
Kebebasan Juan dan Doni membuat Nora bahagia bisa melihat wajah datar mereka tergantikan dengan senyuman puas. Dua orang itu pergi ke bar di pinggir pantai untuk menikmati keindahan samudera.
Sementara Nora sedang duduk di trem yang membawanya berkeliling kota Dubai yang tidak kalah gemerlap dengan kota New York. Di depannya, Daren dan Nelan duduk berdampingan sambil bergandengan.
Nelan sama sekali tidak atau Daren dan Nora berciuman dan hampir saja melakukan hubungan semalam, karena itulah sampai sekarang Nora masih malu-malu untuk bertukar pandang dengan Daren. Sementara Daren juga tidak tau kalau Nelan sebenarnya berhubungan dengan pria lain di bar, karena Nora tidak memberitahunya.
Trem ini tidak begitu ramai. Hanya ada sekitar sepuluh orang termasuk pengendara yang mengisi kekosongan. Nora tidak tau apakah ini normal, dia sempat melihat ada yang melirik ke arahnya dengan tatapan misterius. Mungkin karena Nora duduk sendirian di belakang pasangan yang sedang kasmaran.
Nora berusaha berpikir positif, sebentar lagi mereka akan sampai di museum, tempat Daren mengajaknya untuk destinasi pertama liburan mereka.
Di tengah perjalanan, perasaan Nora semakin tidak enak. Orang-orang yang duduk di belakang menyeru-nyerukan bahasa mereka dengan suara lantang. Mirip seperti sebuah peringatan. Nora tidak tau apa maksud perkataan mereka.
Beberapa penumpang menoleh ke belakang, empat orang berpakaian aneh itu tertawa keras. Lalu bicara dengan bahasa mereka dengan nada kasar.
Nora menoleh ke arah Daren. Jujur saja dia agak takut karena dia satu-satunya penumpang yang duduk sendirian di trem ini.
"Ada apa?" tanya Daren saat Nelan memasukkan tangannya ke balik kemeja Daren untuk menyentuh leher Daren. Perhatian Daren masih terpaku ke arah para pria ribut di belakang sana.
"Lupakan, mereka cuma iseng."
"Kau bisa bahasa mereka?" tanya Nora membuat Nelan menoleh.
Nelan menatap Daren dengan tatapan menuntut. "Kau tidak beritahu dia kalau aku lahir di sini?"
Daren menggeleng. "Aku tidak pernah memberitahu tentangmu kepada siapapun."
Nelan menarik keluar tangannya dari kemeja Daren. Ekspresinya berubah kesal. "Kau selalu seperti itu. Untuk apa kau rahasiakan hubungan kita? Kau malu punya pacar gadis miskin sepertiku?"
"Tidak, Nelan ..."
Nora menatap perkelahian itu dengan ekspresi antusias.
"Iya, kau malu dengan hubungan kita, 'kan?"
"Dan kenapa kau marah? Sudah lebih dari dua tahun kita berhubungan. Selama ini aku menyembunyikan hubungan kita, kenapa kau baru marah sekarang?" tuntut Daren. Di belakangnya, Nora sedang menutup mulut karena terkejut. Dua tahun? Mereka menjalani hubungan selama dua tahun dan para penggemar Daren tidak tau?
__ADS_1
"Daren ... aku bisa menerimanya kau menyembunyikan hubungan kita sekali dua kali. Tapi ini sudah ribuan kali. Aku sampai yakin kau malu punya pacar sepertiku, apalagi di depan gadis sempurna seperti Nora."
Nora mengerjap ketika namanya dibawa-bawa.
"Kau sempurna," kata Daren untuk menenangkan Nelan. Nora semakin tidak menyangka Daren bisa bersikap semanis itu.
"Maafkan aku." Daren meraih Nelan untuk memeluknya.
Nora pura-pura menoleh keluar jendela. Sakit? Ya, dia sedang menyesali kesendiriannya. Tidak ada yang memeluknya seperti Daren memeluk Nelan.
Mungkin Nora bukan sakit karena merasa sendirian, tapi karena dia cemburu.
"Hey, Asian!" sapa salah satu pria berpakaian aneh yang tadi sempat duduk di belakang. "Kau orang Asia, 'kan?" dia menunjuk wajah Nora dengan telunjuk gemuknya.
