
komandan fynanda berjalan menghampiri tempat vina yang masih berdiri di tempat tersebut, tampak dari wajah vina ia ketakutan, bagaimana tidak komandan fynanda sudah menunjukkan wajahnya yang sangar dan mematikan
zoya yang sedikit ketakutan karena melihat komandan fynanda ikut menghampiri komandan fynanda, setelah sampai di depan vina, komandan fynandan mendekatkan wajahnya ke arah telinga vina dan mengatakan sesuatu ke telinganya
"saya adalah seorang tentara, dan saya tidak bisu juga tuli, saya bisa saja membunuhmu di sini di tempat ini dan menjadi mayat di hanya beberapa menit, tapi kali ini saya memaafkanmu, sekali saja dari mulutmu keluar sebuah hinaan untuk orang yang kurang sempurna maka saat itu juga kamu hanya tinggal nama, kamu bisa cari tau siapa saya, sedikit hukuman untukmu, besok kamu tidak akan bisa kuliah di sini lagi" komandan fynanda membiskkan perkataannya di telinga vina dan membalikkan badan melihat zoya sudah di belakangya
"ayo pergi," komandan fynanda tersenyum lalu merangkul pundak zoya dan kini mereka berdua berjalan dengan baik dan santai, zoya hanyamikut membalas senyuman komandan fynanda dan mengikuti langkah komandan fynanda
sedangkan vina sudah syok dan terjatuh hingga duduk di lantai mendengar perkataan pria yang tidak dikenalnya yang menurutnya perkataan tersebut menyeramkan, dan ada ras ketakutan dalam dirinya
kini zoya juga komandan fynanda sudah sampai di parkiran, tepatnya di depan mobil komandan fynanda yang terparkir
"kak," panggil zoya membuka pembicaraan
"iya" jawab komandan fynanda santai seolah tidak terjadi apa-apa
"tadi apa yang sedang terjadi?" tanya zoya untuk yang kedua kalinya
"bagaimana kuliah mu pagi ini? tidak terlambat kan?" kini komandan fynanda yang melontarkan pertanyaan
mengalihkan tema pembicaraan
"aa kakak, pertanyaan zoya kakak jawab dulu" rengek zoya karena tidak mendengar jawaban yang zoya ingin dengar dari mulut komandan fynanda
"tidak ada apa-apa, dasar anak kecil rasa penasaranya besar banget yah" komandan fynanda mengacak rambut zoya dan kini dia membuka pintu mobil hendak masuk ke dalam mobil
"kakak kenapa sih pelit banget beri tau zoya aja, kakak tau nggak vina itu siapa" zoya merasa kesal dengan komandan fynanda yang tidak v
__ADS_1
"kakak nggak tau, dan nggak mau tau sudah?" sebuah jawaban komandan fynanda yang membuat zoya enggan untuk melontarkan pertanyaannya lagi
"yaudah deh" ucap zoya lalu melipat kedua tangannya di dadanya dan menglihkan pandangannya keluar jendela mobil, sesekali ia menaik turunkan kaca mobil karena ia sedikit kesal dengan komandan fynanda, komandan fynanda yang melihat tingkah zoya tersebut hanya tersenyum kecil dan kembali fokus menyetir
"bagaimana kuliahmu?" tanya komandan fynanda membuka pembicaraan
"baik" jawab zoya ketus tetapi tidak menoleh ke arah lawan bicaranya
"cuman baik aja? nggak ada yang lain?" tanya komandan fynanda untuk yang kedua kalinya
"iyaa" jawaban zoya masih dengan suara ketusnya
tiba-tiba saja dalam perjalanan komandan fynanda menghentikan mobilnya membuat zoya terkejut, ia sedikit berfikir apakah komandan fynanda marah atau semacamnya ia lalu menoleh ke arah komandan fynanda setelah mobil sudah berhenti sempurna.
