CEO AROGAN JATUH CINTA

CEO AROGAN JATUH CINTA
Tidak Menerima Saran Orang lain


__ADS_3

"Aku butuh bantuanmu!" kata Daren terus terang setelah dia dipersilahkan duduk oleh Indah dalam keadaan canggung.


"Ya, tentu saja," sahut Indah dengan mada ragu. "Apa yang perlu kulakukan untukmu?"


"Keluargaku menyuruhku menikah dengan Nora karena kasus itu," jelas Daren benar-benar tanpa basa-basi. Dia sudah tidak sabar untuk menyatakan tujuannya datang ke sini. "Kau sahabat dekat Nora, maksudmu ... kau dan Oki. Kalian pasti dekat dengan Nora. Kupikir, kalian bisa membantuku untuk membujuknya."


Ekspresi Indah bukan lagi terlihat canggung dan ragu, melainkan datar tanpa ekspresi seolah dia punya dendam kepada Nora.


Daren buru-buru melanjutkan penjelasannya sebelum dia mendengarkan jawaban Indah yang seperti akan membuatnya kecewa, "Mungkin dia menyukaiku. Jika dia tidak menyukaiku, dia tidak akan menatapku dengan cara seperti itu. Dan aku menyukainya karena dia berbeda, meskipun dia yang menimbulkan seluruh kekacauan ini. Tapi setiap kali aku berusaha mengatakan padanya bahwa aku menyukainya, dia selalu menghindar. Terakhir kali aku bicara padanya bahwa aku mencintainya, dia bilang bahwa dia menyukai orang lain. Dia sudah bertunangan dengan orang lain," jelas Daren. Untuk pertama kalinya dia seterbuka ini kepada orang lain. Ini adalah pengaruh yang Nora berikan setelah muncul di kehidupan Daren.


Indah masih menganga tak percaya selama beberapa detik sampai Daren menyelesaikan kalimatnya. "K-kau menyukai Nora?"


"Ya," sahut Daren agak mengalihkan pandangan.


Indah menelan ludahnya kuat-uat. "A-aku senang mendengarnya. Maksudku ... ya aku senang," sahut Indah dengan gugup. Tak percaya dia akan dijadikan tempat curhat untuk orang dingin seperti Daren. "Tetapi maaf, aku tidak bisa membantumu membujuknya karena aku sudah tidak pernah berhubungan dengannya lagi semenjak dia terlibat dalam kasus video itu."


Daren menautkan alis kebingungan.


"Ya, aku dan Oki, kami sangat kesal padanya. Kami mendukungmu, seharusnya dia tidak membuka aib orang secara sembarangan, apalagi kau ini selain punya perusahaan besar dan seorang CEO, kau juga seorang publik figur yang namanya harus terjaga. Dengan mudahnya, Nora merusak namamu, aku marah padanya dan memecatnya karena tidak mau ada lebih banyak orang bernasib sama sepertimu."


Daren menatap tak percaya. "Kenapa kau ribut-ribut marah padanya sampai memutuskan persahabatan, padahal aku sendiri sudah memaafkannya."


Indah menggeleng kecil. "Kepercayaanku padanya sudah hilang. Sekarang, proyeknya gagal total dan perusahaan ini nyaris bangkrut karena mendapatkan banyak hujatan dari para netizen. Semuanya hancur hanya karena keegoisannya."


Daren menunduk untuk memikirkan apa yang baru saja dia dengar. Jika dipikir-pikir lagi, dia bisa lebih marah dari Indah, apalagi dia adalah sosok yang dijelek-jelekkan. Tetapi kenapa dia memaafkan Nora semudah itu? Kenapa dia tidak marah pada gadis itu semarah orang-orang yang membelanya?


"Maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu, dan kalau kau mau mendengar saranku. Kurasa kau perlu cari gadis lain yang lebih baik dari Nora. Dia agak ...."


"Aku mencintainya," sela Daren dengan nada dingin dan datar.


Indah tidak melanjutkan kalimatnya karena dia takut Daren akan emosi. Dia menampilkan senyum terpaksa tanpa bicara apa-apa.

__ADS_1


"Aku akan coba sendiri kalau kau tidak mau membantuku." Daren bangkit dari duduknya sambil mengancingi bagian bawah jas, lalu dia berjalan keluar dengan ekspresi kecewa.


"Kalau kau datang ke Oki, kau akan dapat jawaban yang sama. Dia adalah yang paling kecewa dengan Nora, karena kau adalah idolanya."


Daren agak menghentikan langkah. Tetapi dia tidak menoleh. "Nora tidak seburuk itu, karena itulah aku memaafkannya. Seharusnya kalian pun bisa," kata Daren sebelum dia meninggalkan ruangan Indah untuk kembali ke kantornya dan mencari cara sendiri untuk mendekati Nora.