Nora mengerling. "Y-ya," sahutnya dengan nada ketakutan.
Pria itu melemparkan diri di jok kosong. Nora semakin menghimpit ke dinding trem karena berusaha menghindar. Dia menelan ludah ketakutan. Di depannya, Daren masih mengawasi.
"Serahkan hartamu sekarang juga." Pria bercambang lebat itu mengarahkan pistol ke kening Nora.
Nora tidak bisa berkutik dari posisinya. Tubuhnya membeku, darahnya berdesir-desir seolah ada jarum di jantungnya.
"Kami bandit terkenal di sini. Rupanya ketenaran kami belum sampai ke telinga kalian," kata salah satu dari keempat pria itu.
Penumpang lain yang duduk di kejauhan berteriak histeris. Mereka ketakutan. Tetapi tidak ada yang bisa menandingi rasa takut Nora kali ini. Dia sampai lupa masih berpijak di atas bumi.
"Lepaskan Nora!" kata Daren kepada pria di samping Nora. "Jauhkan senjata itu dari Nora atau aku akan melaporkanmu ke penjaga setempat."
Keempat bandit itu terbahak.
"Penjaga setempat mana yang kau maksud, Pria Berdasi? Kau tidak lihat kalian sedang di tengah gurun?"
Daren menoleh ke arah para pengunjung yang sedang berteriak. "Panggil polisi sekarang juga. Gunakan ponsel kalian!" perintahnya.
Kedua bandit itu lebih dulu mengarahkan senjata mereka ke arah para penumpang sehingga tidak ada satupun dari mereka yang berani berkutik. "Kalau sampai ada yang melaporkan kami, kalian akan dalam bahaya!" ancamnya sambil menekan tuas peluru.
__ADS_1
Daren kehilangan kesabaran. Dia tidak bisa berkelahi. Sedangkan Juan dan Doni juga tidak ada di sini.
Bandit yang sepertinya adalah pemimpin tertawa puas. Dia menuju ke arah para penumpang itu satu persatu. Mereka dengan mudah menyerahkan harta mereka.
Bandit itu beralih menuju ke hadapan Daren. "Berikan hartamu, Anak Muda!"
Daren menatap penuh emosi.
"Berikan atau gadismu ini akan dalam bahaya." Dia menunjuk Nora dengan moncong pistolnya yang sudah karatan.
Daren menatap ke arah Nora yang sudah berkaca-kaca dan membeku. Gadis itu bisa pingsan saat itu juga dalam keadaan pucat seperti ini. Daren meraih dompet dan ponselnya. Menyerahkan kepada bandit itu dengan terpaksa.
"Bagus, giliran kau, Manis!"
Nora mengambil seluruh isi tasnya dengan tangan gemetar. Paru-parunya hampir kehabisan udara, karena dia hampir tak merasakan bahwa dia masih bernapas.
Para bandit itu tertawa puas. "Mudah sekali mengalahkan para Asia."
Dor...
Suara peluru menembus atap trem. Orang-orang berteriak ketakutan. Daren bangkit dari duduknya untuk melawan salah satu bandit itu seperti rencananya yang sudah dia susun sejak tadi.
Perkelahian seru berlangsung di atas trem yang masih berjalan. Daren berusaha merebut ponselnya lagi. Orang-orang beberapa kali menatap terkejut. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menyuruh sopir berhenti.
Trem berhenti di tengah gurun. Tidak ada yang menyadari sopir trem itu ternyata berpihak kepada para bandit.
Dor ... Dor ...
Suara tembakan mengisi kekosongan gurun yang gersang. Trem itu sengaja disesatkan agar tidak ada yang bisa menjangkau tempat ini dengan mudah.
"Tidak usah terlalu banyak tingkah, Orang Asia!" seru si bandit yang baru saja kena pukulan Daren di bagian pipinya.
Trem yang berhenti menjadi kesempatan emas bagi para penumpang untuk keluar. Nora berusaha bangkit untuk menyelamatkan Daren meskipun kakinya ingin roboh di tempat.
Ketiga bandit yang lain melawan Daren hingga kewalahan. "Kau membuatku susah!" kata salah satu bandit sambil menekan tuas peluru ke arah Daren. Untung saja Nora berhasil mencondongkan tubuh Daren hingga peluru itu tidak mengenai Daren.
__ADS_1