
Untuk pertama kalinya Nora makan setelah beberapa hari dia cuma meminum vitamin untuk tetap menjaga kesehatan tubuhnya. Meskipun begitu, dia tetap tidak menikmati makanan itu karena dia berada di atas tempat makan dengan terpaksa. Di sampingnya ada Daren, berusaha memperlihatkan attitude sebagus mungkin untuk mengesankan orang tua Nora.
Perjodohan itu masih membuat Nora syok parah. Air matanya sudah berada di ujung mata, sedikit lagi akan keluar seandainya dia tidak menahannya.
Nora meminum air putih untuk menelan makanan yang tidak dia kunyah karena tak berselera. Dia menoleh ke arah Andin yang sedang mengobrol dengan ibu Daren, sedangkan ayahnya sibuk mengobrol dengan ayah Daren.
Nora melirik ke samping. Daren sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Ekspresinya sangat serius. Nora tidak bisa memastikan apa yang sedang dia ketik sampai dia mendengar ponselnya yang berada di sampingnya berbunyi.
Nora melirik ponselnya dan melihat pesan dari Daren. Lalu dia menoleh ke samping, Daren meletakkan ponselnya di atas meja dan makan seperti biasa seolah tidak melakukan apa-apa.
Sejak tadi mereka berdua memang belum bicara, tapi kenapa harus saling berkirim pesan padahal mereka duduk berjejeran.
Nora meraih ponselnya. Membuka pesan dari Daren dengan ekspresi penasaran.
Daren : Maukah kau pergi ke kafe malam ini? Aku ada di sana akan membahas tuntas tentang perjodohan ini.
Nora menoleh terperangah ke arah Daren setelah membaca habis pesan singkat itu. Namun Daren hanya menampilkan senyum singkat, lalu kembali menatap lurus untuk memberi kesan bahwa dia sama sekali tidak bercakapan dengan Nora.
Nora mengalihkan pandangan. Sekarang dia memikirkan kenapa Daren menyuruhnya untuk datang, dan kenapa dia ingin membahas tentang perjodohan ini padahal semuanya sudah jelas. Nora menghela napas.
***
Di sini Nora malam ini, di sebuah kafe tempat Daren sudah menunggunya. Nora langsung masuk ke dalam untuk mencari keberadaan pria itu. Daren terlihat di ujung ruangan dengan kaus hitam dan jaket yang sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dia adalah seorang CEO yang akhir-akhir ini sedang naik daun.
Nora menuju ke hadapan Daren. Ekspresinya masih datar seolah tidak berniat untuk datang ke sini.
Daren senang melihat kedatangan Nora. Dia ingat terakhir kali Nora tersenyum saat melihat Micky sadar di rumah sakit, dan itu membuatnya merasa tenang lebih daripada melihat kesadaran Micky sendiri.
"terima kasih, sudah datang," kata Daren setelah Nora duduk di hadapannya.
"Apa maksudmu datang untuk menikahiku tanpa sepengetahuanku? Aku pernah menolakmu, kau ingat?" Nora memicingkan matanya. "Aku bisa saja menamparmu lagi seperti dulu, seandainya aku punya kesempatan."
Daren tersenyum. "Tapi kau tidak melakukannya."
"Karena kau curang, kau membawa orang tuamu kepada orang tuaku. Mereka mendukungmu, sedangkan aku sendiri."
"Nora ...." Daren menelan saliva kuat-kuat. "Aku menikahimu karena desakan ayah dan ibu," jelas Daren, seperti yang Nora bayangka. "Mereka bilang, kau harus bertanggung jawab atas perlakuanmu--kau sudah menyebarkan video keburukan tentangku---dan juga ini tentang Micky."
Nora menghela napas kesal.
"Maaf kalau kau tidak suka dengan perjodohan ini, tetapi ini adalah akibat dari perlakuanmu sendiri."
__ADS_1
"Jadi, sekarang kau menyalahkanku?"
Daren menggeleng tak kentara. "Ya, karena kau salah."
Nora baru saja ingin membantah, tetapi dia sadar dia memang salah. Dia lah yang memulai semua ini terjadi. Dia juga yang harus menerima konsekuensinya, tetapi dia masih tidak siap untuk bersama dengan Daren dan meninggalkan Ravka.
