CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Pembully


__ADS_3

"Ceritakan padaku, apa yang terjadi!" perintah Daren membuat Micky mengalihkan perhatian ke arahnya. Sedangkan Nora mengerutkan kening tak setuju, dia jelas menyangkal Daren untuk meminta menceritakan hal yang berpotensi membuat Micky tersinggung, padahal keadaan Micky belum sepenuhnya pulih.


"Daren ... tolong sabar sedikit. Micky masih butuh banyak istirahat!" pesan Nora hanya dibalas tatapan mata sekilas. Lalu Daren menatap penuh selidik ke arah Micky lagi.


"Siapa yang melakukan semua ini, Micky?"


"Melakukan apa?" sahut Micky pura-pura tak tau.


Daren menatap frustasi. "Siapa yang membuatmu berada dalam keadaan seperti ini?"


Micky menampilkan senyum bercanda. Daren menatap kesal ke arahnya. "Aku cuma sakit kepala, lalu pingsan. Apa maksudmu?"


"Tidak, kau tidak mungkin cuma sakit kepala."


"Ya, aku cuma sakit kepala," tegas Micky dengan nada bercanda.


"Aku serius. Siapa orang itu?"


"Orang apa yang kau maksud?" Micky menautkan alis.


"Orang yang sudah membully-mu."


"Aku tidak dibully, Daren."


Daren kehilangan kesabaran. Dia meraih lengan Micky dan memperlihatkan lebam di bawah siku Micky. "Ini? Apa ini?" dia juga menunjuk pipi lebam Micky, lalu pundaknya yang tertutup baju. "Jangan buat alasan, bahwa itu adalah ulah kucing piaraanmu atau kau jatuh dari tangga."


Micky tertawa kencang, seolah dia sedang tidak terbaring di brankar dalam keadaan sakit. "Ya, aku memang jatuh dari tangga."


"Kalau kau tidak mau cerita, aku akan cari tau sendiri." Daren bangkit tak sabar. Sebelum dia melangkah pergi, Micky lebih dulu meraih lengannya.


"Teman-temanku yang melakukannya, tapi jangan sakiti mereka."


Daren kehilangan kata-kata. Duduk lagi di bangku semula, sementara Nora ikut menatap penasaran.


"Teman-teman kampusmu?" tanya Nora penasaran.


"Ya," sahut Micky dengan nada serius. "Mereka bicara tentangmu, Daren. Aku tidak terima, lalu kami bertengkar."


Seperti yang Daren duga, pembullyan itu ada sangkut pautnya dengan kasusnya. Kini adiknya yang harus jadi tumbal.


"Seharusnya kau diam saja dan biarkan mereka bicara buruk tentangku, tidak perlu berkelahi."

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan saudaraku dipermalukan."


"Aku terbiasa dipermalukan," sela Daren membuat Micky tak punya jawaban apa-apa.


Tidak ada yang bisa menandingi rasa bersalah yang sedang Nora rasakan. Bagaimanapun juga, semua masalah ini terjadi karena dia. Jika saja tidak ada video tentang aib Daren, semuanya tidak akan terjadi, dan Micky akan baik-baik saja. Sekarang, Nora hanya bisa menghela napas tanpa bisa melakukan apa-apa selain merasakan rasa bersalah itu menenggelamkannya dalam-dalam.


"Siapa orang-orang itu? Aku akan menegur mereka," ucap DAren dipenuhi emosi.


Micky menggeleng. "Tidak usah. Jangan lakukan apapun pada mereka."


"Mereka yang sudah membuatmu seperti ini."


Micky menggeleng lagi. "Bukan mereka yang membuatku seperti ini, tapi ini salahku sendiri karena tidak memberitahukan padamu atau ke Juan dan Doni. Justru aku sendiri yang sok-sokan melawan mereka."


Micky menahan lengan Daren kuat-kuat. Dia tidak ingin melepas lengan itu atau Daren pasti akan langsung bertindak untuk menyuruh Juan dan Doni membalas perbuatan kepada teman-temannya. Micky tidak akan pernah membiarkan Daren melakukan itu.


Tangan Daren terkunci erat. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia dikendalikan oleh Micky.


"Tolong kalian berdua, buat aku senang sekali saja." Micky meraih lengan Nora dengan tangan kirinya. Dia tersenyum karena berhasil menggenggam dua orang yang selama ini harapkan untuk bersama.


Nora yang masih tenggelam dalam rasa bersalah akhirnya mengalihkan perhatian. Dia sadar Micky menaruh harap yang besar padanya dan Daren. Dia paling tidak tahan melihat permintaan dari orang sakit. Namun jika permintaan yang Micky minta adalah untuk bersatu dengan DAren, dia akan mempertimbangkannya.


