CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Dia datang ke Indonesia


__ADS_3

"Maaf, Pak. Sepertinya, pihak informasi sudah kewalahan untuk mengatasi masalah tentang nama baik Bapak. Semuanya berjalan tidak sesuai rencana!" kata seorang pegawai yang sedang menjelaskan konflik yang terjadi di perusahaan.


Daren meraup wajahnya frustasi. Semua masalah bertuntut hingga semakin besar hanya karena kesalahan kecil. Daren tidak menyangka rasa sukanya kepada Nora akan membuatnya jadi semenderita ini.


"Baiklah," kata Daren dengan nada lebih tegas. "Kita akan melakukan meeting mendadak sore ini." Padahal dia harus pulang awal karena ibunya bilang ayahnya akan pulang ke Indonesia sore ini.


"Tapi, Pak. Ada meeting lain yang harus membahas tentang ...."


"Aku tidak peduli. Pergi lah dan katakan perubahan jadwal kita!" bentak Daren kehilangan kesabaran.


"Baik, Pak!" sahut pegawai itu. Karena tak ingin mendapat bentakan lain, dia lebih dulu meninggalkan ruangan Daren.


Daren menggeram marah. Nyaris menumpahkan kopi di atas mejanya hingga mengenai beberapa berkas. Dia sedang mencemaskan Nora yang bukannya jatuh cinta padanya, justru jatuh cinta dengan Isaiah padahal mereka baru bertemu sekali. Sejak kapan mereka bertunangan kalau mereka belum pernah bertemu sebelumnya? Daren yakin ada sesuatu yang masih belum dia ketahui dari Nora. Gadis itu misterius, sialnya itulah yang membuatnya semakin menyukai Nora.


***


Orang yang sedang Daren pikirkan sedang mengendarai mobilnya di tengah jalan. Dia tidak lagi ke kantor, ke rumah juga tidak, dia sedang menuju ke bandara.


Beberapa saat yang lalu dia mendapat panggilan dari Isaiah, bahwa pria itu sedang terbang ke Indonesia untuk bertemu dengannya, sekaligus liburan singkat di sini. Nora tidak tau dengan jelas apa pekerjaan Isaiah. Dia menebak pekerjaan Isaiah adalah pekerjaan berat yang hanya punya sedikit waktu libur setiap bulannya.


Mobil Nora terus melaju seperti ponselnya yang terus berdering. Hinaan-hinaan dari internet masih belum berhenti. Berbagai postingan kebencian dari para penggemar Daren yang tidak setuju dengan opini Nora merajalela, Nora merasa menjadi artis mendadak. Tetapi tidak sedikit yang setuju dengan Nora dan akhirnya benci dengan Daren.


Sampai Nora tiba di bandara, dia tidak memeriksa ponselnya karena malas membaca pesan itu satu persatu. Lebih baik baginya untuk menunggu Isaiah di tempat sepi sambil merenungi masalah yang sedang dia hadapi.


Mungkin Nora akan segera dapatkan solusi dari teman barunya yang akan segera tiba.


Hampir dua puluh menit Nora merenung di kursinya, ditonton oleh sekian orang yang lewat di depannya. Dia beberapa kali menatap ke arah pintu bandara, Isaiah belum juga kelihatan. Atau mungkin pria itu sudah meninggalkan bandara sejak Nora belum sampai?


Nora memeriksa ponselnya. Mengabaikan seluruh pesan tak berguna dan mencari nomor Isiah, pesan dari Isaiah yang menyuruhnya untuk menjemput di bandara sekitar empat belas jam lalu, seharusnya Isaiah hampir sampai di sini.


Nora berusaha menghubungi nomor itu, tetapi tak ada jawaban. Nora menghela napas pasrah. Mungkin dia harus bersabar sedikit lagi.

__ADS_1


Drtt ...


Nora menoleh ke arah ponselnya. Daren sedang berusaha menghubunginya. Untuk apa? Pikir Nora.


Daren menghubungi Nora untuk kedua kalinya, lalu dia mengangkat panggilan itu karena tak ingin ada gangguan lagi setelah ini.


"Aku ingin kita bicara!" kata Daren tanpa sapaan apapun.


Nora mengerling ke arah ponselnya.


"Di mana kau sekarang?" tuntut Daren membuat Nora sekali lagi menatap keheranan.


