
Nora kembali ke kantor Daren siang harinya. Dia masih kepikiran dengan usulan konyol Oki. Bagaimana mungkin Oki punya pikiran seperti itu. Jangankan punya anak dengan Daren, beradu pandang dengannya saja sudah membuat Nora muak.
Nora masuk ke dalam ruangan Daren. Dia keheranan melihat ruangan itu kosong. Lalu dia mengecek ponselnya untuk mencari informasi. Daren sama sekali tidak memberinya pesan. Apa mungkin pria itu sedang pergi ke kamar kecil? Aghr … ya, itu mungkin. Kenapa Nora harus khawatir padanya?
Nora duduk santai di kursinya. Karena akhirnya dia punya waktu sendiri di ruangan ini, dia bisa berdendang dan duduk dengan posisi sesuka hatinya tanpa takut akan dicap aneh oleh Daren.
Nora menyetel beberapa musik kesukaannya. Tidak lupa rebahan di kasur sambil mengambil foto selfie dan beberapa foto pemandangan dari jendela yang terlihat luar biasa.
Pintu dibuka dari luar. Nora langsung bangkit dari sofa dan pura-pura sedang merapikan vas bunga di atas meja.
Orang yang membuka pintu itu bukan Daren, melainkan Juan. Laki-laki berotot itu menatap Nora penuh selidik, berusaha mencari kesalahan dari ekspresi Nora yang mencurigakan.
"Apa?" tanya Nora karena merasa dicurigai.
"Bos menyuruhmu untuk pergi ke hotel."
Nora terlonjak. Mulutnya sampai menganga karena keheranan. "A-apa?"
"Dia menyuruhmu ke hotel sekarang juga?"
"Ke hotel? Untuk apa?" pikiran negatif Nora merajalela.
"Untuk menemaninya. Hotel Johanson. Dia di sana." Lalu Juan meninggalkan Nora yang masih tak menyangka.
Hal pertama yang masuk ke dalam otak Nora begitu mendengar suruhan Juan adalah perkataan Oki yang menyuruhnya untuk hamil anak Daren agar dia bisa jadi istri orang kaya dengan instan. Namun, Nora berusaha berpikir positif, mungkin saja Daren cuma ingin menyuruhnya menemaninya menginap.
Tunggu! Menemaninya menginap? Itu tidak masuk akal. Nora mendadak merinding. Tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukan tugas itu. Dia harus mengikuti perintah Daren atau Daren akan melaporkan kelalaiannya kepada Indah.
Nora meraih seluruh perlengkapan di atas meja. Pikirannya masih berkecamuk dengan kemungkinan yang akan segera dia hadapi. Tak lupa dia membawa sebuah gunting yang akan dia gunakan untuk melindungi diri seandainya Daren macam-macam.
"Ini konyol," pekik Nora sambil memasukkan gunting itu.
__ADS_1
Nora langsung berangkat ke Hotel Johansen seperti perintah Juan. Dia ingin sekali meminta pendapat dari Oki apakah dia harus kabur atau nekat pergi ke hotel. Tanpa bertanya, Nora tau jawaban Oki, jelas saja Oki akan menyuruhnya untuk tetap nekat mendatangi Daren.
Tiga puluh menit kemudian, Nora sampai di hotel Johansen, sebuah hotel bergaya klasik. Puluhan kendaraan terparkir. Ada sebuah plang yang menandakan adanya acara.
Nora masuk untuk mencari tau keberadaan Daren lewat resepsionis. Dia mendapat informasi tentang keberadaan ruangan Daren di kamar 75.
Nora mendatangi ruangan itu dengan langkah waspada. Dia tidak menutup resleting tasnya agar dia bisa mengambil gunting di dalam sana dengan mudah, siapa tau begitu dia masuk ke ruangan, Daren langsung menerjangnya.
Pintu-pintu berjejeran hingga ke ujung lorong. Nora berhenti sampai di depan ruangan 75.
Tok tok ...
Nora berharap dia melihat Daren sedang bekerja, hanya saja dia memilih bekerja di hotel untuk mendapatkan suasana berbeda.
"Daren!" sapa Nora. Suaranya menggema hingga tepian lorong.
Nora memberanikan diri membuka knop pintu. Dia tidak peduli Daren akan marah.
