CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Melamarnu


__ADS_3

"Terima kasih sudah membantuku. Aku tau mengakuiku sebagai kekasihmu membuatmu sangat kesal. Aku minta maaf," pesan Daren kepada Nora yang masih mengambil ancang-ancang untuk bicara.


"Kenapa kau memintaku pura-pura jadi pacarmu?"


"Ibu mau menjodohkanku dengan gadis asing dari luar negeri---"


"Tunggu, kau takut dijodohkan dengan gadis asing?"


Daren menggeleng. "Aku tidak takut. Aku cuma tidak ingin menghabiskan seumur hidupku bersama gadis yang sama sekali tidak aku kenal."


"Hey ... setiap gadis akan asing pada awalnya."


"Ya, tetapi aku tidak ingin mencari cara untuk beradaptasi jika ada yang sudah membuatku nyaman."


"Nelan?" tebak Nora.


Daren mengedikkan bahu. Bibirnya terkunci rapat. Sorotan matanya beralih dari wajah Nora.


"Lupakan dia. Dia sudah mengecewakanmu. Dia tidak pantas untuk dikenang."


Daren mengangguk kecil. "Ibu selalu melarangku berhubungan dengannya. Aku menyesal tidak pernah mendengarkan perkataannya dari dulu."


"Bagaimana kalau sekarang kau akan menyesal tidak mengikuti perintahnya untuk dijodohkan dengan orang asing?"


Daren menatap Nora lagi. "Aku akan menikah dengan orang asing itu asalkan Micky juga menyukainya sebagai kakak ipar."


Ekspresi perhatian di wajah Nora memudar. Apakah itu adalah sebuah kode? Daren benar-benar ingin menikahinya? Nora berusaha menyanggah di dalam hati.


"Maaf, kurasa aku bicara terlalu banyak. AKu akan mengantarmu pulang."


"Terima kasih, aku bisa pulang sendiri."


"Kau tidak bawa mobil, 'kan?"

__ADS_1


Nora menggeleng.


"Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang." Padahal sebenarnya dia ingin cari letak rumah Nora yang sebenarnya.


Nora tidak tenang. Daren bisa menyuruh Juan atau Doni untuk mengantarnya pulang, bukan dirinya sendiri yang berangkat. Pasti ada sesuatu yang pria itu inginkan darinya.


Micky mengintip dari jendela sambil tersenyum antusias saat Nora dan Daren masuk ke dalam mobil yang sama. Micky melambaikan tangan, lalu mobil berjalan keluar gerbang.


***


"Terima kasih," kata Nora. Melangkahkan kakinya ke atas jalan setapak di depan gerbang rumah.


"Sama-sama," sahut Daren dingin. Dia tidak lekas menjalankan mobilnya sampai Nora masuk ke dalam rumah. Dia bisa pulang dengan tenang setelah menghafalkan sedikit jalan menuju ke rumah Nora.


***


Sejak Nora melakukan ulasan buruk di restoran Daisy, lalu akhirnya dia bertemu Daren, seluruh hidupnya seolah berubah jadi kubangan neraka. Setiap pulang kerja, dia tidak absen berendam di bak hangat agar pikirannya bisa fres. Bahkan pagi buta sekalipun setelah dia mengalami mimpi buruk tentang masa depan suramnya.


Ini adalah hari pertamanya akan datang ke kantornya sendiri setelah pulang dari Dubai. Bosnya beberapa kali menelpon dan memaksa untuk segera datang karena ingin cerita versi asli dari perampokan yang viral itu.


Saat Nora sampai di ruangan Indah sekitar jam sembilan, ada Oki yang sudah menunggu kedatangannya sambil menonton film. Dia sama antusiasnya mendengarkan cerita tentang perampokan di Dubai, dan segala sesuatu yang terjadi antara dia dan Daren.


"Kau mabuk perjalanan?" tebak Oki setelah Nora memulai ceritanya sampai di bagian meeting dan dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan.


"Ya ...," sahut Nora dengan nada malu.


"Kau selalu begitu. Kali ini siapa yang menolongmu? Dua pria berotot anteknya Daren itu?"


Nora baru ingat sesuatu. Dia mabuk perjalanan, dan dia dibawa Daren ke dalam hotel. Satu-satunya hal yang terlintas dalam otaknya adalah tatapan mata Daren yang begitu dekat dan kehangatan yang sangat membekas di tubuhnya. Ternyata dia pernah sedekat itu dengan Daren, dia pernah memeluk Daren dan mungkin hampir menciumnya.


