
Menghabiskan satu hari bersama dengan Daren adalah hal paling memuakkan bagi Nora. Meskipun dia hanya memulai hari pertamanya selama lima jam, dia merasa seolah berada di ruangan Daren selama lima abad, dan itu sangat melelahkan sampai dia harus tepar sebelum jam delapan malam padahal biasanya dia sering tidur jam dua belas malam hanya untuk halu.
Apalagi peristiwa memalukan dimana dia sempat memotret Daren dengan lampu flash yang membuatnya ingin sekali menghilang dari bumi saat itu juga. Sejak saat itu, dia tidak berani beradu pandang dengan Daren sampai jam pulang.
Nora berharap bekerja dengan Daren hanyalah mimpi buruknya saja, tapi itu tidak seperti yang ia harapkan, karena paginya dia harus bangun untuk berangkat ke kantor lelaki arogan itu lagi.
***
Hari itu adalah hari kedua Nora berada satu ruangan dengan Daren. Dia mencoret tanggal di ponselnya agar lima belas hari yang akan datang berjalan dalam waktu singkat, nyatanya itu tidak berpengaruh sama sekali.
Nora duduk di hadapan Daren, menanyakan beberapa pertanyaan yang sudah bosnya siapkan. Jawaban-jawaban dari pertanyaanya akan dijadikan dasar liputannya.
Daren menjawab setiap pertanyaan dengan profesional. Namun sampai sekarang dia masih belum memberi alasan kenapa menyuruh Nora untuk satu ruangan dengannya.
"Masih ada pertanyaan lain?" tanya Daren setelah mendapatkan lebih dari dua puluh lima pertanyaan sejak satu jam yang lalu.
Nora memeriksa kolom paling bawah berkasnya. "Satu lagi, apa yang menjadi bagian dari hidupmu? Hal yang membuatmu tak bisa berpisah darinya selama kau masih hidup?"
Daren berdehem. Memperbaiki posisi duduknya untuk bersiap menjawab. Sebenarnya dia tidak perlu mengambil ancang-ancang karena jawabannya sudah sangat jelas. Hanya saja, jawaban ini agak bersifat pribadi dan dia paling tidak suka menjawab pertanyaan-pertanyaan personal seperti ini.
"Kau menjawabnya atau tidak?" tanya Nora setelah melihat Daren terdiam selama hampir dua menit.
Daren menghela napas. "Adikku."
"Micky?" Nora agak menatap antusias.
Daren menangguk. "Ya, Micky."
"Kenapa?"
Daren mengerling. "Kau bilang hanya satu pertanyaan yang tersisa, tidak ada pertanyaan lain? Aku sudah jawab pertanyaan terakhirmu."
"Tapi kau harus berikan alasan."
"Tidak, itu artinya kau memberiku dua pertanyaan," sahut Daren.
Nora mnghela napas kesal. "Ayolah, aku cuma ingin tau alasannya."
__ADS_1
"Aku tidak akan memberimu alasan." Daren meraih laptopnya. Membukanya agar pandangan mereka terhalangi, berarti bahwa dia sudah tidak menerima pertanyaan lain dari Nora.
Nora mengulum senyum. "Kalau begitu, aku cuma mau tanya ... kenapa kau membuatku satu ruangan denganmu?"
Daren mengintip dari balik laptop. Tatapan tajamnya jatuh ke wajah Nora membuat Nora gugup. Dia sudah membuka mulut untuk menjawab, tapi pintu ruangan terbuka. Seorang pria muncul dari sana.
Nora buru-buru bangkit untuk menuju ke kursinya. Pria yang baru saja datang itu menatap heran ke arah Nora, lalu dia mengalihkan pandangan karena ingat tujuan awalnya datang ke tempat ini.
"Maaf, Pak. Ini berkas yang bapak inginkan, sudah saya cetak sesuai keinginan Anda."
Daren menatap berkas yang tersodor ke hadapannya. Dia melirik dengan tatapan tajam. Lalu menarik napas dalam.
"Apa aku menyuruhmu membawanya ke sini?" tanya Daren dengan nada dingin dan menusuk.
Pria itu menunduk.
"Kapan aku menyuruhnya?"
