CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Tidak Bisa Jatuh Cinta


__ADS_3

Nora benar-benar kehilangan akal. Dia kehilangan selera makan dan seluruh semangatnya setelah peristiwa kemarahan sang ayah pada siang hari itu. Karena itulah, Nora hanya menghabiskan waktunya dengan menangis di kamar, atau kadang di kamar mandi, lalu mencari bantuan lewat chat, tetapi tidak ada satupun orang yang peduli kepadanya, bahkan Oki yang biasa mendengar curhatannya pun tidak.


Nora masih punya satu kawan, dan orang itu adalah satu-satunya orang yang masih percaya padanya. Isaiah. Nora menelpon Isaiah dan betapa beruntungnya dia karena Isaiah menjawab teleponnya kurang dari sepuluh detik.


"Ha ... lo!" sapa Nora disela isakan. Si pendengar pasti langsung tau kalau dia sedang menangis parah.


"Halo! Jangan bilang kau kena marah setelah dipaksa pulang oleh orang tuamu tadi," tebak Isaiah.


"Si_alnya kau benar."


"Oh tidak, apa yang terjadi?"


Nora terisak beberapa kali. "A-aku tidak bisa cerita disini. Bisakah kita bertemu atau melakukan video call agar kita bisa saling melihat secara langsung?"


"Aku sedang mandi, Nora. Tapi baiklah, kita akan bertemu kalau itu maumu. Dimana?"


Nora mengusap air matanya dan berusaha tenang. "Oke, aku akan menunggumu di kafe Agustus, aku akan share lokasinya ke nomormu."


"Baiklah, tunggu aku! Maaf kalau agak lama, aku baru saja mulai mandi."


Nora terkekeh kecil. Lalu menutup panggilan. Dia senang, satu satunya orang yang masih percaya padanya bisa membuatnya tersenyum dan merasa lebih baik.


Nora menarik pakaian dari dalam lemari dan pergi ke ruang ganti untuk bersiap. Dia sudah siap sampai di kafe dan berhadapan dengan Isaiah secara langsung untuk mencurahkan seluruh isi pikiran dan hatinya yang tidak karuan.


Nora terpaksa lompat lewat jendela kamarnya karena dia tidak ingin orang tuanya tau bahwa dia keluar. Bahkan dia memesan taksi agar tidak perlu menghidupkan mesin mobil yang akan langsung mencuri perhatian.


Dalam sekejap saja, Nora sudah berada di dalam taksi dan dia bertukar pesan dengan Isaiah yang katanya sedang ganti baju. Dia tidak pernah sadar, kedekatan mereka mungkin membuat salah satu dari mereka merasakan getaran cinta.


Nora sampai di kafe, tepat saat Isaiah mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan. Nora masuk ke dalam area kafe, membooking salah satu meja kosong dan duduk di sana sambil merenungi masalahnya yang sudah terkumpul di tenggorokan, siap untuk dicurahkan.


Penantian Nora tidak sia-sia, Isaiah datang lima belas menit kemudian dengan pakaian hangat. Dia melempar senyum sejak melihat keberadaan Nora. Lalu dia mendekat untuk duduk bersama dengan Nora.


"Hay! Aku merasa jadi seorang psikolog setelah mendudukkan diri di kursi ini."


Nora tertawa kecil. "Pasti belum pernah dengar seseorang mau curhat padamu?"


"Kenapa aku harus mendengar mereka curhat, itu hanya akan menambah bebanku?"


Nora menatap kesal. "Jadi, kenapa kau datang ke sini kalau curhat hanya akan menambah bebanmu? AKu menyuruhmu ke sini untuk curhat."


Isaiah tersenyum tengil. Lalu menggeleng. "Kalau untukmu itu pengecualian. Jadi, apa yang mau kau bicarakan? Bahwa orang tuamu marah karena bergaul dengan pria Dubai tak punya aturan sepertiku?"

__ADS_1


Nora menggeleng dan tertawa kecil. "Mereka tidak mengenalmu, jangan terlalu percaya diri."


"Kalau begitu, izinkan aku ke rumahmu untuk mengenalkan diri."


"Tidak," sahut Nora ketus. "Mereka tidak akan peduli satupun hal tentang diriku. Percayalah!"


Isaiah mengulum senyum. "Jadi, apa yang membuatmu menangis sampai mengucap kata halo saja tidak bisa?"


Nora mendesis kesal. "Karena kasus itu. Dia bilang aku tidak berguna. Aku tidak sepantasnya jadi pengangguran dan tinggal di rumahnya. Dia seolah tidak menganggap aku sebagai anaknya lagi." Mata Nora memanas.


