
mereka melewati banyak kuburan, zoya yang melihat hal tersebut menguatkan genggamannya memegang komandan fynanda, komandan fynanda yang merasakan hal tersebut melihat zoya, dan ternyata benar saja wajah zoya sudah tampak panik, ia tentu saja ia takut dengan sebuah nisan atau pun kuburan
"kamu takut?" tanya komandan fynanda
zoya yang hanya diam dan menundukkan kepalanya yang ternayata matanya sudah ia tutup karena memang ia tak mau melihatnya, komandan fynanda lalu merangkulkan tangannya ke pundak zoya dan kembali berjalan menuju tempat mereka, zoya hanya ikut memeluk pinggang komandan fynanda seolah menyerahkan untuk melihat jalan komandan fynanda lah yang bertanggung jawab
kini mereka sudah sampai di tempat tujuan meraka, kini mereka sudah berdiri di salah satu kuburan, komandan fynanda menaruh bunga yang sedari tadi ia pegang ia taruh di ujung nisan kuburan, sedangakn zoya hanya melihatnya ia juga ikut duduk di samping komandan fynanda tepatnya di depan kuburan tersebut
"dia ibuku" ucap komandan fynanda tanpa zoya bertanya
"kenapa dia meninggal?" tanya zoya dan pandangan komandan fynanda langsung melihat zoya, hal tersebut sontak membuat zoya sedikit merasa takut, apakah pertanyaann salah
"maaf kak, zoya nggak ada maksud apa-apa" ucap zoya setelah pandangan komandan fynanda yang melihatnya
"tidak apa-apa" jawab komandan fynanda lalu kembali mengelus nisan ibunya
"mah, aku datang kesini mau menunjukkan seorang wanita yang kini sudah aku sayangi, lihat lah dia di
sampingku, cantik bukan? tapi memang dia seperti anak kecil mama bisa lihat kan?" batin komandan fynanda yang sambil mengelus nisan tersebut
__ADS_1
"tante, yang tenang di sana yah, lihat anakmu sudah sebesar ini, anakmu ganteng tante kalau boleh bilang
kedia kalau aku suka hehe" batin zoya yang membuatnya sedikit tersennyum tapi ia tutupi agar tak terlihat oleh komandna fynanda
mereka berdua hanya sibuk berbicara dalam hati tanpa tau isi hati masing-masing, yang terdengar hanya suara angin yang mulai menusuk tulang, karena memang hari sudah semakin sore dan sebentar lagi akan gelap
usai beberapa menit mereka asik berbicara dalam hati berbicara pada ibu komandan fynanda, komandan fynanda
bangkit dari duduknya
"ayo" ucap komandan fynanda
"kemana?" tanya zoya dengan polosnya
duduk di sampingnya
zoya mengikuti untuk duduk di samiping komandan fynanda, kini mereka berada di sebuah perbukitan yang bisa
memadang jauh, matahari yang juga tidak panas lagi menambah kesan mereka seakan melihat matahari terbenam, atau orang-orang bilang dengan sebutan senja
__ADS_1
"indah tidak?" tanya komandan fynanda setelah zoya sudah duduk sempurna di sampingnya
"iya indah bangett, kakak sering kesini yah?" tanya zoya
" ya begitulah, dulu sebelum masuk ke dalam lingkungan yang seperti sekarang kakak sering kesini seakan kakak hanya mempunyai ibu sebagai teman" jawab komandan fynanda
"kamu suka nggak disini?" tanya komandan fynanda
"suka sih kak, aplagi ini di bukit jadi indah, tapi banyak kuburan, zoya nggak mau lama-lama di sini"
jawab zoya dengan sifatnya yang terkadang memang seperti anak kecil
"hahah dasar anak kecil" zoya mengacak-acak rambut zoya sambil tertawa karena tingkah zoya
"kalau boleh tau ayah kakak dimana?" tanya zoya mengalihkan pandangan komnadan fynanda
"ayo kita pulang ini sudah sore," jawab komandan fynanda sambil bangkit, bukan karena hari semakin gelap tapi memang ia tak ingin menjawab pertanyaan seperti itu
"kak tugguin zoyaa" teriak zoya karena melihat komandan fynanda yang semakin jauh melangkahkan kakinya
__ADS_1
saat zoya mengejar komandan fynanda ia tak melihat lagi apa yang sudah ia lewati, ditambah ini adalah sebuah
perbukitan jadi lici pada jalan nya tentu saja ada, zoya tersandung sebuah nisan batu yang tak tampak oleh zoya hal tersebut membuat zoya akan terjatuh tapi sebelum ia terjatuh komandan fynada sudah menangkapnya tapi lain halnya kini keseimbangan mereka tidak ada lagi membuat keduanya menjadi jatuh bersamaan, kini mereka berdua berguling dari bukit yang tidak telalu tinggi tersebut sambil berpelukan dan berhenti di tempat yang tampak sedikit datar