CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Masalah Keluarga


__ADS_3

Nora sangat menyesal dia akan ditugaskan mulai hari ini di perusahaan Daren. Berarti bahwa dia akan menghabiskan lebih banyak waktu di sebuah kantor yang penuh aturan, di mana dia tidak bisa lagi keluar kantor sesuka hatinya untuk mampir ke restoran sebelum jam istirahat berlangsung.


Bukan hanya itu saja hal yang Nora pikirkan. Selain menghabiskan waktu di kantor yang ketat aturan, dia akan menghabiskan banyak waktu dengan Daren, si pria arogan menyebalkan yang selalu membawa sial sejak kedatangannya ke dalam hidup Nora. Itu adalah kabar paling buruk untuk Nora selama lima belas hari ke depan.


Nora mengencangkan tali di pinggangnya saat dia berdiri di depan cermin untuk memeriksa penampilan. Dia tersenyum memuji tubuhnya yang pernah dijadikan model. Kalau dilihat-lihat, memang tidak seburuk yang ia pikirkan.


Nora meraih tas di atas cantelan dengan gerakan malas. Dia sangat ingin meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya di kantor, tetapi dia menolak jika harus menghabiskan waktu membosankannya di rumah.


Nora berjalan keluar. Untuk keluar melalui pintu utama, dia harus melewati ruang makan, tempat keluarganya sedang menikmati sarapan.


"Lihatlah, adikmu itu, Andin!" kata ayah Nora membuat Nora menghentikan langkah dan menoleh. Dia mengira ayahnya memanggilnya.


Eza menatap datar ke arah Nora. "Apa kau hidup sendiri di rumah ini? Apa kau pikir kau tidak punya keluarga yang harus kau sapa?"


Nora kikuk di tempat. Dia melirik ke arah Andin yang sedang mengalihkan pandangan karena tau keributan akan segera terjadi. "Selamat pagi!" sapa Nora dengan nada terpaksa.


"Kami tidak butuh sapaanmu. Aku cuma butuh rasa hormatmu kepada keluargamu. Kau terlalu menyibukkan diri sampai tak punya waktu untuk kami."


Nora tak bisa menjawab apa-apa karena itu adalah benar.


"Buktinya, semalam adalah hari besar untuk kakakmu, tapi kau sama sekali tidak peduli, 'kan? Aku tidak mengerti kenapa kau terlahir untuk jadi orang sepertimu."


Nora terperangah mendengar ucapan ayahnya. "Pa, maaf ..."


"Pergilah, aku tau kau cuma bisa minta maaf. Setelah kau dewasa, kau lupa orang tuamu masih hidup."


"Itu tidak benar," sanggah Nora dengan nada lebih lantang daripada sebelumnya. Dia tidak berani membentak lebih keras.


Andin bangkit dari duduknya. Ayah dan Ibu mengalihkan perhatian ke arahnya. Itulah tujuan Andin. Dia ingin mengajak Nora pergi agar tidak ada perdebatan di tengah ruang makan.


"Sudah waktunya untuk berangkat," kata Andin dengan nada tenang. Seketika, suasana menjadi lebih terkondisikan.


Andin melangkah ke arah Nora dan memperlihatkan senyum menenangkan. Keduanya berjalan keluar tanpa bicara apa-apa.

__ADS_1


Nora masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan kalut. Setelah pikirannya terbebani karena harus menjalani tugas sia_lan dari kantor, sekarang dia harus mendapatkan amarah dari sang ayah.


Nora tidak menyangka Andin akan bergabung ke dalam mobilnya. Kakaknya itu duduk di sebelah Nora. "Boleh numpang?"


Nora mengangguk. Andin bekerja sebagai guru SMA. Tidak jarang dia bawa mobil sendiri. Dia ingin menghabiskan waktu dengan adiknya pagi ini, apalagi jika bukan untuk membahas kemarahan sang ayah.


Mobil berjalan keluar area rumah. Keduanya tidak saling bicara sampai setengah perjalanan. Nora agak melirik ke arah Andin yang sibuk dengan ponselnya.


"Jangan pikirkan kemarahan ayah, dia sedang marah dengan siapa saja," kata Andin sambil meletakkan ponselnya ke dalam tas. Agak melirik ke arah Nora yang sedang mendengarnya bicara.


"Ayah marah karena aku sempat menolak dengan perjodohan ini," jelas Andin. Dia bersikeras mengajak Nora mengobrok untuk memastikan adiknya itu baik-baik saja.


"Perjodohan? Aku pikir kau menikah dengan pacarmu."


Andin menggeleng. "Sayangnya tidak. Mereka tidak akan mau setuju aku menikah dengan pacarku."


