Cewek Tomboy Jodoh Komandan

Cewek Tomboy Jodoh Komandan
Episode 97


__ADS_3

Setelah melewati waktu yang cukup lama akhirnya ia semakin memiliki pemikiran bahwa dirinya harus serba bisa melakukan segalanya, karena menurutnya dunia ini harus bisa dilewati walau dengan keadaan sendiri sekalipun dan berhenti berharap kepada siapapun,


Tak terasa mata zoya kini mulai terpejam meninggalkan dunia nyata masuk ke alam mimpi, sedangkan disisi lain fynanda yang saat itu berada di dalam mobil pikirannya mulai bertanya-tanya tentang yang terjadi hari ini


“haikal” panggil fynanda pada seseorang yang tengah duduk sebagai pengemudi, ia adalah asisten fynanda yang selalu mendampingi atasannya tersebut mengenai perusahaan


“iya presdir, ada apa?” sahut haikal saat namanya dipanggil oleh presdirnya itu


“mengenai wanita tadi, apa kamu mengenalnya?” lanjut fynanda dengan pertanyaannya


“wanita yang mana presdir kalau boleh tau? Soalnya hari ini banyak wanita yang kita temui” haikal kembali melemparkan pertanyaan pada presdirnya tersebut


“itu wanita yang bilang- (“maaf saya tidak memuji ketampanan presdir kalian, orang tampan bukan hanya beliau, maaf”)” fynanda sedikit meniru gaya bicara zoya membuat haikal ingin rasanya tertawa terbahak-bahak tapi yang sedang bertanya ini adalah atasannya, untungnya ia masih bisa menahannya lalu kembali menjawab pertanyaan prsedirnya itu


“tidak presdir, saya tidak mengenalnya tetapi sebelum rapat tadi kita sudah bertemu dengannya saat jam makan siang, wanita itu hampir tertabrak oleh mobil ini karena dia ingin menyelamatkan seekor kucing” haikal mulai menjelaskan membuat fynanda teringat akan kejadian tadi siang


“oh” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut fynanda dan tidak melanjutkan pembicaraan mereka


“hari ini aku menyetir mobil sediri, kau boleh pulang dan istirahatlah” ucap fynanda membuat haikal menghentikan mobilnya dan segara turun dipinggir jalan tersebut


“aishhh, kenapa lagi ini hatinya presdir, teganya dirimu meninggalkanku di pinggir jalan begini hadeuhhh” batin haikal yang tidak mengerti kelakuan presdirnya tersebut, sedangkan fynanda hanya melajukan mobilnya meninggalkan asistennya tersebut tanpa memikirkannya.


Zoya terbangun dari tidurnya sejak kepulangannya tadi sore dari kantor, ia melihat hpnya menunjukkan jam 21.10, ia bangkit dari tidurnya karena merasa perutnya menuntut kelaparan. Ia mengganti pakaiannya, berbeda halnya dengan pakaian yang ia gunakan saat ke kantor yang feminism, jika diluar pekerjaan maka ia menggunakan style nya yang familiar, baju kotak-kotak hitam ditambah dengan jeans hitamnya, dan tak lupa topi hitamnya yang selalu melekat di kepalanya. Ia kini sudah berjalan keluar dari apartementnya yang ia sewa sejak bekerja di kantornya sekarang, walau apartement kecil tapi masih bisa merasa nyaman di dalamnya.

__ADS_1


Kaki zoya terus melangkah menyusuri pinggiran jalan yang masih ramai dengan kendaraan berlalu lalang. Tempat yang ia tuju untuk membeli makanan tidak jauh dari tempatnya tetapi ia harus melewati satu lorong yang sedikit sepi, biasanya akan ada banyak orang mabuk disana bahkan beberapa kali ditemukan mayat orang disana. Hal itu tidak membuat zoya ragu melewatinya karena tak jauh setelah lorong tersebut akan bertemu keramaian.


