
Nora beberapa kali menggerutu, baik di dalam hati maupun dengan suaranya. Dia tidak suka jadi bahan perhatian orang-orang yang sedang lewat di sana hanya karena duduk di bangku tunggu seperti antri sembako dengan seragam yang berbeda dari karyawan di perusahaan ini.
Saat menoleh ke samping, Nora sangat terkejut melihat ekspresi santai di wajah Oki. Temannya itu bahkan sedang melakukan siaran langsung di akun media sosialnya.
"Teman-teman, berjumpa lagi di vlog pribadiku. Terima kasih sudah mengikutiku selama ini dan ini adalah hari istimewa karena aku berada di Vernando's Company untuk bertemu dengan Daren Mahendra. Bayangkan, Daren Mahendra!" seru Oki dramatis.
"Di belakangku, ada kesayangan kalian, Nora! Hay, Nora!" Oki mengalihkan kamera ke hadapan Nora yang sedang menampilkan senyum palsu.
"Dia memaksaku duduk di sini seperti orang gila," kata Nora ke arah kamera.
"Kawan, kalau kau jadi wartawan, harga dirimu akan lebih jatuh lagi daripada hanya dengan duduk menunggu seseorang di tengah keramaian. Kalau kau tidak mengorbankan harga dirimu dengan mengajak bicara orang asing, kau tidak akan jadi seorang wartawan."
Nora tersenyum remeh. "Untung, aku bukan wartawan. Aku seorang vlogger."
"Terserah, kau juga tukang kamera."
"Tidak, maksudku ya, untuk konten vlogger. Aku bukan kameramen."
Oki tertawa geli. Para penonton live streaming itu tertawa mendengar perkelahian kecil mereka. Beberapa ada yang berusaha melerai dan mengira mereka serius berkelahi.
"Maaf, teman-teman." Oki menatap layar ponselnya lagi. "Nora sedang tidak dalam mood baik karena dia punya masalah. Masalah yang berkaitan dengan---mphh!" pekik Oki saat tangan Nora membekap mulutnya.
Nora menarik ponsel Oki dan mematikan live streaming itu. "Bisakah kau tidak bawa-bawa masalah pribadiku sebagai topik pembicaraanmu bersama mereka?!" tegur Nora. Wajahnya terlihat emosi.
Oki mengulum senyum. Lalu dia tertawa. "Baiklah, maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Berikan ponselku!"
Nora mengembuskan napas. Dia tak percaya.
"Apa yang kau lihat, kau sudah dengar tadi kalau aku tidak akan mengulanginya lagi, 'kan?" tanya Oki memastikan. "Ayolah, jangan marah!"
Nora mengalihkan pandangan bosan. Lalu sudut matanya menemukan pintu lift yang terbuka. Sosok pria beralis tebal itu muncul di depan dua bodyguard yang berjalan di belakangnya. Nora menatap seksama untuk memastikan apakah laki-laki adalah orang yang ia cari.
"**** ... ****!" umpat Oki. Kini lupa ponselnya dalam bahaya di tangan Nora. Dia lebih dulu terpesona melihat sang idola sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Oki bangkit dari duduknya. Merapikan rambut dan baju kerjanya. Bibirnya membengkok tersenyum. Nora menatap risih melihat bagaimana cara Oki menyambut Daren.
Daren berhenti di depan resepsionis. Wanita bersanggul itu memberitahukan tentang Nora dan Oki yang sedang menunggunya. Daren menoleh ke arah kedua gadis itu dengan tatapan menilai. Satu gadis sedang tersenyum terpesona ke arahnya, gadis yang satunya---yang membuat Daren mengerutkan kening karena merasa pernah melihatnya---sedang menatap emosi seperti terakhir kali Daren melihatnya.
Daren mendekat ke arah kedua gadis itu. Oki langsung megap-megap dan kehilangan kata-kata.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Daren. Oki nyaris tewas jika Nora tidak bangkit dan menahan tubuhnya yang lemas.
"Suaranya dalam dan tenang," gerutu Oki nyaris tak menggerakkan bibir, tapi masih sampai di telinga Nora, membuat Nora mencubit lengan Oki. Percuam, Oki tidak kesakitan dalam keadaan seperti ini.
"Namamu, Daren?" tanya Nora terus terang. Oki terbelalak mendengar Nora memanggil nama Daren tanpa sapaan apapun. Resepsionis di ujung sana menatap tak percaya sedangkan bodyguard di belakang Daren saling menatap curiga.