"B-bukan," sahut Nora.


"Lupakan, lalu apa yang terjadi setelah itu? Mana bagian kalian diserang oleh para perampok?" Oki sudah tak sabar mendengar cerita lebih banyak.

__ADS_1


Nora terus bercerita sampai merasa mulutnya hampir berbusa. Tentu saja dia menyembunyikan Nelan dari cerita itu, dia ingat Daren memintanya untuk merahasiakan hubungan ini meskipun mereka sudah tidak bersama lagi. Apalagi tentang rahasia paling gelap, bahwa Daren sebenarnya hampir menjadi seorang ayah. Nora harus sangat hati-hati untuk tidak menyinggung satupun hal yang mengarah ke kisah itu.


Nora menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan Oki setelah dia selesai bercerita. Indah dan Oki sama-sama puas setelah mendengar seluruh kisahnya dengan detail. Kini Nora bangkit untuk bersiap kembali ke tempat bertugasnya.


"Aku sampai lupa aku adalah seorang vlogger, bukan reporter," kata Nora sambil menekuk pinggangnya yang seolah kram.


"Aku harap kau akan kembali ke sini lagi, bukannya bertahan selamanya di sana sebagai istri Daren," kata Indah membuat Nora menghentikan langkahnya. "Ceritamu romantis dan ..."


"Tragis," sela Oki. "Aku justru kasihan mendengar tentang Isaiah yang kehilangan saudara perempuannya."


Nora menatap tak percaya. Dia hanya menambahkan cerita isaiah dengan satu kalimat singkat yang sangat tidak mungkin mencuri perhatian. Oki selalu jeli setiap kali mendengar nama laki-laki.


Nora keluar dari kantornya untuk pergi ke kantor Daren. Dia sempat mengoreksi ponselnya untuk memastikan tidak ada pemberitahuan mendadak dari Daren. Siapa tau, pria itu mau menyuruhnya pura-pura jadi calon istri lagi seperti kemarin.


Firasat Nora yang tidak seenak biasanya akhirnya mendapatkan jawaban. Nora telah sampai di kantor Daren, dia langsung menaiki lift untuk menuju ke ruangan Daren. Tetapi setelah dia sampai, dia sama sekali tidak melihat ada keberadaan Daren.


Apa pria itu masih mengambil cuti? Pikir Nora. Dia tau Daren sedang mengalami depresi yang berat akibat Nelan, dan paksaan orang tuanya. Dia bisa membayangkan betapa susahnya mengalami begitu banyak tekanan dalam satu waktu sekaligus.


Nora duduk di kursinya. Siapa tau Daren akan datang beberapa saat lagi. Atau minimal ada orang yang masuk ke sini dan mengatakan kepadanya tentang ketidakhadiran Daren.


Nora membuka laptopnya. Layarnya penuh dengan berita, salah satu dari berita itu memberitakan tentang kejadian di Dubai yang membuat Nora muak. Dia berkali-kali mendengar berita itu dimana-mana, dan dia diwawancarai oleh banyak orang hanya untuk menghilangkan rasa penasaran mereka.


Pintu terbuka dari luar. Nora mengerling. Berharap sosok yang masuk adalah Daren, tetapi ternyata dia adalah Juan. Nora sudah bersedia mendengar perintah dari Juan untuk menyusul Daren di sebuah perusahaan. tetapi Juan cuma melewatinya untuk mengambil beberapa berkas penting di atas meja Daren.


"Juan!" seru Nora sambil mendekati Juan. "Bicara padaku, dimana Daren?"


Juan menatap sinis ke arah Nora. "Aku tidak mengerti kenapa kau masih di sini. Bos sedang ke rumahmu."


Nora menautkan alis kebingungan. "Ke rumahku? Untuk apa?"


"Untuk bicara dengan orang tuamu. Dia ingin melamarmu."


Seperti ada sengatan listrik yang menerjang seluruh tubuh Nora. Apa dia tidak salah dengar? Atau dia masih berada di mimpi buruknya? Dia mendengar bahwa Daren sedang pergi ke rumahnya untuk melamarnya?

__ADS_1


__ADS_2