Cewek Tomboy Jodoh Komandan

Cewek Tomboy Jodoh Komandan
Episode 96


__ADS_3

Sebenarnya sekarang jantung zoya sudah sangat tidak terkendali tetapi ia memberanikan diri mengatakan hal tersebut, karena dalam hatinya masih ada rasa kecewa yang tidak bisa diartikan. Ia melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya hendak mengambil tasnya, kini karyawan satu persatu sudah meninggalkan kantor karena sudah waktunya pulang begitupun zoya memutuskan untuk pulang ingin merebahkan dirinya dan melupakan yang terjadi hari ini.


Kini zoya berjalan menapaki jalan sambil menunduk, sesekali ia mengangkat wajahnya melihat sekelilingnya kemudian kembali menunduk menatap ujung sepatunya sembari berjalan. Ia memutuskan berjalan menuju tempat tinggalnya yang tidak terlalu jauh dari kantor dia bekerja tetapi juga menghabiskan tenaga, bukan tidak punya uang untuk ongkos tapi ia benar-benar ingin lebih membuat dirinya lelah agar sesampainya di rumah ia benar-benar bisa langsung tertidur.


Kedua insan itu kembali dipertemukan di sebuah lampu merah siapa lagi kalau bukan zoya dan orang sangat mirip dengan komandan fynanda tersebut. Zoya yang hendak melangkahkan kakinya menyebrang karena lampu sudah berwarna merah tetapi pandangannya teralihkan dengan sosok yang sedang duduk berdua bersama seorang wanita, ya dia adalah pak fynanda klien mereka yang berada dikantor tadi.


“hampir saja aku percaya bahwa itu adalah komandan fynanda” batin zoya kemudian melangkahkan kakinya melewati jalur penyebrangan sesaat kemudian dia berhenti dan membalikkan badannya dan kembali menatap sosok yang ia lihat tadi hinggamata keduanya kembali saling bertemu


“atau mungkin, dia benar-benar komandan fynanda tapi karena dia sudah punya wanita yang baru makanya dia memutuskan untuk melupakan masa lalu?” kembali zoya berbicara dalam hatinya sampai tidak sadar bahwa ia kini masih di tengah-tengah jalur penyebrangan


“woi, kau mau mati ya?” teriak salah seorang pengguna mobil hingga mebuat zoya tersadar dari pikirannya tersebut membuat beberapa orang disekitarnya memandangi zoya


Zoya yang sontak kaget segera melanjutkan Langkah kakinya dan menunduk minta maaf karena hal tersebut. Entah kenapa sejak pertemuan tadi seolah dirinya hilang akal dan tidak sadarkan diri, kini zoya benar-benar mempercepat langkahnya menuju rumahnya dan ingin hal seperti itu terjadi lagi, sungguh hal yang sangat memalukan, karena tidak focus sampai diteriaki oleh seorang dijalan yang terbilang cukup ramai.


Zoya kini sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya setelah selesai berurusan dengan membersihkan dirinya. Menatap langit-langit rumahnya dan masih tetap sama pikirannya yang belum bisa berhenti bertanya-tanya tentang yang terjadi sejak siang tadi.


*flasback on


Sudah beberapa jam setelah komandan fynanda pergi, zoya masih setia memegang ponselnya yang kini ia tengah duduk di sebuah tama dekat dengan kampusnya. Mungkin sebentar lagi atau besok akan diberi kabar oleh komandan fynanda begitulah pikiran zoya, masih dengan tatapannya yang kosong kini dalam benak zoya banyak pendapat yang saling beradu

__ADS_1


“bagaimana jika komandan fynanda tidak mengabarinya lagi?”


“bagaimana jika komandan fynanda akan melupakannya”


“tidak,,,tidak,,, bagaimana bisa ia ditinggalkan komandan fynanda sudah berjanji akan pulang aku hanya cukup menunggunya bukan?”


Begitulah pikiran zoya yang saling beradu satu sama lain, hingga ia dikejutkan oleh sentuhan seseorang di pundaknya sontak membuat zoya berbalik badan hendak melumpuhkan orang tersebut tetapi berhenti saat ia melihat bahwa yang dibelakangnya ialah kakak angkatannya yang sangat ia kenal, dia rendi yang lumayan sering berkomunikasi dengan zoya walau sedikit respon yang terjadi.


