
Di sinilah Daren dan Nora sekarang. Mereka berada di rumah sakit tempat Nora bisa adatang setiap kali dia dalam masalah atau pun butuh tempat untuk menyendiri. Setiap kali dia datang ke rumah sakit, dia selalu merasa punya teman. Karena sejatinya, sosok yang ia anggap teman hidupnya berada di tempat ini.
Nora naik ke lantai empat, tempat pasien-pasien dalam keadaan koma biasanya berada. Dia menyapa beberapa dokter dan perawat yang lewat. Saking sering mengunjungi tempat ini, dia sampai akrab dengan mereka.
Nora membuka salah satu ruangan. Ruangan inilah tempat yang selalu Nora kunjungi setiap datang ke rumah sakit.
Isaiah terkejut setengah mati melihat seorang laki-laki terbaring lemah di atas brankar penuh dengan alat medis di sekujur tubuhnya. Dia tidak pernah melihat orang sakit dalam keadaan separah ini, belum lagi mata tertutup di atas selang oksigen itu terlihat tak pernah terbuka selama berbulan-bulan. Dia menoleh ke arah Nora yang sedang tersenyum. Untuk pertama kalinya dia melihat senyum Nora setulus ini.
"S-siapa dia?" tanya Isaiah yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Dia orang yang selama ini membuatku menutup hatiku, Ravka."
"Kalian, bertunangan? Menikah?"
"Tidak," sahut Nora membuat Isaiah menyipitkan mata. "Kami ... berpacaran sejak SMA."
"Kenapa dia bisa sampai seperti ini? Apa yang terjadi?"
Mengingat peristiwa itu adalah sesuatu yang tabu bagi Nora, dia selalu merasa menyesal dan ingin sekali mengulang waktu. Tetapi menahan cerita itu untuk dirinya sendiri bukanlah sesuatu yang baik, dia butuh mengeluarkan lukanya dari dalam hatinya dengan cara menceritakan kepada seseorang, mungkin itulah cara untuk bisa merasa lega.
"Saat itu, kami berpacaran selama tiga tahun sejak kelas satu SMA, dia bukan siswa yang pendiam dan penurut, terkadang dia nakal dan suka membuat keributan, tapi aku suka padanya sehingga kami bisa menghabiskan waktu bersama selama berjam-jam setiap harinya, baika di sekolah maupun di rumah.
Tetapi sesuatu yang tragis terjadi di suatu hari setelah ujian kelulusan. Dia berpamitan untuk pergi bersama dengan ayah dan ibunya keluar kota untuk mengunjungi sang kakak yang sedang sakit. Saat itu, kami sudah sudah berjanji untuk selalu bersama, bahkan kami akan bertunangan setelah wisuda, tetapi kecelakaan tragis itu terjadi." Nora berubah melamun ketika mengingat saat dia berteriak ketakutan ketika mendengar kabar bahwa Ravka dan keluarnya mengalami kecelakaan dengan mobil yang jatuh ke jurang.
Nora melanjutkan ceritanya, "Semua orang terenggut nyawanya, orang tua Ravka, seisi bus yang menabrak mobil Ravka karena terguling di jalan, dan kakak Ravka yang saat itu sedang sakit juga ikut meninggal. Hanya satu orang yang selamat, dia adalah Ravka."
Nora duduk di samping Ravka sambil mengelus punggung tangan laki-laki itu.
"Jadi, sudah berapa lama sejak peristiwa itu terjadi?" tanya Isaiah yang masih butuh waktu lama untuk mencerna baik-baik cerita Nora.
__ADS_1
Nora mengedikkan bahunya. "Lima tahun mungkin."
"Lima tahun? Kau menunggunya selama lima tahun tanpa kepastian?"
Nora menatap marah. Tak percaya Isaiah akan menanggapinya dengan kalimat sarkas seperti tiu. "Aku tau Ravka pasti akan bangun."
"Kapan?"
Nora terdiam untuk mencari jawaban yang tepat, sayangnya dia tidak punya jawaban apapun.
"Kau menolak cinta yang membuatmu jadi orang istimewa dalam hidupnya hanya untuk orang yang sudah membuatmu menunggu selama lima tahun tanpa kepastian? Nora, aku tidak tau apa yang kau pikirkan."
