
Rasa sedih Nora tak tertahankan, orang-orang mendukungnya menyerah atas Ravka, ayah dan ibunya membanding-bandingkannya dengan Andin, belum lagi keadaannya yang saat ini tak punya pekerjaan yang membuat sang ayah semakin tak suka padanya dari hari ke hari.
Nora benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dia nyaris kepikiran untuk menyakiti dirinya sendiri karena sudah tak kuat harus melakukan apa. Tidak ada yang mendukungnya bersama dengan Ravka. Isaiah, yang sebelumnya dia kira sebagai seseorang yang akan mendukungnya, justru sebaliknya.
Nora tidak ingin bertahan terlalu lama di rumah selama dia menganggur. Dia tidak tahan menghadapi sang ayah yang bisa masuk ke kamarnya kapan saja dan memarahi Nora. Beban Nora sudah banyak, dia tidak mau ada beban yang lebih banyak.
Nora menyetir mobil ke rumah sakit. Dia butuh ketenangan, tempat di mana dia hanya berdua bersama Ravka, dikelilingi dinding berwarna putih dan bunyi alat-alat medis yang teratur. Nora menguatkan diri, dia tidak akan pernah menyerah sampai monitor di samping brankar Ravka menunjukkan garis lurus.
Nora langsung menuju ke ruangan Ravka begitu sampai di rumah sakit. Dia membuka pintu dan menutupnya rapat-rapat. Kali ini dia tidak ingin ada satupun orang yang masuk ke dalam ruangan ini, bahkan dokter dan perawat sekalipun.
Nora duduk di kursi sambil menahan tangisannya yang hampir pecah. Dia menyentuh tangan Ravka yang terasa dingin. Tangan itu ia cium dan dia tempelkan ke pipinya yang sudah basah oleh air mata. Nora ingin sekali melihat Ravka membuka mata, tersenyum, lalu mengatakan bahwa dia menyukai Nora.
"Kau tau ... ada banyak hal yang terjadi selama lima tahun terakhir," jelas Nora di tengah isakannya. "Rasanya, baru kemarin aku bercerita di sini bahwa aku baru saja di terima di jurusan ilmu komunikasi, jurusan impian kita selama kita SMA. Sekarang, aku sudah jadi seorang vlogger, bahkan sudah dipecat dari pekerjaan itu." Nora tertawa sendiri.
"Hey ... kapan kau bangun? Kapan kau menyapaku dengan sebutan sunshine lagi? Kapan kau bisa memelukku?"
Nora menghapus air mata di pipinya yang semakin menderas. Dia bosan menyuruh Ravka bangun dengan segala cara, entah itu dengan ucapan, berontakan, ataupun ucapan batin. Nora tau itu terdengar gila. Memangnya ada hal yang tidak terdengar gila dari Nora selama ini?
Nora sedang menguap pipinya dengan jari telunjuk lemas milik Ravka saat pintu terbuka dari luar. Nora baru saja ingin meneriaki sosok yang ingin masuk itu, tetapi urung karena sosok itu adalah Oki.
Oki? Ya, dia adalah teman Nora sejak SMA. Tidak mungkin dia tidak tau tentang Ravka. Oki dan Andin---dan sekarang Isaiah---adalah satu-satunya orang yang tau tentang keberadaan Ravka sekaligus peristiwa tragis yang menimpanya.
Tak jarang Oki mengunjungi Ravka, mungkin cuma satu tahun sekali. Bisa jadi ini adalh kelima kalinya Oki datang ke sini setelah mendengar kabar bahwa Ravka koma. Dulu mereka selalu bertengkar dan Nora lah yang harus memisahkan mereka. Mungkin kenangan itu yang membuat Oki masih peduli kepada Ravka.