"Kau tau apa yang paling parah dari semua itu? Bahwa dia membandingkan aku dengan Andin..."


"Andin? Siapa Andin?"


"Dia kakak perempuanku. Ayah bilang Andin seorang guru yang terhormat, dia punya banyak jasa yang berharga, sedangkan aku tak berguna."


Isaiah menghela napas. Sebagai seseorang yang jarang mendengar curhatan, apalagi tentang masalah keluarga, dia hanya bisa menanggapi dengan senyum menenangkan.


"Ayah seharusnya tau aku sedang dalam keadaan tertekan karena seluruh masalah yang sedang kualami, tapi dia tidak peduli. Justru dia menambah beban dan memarahiku karena kasus Daren itu."


"Jadi, masalah utamanya adalah kasusmu dengan Daren? Orang-orang masih membicarakan berita ini?"


"Aku putus asa, mungkin kisah ini akan melegenda," sahut Nora agak merendahkan nada suaranya. Dia menghapus titik air kecil di ujung mata untuk menyamarkan rasa sedihnya.


"Aku memang sudah minta maaf padanya, dan dia juga sudah memaafkanku. Tetapi masalahnya, bukan dia lah yang menyebabkan aku terlalu memikirkan masalah ini, melainkan pihak-pihak lain yang mendukung Daren. Sialnya, lebih banyak pihak yang mendukung Daren daripada aku."


Isaiah tidak tau apakah solusinya sangat buruk, dia tidak peduli. "Daren memaafkanmu?" tanyanya dengan nada kebingungan.


"Ya, dia justru melindungiku dari serang para wartawan dan dia sendiri yang bilang bahwa dia memaafkanku. Aku tidak melihat dia berbohong."


"Oke, sekarang kalian baikan?"


Nora mengedikkan bahu. "Mungkin."


"Itu artinya ... kalian sudah saling suka lagi seperti dulu?"


"Apa?" Nora tidak menyangka Isaiah akan membelokkan pembicaraan ke sana.


"Kau tidak akan mengalami seluruh konflik ini jika tidak bertemu dengan Daren, iya kan?"


Nora mengangguk ragu.

__ADS_1


"Coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, apa sisi positif yang kau temukan sejak bertemu dengan DAren. Ingat, sisi positif! Bukan negatif!"


Nora mengerling untuk mencari jawaban. Rasanya, dia menemukan lebih banyak sisi negatif daripada positif.


"Kau menemukannya?" tanya Isaiah setelah menunggu hampir semenit Nora bengong.


"Tidak, semuanya negatif."


"Tidak mungkin," sahut Isiaiah. "Aku yang mengamatimu dari jauh, justru bisa merasakannya."


"Memangnya apa yang kau maksud?"


"Kau adalah orang yang tepat."


"Apa?!" Nora mengangkat alis tinggi-tinggi.


"Kau adalah orang istimewa bagi Daren. Seharusnya kau bersyukur jadi orang istimewa untuk seseorang di luar sana."


Nora lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal. Jantungnya berdegup sangat cepat. Kenapa kalimat itu begitu menggambarkan dengan tepat apa yang sedang dia rasakan selama ini? Kenapa dia baru saja menemukan rasa cinta itu setelah sekian lama?


"Mengaku saja, Nora. Aku bisa melihatnya," kata Isaiah agak merendahkan suaranya.


Alih-alih tersenyum dan mengakui, Nora justru menangis sesenggukan. Isaiah sampai keheranan melihat tingkah aneh gadis itu. Dia tidak habis pikir kalimat simpel itu akan membuat tangisan Nora separah ini.


"Apa yang terjadi?" tanya Isaiah saat melihat tangisan Nora tak kunjung mereda.


"Aku ... aku tidak pernah sejujur ini pada siapapun, bahkan sahabat terdekatku sekalipun. Kau benar. Kau bisa menebaknya dengan tepat."


Isaiah mengulum senyum. "Kupikir semua orang juga bisa menebaknya kalau kalian jatuh cinta, tetapi tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya."


"Tapi cuma kau yang bisa menggambarkan setepat itu."


"Jadi, benar kau jatuh cinta dengan Daren?"


Nora mengangguk di tengah sesenggukan. "Tetapi aku tidak bisa ..."


"Tidak bisa apa?"


Nora semakin sesenggukan, Isaiah tidak bisa berbohong lagi, bahwa rasa ibanya sudah tidak tertahankan. "Aku tidak bisa jatuh cinta Daren, sedalam apapun rasa tertarikku padanya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena aku sedang menunggu seseorang. Dia di rumah sakit."


__ADS_2