Pintu itu terbuka sedikit demi sedikit. Nora bisa melihat tempat tidur yang kosong. Mungkin Daren ada di sisi lain ruangan, tetapi saat Nora membuka seluruh pintu dan melihat seluruh bagian ruangan, dia tidak melihat ada Daren dimanapun.
Nora melirik lebih teliti sampai dia menemukan sesuatu di atas tempat tidur. Jas berwarna biru gelap itu pernah dia lihat sebelumnya. Daren pernah memakainya.
Nora masih tak yakin ini ruangan Daren hanya karena jas biru itu. Namun dia tetap melangkah ke dalam untuk memeriksa lebih teliti. Tidak biasanya Daren keluar tanpa jas. Jika ini milik Daren, kenapa dia meninggalkannya di sini?
Nora memeriksa jas itu. Dia berubah yakin ini milik Daren ketika mencium aroma parfum khas Daren. Ada ponsel di sakunya. Itu jelas ponsel Daren.
Nora menghela napas. "Aku tidak salah ruangan," gerutunya lega.
Nora memeriksa sekeliling ruangan. Masih bertanya-tanya kenapa Daren meninggalkan jasnya di sini? Hanya jas, tak ada tas atau pun berkas-berkas pekerjaan. Jadi, apa maksud semua ini?
Drtt...
__ADS_1
Perhatian Nora teralihkan ke arah ponsel Daren. Ada sebuah pesan terkirim dari seseorang bernama Nelan. Nora mengernyitkan alisnya saat dia menyadari foto profil nomor bernama Nelan itu. Nelan adalah seorang gadis dan pesan yang baru saja Nelan kirim adalah pesan ambigu.
Nelan : Kau akan datang untuk melanjutkan permainan kita semalam kan?
Nora menekan pesan itu agar dia bisa tau lebih banyak tentang Nelan, tetapi saat itu pintu ruangan terbuka dari luar.
Daren muncul dengan raut keheranan. Sementara Nora berusaha mengganti raut teganganya dengan senyuman konyol. Dia berhati-hati memasukkan ponsel ke dalam saku jas sementara kedua matanya saling menatap dengan Daren.
"Kenapa kau di sini?" tanya Daren. Nada bicaranya terdengar dingin.
Nora bangkit. Senyuman di bibirnya pudar. "Seharusnya aku yang tanya, kenapa kau menyuruhku datang ke sini?" dia berdiri sejauh mungkin dari tempat tidur.
"Aku menyuruhmu datang ke ruangan meeting, bukan ke ruanganku," sahut Daren membuat Nora menelan ludah.
"Ouh ... jadi kau menyuruhku ikut meeting."
"Ya," sahut Daren dengan nada menuntut.
"Maaf, t-tadi Juan menyuruhku untuk datang ke hotel. Dia tidak bilang kalau aku harus ikut kau ke ruangan meeting, jadi aku datang ke sini."
Daren mengalihkan pandangan untuk meraih jasnya. Tangannya agak meraba ke arah saku, memastikan ponselnya masih di dalam sana.
Nora menunduk malu. Dia berpikir terlalu jauh sampai mengira Daren ingin macam-macam dengannya. Rasa malunya semakin besar saat dia mengingat pernah memasukkan gunting ke dalam tasnya untuk berjaga-jaga. Sebesar itukah rasa tak sukanya kepada Daren? Sampai berpikiran negatif dan mengira Daren akan melakukan hal yang buruk padanya?
Nora ingin sekali menghilang dari bumi saat ini juga. Dia tidak bisa menahan rasa malu ini lagi. Kakinya melangkah keluar ruangan.
"Nora tunggu!" cegah Daren membuat jantung Nora berdegup. Dengan terpaksa, gadis itu menoleh ke arah Daren. Kali ini overthingkingnya semakin tinggi.
"Aku akan ke Dubai selama tiga hari. Aku tau bosmu akan menuntutmu untuk ikut denganku. Aku sarankan, kau minta izin kepadanya karena kita akan berangkat lusa."
"Apa?" Nora menatap tak menyangka.
__ADS_1
"Aku tau ini mendadak. Sebenarnya aku baru dapat informasi dari meeting tadi. Aku yang akan uruskan paspor dan visamu. Kau tinggal minta izin kepada orang-orang yang pentingmu."
Nora masih tak menyangka dengan kabar tak terduga ini sampai rasa malunya hilang begitu saja. Dia akan ke Dubai? Lusa? Padahal dia punya rencana untuk menghabiskan weekend-nya di atas tempat tidur sambil menonton film aksi.