__ADS_1
"Aku pikir kau tidak di sini," kata Oki saat Nora mengalihkan pandangan. "Aku cuma sedang menghindar dari Kenan, dan keluargaku juga sedang marah padaku. Tidak ada tempat lain yang bisa kudatangi selain tempat ini," jelas Oki. "Bagaimana keadaannya?" dagunya menunjuk ke wajah Ravka yang masih sepucat biasanya.
"Masih seperti biasa," sahut Nora lemas. Dia tidak menyangka akan punya obrolan dengan seseorang yang sudah mengata-ngatainya di depan wajahnya sendiri. Dia sedang menebak dalam hati, mungkin Oki baru saja putus dengan Kenan karena itulah dia berusaha menghindar dari kejaran laki-laki itu.
Oki dilanda canggung yang sangat hebat. Dia nyaris tidak bisa berkata-kata karena merasa bersalah pernah menghina Nora secara langsung, karena itulah dia memilih pergi dan akan datang ke sini di saat Ravka sendirian.
Nora melihat kepergian Oki yang secara tiba-tiba. Bahkan tidak meminta izin darinya terlebih dahulu. Tapi itu bagus, karena Nora butuh waktu sendiri, hanya bersama dengan Ravka.
***
Daren keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap. Dia sangat bersemangat pagi ini karena mendengar kabar dari kantornya, bahwa kasus video itu semakin berkurang dan perusahaannya berangsur membaik.
Dia sudah tidak sabar sampai di kantor dan mendengar penjelasan secara mendetail tentang peningkatan perusahaannya dari kasus video itu.
Daren terkejut setengah melihat Micky tiduran di lantai, tepat di depan televisi. Dia sempat mengira Micky sedang akting, tetapi posisi seperti itu sama sekali tidak wajar.
Daren mendekat dan memeriksa wajah Micky, ternyata wajahnya pucat dan matanya tertutup.
"Micky!" seru Daren sambil berjongkok untuk memeriksa keadaan Micky. "Micky, apa yang terjadi?"
Micky tidak merespon. Seluruh tubuhnya dingin dan lemas. Daren lebih terkejut lagi saat melihat luka dan beberapa lebam di lengan dan kaki Micky. Dia baru sadar dahi gadis itu terluka. Micky berusaha menutup luka itu dengan poni di wajahnya.
"Micky!" Daren mengguncangkan bahu Micky kuat-kuat. Percuma, gadis itu tidak akan bangun karena dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Juan! Doni!" seru Daren ke arah pintu utama yang masih tertutup. Jantung Daren berdetak sangat kencang, berkebalikan dengan jantung Micky yang semakin melemah sampai Daren tak bisa merasakan detakan jantung itu.
"Juan!" seru Daren sekali lagi.
Daren kehilangan kesabaran. Wajahnya sudah memerah menahan emosi. Dia menarik tubuh Micky ke gendongannya dan membawa gadis itu berjalan keluar.
"Doni!" seru Daren sambil menendang pintu utama hingga menjeblak terbuka.
Doni dan Juan kaget melihat DAren kesusahan memapah Micky.
"Bawa mobil kemari, kita akan ke rumah sakit sekarang!" perintah DAren dengan nada khawatir.
Juan dan Dni muncul dengan dua mobil. Daren masuk ke salah satu mobil iu bersama dengan Micky yang semakin lemas.
"Cepat, bawa ke rumah sakit sekarang!" seru Dare tak tertahankan.
Juan bergegas menghidupkan mesin dan menjalankan mobil keluar area rumah. Sementara di belakang sana, Daren berusaha menghangatkan tubuh Oki dengan jasnya.
Selama ini Oki tidak pernah sakit, lalu kenapa tiba-tiba dia pingsan? Oki juga anak baik-baik dan dia tidak ceroboh. Daren menanyakan dari mana datangnya luka-luka dan lebam yang ada di sekujur tubuh Micky.
Siapapun orang yang sudah melukai adiknya, dia tidak akan pernah memaafkannya.
"Micky, bertahanlah. Kita akan segera sampai!" kata Daren sambil mencium puncak kepala adiknya.
__ADS_1