
Ini adalah hari ketiga setelah Nora dan Oki datang ke Vernando's Company untuk mengambil kamera kantor sekaligus empat hari setelah putusnya Kenan dan Oki.
Nora sedang duduk sambil menikmati secangkir tiramisu di kursi kantin sambil mendengarkan perdebatan Oki dan kenan di hadapannya. Setelah lebih dari dua hari menghindari Kenan, akhirnya Oki punya keberanian untuk menghadapi pria itu.
"Kau tidak sadar, kau lah yang bersalah? Kau lah yang sudah selingkuh dariku?" tanya Kenan dengan nada miris.
"Ya, tapi kau melakukannya duluan. Kau sering berkumpul dengan banyak cewek setiap kali ada pekerjaan outdoor, aku tidak suka."
"Mereka rekan kerjaku," sahut Kenan menggebu-gebu. "Apa salah bicara dengan mereka? Kau menyuruhku diam dan tidak berinteraksi?"
"Ya, daripada membuat pacarmu cemburu."
"Seharusnya kau tegur aku sejak awal."
"Nah, sekarang kau sudah merasa bersalah. Memang benar kau yang mulai kan? Kenan, sebenarnya kau sangat baik. Aku juga sudah kenal kau sejak dulu. Tapi ... tapi kurasa kita tidak cocok."
Kenan menggeleng miris. "Kupikir aku sudah mengenalmu sangat dalam, rupanya kau penuh misteri."
Oki tersinggung dan langsung dibuat marah. "Apa maksudmu---"
"Permisi!" sapa seorang laki-laki bertubuh kekar yang mengenakan pakaian serba hitam.
Nora kaget menyadari sosok itu adalah Juan, salah satu bodyguard Daren. Untuk apa dia di sini? Nora menegakkan duduk. Mengawasi sekeliling ke arah para penghuni kantin yang ternyata sedang menaruh perhatian ke arah Juan karena posturnya yang luar biasa besar.
Kenan dan Oki sampai menghentikan perdebatan mereka. Mereka heran setengah mati melihat pria raksasa tak dikenal tiba-tiba datang ke sini. Namun Oki tau siapa Juan, dia adalah pria yang pernah ia ajak foto.
"Ya?" sahut Oki karena Nora lebih dulu dikuasai rasa takut dan tidak bisa menjawab apa-apa.
"Saya ingin mencari gadis bernama Nora."
Nora tersedak tiramisunya. Dia batuk-batuk, membuat seluruh perhatian teralihkan ke arahnya.
"Kau Nora, 'kan?" tanya Juan dengan nada dalam dan mengerikan.
__ADS_1
Nora mengerling. Berusaha terlihat baik-baik saja. Lalu dia mengangguk. "Ya," sahutnya pura-pura tenang.
Juan tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap Nora dari balik kacamata hitamnya, lalu menyisihkan tubuh kekarnya ke samping. Sosok Daren muncul dari belakang, membuat Nora membelalak tak percaya.
Untuk apa pria itu datang ke sini dan mencarinya? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul dalam benak Nora.
Seketika Oki melupakan konfliknya dengan Kenan. Dia cepat-cepat meraih ponselnya untuk mengabadikan kesempatan emas ini.
Daren duduk di kursi kosong berhadapan dengan Nora. Ekspresinya datar, tetapi kau akan menemukan bengkokan kecil di sudut bibirnya jika memperhatikan wajah Daren lebih lama. Nora enggan melakukan itu, dia mengalihkan pandangan karena lebih dulu menganggap Daren ingin menyombongkan diri di depannya lagi.
"Daren!" Daren menjulurkan tangannya ke hadapan Nora. Suaranya lebih hangat daripada terakhir kali Nora mendengarnya. Namun Nora lebih dulu mengira pria ini sedang akting.
Nora tidak menerima jabatan tangan itu. Justru dia membuang muka. "Kenapa kau mencariku?" tanya Nora membuat Kenan dan Oki menghentikan perdebatan mereka sesaat dan saling lempar pandang penasaran.
Daren berdehem karena merasa diperhatikan oleh banyak orang. Ini adalah kebiasaannya, karena itulah dia punya dua bodyguard yang akan senantiasa melindunginya.
"Aku butuh bantuanmu," kata Daren membuat kening Nora berkerut.
Nora ingin lekas menolak meskipun dia belum mendengar bantuan apa yang Daren maksud. Sudah jelas dia akan menolak bekerja sama dengan orang sombong seperti Daren. Apalagi rasa benci Nora semakin menjadi-jadi karena pujian tentang Daren oleh orang-orang disekitarnya yang terdengar sangat dilebih-lebihkan daripada kenyataannya.
