CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Hilang Ingatan


__ADS_3

Nora benar-benar tidak menyangka Daren akan meninggalkan pernikahan tanpa alasan yang jelas. Dia sudah susah-susah untuk pasrah dan menerima kenyataan, ternyata usahanya sia-sia karena Daren seolah justru mendorongnya untuk kembali ke keputusan semula, yaitu kembali kepada Ravka.


Semua orang sangat kecewa dengan pernikahan gagal itu. lebih parah lagi, ayah Nora nyaris terkena serangan jantung karena pernikahan putrinya gagal. Seluruh anggota keluarga membawa sang ayah untuk tenang di tempat tidur, sedangkan Nora berdiam di dalam kamar sambil mencari tau kenapa Daren meninggalkan pernikahan.


Sudah hampir sepuluh kali Nora berusaha menghubungi DAren, tetapi tak ada satupun jawaban yang dia dapatkan.


Nora tidak tau apakah dia harus sedih atau senang, yang jelas dia sangat kecewa dengan Daren karena lari dari kenyataan. Seharusnya daren bilang padanya terlebih dahulu bahwa dia ingin menghentikan pernikahannya ini, bukannya pergi begitu saja tanpa izin dari siapa-siapa.


Nora menoleh ke arah ponselnya yang berdering. Dia sangat terkejut melihat panggilan dari rumah sakit. Apakah ini berkaitan dengan ayahnya? Kenapa mereka tidak menghubunginya lewat ponsel keluarganya saja?


"Halo!" sapa Nora sambil mengusap air mata terakhirnya.


"Nora!" seru dokter membuat Nora tegang. "Ravka ... dia sadar!"


Nora kehilangan kata-kata. Ponselnya nyaris jatuh ke tanah seandainya dia tidak menahannya dengan tangan kiri. Apa dia tidak salah dengar? Apa ini mimpi? Air mata Nora kembali berjatuhan. Jika ini mimpi, dia tidak akan merasa sesakit ini.


Nora bangkit dari duduknya dengan panik. "A-aku segera ke sana!"


Penantiannya selama lima tahun akan segera terjawab. Nora menganggap kegagalan pernikahannya adalah sebuah keberuntungan, dia ingin berterima kasih kepada Daren karena telah kabur sehingga Nora belum secara resmi jadi istri Daren saat Ravka sadar dari komanya.


Nora tidak peduli masih ada begitu banyak orang yang sedang menggunjing keluarganya di luar sana. Dia ingin segera sampai di rumah sakit karena merasa tujuannya sudah begitu dekat. Dia ingin melihat iris coklat itu menatap ke arahnya penuh cinta seperti dulu.


"Nora!" seru Andin dari arah ambang pintu saat Nora meninggalkan rumah dengan gaun pengantin yang masih terpasang.


Nora tidak mendengarkan kakaknya, dia tidak peduli apa-apa selain melihat Ravka secara nyata setelah sekian lama memimpikan pria itu di angannya.

__ADS_1


Nora mengegas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak bisa menunggu lebih lama, kalau bisa dia ingin sekali melakukan teleportasi agar dia menjadi orang pertama yang Ravka lihat setelah dia bangun dari komanya.


Nora beruntung karena dia berhasil menerobos lampu lalu lintas tanpa ketahuan polisi dan jalanan sama sekali macet sehingga dia sampai di rumah sakit dalam waktu yang sangat singkat.


Nora menjinjing gaun pernikahannya. Berlari ke arah koridor rumah sakit. Dia tidak peduli seluruh perhatian tertuju padanya. Air matanya beberapa kali turun membuat orang-orang menatap terperangah dan beberapa menggunjingnya. Mungkin ini terdengar dramatis, tapi Nora benar-benar sudah tidak tahan untuk bisa bertemu seseorang yang selama ini tunggu selama lebih dari lima tahun.


Nora keluar dari lift. Langsung menuju ke ruangan Ravka berada. Dari kejauhan dia bisa melihat pintunya agak terbuka, padahal biasanya ruangan Ravka paling tertutup sejak dulu. Dari sini tangis Nora sudah meledak-ledak.