Ditangan zoya kini sudah terdapat sebuah plastic hitam yang berisi makanan ia beli sebelumnya, di perjalanan pulang terdapat sedikit keramaian memasuki lorong yang akan zoya lewati, dari pakaian yang orang-orang tersebut gunakanan tampak menggunkan seragam Sekolah Menengah Atas, samar-samar zoya mendengarkan kata yang terucap oleh mereka.


Beberapa Langkah kaki zoya sudah melewati lorong tersebut tetapi ada sedikit keganjalan dalam hatinya setelah mendengar salah satu dari mereka mengatakan kata tolong. Perlahan zoya membalikkan badannya dan berjalan menuju lorong yang terlihat gelap tidak ada cahaya sama sekali


“hmm” deheman zoya membuat keributan yang sedari tadi tiba-tiba diam


“to..long” lirih salah seorang diantara mereka tetapi wajahnya tidak terlihat jelas


“kalau mulutmu tidak bisa diam kau tidak akan bisa hidup malam ini?” ancam salah seorang dari mereka dengan berbisik tetapi masih bisa didengar oleh zoya


“hei…hei.. lepaskan dia” perintah zoya dengan suara santainya


lantang dengan suaranya


“aku tau ini bukan urusanku, tapi dia urusanku” tunjuk zoya kepada seseorang yang meminta tolong sebelumnya setelah zoya jelas melihat wajahnya dengan bantuan senter handphone yang zoya pegang


“dia siapa?” tanya dari salah seorang mereka saling berbisik


“kami sudah bilang ini bukan urusanmu” dua orang dari mereka tiba-tiba maju dan menyerang zoya


Tak lama zoya bergulat dengan dua orang tadi, pukulan yang diarahakn kepada zoya dengan secepat mungkin zoya menghindar lalu membalasnya, ia masih tau batasan memukul untuk anak sekolah seperti mereka, tidak sampai disitu saja selebihnya setelah 2 orang temannya tersungkur ke tanah 3 orang laiinya ikut menghampiri zoya dan menyrangnya kembali, dengan hal yang sama ketiga orang tersebut sudah ikut menyusul temannya terjatuh diatas tanah.

__ADS_1


Seseorang yang sedari tadi diam hanya merasa gemetar dan takut dan berkutik hingga tersadar setelah zoya memanggilnya


“kalian pulanglah, jangan membuat orang tua kalian repot karna kelakuan kalian seperti ini” ucap zoya pada anak-anak SMA tadi yang sudah mulai berusaha berdiri setelah sakit terkena pukulan dari zoya


“kamu?” panggil zoya mengarahkan tangannya memanggil seseorang tersebut, diikuti anak sma tersebut menghampiri zoya


“siapa namamu?” tanya zoya sambil merangkul santai anak tersebut ia tau bahwa anak-anak SMA suka sekali dengan pembullyan


“ral..raldi” jawabnya masih dengan suasana gemetar bercampur rasa takut


“kamu sudah makan?” lagi-lagi zoya melontarkan pertanyaannya, bukan dengan alasan zoya menanyakan hal-hal tersebut, hanya ingin mencairkan suasana hatinya yang menegang karena ketakutan tersebut


“astaga lihat wajahmu yang imut ini, apa ini tidak sakit?” tanya zoya sambil memegang wajah anak sma yang bernama raldi tersebut


“jangan takut, aku tidak akan mamakanmu, aku bukan kanibal” ucap zoya sembari tersenyum karena melihat jawaban raldi hanya anggukan


“obati lukamu, dan pulanglah segera” ucap setelah Zoya mengajak raldi ke sebuah minimarket tak jauh dari lorong tadi membeli beberapa makanan dan obat luka lalu di serahkan ke raldi,


setelah menerima bungkusan plastik yang diberikan zoya, raldi melangkahkan kakinya hendak meninggalkan zoya tetapi setelah beberapa Langkah kakinya berjalan ia membalikkan badannya melihat ke araha zoya


“a…anu… makasih kak” ucap raldi lalu berlari meninggalkan zoya, zoya hanya tersenyum melihat tingkah anak SMA tersebut


Diseberang jalan ternyata seseorang sedari tadi sedang melihat semua yang terjadi, ia dia adalah fynanda,

__ADS_1


__ADS_2