
“semangat kuliah hari ini” demikianlah tulisan pesan di secarik kertas yang tertempel di penutup sarapan tersebut, melihat hal tersebut zoya tersebyum lebar saat membacanya
Ia menarik kursi yang di depannya lalu memakan sarapan yang sudah disediakan tersebut, sembari tersenyum sesekali ia mengunyah makanannya. Tak butuh waktu lama ia untuk menghabiskannya makanannya tersebut. Usai menyelesaikannya makannya, zoya sendiri langsung berangkat kuliah.
Di sisi lain kini komandan fynanda sedang di rumah sakit menemui ayahnya, tak lupa paman angga yang juga selalu berada di rumah sakit menjaga ayah komandan fynanda
“kau sudah datang nak” ucap ayah komandan fynanda setelah melihat komandan fynanda memasuki kamar inapnya, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh komandan fynanda
“bagaimana kabarmu ayah, apa sudah lebih baik?” tanya fynanda yang dibarengi dengan mendudukkan dirinya di sofa ruang inap tersebut
“sudah, sudah lebih baik, kau jangan terlalu khawatir ini hanya penyakit menyangkut umur” jawab ayah fyananda segera setelah pertanyaan itu dilontarkan
“bagaimana dengan permintaanku kemarin nak?” lanjut dengan giliran ayah komandan fynanda yang bertanya
“aku setuju dengan permintaanmu ayah mengenai soal perusahaan yang diteruskan padaku, tetapi sebagai profesiku seorang tantara, aku tidak bisa meninggalakannya jadi aku akan menjalankan keduanya” jawab komandan fynanda yang juga sekaligus menjelaskan
“baiklah, itu tidak apa, yang terpenting sudah kau setujui, itu sudah lebih baik” lanjut ayah komandan fynanda menanggapi pernyataan anaknya tersebut
“jika begitu sudah ada persetujuan bukankah sebaiknya nak fynanda memperlajari terlebih dahulu mengenai dunia bisnis dan perusahaan ini?” paman angga ikut dalam pembicaraan mereka
“itu ide yang bagus, bagaimana fynanda?” tanya ayah fynanda menambahi pertanyaan meminta persetujuan komandan fynanda
“baiklah, aku setuju” jawab singkat komandan fynanda
“baguslah, baguslah aku sangat senang” ayah komandan fynanda tiba-tiba batuk darah karena terlalu bersemangat mendengar jawaban komandan fynanda tersebut
__ADS_1
“ayah…” suara panik komandan fynanda setelah melihat kondisi ayahnya tersebut
Paman angga yang tak kalah khawatir segera berlari memanggil dokter keluar ruangan, tak lama setelahnya dokter datang ditemani beberap suster yang langsung memeriksa kondiisi ayah komandan fynanda,,,
“apa sebenarnya yang terjadi dokter?” tanya koamandan fynanda setelah melihat dokter selesai memeriksa ayahnya
“apa boleh saya berbicara dengan keluarganya secara pribadi?” tanya dokter tersebut
“saya putranya dokter, bicaralah” jawab komandan fynanda yang tak berjarak dengan pertanyaan dokter tersebut
“baiklah ikut dengan saya” lanjut dokter tersebut sekaligus meninggalakan ruangan
“silahkan duduk” ucap dokter tersebut setelah sampai di ruang dokter tersebut
“mengenai kondisi pasien ssudah saya beritahu terlebih dahulu kepada pasien, tetapi beliau meminta untuk tidak mengatakan yang sebenanrnya kepada pihak keluarga” dokter mulai memulai penjelasannya mengenai kondiri ayah komandan fynanda
Dokter menjelaskan semua apa yang telah dialami oleh ayah komandan fynanda, menjelaskan kondisi tubuh dan kesehatannya saat ini.
“jadi maksud dokter harus dibawa keluar negeri di kota B untuk pengobatan secara teratur?” tanya komandan fynanda usai mendengar penjelasan dokter tersebut
“benar, situasi di sana lebih memungkinkan untuk pasien lebih mudah disembuhkan, jika pihak keluarga setuju maka akan segera di urus mengenai surat pindah perawatan pasien, bagaimana pak?” tanya dokter tersebut
“lakukan mana yang terbaik, saya akan menyetujuinya” jawab komandan fynanda
“baiklah, segera saya akan mengabari mengenai ini” lanjut dokter tersebut menimpali jawaban komandan fynanda
__ADS_1
“saya permisi dulu” komandan fynanda bangkit dari kursinya dan segera meninggalkan ruang dokter tersebut
“silahkan” sahut dokter merespon
“bagaimana nak fynanda?” tanya paman angga setelah melihat kedatangan komandan fynanda kembali memasuki ruang rawat inap ayahnya tersebut
“kita akan ke kota B untuk pengobatan ayah, aku akan menemainya sekaligus memulai mempelajari mengenai perusahaan disana?” komandan fynanda menjelasakan kepada paman angga
“baiklah” hanya itu yang diucapkan paman angga menytujui perkataan komandan fynanda, sedangkan ayah komandan fynanda masih belum sadarkan diri
“permisi” salah satu suster masuk ke dalam ruangan tersebut membuat mata mereka tertuju pada suster tersebut
“saya hanya memberitahu untuk jadwal pemindahan pasien ke kota B akan dilakukan besok” ucap suster tersebut sembari memberi selembar surat dan segera diterima komandan fynanda
“baik suster terima kasih” jawab paman angga
“kalau begitu saya permisi dulu” suster tersebut pergi meninggalkan ruangan
“iya sus” jawab paman angga kembali, sedangkan komandan fynanda hanya diam tak bersuara dan membaca surat yang di tangannya tersebut
“aku akan pulang hari ini dan kembali besok” ucap komandan fynanda kepada paman angga sembari memberi surat yang tadi berada ditangannya
“baiklah, hati-hati nak fynanda” sahut paman angga
Komandan fynanda berjalan meninggalkan ruangan tersebut tanpa ekspresi apapun, tampak sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya sedang kebingungan, ia segera meningglakan rumah sakit tersebut dengan mobilnya, bahkan kini ia uga tidak tau kemana dia akan pergi, setelah berjalan beberapa waktu tanpa tujuan, kini ia sudah tampak di perkiran di depan Gedung universitas zoya, ia masih duduk di dalam mobil dan belum memiliki niat untuk keluar dari mobil
__ADS_1
Zoya yang kebetulan telah keluar dari Gedung dan hendak meninggalkan sekitaran kampus merasa sedikit teralihkan dengan mobil yang sedang berada di parkiran, ia berjalan menuju mobil tersebut, memastikan dugaannya apakah benar yang sedang ia pikirkan atau tidak