
***
komandan fyanda adalah anak tunggal dari keluarga wijaya yang terkenal dengan pebisnis nomor satu dengan memliki banyak cadang perusahaan baik di dalam negeri maupun luar negeri, media dan orang-orang tidak tau bahwa komandan fynanda adalah anak dari pemilik pebisnis terkaya tersebut, yang mereka tau keluarga wijaya memiliki satu putra tunggal tetapi tidak mengenal rupanya. sejak meninggalnya ibu dari komandan fynanda semua berubah termasuk kehidupan komandan fynanda yang memilih untuk menyendiri dan tidak mau bersama ayahnya, saat itu ia masih seorang siswa sekolah yang sedang menduduki kelas 2 sekolah menengah atas
komandan fynanda memilih menjadi seorang tentara dibanding menjadi penerus bisnis ayahnya, dikarenakan satu hal yang membuat komandan fynanda menjadi kesal dan membenci sifat ayahnya yang selalu mengandalkan uang untuk segalanya, sejak saat komandan fynanda meninggalkan rumah tersebut dan melanjutkan sekolahnya dengan sendiri, ia mengikuti latihan tes kemiliteran hingga ia sampai kini dengan pangkatnya komandan, sifatnya yang dingin dan sangat kejam dengan musuh menjadikan ia terkenal dengan komandan yang sangat di takuti dan tidak ada yang berani bermain-main dengannya
ia lebih menutupi identitasnya yang asli dibanding ia terkenal dengan anak tunggal yang sangat kaya raya, ditambah dengan kekesalannya hingga saat ini kepada ayahnya, ia bahkan tidak pernah menemui ayahnya baik di saat acara tahunan atau hal laiinya, ia lebih suka melakukan apa yang dia inginkan dengan tangannya sendiri dan usahanya, ia selalu bertekad tidak ingin seperti ayahnya
__ADS_1
"lama tidak jumpa tuan muda" bapak tua yang di tolong komandan fynanda membuka percakapan di antara mereka yang sedang duduk di sebuah cafe
"jangan panggil aku tuan muda paman angga" jawab komandan fynanda dengan sedikit tersenyum
"bagaimana kabar tuan besar?" tanya paman angga
"dia sedang sakit, saya barusan dari rumah beliau" komandan fynanda sedikit menjelaskan
__ADS_1
"tidak" jawab singkat komandan fynanda
"sepertinya kesalah pahaman tuan muda masih belum terselesaikan" ucap paman angga sambil menyeruput teh yang ada di depannya
"kesalahpahaman apa paman?" tanya angga sedikit penasaran
sedangkan di sisi lain zoya yang sudah bersiap pergi ke tempat ia latihan kini lebih memilih berjalan kaki menuju tempat latihannya dibanding naik angkutan umum, karena waktu latihannya juga masih lama, masih tersisa beberapa jam lagi, zoya berjalan perlahan dilangkahkan kakinya perlahan demi perlahan sambil sesekali mengangkat wajahnya yang selalu menunduk saat ia berjalan. tiba-tiba saja turun hujan, padahal cuaca tadi tidak mendung, zoya yang sudah basah akibat hujan yang datang tiba-tiba masih setia berdiri di tempatnya di pinggir jalan, ia perlahan menadahkan tangannya seraya air hujan jatuh ke telapak tangannya
__ADS_1
ia lalu tersenyum setelah melihat tangannya yang basah lalu ia melihat langit yang begitu derasnya menurunkan hujan tersebut, layaknya anak kecil ia masih tidak mau berteduh padahal bajunya kini sudah basah sepenuhny, ia bahkan sesekali melompat melanjutkan langkah kakinya, bahkan orang-orang di sekitarnya ikut tersenyum karena kebahagiaan zoya bermain hujan tersebut. kini ia tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanannya menuju tempat latihan karate, ia berbalik arah menuju apartemen sembari bermain hujan dengan bahagianya. benar-benar masa kecil yang suram.
kini ia sudah sampai di depan aparteman yang menjulang tinggi tersebut, di parkiran apartemen yang sangat luas tersebut ia masih setia bermain hujan hingga melompat ke setiap melihat air yang tergenang disana, tanpa sadar akan bahagianya ia melompati setiap genangan air, saat ia melompat tiba-tiba seseorang lewat sambil menggunakan payung hingga genangan air yang zoya lompat tadi mengenai celana yang seseorang kenakan tersebut