.
__ADS_1
"Sekarang, teman Daren ini sudah jadi teman Nora juga. Ingat itu!" pesannya sambil meninggalkan bandara untuk kembali ke rumah.
Nora masih menyisakan senyum sampai mobil Isaiah hilang dari pandangan.