"Dan kau memanfaatkan kesempatan ini menikahiku. Benar, 'kan?" nada Nora agak bergetar.
"Tidak. Seandainya aku bisa, aku lebih memilih untuk membiarkanmu sendiri, jika itu yang membuatmu bahagia. Aku tau aku kurang sempurna untukmu."
"Aku tidak butuh kesempurnaan," sela Nora.
"Lalu?"
Nora menggeram frustasi. "Masalahnya aku sudah berjanji untuk tetap bersama ...." Ravka. Nora tak sanggup mengucapkan nama itu.
Daren sedang menunggu Nora mengucapkan nama yang seharusnya muncul setelah ucapannya, tapi Nora tak kunjung bicara, justru gadis itu memijat keningnya dengan ekspresi frustasi. Daren langsung kepikiran satu hal, Isaiah. Nora pasti sedang memikirkan tentang Isaiah.
"Maafkan aku karena harus mematahkan janjimu kepada orang itu," kata Daren dengan nada iba.
Nora menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia hampir menangis, tetapi dia tidak menangis jika masih ada Daren di depannya.
"Bagaimana jika kau terlalu menanggapinya serius?"
Nora menatap ke arah Daren dengan tatapan sayu. "Jadi kau pikir orang yang aku cintai tidak mencintaiku?"
Daren mengedikkan bahu. "Mungkin."
"Berani sekali kau bilang begitu. Kau tau siapa dia?"
Daren baru saja ingin mengangguk, tetapi dia cuma menelan ludah. "Tidak."
"Kalau begitu, jangan coba-coba tuduh dia sembarangan!"
"Baiklah. Aku mengerti."
"Dia tidak seperti yang kau bayangkan." Nada Nora semakin lemah dan dia menunduk lagi.
"Seperti apa dia yang sebenarnya?"
"Kau tidak perlu tau. Karena setelah kuberitahu, kau berusaha jadi seperti dia untuk bisa membuatku jatuh cinta padamu, iya kan? Sayangnya aku tidak akan jatuh semudah itu, tuan CEO Muda Yang Populer!"
__ADS_1
Daren menggeleng tak sepakat.
Nora pikir sudah saatnya baginya untuk meninggalkan tempat ini. Dia pasrah dijodohkan dengan Daren, karena itulah dia tidak bisa memberontak seperti perlakuannya yang biasa.
"Aku dengar, kau sedang mencari pekerjaan," ucap Daren. Menghentikan langkah Nora seketika. "Andin yang beritahu aku," sambung Daren.
"Aku sudah dapat pekerjaan."
"Di mana?"
Nora menatap sebal. "Zenaya."
Daren menautkan alis. "Zenaya? Zenaya Company? Tempat kita pertama bertemu itu?"
"Jangan kaitkan Zenaya Company dengan pertemuan kita. Aku lebih senang menyebutnya tempat berdemo."
"Kau tau perusahaan itu sedang dalam masalah, 'kan?"
"Hanya perusahaan itu yang menyuruhku datang. Aku harus mengambil tindakan atau ayahku akan menguburku hidup-hidup karena menganggur di rumah."
Dari sekian banyak perusahaan yang sudah didatangi oleh Nora, kenapa perusahaannya tidak termasuk dari perusahaan-perusahaan itu? Apa karena Nora tidak mau satu kantor dengannya lagi? Pikir Daren.
"Aku bisa membantumu untuk mendapatkan pekerjaan di sana. Besok aku akan membantumu."
"Tidak, terima kasih."
"Setelah demo besar-besaran yang terjadi di Zenaya, setauku perusahaan itu tidak menerima karyawan baru hingga sekarang. Cuma memastikan apakah kau ditipu atau tidak."
Nora mengerling. "Oke, kalau begitu aku menerima bantuanmu."
Daren tersenyum. "Bagus. Besok aku akan menjemputmu."
Nora bangkit dari duduknya untuk bersiap pergi.
"Mau kuantar pulang?"
"Tidak," tegas Nora. Diantar pulang oleh Daren adalah pantang baginya.
"Hati-hati di jalan!"
Nora tau Daren berusaha membuatnya berkesan dengan segala cara. Sayangnya, dia tidak terkesan sama sekali.
__ADS_1