komandan fynanda kemudia membuka sabuk yang ia gunakan lalu memandang zoya, dan kini pandangan mereka bertemu satu sama lain
zoya hanya terdiam, saat melihat wajah komandan fynanda yang sulit untuk diartikan, ia hanya memadangan tanpa berkata sepatah kata pun, tiba-tiba saja komandan fynanda memeluk zoya yang membuat zoya seperti patung bernafas yang tak melawan perlakuan komandan fynanda terhadapnya
zoya hanya bisa terdiam tidak tau apa yang ingin dikatakannya, ia hanya tau bahwa pelukan komandan fynanda kini sangat hangat baginya, sudah lama ia tak merasakan sebuah pelukan yang benar-benar dengan kasih sayang padanya, tak sadar sebuah butiran air mata kini jatuh hingga menetes tepat di bahu komandan fynanda, zoya menangis dengan apa yang terjadi saat ini.
ia benar-benar seseorang yang saat ini bersamanya akan selalu bersamanya hingga nafas berhenti, ia tidak akan bisa bertemu dengan orang seperti memeluknya saat ini, dalam pelukan tersebut zoya ikut memeluk komandan fynanda, di tambah air matanya yang semakin banyak menetes di bahu komandan fynanda, hal tersebut membuat komandan fynanda memutuskan untuk melepas pelukannya dan melihat wajah zoya yang sudah berlinang air mata.
"kamu kenapa?" tanya komandan fynanda
"nggak papa kak hehe" jawab zoya dengan senyuman nya yang membuat komandan fynanda kembali membuat jantungnya berdetak tidak sesuai dengan biasanya
"nggak papa jadi kenapa ada air mata di sini?" komandan fynanda mengelus wajah zoya seraya menghapus air matanya
__ADS_1
"makasih kak" ucap zoya kali ini zoya yang memulai memeluk komandan fynanda
"untuk apa?" tanya komandan fynandan dengan polosnya
"tidak apa-apa" jawab zoya tapi masih dengan dia menenggelamkan wajahnya di dada komandan fynanda
"kak" panggil zoya yang masih setia di pelukan komandan fynanda
"kenapa?" tanya komandan fynanda
"zoya laper" ucap zoya yang membuat komandan fynanda tersenyum tapi ia tak menunjukkan nya pada zoya
" yasudah kita makan dulu, kemudian pergi jalan-jalan" ucap komandan fynanda kemudian melepaskan pelukan zoya
"okee hehe" senyuman zoya yang kembali ditunjukkan kepada komandan fynanda seperti sebuah penyakit yang tiba-tiba menyerangnya dengan senyuman itu
komandan fynanda kembali memasang sabuk pengemudinya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sesekali melihat beberapa rumah makan yang ia rasa cocok untuk di jadikan untuk makan siangnya kali ini.
hingga tiba di sebuah restoran yang terlihat menarik bagi komandan fynanda, ia kemudian memarkirkan mobil di parkiran restoran tersebut, kemudian tak lupa dengan zoya yang sudah siap siaga melahap banyak makanan, sejak tadi pagi perutnya belum di isi apa pun, hingga sekarang sudah menjelang siang, tingkat kelaparannya sudah double
"kak kita jalan-jalan kemana?" tanya zoya yang sudah keluar dari mobil dan sedang melangkahkan kakinya masuk menuju restoran tersebut
"rahasia dongg" jawab komandan fynanda tapi tak lupa dengan tangannya yang selalu mengacak-acak rambut zoya, hal itu membuat zoya merasa nyaman ketika tangan komandan fynanda sudah mengelus atau mengacak-acak rambutnya
"awas tempatnya nggk bagus" mengacungkan tangannya yang sudah ia genggam seolah mengancam layaknya seperti anak kecil
"hahah sudah ayo makan, kasihan perutmu dari tadi bunyi nggak malu di dengar orang?" komandan fynanda mengalihkan perhatiannya melihat sekelilinya yang ternyata begitu ramai
__ADS_1
"mau pesan apa mas, mbak?" tanya salah satu pelayan restoran yang menghampiri mereka setelah melihat mereka berdua sudah duduk di salah satu meja restoran tersebut.
"biar dia yang pesan" komandan fynanda memberi menu makanan yang ada di meja kepada zoya, zoya yang melihat hal tersebut merasa sangat semangat untuk memilih yang ia inginkan