
Nora tidak bisa menahan rasa sedihnya lebih lama. Dengan mudahnya orang-orang memaksanya untuk putus asa. Mereka membujuknya untuk menyerah tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tidakkah mereka pikirkan siapa satu-satunya orang yang Ravka miliki saat ini? Orang itu adalah Nora.
Ravka sudah tidak punya ayah dan ibu lagi. Orang yang pertama kali ingin Ravka lihat setelah dia bangun dari komanya telah meninggal, dan Nora adalah satu-satunya orang yang masih tersisa. Lalu, bagaimana mungkin Nora akan menyerah? Setiap kali Nora merasa lengah karena tak kunjung mendapatkan kabar baik dari dokter, dia lalu ingat hal itu.
Nora menunduk di atas lengan Ravka yang sedingin es. Nora menggunakan telapak tangan itu untuk menangkup pipinya yang berderai air mata.
Ini jam sebelas malam, Nora baru tiba di ruangan ini setengah jam lalu. Dia tau seharusnya dia tidak keluar rumah selarut ini, tetapi dia sudah tidak tahan untuk menumpahkan seluruh kesedihannya di hadapan Ravka. Berharap Ravka akan mendengarnya.
Lama kelamaan, Nora terlelap di samping Ravka. Kesedihannya membawanya terjun bebas ke dunia mimpi yang kelam. Setiap kali Nora mengerjap untuk mengubah posisinya, dia selalu ingat masa-masa indah bersama Ravka sekaligus perasaannya yang mungkin sudah berubah. Nora masih menunggu Ravka bangun hanya karena dia ingin menepati janjinya untuk bersama dengan Ravka, bukannya karena dia punya perasaan yang sama seperti lima tahun yang lalu.
***
"Nora!"
Nora merasakan tepukan pelan di bahunya.
"Nora, hay!"
Nora mengerjapkan mata. Lehernya terasa pegal. Kakinya kaku dan dingin. Dia sadar, masih duduk di atas kursi dan bersenderan di brankar hingga terlelap semalaman. Dia menoleh untuk melihat siapa yang sedang menyapanya.
"Selamat pagi!" sapa suara sayup-sayup itu.
Nora menguap lebar. Menutup dengan telapak tangan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Matanya yang kabur perlahan melihat sosok laki-laki berdiri di sampingnya.
"Hay!" sosok itu melambaikan tangan. Nora sekilas melihat Daren, tetapi saat pandangannya semakin jelas, dia sadar sosok itu adalah Isaiah.
"Kau tidur semalaman di sini?" tanya Isaiah mendapat anggukan singkat dari Nora.
Isaiah menoleh ke wajah Ravka yang masih tertutup rapat. Rasa ibanya meronta-ronta tiap kali dia melihat wajah tertutup selang oksigen itu. Entah mukjizat apa yang dilakukan dokter sampai berhasil menghidupkan seseorang yang otaknya sudah tidak bisa bekerja sendiri.
"Aku sudah mencarimu di rumahmu, tapi kakakmu bilang kau tidak di rumah. Aku tau kau pasti berada di sini."
Nora menoleh ke arah jendela. Matahari sudah muncul sejak tadi, terlihat dari intensitas cahayanya yang luar biasa terang.
__ADS_1
"Apa kau ingin pulang?" tanya Nora. Melihat penampilan Isaiah dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Seratus! Tebakanmu benar."
"Benar? Kau mau pulang? Kenapa terburu-buru?"
"Aku sudah selesai liburan di Indonesia, tidak ada alasan untuk bertahan di sini."
"Kau bisa menemaniku."
Isaiah terkekeh geli. "Andaikan aku punya waktu."
Nora bangkit untuk memeluk Isaiah sangat erat. "Aku akan sangat merindukanmu."
"Datang saja ke Dubai."
Nora tersenyum. "Suatu saat aku akan datang ke sana." Dia masih menatap tak menyangka. Isaiah sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Dia juga satu-satunya orang yang bisa mendengarnya curhat selama ini. Setelah isaiah pergi, dia harus menggunakan panggilan video untuk bisa curhat dan itu sangat tidak nyaman.
"Eh ...," Nora menatap ragu-ragu ke arah Ravka seolah meminta persetujuan. Dia mengedikkan bahu dan menoleh ke arah Isaiah lagi. "Tentu saja."