Nora mencuri dengar dari kursinya. Dia melihat wajah Daren terlihat marah dan pemandangan itu membuatnya tak menyangka.
Pegawai berkemeja hijau itu menunduk karena merasa bersalah. "Nadia memberitahu saya untuk memberikannya hari ini, jadi saya tidak tau ..."
"Sekarang, siapa yang harus tanggung keterlambatan ini?" sela Daren menggebu-gebu. Dia berusaha mengontrol amarahnya dengan menatap ke arah jendela.
Nora menunduk takut dari kursinya. Dia pura-pura sibuk dengan laptopnya. Jujur saja, dia tidak menyangka emosi Daren semenakutkan ini. Satu-satunya orang yang membuat Nora takut ketika emosi hanyalah ayahnya, tetapi kali ini dia takut melihat Daren.
"M-maaf, Pak."
"Simpan permintaan maafmu. Waktu tidak bisa diulang."
Daren melempar berkas di tangannya ke ujung meja. Lalu kembali berkutat ke depan layar komputer sambil menahan keningnya yang terasa pusing. Pegawainya masih berdiri untuk menunggu perintah Daren selanjutnya.
Setelah melihat Daren terdiam hingga satu menit, pegawai itu undur diri. Dia keluar dengan perasaan bersalah.
Daren menghela napas panjang. Tidak biasanya dia termakan emosi. Pegawainya terbiasa dengan sikap dinginnya, tetapi mereka tidak terbiasa dengan kemarahannya.
Suhu darah Daren perlahan menurun. Dia melirik ke arah Nora yang masih menyembunyikan wajahnya di balik laptop. Daren tau Nora mengupingnya dan gadis itu terlihat berbeda setelah mendengar dia emosi.
__ADS_1
"Nora," sapa Daren membuat wajah Nora muncul dari balik layar laptop. "Apa aku membuatmu takut?"
Nora terkejut setengah mati. Daren menanyainya dengan pertanyaan penuh perhatian? Apa dia tidak salah dengar?
"Maaf, aku kehilangan kendali."
Nora menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tau kau pemarah," sahut Nora santai padahal sebenarnya dia masih waspada.
"Aku bukan pemarah, hanya saja ini adalah masalah penting."
Nora mengalihkan pandangan. Berusaha tak peduli agar tidak ada percakapan beruntun antara keduanya.
***
Hari menjelang sore, Daren sudah bersiap untuk pulang. Nora juga sudah tidak sabar rebahan di kasur rumahnya setelah menghabiskan tujuh jam tegang bersama Daren. Meskipun begitu, diam-diam Nora agak terpesona tiap kali Daren melihat Daren berjalan atau pun melepas dan memakai jasnya.
Nora sering mengintip diam-diam bagaimana postur tubuh Daren dan dia menelan ludah, lalu dia mengalihkan pandangan saat Daren memergokinya mencuri-curi pandang.
"Besok ada acara ke One Star. Kau mau ikut?"
Nora mengerling tak mengerti. "One Star?"
"Perusahaan tekstil. Aku akan mengisi meeting di sana."
Nora mengingat request dari Indah yang memintanya lebih banyak laporan kegiatan Daren. Dia langsung menyanggupinya dengan anggukan. "Langsung ke sana atau ..."
"Datang dulu kemari. Kita akan kesana bersama-sama."
"Oke," sahut Nora dengan nada tenang, meskipun dia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan ini.
"Oh ya ...." Daren menatap Nora lagi sebelum dia keluar dari ruangan ini. "Maaf kalau aku sempat membuatmu takut tentang masalah tadi."
Nora menggeleng. "Ya, aku memang takut. Tapi kau tidak perlu susah-susah minta maaf padaku."
Daren mengerutkan kening keheranan melihat gaya bicara Nora padanya. Cuma gadis ini yang berani bicara dengannya dengan nada seperti menantang. "Baiklah. Kau mau pulang atau ... tetap duduk di sini untuk membalas pesan teman-temanmu itu?"
Nora bangkit dari duduknya. "Tentu saja aku akan pulang," sahutnya ketus. "Dan pekerjaanku bukan cuma balas pesan. Tugasku lebih dari pada itu," sahutnya. Berjalan mendahului Daren keluar dari ruangan ini.
__ADS_1