"Itulah cinta, Isaiah. Aku mencintai Ravka, karena itulah aku setia menunggunya."
Isaiah meraup mukanya frustasi. Dia tidak menyangka buta karena cinta ternyata bisa separah ini. "Bagaimana kalau dia ternyata tidak bangun?"
"Dia akan bangun," sahut Nora. Mulai merasakan emosinya melonjak.
"BAGAIMANA JIKA DIA BANGUN?" sentak Nora membuatnya menyesal karena mengeluarkan emosi di hadapan Ravka.
Isaiah menatap tak percaya. Dia agak menggeleng. "Kalau aku jadi kau, aku sudah pasrah. Aku tidak akan bertahan menunggu selama itu tanpa kepastian."
"Tapi aku tidak, Isaiah. Aku percaya Ravka akan bangun entah besok, luas, satu bulan, satu tahun."
"SAmpai kapan?" Isaiah bersikeras. "Sampai kapan kau akan menunggunya?"
Nora tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Dia selalu berpikir bahwa Ravka pasti akan bangun, tetapi pertanyaan isaiah ada benarnya. Sampai kapan dia akan menunggu Ravka bangun?
"Kau punya Daren, kalian saling cinta. Cuma butuh sedikit menurunkan ego untuk saling mengakui, tetapi kau justru terpenjara oleh penantian tak berpenghujung ini. Aku merasa sedih melihatmu."
__ADS_1
Nora menitikkan air matanya dalam lamunan. Dia masih menggenggam lengan Ravka sanga erat. Dia tetap tak ingin melepas cinta pertamanya.
***
Daren mendapatkan tekanan yang sangat kuat dari keluarganya. Ayah, Ibu, maupun adik, semuanya mendukungnya untuk menikahi Nora, apapun yang terjadi. Daren pun punya perasaan kepada Nora. Meskipun tujuan mereka menyuruhnya menikah dengan Nora adalah berbeda-beda.
Daren cuma punya satu masalah. Nora sudah bertunangan dengan seseorang. Sampai sekarang dia tidak tau apakah sosok yang dimaksud Nora sebagai tunangannya adalah Isaiah atau orang lain.
Daren berjalan keluar ruangannya untuk menyuruh Juan masuk. Sosok berotot besar itu menghadap ke hadapan Daren dengan ekspresi penasaran.
"Lacak keberadaan Nora, aku butuh bicara dengannya."
Juan mengangguk. "Baik, Bos." Lalu dia menghilang untuk menghubungi Nora dengan elektroniknya.
Beberapa saat kemudian, Juan datang lagi ke dalam ruangan Daren. Karena ekspresinya selalu datar, DAren tidak pernah tau maksud dari ekspresi Juan kali ini.
"Sistemnya menunjukkan bahwa dia berada di rumah saat ini, tetapi dia tidak bisa dihubungi."
Daren bangkit dari duduknya dia punya rencana. Dia akan datang ke kantor Nora, Viewna Entertainment untuk meminta bantuan dari Oki dan Indah. Teman-teman Nora pasti punya cara untuk membujuk Nora bersamanya.
Daren menyuruh Juan dan Doni untuk menggiringnya ke parkiran. Untung saja, wartawan sudah tidak seramai seminggu yang lalu. Dia bisa berjalan dengan santai meskipun masih harus membuang muka tiap kali ada kamera diam-diam menjepret wajahnya.
Daren masuk ke dalam mobil, membelah udara siang dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sudah tidak sabar menunggu pengakuan teman-teman Nora tentang tunangan Nora.
Daren beruntung jalanan sama sekali tidak macet sehingga dia tidak butuh waktu berjam-jam untuk sampai di kantor entertainment itu.
Daren masuk ke dalam area kantor. Orang-orang menatapnya seolah melihat hantu, dan itu adalah hal biasa bari Daren. Tanpa menoleh kemanapun, dengan penuh percaya diri dia membelok ke ruangan Indah.
Tok tok ...
__ADS_1
Daren menunggu seruan dari dalam. Tetapi ada seseorang yang lebih dulu membukakannya dari dalam. Sosok itu adalah Indah. Bukan lagi senyuman antusias ketika melihat Daren, malinkan ekspresi terperangah dan tak menyangka.