"Bagaimana kalau kalian menikah saja?" tanya Micky dengan nada bercanda.


"Tidak sekarang," sahut Daren.


"Itu artinya, nanti kalian akan menikah?" Micky menatap antusias.


Daren menyesal menjawab dengan jawaban itu. Dia masih agak dendam dengan teman-teman Micky dan masih berencana untuk melampiaskan emosinya setelah berhasil keluar dari ruangan ini.


Dokter masuk bersama dengan seorang perawat. PRia berambut putih itu tersenyum melihat Micky sudah siuman dan kini sedang menggenggam kakaknya dan seorang wanita cantik.


Daren memaksa Micky melepas lengannya. Nora melakukan hal yang sama.


Dokter mendekat ke arah Mickt. Ekspresinya sangat cerah, memancarkan aura positif yang membuat Micky semakin bersemangat. "Bagaimana perasaanmu?"


Micky tersenyum. "Bahagia."


"Dan keadaanmu?"


Micky mengedikkan dagunya. "Lebih baik."

__ADS_1


"Pasti kau sangat bahagia dijenguk oleh orang-orang hebat seperti kakakmu dan ..." Dokter melirik ke arah Nora sambil memicing.


"Calon kakak ipar!" sahut Micky membuat Dokter mengangguk bersemangat.


"Ya! Kakak ipar!" sahut Dokter, lalu tertawa. Nora mengalihkan pandangan malu, sama seperti Daren.


"Kau terlihat lebih baik daripada beberapa saat lalu. Kau akan segera sembuh. Tetapi selama pemulihan, jangan pikirkan tentang operasi plastik dulu, ya!"


Senyum Micky menghilang. "Kenapa? Apakah lebam-lebam ini punya dampak?"


"Ya, kita tunggu kau sembuh dulu, baru kau bisa operasi plastik."


"Berapa lama aku akan sembuh?"


Dokter terlihat berpikir. "Semakin sering kau bahagia, semakin cepat kau akan sembuh."


Micky membeku selama beberapa detik. "Apakah itu berarti, kau tidak tau kapan aku akan sembuh?"


Daren menatap tegang mendengar pernyataan itu. Mendadak dia merasa cemas. Nora sama-sama tak sabar mendengar jawab Dokter.


"Tidak ada yang bisa memprediksi kapan seseorang akan sembuh dengan tepat. Lagipula, kau cuma punya luka lebam dan beberapa cedera di kepala. Berpikirlah positif, kau akan sembuh dengan cepat."


Micky mengangguk. Senyumnya terbit lagi. Di belakang dokter, Daren menghela napas lega. Nora juga mengangguk terharu.


Dokter memeriksa keadaan Micky dengan alat-alat medisnya. Sementara suster mencatat hasil laporan dokter di atas sebuah kertas.


"Bisa ikut saya sebentar, Pak?" tanya Dokter ke arah Daren setelah dia menyelesaikan seluruh sesi pemeriksaannya terhadap Micky.


Daren agak cemas melihat ekspresi dokter yang berubah serius. Keduanya keluar diikuti oleh suster. Tersisa Nora dan Micky yang masih saling menatap dengan ekspresi terharu.


Nora menggantikan Daren, duduk di samping Micky. Sementara rasa bersalahnya masih memenuhi pikirannya. Dia akan melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.


Daren duduk di kursi yang sudah disediakan oleh dokter. Wajah datarnya sebenarnya hanya untuk menutupi rasa tegang yang sudah menjad-jadi. Daren tidak tau apakah kabar yang akan dia dengar adalah kabar baik atau justru kabar buruk.


"Apakah Anda sudah tau dari Micky, siapa yang memukulinya?" tanya dokter dari balik kacamata hitamnya.


Daren menggeleng tak kentara. "Dia bilang teman-temannya yang membullynya."


"Berapa banyak teman yang ia miliki? Kurasa semuanya dari mereka memukul Micky. Saya melihat adanya cedera parah di otaknya yang sangat berbahaya jika cedera itu semakin melebar." Dokter memperlihatkan layar tabletnya yang memperlihatkan tiga perbedaan gambar otak dengan selaput yang berbeda.


"Jika bagian ini melebar." Dokter menunjuk lubang di tengah selaput. "Tidak ada yang bisa kami lakukan selain operasi."

__ADS_1


Daren menatap tak percaya. Pembullyan yang dialami Micky ternyata tidak main-main. Semua itu karena kesalahannya. Jika saja dia tidak punya kasus seperti ini, Micky tidak akan mengalami pembullyan separah ini.


__ADS_2