CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Candid


__ADS_3

Nora dan Indah mendarat di parkiran Vernando's Company, tempat Nora akan memulai simulasi nerakanya. Berbeda dengan Nora yang sejak tadi murung dan tidak bisa diajak bicara, Indah justru paling antusias sehingga dia tidak berhenti menceritakan kepada Kenan yang menyetir mobil, betapa dia sangat bersemangat untuk bertemu Daren lagi.


Indah dan Nora keluar dari mobil. "Tunggu di sini, oke?"


Kenan mengangguk. Dia tidak seperti Nora dan Oki yang menganggap Indah sebagai sahabatnya. Karena itulah Kenan mau saja dijadikan supir pribadi Indah, padahal dia lebih suka menghabiskan waktu di kantor di waktu senggangnya.


Indah masuk dengan percaya diri. Hal pertama yang dia ucapkan saat menginjakkan kaki di lantai kantor ini adalah rasa kagum karena karyawannya begitu tertib dan ramah.


"Sepertinya sulit menciptakan suasana seperti ini di perusahaan entertainment," gerutu Indah sambil mengedarkan pandangan ke arah puluhan kursi dan meja bersekat di sekelilingnya.


"Kau pernah datang ke sini, 'kan? Kalau begitu kau tahu dimana ruangan Daren."


Nora mengedikkan bahu tak peduli. "Tanya saja pada salah satu karyawan itu, Bos. Aku tidak ingat," sahutnya dengan nada tak bersemangat.


Indah mendesis kesal. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu karyawan. Dengan senang hati, karyawan itu menunjukkan jalan hingga ke lift.


"Terima kasih," kata Indah kepada laki-laki muda yang baru saja memberitahunya jalan. "Oh tidak, dia manis sekali," bisik Indah begitu dia menekan tombol lift untuk naik ke lantai empat, tempat ruangan Daren berada.


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Daren," kata Indah, hanya dibalas hembusan napas bosan dari Nora.


***


Setelah berputar-putar untuk mencari keberadaan ruangan Daren, akhirnya mereka bisa menemukannya di dekat tangga. Kali ini mereka sedang berada di ruangan tamu, tepat di sebelah ruangan Daren.


Indah tidak berhenti tersenyum karena mimpinya sejak semalam akhirnya terwujud, kini dia sudah berhadapan dengan Daren secara langsung.


"Anda bisa tanda tangan," kata Indah sambil menyodorkan berkas ke arah Daren. "Ini adalah tanda kontrak Nora di sini selama lima belas hari. Selama itu, Nora akan mengikuti Anda kemanapun Anda pergi, Nora juga akan mengajukan beberapa pertanyaan."


Daren menatap datar ke arah Nora yang sedang mengalihkan pandangan. Dia tidak mengerti kenapa dia menerima gadis itu sebagai seseorang yang akan meliput kehidupannya. Dia hanya ingin melakukannya, tidak tau alasan pastinya.

__ADS_1


Daren menandatangani berkas itu dalam diam. Tetapi Indah bisa melihat raut profesional dari aura wajah Daren dan dia yakin Daren menandatangani proyek itu dengan serius.


Indah menghela napas lega. "Terima kasih, Pak. Setelah ini, Nora akan berada di tangan Anda. Tolong maafkan dia kalau dia agak aneh, dia memang seperti itu orangnya."


"Aku tidak aneh," sanggah Nora mencuri perhatian Daren.


Indah mengabaikan Nora. "Anda tidak keberatan dia akan berada di samping Anda selama lima belas hari ke depan kan?"


"Tidak."


Indah tertawa kecil. "Sudah kuduga." Lalu dia menoleh ke arah Nora untuk memperhatikan berkas di tangannya. "Giliran kau yang tanda tangan!" katanya dengan nada lebih ketus.


Nora ragu-ragu meraih bolpoin yang Indah sodorkan. Dia menghela napas dan dengan terpaksa menandatangani berkas itu.


"Ketiga pihak sudah tanda tangan, kalian, dan aku. Semuanya sudah beres. Ingat, Nora! Selama lima belas hari ke depan jangan bolos dan jangan berbuat ulah!" pesannya membuat Nora menghembuskan napas kesal.


"Untuk selanjutnya bagaimana, Pak? Apakah Nora akan dibawa ke ruangannya atau ..." Indah mengerling.


