CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Membujuk Nora


__ADS_3

Keadaan Micky semakin memburuk hingga seminggu kemudian, tetapi Micky semakin ceria seolah tidak tau dia berada dalam ancaman yang sangat berbahaya bagi hidupnya.


Daren yang semakin tegang karena dia khawatir dengan keadaan Micky. Belum lagi rasa bersalahnya yang sangat besar karena sudah membawa orang yang paling dia sayangi berada di situasi ini. Daren berusaha menebus kesalahan itu, dengan cara mengabulkan permintaan Micky yang akhir-akhir ini sering Micky ucapkan.


Sayangnya permintaan Micky tidak sederhana. Micky meminta Daren untuk menikah dengan Nora. Mungkin kelihatannya sangat mudah, apalagi Daren tampan dan punya kekuasaan. Masalahnya, tidak mudah menaklukan Nora hanya dengan tampang dan kekuasaan. Butuh effort yang sangat besar untuk mematahkan ego Nora.


Daren keluar dari mobilnya. Dia sampai di SMA Taruna Putri untuk menemui Andin seperti seminggu yang lalu. Kali ini dia beruntung karena para siswa sedang melakukan pembelajaran di depan kelas, sehingga dia tidak perlu menghindar dari tatapan tajam mereka.


Daren masuk ke ruangan TU dan meminta petugas di sana untuk memanggilkan Andin. Tidak butuh waktu lama Andin muncul dengan ekspresi cemas. Tetapi Daren bukannya ingin mengintimidasi Andin lagi seperti saat mereka pertama kali bertemu, melainkan untuk meminta bantuan dari Andin.


"Maaf, apa aku mengganggumu?" tanya Daren setelah mereka duduk berhadapan. "Aku datang kesini untuk membicarakan masalah pribadi, apa itu jadi masalah?"


Andin menatap ke arah pintu ruang tamu yang tertutup. Dia merasa aman merespon Daren tanpa perlu takut ada yang curiga dengan percakapan mereka.


"Tidak masalah. Katakan saja."


Daren agak mengalihkan pandangan. "Aku minta maaf pernah menuduhmu melakukan sesuatu kepada Micky. Aku tau bahwa kau tidak ada sangkut pautnya dengan kasus pembullyannya."


Andin mengangguk mengerti. "Aku juga tidak tau kalau teman-temannya mengkhianatinya. Setiap kali dia bercerita tentang temannya, dia selalu bersemangat."


"Aku ingin minta bantuan."


Andin menautkan alis kebingungan. "Apa itu?"


Daren menelan saliva kuat-kuat untuk mengambil ancang-ancang. Kedua matanya berkedip tak karuan. "Bisakah ... bisakah kau membujuk Nora untuk menikah denganku?"


Andin kehilangan kata-kata. Dia sempat memikirkan tentang kalimat itu, ternyata dugaannya benar.


"Aku tidak memaksanya. Masalahnya, itu adalah keinginan Micky."


Andin memicingkan mata. "Bukan keinginanmu?"


Daren merasa terintimidasi. Karena itulah dia berubah dingin. "Kuharap kau bisa membantuku ...," katanya karena sudah kehilangan kata-kata.


Andin mengangguk mengerti. "Aku akan mencobanya." Andin tau dia tidak akan berhasil semudah itu.


"Aku sudah mendatangi teman-teman Nora, Oki dan Indah, tetapi mereka menolak untuk membantu. Satu-satunya orang yang bisa membujuknya sekarang adalah kau. Aku tau ... aku mungkin kurang baik untuk Nora. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya bahagia."


Andin cukup terkesan. Senyum di bibirnya terbit begitu saja.

__ADS_1


"Aku cuma mau mengatakan itu. Terima kasih sudah mau bekerja sama."


Andin mengangguk. "Sama-sama."


Daren bisa menghela napas lebih tenang daripada sebelumnya. Meskipun tidak seratus persen, dia yakin ada sedikit bagian dari Nora yang akan luluh setelah mendengar bujukan kakaknya.


***


Kedatangan Daren di sekolah membuat Andin kepikiran seharian. Nora tidak akan menerima bujukannya semudah itu. Dia tau Nora punya seseorang yang masih ia tunggu sampai hari ini, orang itu adalah Ravka.