Nora mengerutkan kening. Dia menatap iba ke arah Andin. "Bagaimana rasanya dijodohkan?"


Andin tersenyum miris sambil menghela napas. "Kau tidak akan mau merasakannya. Rasanya sangat sakit, jika kau adalah orang yang tidak nyaman dengan orang asing."


"Kau tidak akan dijodohkan, aku tau itu."


Nora menoleh ke arah Andin. "Aku harap begitu."


Andin menepuk pundak adiknya. Dia bangga punya adik seperti Nora. "Kapan terakhir kau ke rumah sakit?"


Nora membuang ekspresi sedihnya menjadi lebih antusias. Dia memperlihatkan senyum di bibirnya. "Entahlah, seminggu yang lalu mungkin."


"Berencana untuk datang lagi?"


"Tentu saja, mungkin dua atau tiga hari ke depan."


Andin turun di depan gerbang SMA tempat Nora pernah menghabiskan tiga tahun penuh kenangan bersama Oki dan Kenan. Setiap kali dia melihat tiang bendera dari depan gerbang, dia selalu ingat masa-masa dia mendapat hukuman karena sering telat berangkat sekolah.

__ADS_1


Nora memberi senyuman hangat sebelum Andin meninggalkannya, lalu dia melanjutkan perjalanan menuju ke kantor.


Rasa kesal agak memudar. Nora lebih tenang setelah dia mendengar bahwa ayahnya bukan hanya marah padanya, tapi juga kepada semua orang. Meskipun dia agak kasihan dengan Andin yang tidak suka dengan perjodohan ini.


Nora ingin sekali mencarikan jalan keluar jika dia bisa. Namun, dia sendiri juga sedang berada dalam masalah. Dia harus menjalankan tugas yang sama beratnya seperti perjodohan Andin. Baginya menghabiskan waktu bersama dengan orang dingin macam Daren akan membuatnya merasakan bagaimana menjalani simulasi di neraka.


***


Nora sampai di ruangan Indah sekitar pukul sembilan pagi. Pemilik perusahaan entertainment itu sudah menanti-nanti kedatangan Nora sejak sejam yang lalu dan kini penantiannya berakhir dengan manis.


"Astaga, Nora ...," Indah memeluk Nora beberapa kali. Ekspresi antusiasnya membuat Nora muak. "Aku tidak menyangka. Ini adalah saat di mana kau akan menjalani tugas terhormat ini."


"Aku sama sekali tidak merasa terhormat," ungkap Nora sejujur-jujurnya.


"Apapun yang terjadi nanti, aku tidak ingin mendengar kabar dari kantor Daren bahwa kau berbuat ulah. Oke?"


"Bagaimana kalau aku melakukannya? Karena aku sudah berencana melakukannya, Bos. Kau memberiku pekerjaan ini tanpa sepengetahuanku dan bisa dibilang tanpa persetujuanku. Artinya, aku melakukan pekerjaan ini dengan terpaksa."


Indah mengedikkan bahu tak peduli. "Apa yang kau sesali dari pekerjaan ini ketika ada ribuan gadis di luar sana bersedia mengorbankan apa saja agar bisa berada di posisimu?"


Nora menarik napas, tetapi di tidak lekas mengeluarkannya karena sedang menumpuk emosi di dalam benaknya. Ingin sekali mencurahkan betapa tidak sukanya dia kepada Daren.


Daren bukan tipe Nora. Nora lebih suka sosok humoris dan perhatian. Bukan dingin dan arogan.


"Oh tidak ...," seruan suara cempreng terdengar dari ambang pintu. Oki muncul dari balik pintu kaca dan berlarian untuk memeluk Nora dengan ekspresi terharu.


"Kau akan berangkat hari ini?" suara Oki terdengar seperti ingin menangis.


"Kau bisa gantikan aku kalau kau mau," sahut Nora sambil melepas pelukan Oki.


"Aku akan melakukannya kalau aku bisa," sahut Oki dengan ekspresi kesal. "Selamat jalan, kawanku. Semoga kau dapatkan hati Daren begitu pulang nanti."


"Gi_la!" umpat Nora kepada Oki. "Kau pikir aku pencuri?"

__ADS_1


"Meskipun sekarang kau tidak menyukai pekerjaan ini, aku tau setelah satu dua hari, kau akan berharap tidak akan kembali lagi ke sini," jelas Oki dengan nada menuntut.


"Itu tidak akan terjadi," sahut Nora sambil meraih ponselnya dan pergi dari ruangan itu. Oki dan Indah hanya bisa bertukar pandang.


__ADS_2