Indah dan Nora membelalak terkejut.


"Diruanganmu?!" tanya Nora dengan ekspresi tak menyangka. Indah memekikkan hal yang sama, tetapi dengan mata yang berbinar.


"Ya, apa kau keberatan?"


Indah bertukar pandang dengan Nora. "Ehm ...," untuk pertama kalinya Indah berusaha mendukung Nora. "Apa itu tidak akan mengganggu Anda? Nora ini kadang suka petakilan. Saya khawatir kalau dia di ruangan Anda, pekerjaan Anda bisa terganggu."


"Tidak. Aku bisa berbagi ruangan selama lima belas hari. Aku tidak keberatan dengan tingkahnya. Dia memang sudah terlihat aneh sejak awal."


Nora semakin membelalakkan matanya. Kenapa pula Daren menyuruhnya bekerja satu ruangan? Dan kenapa pria itu menyebutnya dengan sebutan aneh? Berani sekali dia, pikir Nora sambil memperhatikan wajah Daren seolah ingin membu_nuhnya hidup-hidup.

__ADS_1


"Seharusnya aku bisa menebak sejak awal," gerutu Indah lalu tersenyum senang. "Baik, Pak. Karena kalian sudah menandatangani berkas tadi, saya serahkan Nora kepada Anda."


"Baik, terima kasih," sahut Daren tenang.


***


Nora sangat marah saat Indah meninggalkannya bersama Daren untuk kembali ke kantor. Dia ingin bilang bahwa Indah bukannya sedang menugaskannya ke tempat ini, melainkan menjualnya untuk Daren.


Sekarang Nora tak tau harus apa dan bagaimana. Dia disuruh mengikuti Daren masuk ke ruangannya.


Hal pertama yang Nora rasakan adalah degup jantung yang tidak beraturan. Apalagi saat dia menginjakkan langkah pertamanya di ruangan Daren. Dia bisa melihat meja luas Daren yang diisi berbagai berkas. rak-rak arsip, dan kursi sofa di samping jendela. Hampir mirip dengan ruangan Nora, bedanya, ruangan ini lebih luas dan pemandangan yang bisa dilihat dari jendela sangat indah dan menenangkan.


"Itu meja kerjamu." Daren menunjuk meja dan kursi di ujung ruangan. Nora bersyukur jaraknya dengan Daren ternyata tidak ada bedanya dengan beda ruangan. Hanya saja, tidak ada sekat di antara keduanya. Keduanya bisa bertukar pandang kapan saja.


Daren duduk di kursinya dengan santai. Melonggarkan dasi di depan dadanya membuat Nora agak mengalihkan pandangan.


"Kenapa kau menyuruhku satu ruangan denganmu?" tanya Nora sebelum dia duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Daren yang mengira Nora tidak akan banyak tanya, langsung mengalihkan perhatian ke arah Nora.


"Aku sedang sibuk, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan."


"Tapi ...," Nora menghentikan kalimatnya. Dia mengunci mulut rapat-rapat saat bertukar pandan dengan Daren. Dia tau ini baru permulaan, dia masih bisa melepaskan Daren. Tapi lihat saja nanti, setelah satu dua hari, dia tidak akan jadi gadis baik-baik.


Nora duduk di kursinya yang berjarak lebih dari lima meter. Kursi mereka berhadapan, itu adalah bagian yang paling tidak disukai Nora. Dia membuka laptopnya agar tercipta penghalang antara pandangan keduanya.


"Aku bersumpah, ini adalah hari paling sial bagiku," gerutu Nora sambil berharap bahwa waktunya di tempat ini segera berakhir.


Berbagai pesan masuk ke dalam ponsel Nora. Paling banyak adalah pesan dari Oki yang menyuruhnya untuk minta tanda tangan Daren atau minta foto candid Daren yang sedang bekerja.

__ADS_1


Nora mengarahkan kameranya secara sembunyi-sembunyi. Setelah melihat posisi Daren yang terlihat menggairahkan dan berpotensi membuat Oki kepanasan, dia menekan tombol kamera, berniat untuk memotret Daren. Namun si_alnya, kameranya mengeluarkan cahaya flash.


Daren menoleh tajam ke arah Nora. Sedangkan Nora buru-buru mengalihkan pandangan karena malu.


__ADS_2