Pintu itu menjeblak terbuka. Wajah Nora menyembul dari ambang pintu dengan riasan wajah yang nyaris luntur karena air mata. Gaun pernikahannya menjuntai hingga menutupi mata kaki. Senyum gadis itu melebar melihat Ravka menoleh ke arahnya dengan bola mata coklat yang selama ini jadi bahan halunya setiap mau tidur.


Nora terlambat. Dia bukan orang pertama yang dilihat Ravka saat pria itu sadar. Ada Oki berada di ujung ranjang, sama-sama sedang menatap ke arah Nora dengan ekspresi terkejut. Jadi, ini alasan Oki tidak datang ke acara pernikahannya.


"Rav .... Ravka!" pekik Nora di tengah isakannya. Dia berjalan perlahan ke arah Ravka.


Sosok itu menatap ke arah Nora. Keduanya saling bertukar pandang tanpa berkedip. Keduanya berada dalam keadaan haru. Rindu itu terlalu besar untuk dicurahkan di pertemuan pertama. Andai Ravka bisa duduk, Nora sudah memeluk Ravka sangat erat atau bahkan menciumnya.


Dokter menatap pertemuan pertama itu dengan helaan napas. Sedangkan Oki menutup setengah wajahnya dengan mulut karena terharu.


"Kau siapa?" tanya Ravka.


Deg!


Nora mengerling memastikan kalimat itu tidak keluar dari mulut Ravka. Lalu dia sadar, sejak tadi hanya dia yang menatap penuh rindu, tatapan Ravka kepadanya hanya sekedar tatapan orang asing yang seolah tak mengenalnya.


Nora menghentikan isakannya. Senyumnya pudar. Dia menatap ke arah dokter yang menunduk.

__ADS_1


Ravka menoleh ke arah Oki. "Oki, dia siapa?"


Nora semakin tak menyangka. Dia melihat tangan Oki dan Ravka yang bertaut. Hatinya hancur seketika.


"Maaf, Nora!" kata Oki yang sama-sama terisak sepertinya. "Aku tau Daren pergi."


Emosi Nora sampai di puncaknya, anehnya emosi itu hanya membuatnya melemas. Dia benar-benar tidak menyadari kakinya masih berpijak di atas bumi.


"Aku yang memberitahu Daren tentang Ravka."


Ravka mengerling ke arah Oki dan Nora dengan ekspresi kebingungan. Dia tidak pernah menyadari gadis asing memakai gaun pernikahan itu sedang patah hati dan hampir menyerah dalam hidupnya karena dilanda konflik bertubi-tubi.


"Dan Ravka ....," Nora tak sanggup bicara, bahkan menampilkan mimik wajah selain tak percaya.


"Dia hilang ingatan, dia hanya mengingat seseorang yang berkesan dalam hidupnya," sahut Oki membuat Nora seolah tersambar listrik dengan tegangan sangat tinggi.


"Seseorang yang berkesan dalam hidupnya?" Nora mengerling memastikan sebelum dai benar-benar jatuh semakin dalam.


"Ya," sahut Oki dengan nada bergetar.


"Kau adalah orang berkesan baginya?"


"Kami ... kami melakukan hubungan di belakangmu." Oki akhirnya mengaku. Dia tak tega melihat betapa banyak harapan yang berjatuhan dari mata Nora. Gadis itu mungkin sudah tak bernyawa jika saja kebahagian dalam dirinya berbentuk potongan-potongan jiwa.


Nora menggeleng tak kentara. Sudah cukup baginya mendengar kabar buruk hari ini. Dia merasa semua dalam hidupnya sudah berakhir saat ini juga. Penantiannya sia-sia. "Kau menghancurkan hidupku, Oki!" kata Nora sebelum akhirnya dia meninggalkan tempat itu dengan keadaan air mata bercucuran.

__ADS_1


Bagaimana dengan rasa rindu yang tak tertahankan terhadap Ravka? Nora menyesal. Dia merasa lebih baik mencintai Daren dari dulu jika tau akan begini. Seharusnya dia menerima Daren sejak Daren kehilangan Nelan, atau mungkin dia mati saja di tengah insiden di Dubai dulu. Itu lebih baik daripada merasakan kekecewaan sebesar ini.


__ADS_2