“ada apa?” tanya rendi yang teryata sejak tadi memperhatikan zoya membuang nafasnya dengan kasar


“tidak apa-apa” balas zoya  dengan pertanyaan rendi


“ada yang bisa dibantu?” tanya  rendi kembali memecahkan keheningan diantara mereka


“tunggu sebentar” tiba-tiba rendi memegang tangan zoya hingga menghentikan langkah kaki zoya dan berbalik


Zoya melihat pergelangan tangannya yang sekarang sedang di genggam oleh kakak letingnya tersebut, kemudia dengan cepat zoya menarik tangannya seolah menyuruh kakak letingnya tersebut melepaskan tangannya dengan cepat juga rendi segera meresponnya dan melepaskannya.


“ada apa” tanya zoya tanpa bas abasi

__ADS_1


“apa kau ada waktu malam ini? Ada beberapa senior dari jurusan kita akan mengadakan perkumpulan untuk membantu pengerjaan tugas adek leting, jika tidak sibuk datanglah mungkin bisa sedikit membantu” jelas rendi kepada zoya


“kau tidak harus menjawab, jika memang sibuk tidak apa-apa” lanjut rendi menjelaskan setelah beberapa waktu tak mendapat jawaban dari pertanyaannya sebelumnya. Sedangkan zoya hanya menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan rendi di kursi taman tersebut


Zoya terus melangkahkan kakinya menuju apartement, rasanya pikirannya tidak ingin kembali ke apartement tersebut tapi bagaimana mungkin, sekarang ia tidak punya tempat tinggal selain itu. Kini ia sudah berada di depan pintu apartement komandan fyanda sebelum menekan kode pin pintu rumah ia menarik nafasnya dalam-dalam agar merasa sedikit tenang. Membuka pintu, melepas sepatu, lalu berhenti sejenak melihat sekeliling ruangan itu.


“baiklah aku akan menunggu” gumam zoya pada dirinya sendiri lalu berjalan memasuki kamar tidurnya untuk segera mengistirahatkan tubuhnya yang sebenarnya tidak terlalu lelah tetapi hati dan pikirannya yang membuatnya terlihat lelah


Zoya menghabiskan waktunya malam itu dengan membaringkan tubuhnya walau sesekali ia tertidur beberapa jam kemudian ia terbangun kembali, sesekali ia menge-cek hp nya menunggu kabar dari komandan fynanda tetapi tetap saja hasilnya nihil


Malam berganti pagi, zoya menjalani aktifitasnya seperti biasanya, pagi ini sebelum ia berangkat matanya teralihkan oleh secarik kertas diatas meja, ia melemparkan tubuhnya diatas sofa hendak membaca  isi dari surat tersebut, tetapi sebuah kartu ATM jatuh setelah mengambil kertas tersebut, seperti di selipkan ditengah lipatan kertas.


“ini untuk kebutuhanmu selama aku pergi, jangan menolak dan jangan bekerja lagi, focus saja dengan kuliahmu gunakan saja sesukamu, tunggu aku, anak kecill 😊” tak lupa sebuah emoticon tertulis diakhir pesan tersebut, surat tersebut komandan fynanda tulis setelah  mengatarkan zoya ke kampusnya


Terlihat senyuman di wajah zoya kini merekah setelah membaca surat tersebut ditambah panggilan anak kecil yang sudah lama ia tak dengar,


Beberapa hari kemudian tak ada kabar dari komandan fynanda, ingin sekali rasanya zoya menghubunginya terlebih dulu, ada rasa khawatir timbuh dalam hati zoya tapi zoya urungkan masih setia dengan menunggu agar komandan fynanda menghubunginya lebih dulu


Seminggu telah berlalu akhirnya zoya memutuskan untuk menghubungi komandan fynanda tetapi yang ia dapat nomer handphonenya tidak aktif, beberapa kali zoya melakukan panggilan tetapi tidak ada hasil,

__ADS_1


Seminggu, sebulan, dua bulan telah berlalu tidak ada jawaban sama sekali, pikiran zoya mulai beradu antara rasa khawatir dan kecewa semua bercampur aduk. Kali ini zoya memantapkan hatinya meninggalkan apartement tersebut, sejak kepergian komandan fynanda zoya memang kurang nyaman tinggal di apartement tersebut seorang diri tanpa ada pemiliknya, tak lupa zoya juga menuliskan sebuah surat sama seperti yang komandan fynanda lakukan lalu ia letakkan di atas meja di depan tv tersebut.


*flasback off


__ADS_2