
Entah kenapa Nora merasa bersemangat karena hari ini dia akan pergi bersama Daren ke perusahaan tempatnya sudah melamar pekerjaan. Dia tau perusahaan itu bukan yang terbaik, tapi setidaknya dia mendapatkan panggilan untuk melakukan sesi wawancara.
"Masuk saja!" kata Daren setelah Nora muncul di koridor rumahnya. Daren dengan senang hati bolos dari kantor hanya untuk mengantar Nora. Diam-diam, dia mulai senang karena bisa dekat dengan Nora.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Nora setelah dia duduk di jok samping Daren.
"Aku dari rumah sakit. Mungkin setelah ini akan langsung ke kantor."
Nora langsung teringat akan Micky. "Bagaimana keadaan Micky?"
Daren ingin bilang bahwa kabar dokter yang dia dengar beberapa yang lalu bukanlah kabar baik. Namun dia tidak ingin membuat Nora khawatir, karena itulah dia tersenyum. "Semuanya baik."
"Syukurlah. Aku berharap bisa datang untuk menjenguknya lagi." Dia teringat saat dia dan Daren disatukan oleh Micky di rumah sakit, sampai sekarang dia tidak berani membahas hal itu karena itu membuatnya agak malu.
Dalam sekejap saja, mereka telah sampai di Zenaya Company, tempat Nora dan Daren pertama kali bertemu dalam sebuah insiden. Nora benci mengingat itu karena akan membuatnya malu, karena itulah dia fokus menatap ke arah bangunan yang sudah berbeda daripada terakhir kali NOra masuk ke kawasan ini.
Nora menarik napas dalam.
"Jangan terlalu berekspektasi. Perusahaan ini masih berada dalam tahap pemulihan."
Nora mengangguk mengerti.
Daren mendahuluinya keluar dari mobil, sementara Nora menyusul beberapa saat kemudian setelah merasa cukup tenang. Ada beberapa berkas yang ia genggam erat sampai keringatan di tangannya. Berkas-berkas itulah yang akan ia ajukan sebagai jaminan bahwa dia bukanlah karyawan biasa.
Keduanya masuk ke dalam perusahaan. Nora agak lega tidak ada Juan dan Doni, atau mereka akan menertawakan ekspresi gugup Nora yang sejak tadi menempel terus di samping Daren. Mereka berhenti di depan ruangan HRD, tetapi ruangan itu kosong.
"Permisi!" sapa Daren kepada salah satu karyawan yang tidak mengenakan seragam, tetapi mengenakan name tag di kemejanya.
"Ya?"
"Kami ingin menemui HRD."
Pria itu, yang pastinya sudah mengenal siapa Daren hanya menatap datar. "Maaf, ada perlu apa?" katanya dengan nada sinis.
"Ada yang ingin melamar pekerjaan di sini."
__ADS_1
Pria itu menyipitkan mata. Memikirkan sesuatu yang misterius, lalu mengalihkan pandangan ke arah Nora. Dia berjalan lebih dekat untuk membisiki Nora dan Daren, "Jangan! Aku peringatkan jangan melamar pekerjaan di sini!"
"Kenapa?" tanya Nora dengan nada normal. Si laki-laki langsung menyuruhnya diam. Dia tak berhenti menatap sekeliling untuk mengawasi sekitar.
"Kau tidak tau kasus yang terjadi di sini?"
"Aku tau," sahut Nora.
"Kau mau jadi wanita yang dilecehkan itu? Sejak demo itu terjadi, tidak ada satupun wanita yang mau bekerja di sini. Aku heran kenapa kau justru melamar di sini."
Nora saling menatap dengan Daren.
"Masalahnya, cuma perusahaan ini yang menerimaku."
Pria itu mengangguk pelan. "Kau lebih memilih dilecehkan demi mendapatkan pekerjaan?"
Nora ingin menjawab tidak, tetapi kenyataannya memang begitu. "Pak, aku tidak punya pilihan."
"Dia pulang pilihan," sela Daren dengan nada tegas. "Dia tidak akan bekerja di sini. Terima kasih!" Daren menarik Nora keluar dari kawasan itu hingga sampai di parkiran.