Isaiah tersenyum puas.
Keduanya berjalan keluar rumah sakit. Namun saat Nora sampai di mobilnya dan bersiap menyetir, ponselnya berdering nyaring. Ada tujuh panggilan tak terjawab dari Andin sejak semalam. Dua panggilan tak terjawab dari ibunya, dan sebuah pesan singkat dari sang ayah. Nora seketika menegang.
Ayah : Pulang sekarang juga!
"Oh tidak," pekik Nora membuat Isaiah menoleh heran.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak bisa mengantarmu ke bandar karena keluargaku sedang mencariku."
Isaiah menatap kebingungan. "Hm, oke."
__ADS_1
Nora buru-buru mengencangkan sabuk pengamannya dan mendorong bahu Isaiah untuk keluar dari mobil.
"Rileks, Nora. Jangan kebutan di jalan raya!"
"Ya," sahut Nora sambil menghidupkan mesin mobil.
"Oh ya, jangan lupa hubungi aku jika ada masalah!" seru Isaiah samar-samar masih terdengar di telinga Nora di sela-sela deruan mobil.
Nora tidak tau apa yang membuatnya ayahnya memberinya pesan padahal terakhir kali ayahnya menghubunginya lewat media sosial adalah sekitar satu tahun yang lalu saat dia menginap di rumah Oki dan dikira kabur dari rumah.
***
Nora beruntung dia sampai di rumah tepat waktu. meskipun kini ekspresinya berubah heran setengah mati karena melihat ada dua buah mobil tak dikenal diparkir di depan rumahnya. Nora berusaha meyakinkan diri sendiri untuk berpikir positif. Dia berjalan ke dalam rumah dengan langkah tenang.
Pintu dibuka oleh Nora, gadis itu sudah tidak sabar melihat siapa yang datang ke rumahnya. Apakah mungkin calon suami Andin? Pikir Nora. Pernikahan Andin dengan calon suaminya itu sudah ditentukan tanggalnya, dan mungkin kali ini mereka sedang melakukan pertemuan keluarga. Jadi, kenapa Nora harus dipanggil untuk pulang?
"Itu dia!" seru Eza tak biasanya menyambut Nora dengan ekspresi bahagia.
Nora menegang di tempat ketika melihat siapa yang duduk di kursi tamu. DAren, dan orang tuanya? Seluruh tubuh Nora mendadak merinding, jantungnya bertalu-talu. Darahnya tiba-tiba memanas melihat bagaimana seluruh perhatian sedang tertuju padanya.
Apa yang dilakukan keluarga itu datang ke sini? Nora berharap apa yang ia pikirkan tidak benar. Dia lebih memilih mengetahui bahwa kedatangan mereka ke sini adalah untuk menuntutnya dari kasus video itu. Namun saat melihat ekspresi orang tuanya yang terlihat bahagia, pikiran Nora menggeser ke kemungkinan lain.
"Sini!" Andin menarik lengan Nora untuk duduk di sisinya.
Nora menatap ke arah Daren yang langsung mengalihkan pandangan. Ternyata, mimpi buruk yang sebenarnya akan dia alami hari ini.
"Kami sudah melakukan kesepakatan untuk menikahkan kalian berdua!" jelas Eza membuat Nora kehilangan kata-kata. Tubuhnya melemas, tetapi dia masih berusaha duduk tegak. Matanya berubah sayu, dia tidak berani menoleh kemanapun atau semua orang akan tau dia syok.
Mungkin Nora bisa berteriak dan membentak seperti yang pernah dia lakukan kepada Daren saat Daren berusaha datang secara langsung ke rumahnya, tetapi saat ini dia bersama dengan kedua belah pihak keluarga.
"Tanggal pernikahannya sudah ditentukan, dan akan dilakukan secepat mungkin," sambung Eza membuat ulu hati Nora seolah tertusuk-tusuk. Dia langsung teringat akan janjinya kepada Ravka.
Daren tau Nora ingin menolak. Dia merasa bersalah membuat Nora sesedih ini, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan membiarkan semuanya terjadi. Selain Daren, hanya Andin yang tau apa yang sedang Nora rasakan saat ini.
__ADS_1