Bagi Andin, Ravka adalah bocah malang yang mengalami kecelakaan dan kehilangan orang tuanya dan Nora lebih malang lagi karena menunggunya bangun dari komanya selama lebih dari lima tahun. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda Ravka akan bangun.


Andin iba kepada Nora, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Setiap kali Andin berusaha mengajak Nora jatuh cinta dengan orang lain, Nora langsung membentaknya sambil menangis, mengatakan bahwa dia dan Ravka adalah cinta sejati yang tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun.


Mungkin bagi Andin itu bullshit, tapi bagi Nora kalimat itu adalah penguatnya selama ini.


Andin bercanang-acang di depan pintu kamar. Nora baru saja pulang dari rumah sakit beberapa menit lalu, tentu saja untuk menjenguk Ravka. Kali ini dia akan berusaha menjabarkan beberapa poin alasan penting kenapa Nora tidak boleh membentaknya dengan kalimat bulshit itu lagi.


Andin duduk di samping Nora yang sedang menatap laptop di atas tempat tidur. "Apa yang sedang kau lakukan?"


"Cari pekerjaan," sahut Nora menyedihkan.


Andin mengangguk paham. Dia terdiam beberapa saat untuk mengambil ancang-ancang. Jika dia bicara secara terus terang, Nora pasti akan langsung kesal dan usahanya untuk menyiapkan rencana ini berakhir sia-sia.


Nora menoleh datar. "Ya, tapi sekarang aku belum menikah."


"Kalau begitu menikahlah!"


Nora menautkan alis kebingungan. Dia meneliti ekspresi Andin dengan seksama untuk mencari keanehan di wajah kakaknya. "Mau apa kau datang ke sini?!" tanyanya karena curiga.


Andin mengedikkan bahu. "Cuma ... bert-bertanya bagaimana kabar Ravka."


Nora menghela napas. Mengalihkan pandangan ke layar laptop lagi. "Masih seperti biasa," sahutnya tak bersemangat.


"Ada tanda-tanda dia akan bangun?"


Nora menoleh lagi. Dia semakin yakin ada yang tidak beres dengan Andin. "Tidak," sahutnya ketus.


"Itu artinya, sampai sekarang kau masih belum tau kapan dia akan bangun?"

__ADS_1


"Apa kau sedang berusaha membuatku putus asa?!" selidik Nora.


"T-tidak."


Nora menghela napas lagi.


"Apa kau punya rencana untuk menikah?"


"Tentu saja."


"Kapan?"


Nora menutup layar laptopnya sekali hentakan. Bahunya berubah menegang. "Oke, aku yakin kau berusaha mengatakan sesuatu. Apa itu?"


Andin menggeleng tegas. "Aku sedang tanya kapan kau berencana menikah, tidak ada maksud khusus."


"Tentu saja setelah Ravka bangun dari komanya. Kau tau itu."


"Kapan dia akan bangun?"


"Aku sudah bilang, aku tidak tau."


"Bagaimana kalau dia tidak bangun? Apa kau tidak akan menikah?!"


Nora merasa tersinggung dengan ucapan Andin. Dia merasa semua orang menariknya ke ambang putus asa padahal dia masih ingin memperjuangkan Ravka.


"Banyak pria lain diluar sana yang bisa menjagamu sebaik Ravka, atau bahkan lebih baik dari Ravka. Kenapa kau memenjarakan dirimu sendiri dalam situasi seperti ini? Nora, kau sudah ... kau sudah dewasa."


"Tidak ada yang bisa menggantikan Ravka."


"Ada, pasti ada."


"Dari mana kau tau?" Nora menatap sinis.


"Aku tau pasti ada seseorang di luar sana yang lebih baik dari Ravka."


"Meskipun begitu, aku tidak akan melupakan Ravka. Aku tidak menikah dengan siapapun kecuali dengan Ravka. Berhenti memaksaku untuk putus asa!"


"Bagaimana jika ayah yang menyuruhmu untuk putus asa? Bagaimana jika ayah dan ibu menikahkanmu dengan orang lain yang bukan Ravka?!"

__ADS_1


Nora tidak menjawab. Jika benar apa yang dikatakan Andin, lain lagi ceritanya. Dia cuma punya dua pilihan, menurut, atau kabur dari rumah. Kelopak matanya tiba-tiba memanas sepanas darahnya.


****


__ADS_2