"Hah?!" pekik Nora syok.
"Kau mengerti?" tanya Daren yang tidak terbiasa dengan jawaban tak pasti seperti pekikan Nora barusan.
"Aku? Jadi model?"
"Model adikku, dia sedang kuliah jurusan desain dan membutuhkan seseorang untuk memamerkan baju-bajunya."
Nora mencerna kalimat itu beberapa kali sampai dia akhirnya sadar jawabannya ditunggu bukan cuma Daren saja, tapi juga Oki dan Kenan.
"Aku? Kenapa aku?" tanya Nora heran.
"Adikku yang memintanya. Sebaiknya kau cari alasan darinya."
__ADS_1
Nora menelan ludah. "Kuharap dia punya cadangan lain, karena aku akan menolaknya."
"Oh tidak, kau bodoh!" gerutu Oki ke arah Nora. Tidak ada yang tau dia sedang mengumpat kecuali Nora.
Oki tersenyum ke arah Daren. "Dia akan melakukannya, Pak. Tenang saja," kata Oki.
"Aku sudah bilang tidak," sanggah Nora.
Oki mengangkat kedua alisnya. Memberi kode untuk tidak menolak sebelum memikirkan matang-matang karena dia punya pendapat yang perlu dipikirkan.
"Dia akan pertimbangkan dulu, Pak. Tapi sebelum itu boleh aku minta foto sekali saja?" tanya Oki dengan ekspresi polos.
Daren menoleh. Menatap datar. "Tidak," sahutnya dengan lugas. Oki agak kecewa, tetapi dia akan lebih kecewa jika Nora benar-benar menolak tawaran ini.
Daren beralih menatap ke arah Nora. "Aku tidak akan memaksamu. Aku menghargai keputusanmu. Tapi kalau kau butuh aku ..." Daren mengambil sesuatu dari saku jasnya. "Ini kartu namaku. Kau bisa hubungi aku."
Nora menatap kartu nama pemberian Daren. Bagaimana mungkin laki-laki yang bisa dibilang populer ini mempercayakan kartu namanya kepada vlogger seperti Nora yang berkemungkinan menyebar seluruh berita pribadinya dengan mudah? Sebesar itukah kepercayaan Daren kepada Nora? Padahal baru beberapa hari yang lalu, Daren bersikap seolah mengusirnya.
Daren bangkit dari duduknya sambil mengancingi jas bagian bawah. Dia membalikkan badan dan berjalan menjauh diiringi para bodyguardnya.
Seketika, temperatur ruangan berubah tenang lagi. Ketegangan menurun. Orang-orang mulai bicara seperti biasa, suara mereka berkerumun, sedang membicarakan kedatangan Daren dan membuat spekulasi tentang hubungan ceo muda itu dengan Nora.
"Astaga, aku mau nomornya. Berikan padaku." Oki sudah setengah jalan ingin merebut kartu identitas Daren yang berisi gambar paling tampan yang pernah Oki lihat.
"Tidak bisa, ini rahasia." Nora menyimpan kartu itu di saku kemejanya. Lalu menggerakkan bola mata ke samping untuk mengawasi Daren lewat pintu kaca. Laki-laki itu sedang masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Sedangkan Juan duduk di kursi depan untuk mengemudi. Mobil itu melaju. Diikuti satu mobil lain yang dikendarai oleh bodyguard Daren yang lain, Doni.
"Sekarang aku tau apa yang ada di dalam pikiranmu, Oki," kata Kenan setelah sekian lama mereka saling diam. Nada bicaranya masih sama seperti nada bicara terakhirnya saat bicara dengan Oki.
Oki menoleh dengan ekspresi datar.
"Yang ada di pikiranmu hanya lelaki. Kau tidak kenal yang namanya kesetiaan. Aku salah menganggapmu gadis baik-baik."
Oki membelalak marah. "Kau pikir aku seburuk apa, hah?! Aku memang suka melihat cowok tampan, tapi itu bukan berarti aku tidak setia. Jangan simpulkan sikapku hanya dengan satu kalimat yang tidak pantas."
__ADS_1
Nora sudah muak mendengar perkelahian mereka. Dia bangkit dari sana untuk kembali ke ruangannya. Lebih baik duduk di kursi kerjanya sambil memikirkan kenapa adiknya Daren memilihnya jadi model?