CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Semua orang suka


__ADS_3

Di tengah perjalanan pulang, telinga Nora sampai kebas mendengar curhatan Oki tentang Daren. Oki selalu seperti ini setelah bertemu dengan laki-laki tampan, tetapi ketika membicarakan Daren, entah kenapa emosi Nora naik lebih cepat daripada biasanya.


"Dia sebenarnya baik, hanya saja tergantung lawan bicaranya," jelas Oki.


"Bisakah kau diam? Kau seperti baru saja membicarakanku biografi seorang CEO muda arogan penarik hati para wanita."


"Ya, aku memang baru saja melakukannya. Aku berusaha mengenalkan Daren padamu, bahwa dia bukan laki-laki arogan, bahwa dia tidak seburuk yang kau kira."


Nora menggeleng pasrah. "Aku tidak tau sudut pandang mana yang kau gunakan untuk melihat Daren. Bukankah sudah jelas dari tatapannya kalau dia sangat sombong."


"Jangan salah," sanggah Oki tergesa-gesa. Dia tetap fokus dengan jalanan meskipun dibarengi dengan perdebatan sengit. "Kau baru bertemu Daren sekali ..."


"Dua kali," sela Nora.


"Ya, dua kali, dan kau sudah membuat kesimpulan tentang keseluruhan sikap Daren. Dia tidak seburuk itu setelah kalian saling mengenal cukup lama."


"Dimana-mana, kesan pertama adalah segalanya. Kalau di awal-awal sudah sombong begitu, aku ragu-ragu percaya padamu bahwa dia tidak seperti yang kukira," sahut Nora dengan nada mengejek.


Oki menggeleng pasrah. "Susah bicara denganmu. Nanti tidak akan selesai perdebatan ini sampai kiamat."


Nora mengedikkan bahu tak peduli. "Karena sampai kapan pun aku tidak akan setuju dengan pendapatmu."


"Hm," sahut Oki yang sudah kehilangan kesabaran.


"Dilihat dari sisi manapun, Daren tetap laki-laki sombong yang suka meremehkan orang lain."


"Iya," sahut Oki lagi.


Nora mengalihkan pandangan malas.


Mobil berhenti tepat di parkiran Viewna Entertainment. Para karyawan banyak yang keluar untuk mencari udara segar karena ini sudah masuk jam istirahat.


"Oh tidak, Kenan!" pekik Oki sambil berlindung di balik Nora yang sepuluh senti lebih tinggi darinya.


Nora bisa melihat Kenan sedang berjalan keluar gedung membawa segelas kopi dingin dan laptop di tangan yang lain. Dia ingin menuju ke kursi taman.


"Kenapa sembunyi?" tanya Nora bingung.


"Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Dia tau aku selingkuh dengan Leo."


"Leo? Si cowok berambut gondrong yang kau temui di Zenaya itu?"

__ADS_1


"Ya," sahut Oki. Agak mendorong Nora masuk ke gedung tanpa memperlihatkan sedikitpun bagian tubuhnya dari sudut pandang Kenan.


Keduanya sampai di dalam. Oki menghela napas sangat lega, nyaris tergeletak di lantai. Dia cuma bersandar pada bahu Nora untuk menenangkan diri.


"Aku masih tak menyangka kau memutuskan Kenan," tukas Nora dengan ada kecewa.


"Dia kadang-kadang posesif."


"Cowok posesif itu langka, kau beruntung bertemu dengannya."


"Kata siapa? Cowok posesif banyak macamnya di dunia ini? Paling banyak modelan seperti Kenan. Kau mana tau, kau kan tidak pernah pacaran."


Nora membelalak karena tersinggung. "Aku punya mantan."


"Ya? Mantan SMA yang cuma bertahan selama dua hari itu? Siapa namanya? Den ... Denis?"


"Diam!" Nora mencubit lengan Oki saat sahabatnya itu terbahak.


"Ayo, kita bawa ini ke bos. Aku tidak gajiku ditahan," ajak Nora setelah Oki selesai tertawa. Mereka berjalan melalui tangga. Sengaja, bukan karena lift rusak atau ramai, tapi karena mereka ingin menghabiskan waktu lebih lama untuk bercerita tentang masa-masa SMA mereka.


Nora menarik napas dalam begitu mereka sampai di depan ruangan Indah. Dia membuka pintu, padahal sudah ada simbol 'Ketuk Pintu Sebelum Masuk'. Nora sudah terlalu sering melanggarnya, dan melakukan pelanggaran adalah hal biasa baginya.