Nora menggeram marah sambil mematikan panggilan secara sepihak. Dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun yang punya sangkut pautnya dengan masalah besar ini, termasuk Daren sekalipun. Daren akan menganggap permintaan maaf Nora palsu? Itu bukan masalah besar baginya. Dia akan segera dapat solusi dari Isaiah begitu pria itu sampai di sini.


Daren : Tolong angkat teleponnya, aku harus bicara denganmu


Daren : Kau bilang kau akan menanggung seluruh kesalahanmu, angkat dulu teleponnya!


Nora tidak membalas pesan-pesan dari Daren, dia hanya membacanya. Apa yang Daren inginkan setelah dia mengangkat telfon ini? Melamar Nora? Berusaha membuat Nora jatuh cinta? Sudah cukup bagi Nora menanggung rasa sakit karena cinta, dia ingin sekali keluar dari situasi ini.


"Isaiah!" seru Nora tak menyangka. Dia langsung bangkit sambil menutup mulut. "K-kau ... sejak kapan kau tiba?"


"Baru beberapa detik lalu saat kau terlihat frustasi membaca sesuatu dari ponselmu," sahut Isaiah, lalu memeluk Nora. "Bagaimana kabarmu? Aghr ... kau tak perlu menjawab. Aku tau jawabannya. Kau pasti sedang stres berat."


Nora mengulum senyum. "Sayangnya aku harus bilang, ya."


Isaiah duduk di samping Nora untuk melepas lelah. Dia meletakkan koper di sampingnya, lalu menatap serius ke arah Nora. "Bagaimana dengan Daren?"


"Aku sudah minta maaf padanya, seperti yang sudah kau sarankan."


"Kau datang menemuinya, atau dia menyeretmu ke kantor sambil marah-marah?"

__ADS_1


"Tentu saja aku yang datang menemuinya. Bagaimana mungkin kau berpikir, Daren akan menyeretku ke kantor dan menuntutku untuk minta maaf?" dia menatap heran.


"Aku cuma bercanda, Nora," sahut Isaiah lalu tertawa.


"Tolong jangan tertawa, aku serius."


"Kadang kau perlu tertawa untuk bisa tenang."


Nora menatap serius ke wajah Isaiah. Kenapa dia tidak pernah dengar kalimat itu dari siapapun sebelumnya?


"Apa yang kau lihat? Jangan suka padaku! Kita bahkan baru bertemu dua kali," kata Isaiah membuat Nora mengerjap. "Sebaiknya, kau tunjukkan padaku dimana tempat menginap yang bagus karena aku ingin menikmati liburan di Indonesia tanpa gangguan apapun."


Nora menghela napas. "Kau sudah bilang ingin membantuku untuk keluar dari masalah ini."


"Tapi tujuan awalku adalah untuk berlibur."


Nora menatap kesal. "Isaiah ...."


"Ya, baiklah. Aku teman baik Daren, aku akan membantunya membalaskan dendamnya kepadamu."


"Apa?!" Nora menautkan alis.


"Bercanda!" kata Isaiah akhirnya tersenyum bercanda. "Aku akan membantu kalian berdua terbebas dari masalah ini. Tenang saja!" katanya lalu merangkul Nora dan berjalan keluar bandara.


Keduanya masuk ke dalam mobil Nora. Isaiah meminta izin untuk menyetir sehingga Nora bisa duduk santai di samping kursi kemudi sambil melihat pemandangan di samping jalan.


"Aku masih tidak mengerti kenapa kau marah saat Daren ingin datang ke rumahmu untuk melamarmu. Kau bilang kau awalnya benci dengan Daren, tapi sekarang sudah tidak benci lagi."


"Ya, aku bahkan pernah membantunya pura-pura dari pacarnya agar dia tidak dijodohkan oleh ibunya."


"Tapi kau menyukainya, 'kan? Kau menyukai Daren?"

__ADS_1


Nora mengerling. Dia ingat rasa suka itu pernah muncul, tetapi dia sudah menguburnya dalam-dalam dan berusaha untuk tidak membuatnya muncul lagi. Nora selalu takut dan merasa bersalah setiap kali dia dekat dengan Daren.


"Tidak, aku menyukai orang lain," sahut Nora membuat Isaiah menoleh heran.


__ADS_2