"Daren, aku Nora!" Nora mengedikkan dagunya. "Kita pernah bertemu di parkiran Zenaya. Aku tau kau tidak mau berjabat tangan denganku, tapi aku cuma mau kemeraku dikembalikan," jelas Nora membuat Oki secara terang-terangan menegurnya.
"Apa kau gila ....," tegur Oki.
"Diam," sela Nora sebelum Oki menyelesaikan kalimatnya.
"Ya, kameraku tertinggal di dalam mobilmu."
Daren menghela napas. Bahunya yang semula tegang dan tegap, kini lebih rileks. "Kau buang-buang waktuku. Juan, ambilkan kamera itu dan berikan pada gadis ini," kata Daren tanpa menoleh ke arah bodygurdnya, lalu masuk ke ruangan dengan langkah panjang.
Nora mengerling. Menatap kepergian Daren dengan tatapn emosi. Sedangkan bodyguard yang sebelumnya berdiri di belakang Daren itu kini berjalan menuju lift untuk mengambilkan barang Nora.
"Tunggu di sini, Nona!" perintah bodyguard yang lain. Laki-laki berotot besar itu beralih berdiri di ambang pintu ruangan Daren mirip prajurit kerajaan.
Oki mengambil kesempatan sendiri mereka untuk menegur Nora. "Kau tidak sopan. Kau panggil dia dengan namanya, bukannya sebutan Pak atau Sir atau ..."
"Aku tidak peduli," sela Nora sambil melempar punggungnya ke sandaran kursi untuk duduk. "Memangnya dia siapa, dia cuma empat tahun lebih tua dariku."
"Ya, tapi dia orang penting."
Nora menatap serius. "Kau tau siapa orang penting? Aku lah orang penting di sini. Kita adalah tamu. Seharusnya kita diperlakukan dengan baik, bukannya diabaikan begitu saja."
__ADS_1
Oki mengedikkan bahu. Tampak kecewa dengan Nora. "Mereka tidak mengabaikan kita kalau kau menyapanya dengan baik."
"Dia yang memulai," sahut Nora. "Dia yang memulai memperlihatkan kesombongannya di depanku kemarin. Aku tidak bisa tinggal diam."
Bodyguard di depan pintu agak melirik ke arah Nora.
"Aku sempat mengira mereka petugas keamanan," jelas Nora saat mengingat peristiwa kemarin, di mana dia melaporkan kesombongan Daren kepada dua pria kekar ini.
"Kau mengira mereka petugas keamanan yang akan menyelamatkanmu dari Daren?" Oki menatap tak menyangka. "Mereka yang menyelamatkan Daren darimu, bukan sebaliknya."
"Kau pikir aku apa? Zombie?"
Perdebatan dua gadis itu berakhir ketika Juan datang membawa kamera milik Nora dari arh lift. Nora berlarian untuk meraih kamera itu. Mencibir karena cara Juan membawa sangat salah dan akan berdampak kerusakan pada kamera.
"Ini mahal, lebih mahal dari gajimu!" kata Nora. Mendelik marah.
Juan tidak berekspresi. Dia berjalan ke samping rekannya untuk berdiri di depan ambang pintu.
Nora memeriksa seluruh bagian kamera untuk mencari kerusakan. Dia sudah bersiap untuk minta ganti rugi meskipun hanya ada goresan sebesar helaian rambutnya.
"Ayo, Ki. Kita pulang," kata Nora yang sambil menghela napas karena tidak melihat satupun kerusakan dan dia kehilangan kesempatan untuk menyalahkan laki-laki arogan tadi.
"Aku belum sempat foto dengan Daren," rengek Oki membuat Nora kehilangan kesabaran.
"Pergi sana ke dalam, aku yang akan ambilkan foto!" Nora mendorong bahu Oki.
"Aku takut," sahut Oki dengan ekspresi sedih. "Tidak papa, aku masih ada kesempatan untuk berfoto dengan dua bodyguardnya."
Nora merotasikan bola mata. Oki langsung menarik ponsel di tangan Nora.
"Permisi, foto, yuk!" pekik Oki penuh percaya diri. Dia menekan tombol klik saat dua orang laki-laki di sampingnya memiringkan bibir ke arah kamera.
Ckrik ...
__ADS_1