Daren sudah memutuskan untuk tetap melamar Nora meskipun Nora bilang dia sudah bertunangan. Daren tidak begitu yakin dengan pernyataan itu. Tekanan dari keluarganya terlalu kuat untuk disanggah dengan hal lain.


***


Nora masih agak kesal dengan Isaiah sekaligus pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya dia mengajak orang asing menemui Ravka, kali ini seluruh pikirannya berkecamuk, baik karena merasa bersalah, maupun karena merasa menyesal.


Nora di dalam taxi bersama dengan Isaiah yang berencana untuk pergi ke rumahnya. Dia tidak bisa menolak karena cara Isaiah membujuknya sangat tidak memungkinkan Nora untuk menolak, apalagi Nora dalam keadaan tidak mood untuk bicara apalagi menyanggah orang.


Mobil taxi itu berhenti tepat di depan gerbang rumah Nora. Isaiah tidak perlu malu-malu masuk melalui gerbang rumah Nora, seolah dia sudah terbiasa mendatangi rumah ini.


"Ayahku agak tidak suka orang asing. Apalagi untuk orang-orang yang bersangkutan denganku. Jadi, kau perlu menurunkan ekspektasimu," jelas Nora saat mereka sampai di depan pintu utama.


Nora menekan bel beberapa kali.


"Ini rumah ayahku, bukan rumahku," sahut Nora. Tatapannya penuh makna, sehingga Isaiah bisa menangkap arti lain dari kalimat Nora.


Pelayan membuka pintu dan menyambut kedatangan Nora dengan ramah.


"Nora!" seru seseorang bahkan saat pintu baru terbuka beberapa senti. Andin terlihat duduk di sofa ruang tamu sambil menata beberapa bukunya di atas meja. Nora bisa menebak ada orang dari sekolah yang baru saja datang ke rumah ini.


Senyuman Andin menciut saat melihat Nora datang dengan seorang laki-laki. Awalnya dia pikir, pria itu adalah Daren, tapi saat dia menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas, sosok itu ternyata orang asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Berbeda dengan Andin yang menatap keheranan, Isaiah justru tak bisa berkedip menatap ke arah Andin. Dia sampai harus ditarik paksa oleh Nora untuk melewati pintu dan menyebrangi lantai ruang tamu.


"Dia kakakku Andin!" kata Nora kepada Isaiah yang masih belum menciutkan senyumannya.

__ADS_1


Andin mengerling tak mengerti ke arah Nora.


"Dia Isaiah, dia lah yang menyelamatkan aku dan DAren saat kami terlibat masalah."


Andin mengangguk mengerti. "Silahkan duduk!" kata Andin sambil menunjuk sofa kosong di hadapannya.


"Kau tidak pernah bilang kakakmu secantik bidadari," kata Isaiah dengan nada seperti melantur.


Nora menatap tegang. Apa dia tidak salah dengar? Isaiah memuji seorang gadis? Dia menoleh ke wajah Isaiah dan tidak menemukan satu pun ekspresi bercanda di wajah Isaiah.


"Excuse me?" Andin menatap tak terima mendengar pujian fisik sebagai kesan pertama perkenalan mereka.


"Isaiah, kakakku sudah bertunangan dan mereka akan segera menikah."


"Oh ... maaf, aku tidak tau," sahut Isaiah. Membuyarkan lamunannya.


"Aku pernah memberitahumu!" desak Nora sambil menekan lengan Isaiah.


"Ya? Kenapa aku tidak tau?" sahut Isaiah masih tak mengalihkan pandangan dari wajah Andin.


"Kurasa otakmu tidak baik-baik saja." Nora mendorong Isaiah duduk di salah satu sofa, sementara dia memeluk sang kakak karena kembali mengingat kesedihannya.


"Aku sudah menceritakan kepada Isaiah tentang Ravka. Dia bilang aku terlalu berharap pada sesuatu yang tidak pasti," jelas Nora setelah dia duduk di samping sang kakak.


"Aku selalu ingin mengatakan hal itu sejak dulu, aku senang ada yang mewakilkannya."


Nora menatap tak percaya ke arah Andin. "Tapi Ravka ... dia cuma sendiri, dan aku sudah berjanji untuk tetap bersamanya."


"Tetapi kita juga tidak tau apakah dia akan kembali atau tidak," sela Isaiah mendapat anggukan setuju dari Andin.


"Dan kau tidak bisa menghabiskan waktumu hanya untuk menunggunya terbaring di sana. Aku tidak mau adikku menjomblo sampai tua."

__ADS_1


"Lalu apa rencanamu seandainya aku menyerah?"


Andin mengedikkan bahunya. "Menikahkanmu dengan orang lain. Daren misalnya."


__ADS_2