Indah yang semula sedang menatap ke arah meja di belakang kursi, kini membalikkan tubuhnya untuk menghadap Nora dan Oki. Nora sempat mengira Indah akan menuntutnya membuat artikel yang belum dia kerjakan, tetapi wajah Indah secerah siang ini seolah dia baru saja mendengar kabar paling membahagiakan di dunia.


"Aku sudah resmi cerai!" seru Indah sambil berlarian ke arah kedua karyawannya.


Nora dan Oki saling lempar pandang. Secara refleks, mereka berteriak bahagia dan menerima pelukan Indah sambil tertawa bahagia.


"Selamat, Bos!" pekik Oki sambil melepas pelukan itu.


"Aku tidak menyangka akan secepat ini," sahut Indah dengan ekspresi terharu. "Sekarang, aku sudah bebas dari suamiku, aku tidak akan dikekang lagi, dan perusahaan ini tidak akan diambil alih olehnya. Lega rasanya," gerutu Indah sambil menutup mata untuk menikmati ketenangan. Dia sampai lupa ingin memarahi Nora dan Oki karena keluar pada jam yang dilarang sejak pagi tadi.


"Jadi, kau akan bebas menggoda para berondong." Oki menaik turunkan sebelah alisnya. Nora hanya plonga plongo.


Indah tertawa geli. "Kau ini ada-ada saja. Mana ada laki-laki muda yang mau bersamaku?"


"Bos," seru Oki. "Kau cantik, janda, muda, kaya, masih perawan, akan diincar banyak orang. Percayalah."


"Stop, guys!" sela Nora membuat percakapan tak berguna Indah dan Oki akhirnya terhenti.


Indah baru sadar ada Nora di sana dan dia ingat bahwa dia harus lebih profesional. "Kalian dari mana? Kenan bilang padaku kalian keluar jam sepuluh pagi tadi."

__ADS_1


Oki menggigit bibir bawah.


"Mengambil ini." Nora mengangkat kameranya ke atas meja agar Indah bisa melihatnya dengan jelas.


Indah mengulum senyum. "Lain kali, izin dulu jika ingin keluar!"


"Akan kupastikan."


Indah mengoreksi bagian kamera itu, lalu mengangguk menghargai. "Tidak jarang ada orang yang mau mengembalikan barang semahal ini. Biasanya, mereka tidak mengaku atau minimal minta tebusan."


Oki tersenyum meremehkan. "Untuk apa minta tebusan kalau si pencuri itu adalah Daren."


Nora menoleh ke arah Oki dengan ekspresi menyalahkan. Dia sama sekali tidak suka topik tentang Daren dibicarakan. Apalagi di depan Indah.


"Daren?" tanya Indah kebingungan. "Daren siapa?"


"Daren Mahendra, Bos," sahut Oki antusias. "Nora punya konflik dengan Daren dan dia tidak cerita dengan kita!" serunya membuat Indah syok setengah mati.


"Kau punya hubungan dengan Daren?" tanya Indah membuat Nora membelalak. "Sejak kapan?" histerisnya sambil menggoyangkan bahu Nora.


"Tidak, Bos. Kami cuma saling salah paham," sahut Nora santai.


"Tidak mungkin. Daren paling anti dengan seorang gadis. Sekarang, bagaimana bisa berinteraksi denganmu?"


"Mudah saja," sahut Nora. "Kesalahpahaman."


Indah mengalihkan pandangan ke arah Oki untuk mencari jawaban lebih jelas. Tapi Oki cuma nyengir. Indah balik menatap ke Nora lagi. "Astaga, aku tidak menyangka, Nora."


"Berhenti bersikap dramatis, Bos!" sanggah Nora dengan nada tak suka.


"Kau akan bawa berkah untuk perusahaan ini. Aku tidak salah mempekerjakanmu di sini. Lupakan tentang masalah rating restoran itu. Bekerjalah sesukamu."


Nora mengerutkan kening mengerti. "Apa maksudmu, Bos?"


"Kau bisa ambil cuti kapanpun kau mau."


Nora berbinar. "Dan gajiku tidak dipotong, 'kan?"


"Aku sedang bahagia, jadi, tidak," sahut Indah membuat Nora akhirnya bisa sebahagia dia sampai loncat-loncat mirip anak kecil.


"Argh ... kau membuatku iri. Aku harus begadang siang malam menyiapkan liputan di luar kota besok," curhat Oki dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


__ADS_2