"Aku tidak mau kau dalam bahaya. Kau dengar sendiri tadi, para wanita di sini sering dilecehkan."
"Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus segera punya pekerjaan atau ayahku akan mengusirku."
"Bekerjalah di kantorku. Kau punya banyak ruang di sana."
Nora terdiam beberapa saat. Dia baru ingat Daren punya kantor. PAda awalnya Nora memang memikirkan tentang perusahaan Daren, tetapi dia tidak ingin jatuh cinta semakin dalam karena terlalu lama bersama Daren.
"Aku cuma ingin kau aman. Kau mengerti?" Daren menatap sayu ke arah Nora yang masih kesal. "Masih ada banyak kesempatan di luar sana. jangan korbankan dirimu sendiri."
Nora akhirnya mengangguk. Entah bagaimana bisa egonya jatuh semudah ini.
"Kau bisa bekerja mulai besok di departemen komunikasi. Aku yang akan merekomendasikanmu." Daren membukakan pintu mobil untuk Nora. "Masuk!"
Nora terpaksa masuk ke dalam mobil. Memakai sabuk pengaman dalam keadaan pikiran yang berkecamuk. Dia baru sadar, perhatian Daren padanya sangat besar. Dia tidak bisa membayangkan seandainya Daren tidak mengantarnya kemarin, dia pasti benar-benar akan jadi satu-satunya karyawan wanita di perusahaan mengerikan itu.
__ADS_1
Mobil berjalan seperti semula. Nora beberapa kali melirik ke arah Daren tanpa alasan yang jelas. Dia tidak tau, akhir-akhir ini dia merasa senang setiap kali dekat dengan Daren, tetapi dalam hatinya yang terdalam dia masih berusaha menyangkal rasa bahagia itu.
"Turunkan aku di sini," ucap Nora saat mereka sampai di perempatan.
"Kenapa?" Daren melirik kebingungan.
"Aku mau ke rumah sakit."
Daren langsung teringat akan Micky. Nora pasti mau menjenguk Micky. "Aku bisa mengantarmu."
"Kau bilang akan langsung pergi ke kantor."
"ada pengecualian jika itu menyangkut tentangmu." Daren agak tersenyum di akhir kalimatnya. Lalu dia menjalankan mobilnya lagi. Nora beda lagi, dia tidak peka sama sekali dengan ucapan Daren barusan.
***
Nora keluar dari mobil di depan koridor rumah sakit yang ramai.
"Sampaikan salamku untuk Micky, bilang padanya aku akan datang nanti malam!" pesan Daren lalu menjalankan mobilnya keluar kawasan rumah sakit.
Nora mengedikkan bahu tak peduli. Dia bukannya ingin mendatangi Micky, tapi Ravka. "Ya sudahlah," bisik Nora. "Aku akan sekalian menemui Micky."
Nora masuk ke dalam. Dia melihat beberapa pasien dibawa dengan kursi roda maupun dituntun berjalan oleh perawat. Sekila dia membayangkan salh satu dari pasien untuk adalah Ravka, betapa bahagianya melihat laki-laki itu akhirnya siuman.
Nora masuk ke ruangan Micky. Di pasien sedang tertidur. Wajahnya polos dan tak berdosa. Nora langsung merasa iba saat menyadari ada beberapa alat medis tambahan di tubuh Micky, seperti selang nasal kanul yang terpasang di hidungnya.
Nora tidak tega membangunkan Micky. Akhirnya dia cuma mengelus punggung tangan Micky dan keluar untuk pergi ke ruangan Ravka.
Ada rasa bersalah yang sangat besar. Nora merasa dia mengkhianati Ravka karena merasa bahagia dengan laki-laki lain.
"Maafkan aku, Ravka. Aku tidak akan melakukannya lagi!" bisik Nora dalam hati ketika dia naik ke lantai tujuh dengan lift.
Di tengah perjalanan, Nora agak memikirkan bujukan semua orang tentang penantiannya yang mungkin akan berakhir sia-sia. Ada kebenaran yang mengganggu pikiran Nora, seperti pertanyaan, "Sampai kapan kau akan menunggu Ravka bangun?"
Nora mungkin tidak tau jawabannya, tetapi dia yakin suatu saat Ravka akan bangun.
__ADS_1