
Tania mengendarai sepeda motornya dengan pelan menuju rumahnya, sebenarnya Tania tak semangat untuk pulang kerumah. Nanti dia harus menyaksikan Maysa yang bermanja dengan suaminya namun ia juga tak mau memberi banyak kesempatan pada mereka berduaan saja.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan, aku tahu hubungan mereka tak seperti kakak dan adik seperti yang dibilang Maysa tadi.
Akhirnya sepeda motor Tania sampai didepan rumahnya, Tania memasukkan motornya kedalam garasi. Ada mobil suaminya disana, berarti suaminya ada dirumah.
"Assalamualaikum" ucap Tania
"Waalaikum salam" sahutan dari dalam suara laki laki dan wanita.
Tania masuk begitu saja kedalam rumah, diruang keluarga Tania melihat suaminya sedang menyiapkan obat obat untuk diminum oleh Maysa.
"Kak, obat itu pahiit. Aku tidak mau" Bibir Maysa manyun.
"Minumlah, kakak bantu" Alzyan menyodorkan dua butir pil, dan segelas air.
Kau sangat menyayangi Maysa mas, sedangkan aku istrimu tak kau pedulikan. Aku sakit sendiri, minum obat sendiri, bahkan aku pernah pingsan sendiri. Kau tak tahu itu.
Mata Tania berkaca kaca menyaksikan dua pasang kekasih yang romantis didepannya.
"Tania kau sudah pulang, ayolah temani mas makan siang " Walaupun hubungan dengan istrinya sedang tidak baik baik saja Alzyan tetap ingin makan disiapkan oleh istrinya. Karena ada yang kurang rasanya jika kebiasaan itu dirubah.
"Iya mas, tunggu Nia tukar pakaian dulu" jawab Tania sembari menoleh kearah suaminya. Kemudian Nia berjalan kekamarnya dilantai dua.
"Kak, kenapa tak makan sama aku saja tadi. Katanya tadi kakak belum lapar " Bibir Maysa mengerucut kesal.
"Aku terbiasa makan bersama Tania"
"Kan ada aku disini kak, sekali kali makan sama aku nggak apa kan? "
" Tadi kan kakak sudah temani kamu makan"
Tania selesai ganti pakaian dia juga sudah membersihkan wajahnya, kini wajahnya polos tanpa make up. Dia memakai dress berwarna lilac selutut tanpa lengan.
Tania menatap pantulan dirinya pada kaca, membandingkan dirinya dengan Maysa.
Tentu saja Maysa lebih anggun dan berkelas, aku tak sebanding dengannya.
Dengan perasaan sedih, cemburu dan marah Tania menguatkan dirinya menemui suaminya untuk menemaninya makan.
__ADS_1
"Mas ayolah makan" Tania tersenyum manis pada suaminya, walaupun dia merasa kesal dan sedih. Tapi dia berusaha bersikap manis pada suaminya.
Alzyan berdiri, dia sudah sangat lapar. Tadi dia menahan laparnya ketika menemani Maysa makan siang, Tania hari ini memang pulang agak telat.
Tania sudah dimeja makan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Dia juga mengambil makan siang untuk dirinya. Alzyan lalu duduk dikursi dan Tania duduk disebelah kirinya.
Mereka berdua makan tanpa bersuara, tak seperti biasanya. Alzyan biasanya makan sambil colek colek squisy miliknya, bahkan kadang dia curi curi cium pipi Tania. Sudah gitu Tania akan berteriak kesal karena dia terganggu menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
Maysa dapat menangkap suasana kaku diantara suami istri itu, diam diam dia menyunggingkan senyum tipisnya.
Tania makan hanya sedikit saja, biasanya Alzyan akan menyuapinya sampai istrinya itu menghabiskan makanan dipiringnya. Tapi kali ini dia tidak begitu peduli.
Setelah makan Alzyan naik kekamarnya dilantai dua sementara Tania mengumpulkan piring kotor hendak mencucinya, tapi bi Harti datang mencegahnya.
"Biar bibi saja, nyonya istirahat saja. Kan ibu hamil harus banyak istirahat, nyonya pasti lelah baru pulang kerja. "
"Hmm, iya bi."
"Udah.. pergilah temani suaminya, yang sabar ya nyonya" bisik bi Harti.
"Iya" Tania mengangguk. Lalu Tania menyusul suaminya kekamar, dia hendak mengajak suaminya berbicara siang ini juga.
"Seharusnya aku yang hamil anaknya kak Zy" batinnya.
"Kalau nyonya muda capek minta dipijiti saja sama pak boss !" Bi Harti sengaja bicara agak keras agar Maysa mendengarnya. Maysa jadi menekuk wajahnya karena iri.
Tania membuka pintu kamarnya, suaminya sedang berbaring disofa berwarna abu abu.
"Mas, kenapa tidak istirahat di tempat tidur saja. Ini lihat kakimu menjuntai ke lantai" Tubuh Zy yang besar dan jangkung memang tak cukup disofa yang berukuran kecil itu.
"Kan kamu juga mau istirahat, mas takut ganggu kamu"
"Mas, siapa yang terganggu sih. Biasanya juga mas suka gangguin aku tidur, aku nggak pernah marah kan?"
"Iya, kali saja hamilmu membuat kamu jadi sensitif, kata dokter Susan kan gitu" jawab Zy datar.
"Mas, aku memang sensitif. Tapi jangan jauhi aku mas. Mas, ayolah kita selesaikan masalah kita, jangan begini terus. Kita ini suami istri mas" Tania berusaha untuk menahan kesalnya. Benar kata suaminya sekarang dia memang sangat sensitif dan mudah emosi. Tapi dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Mau bicara apa Tania? " Alzyan bangkit untuk duduk. Tania pun duduk disebelah suaminya.
__ADS_1
"Banyak mas, mulai dari tuduhanmu padaku, juga antara mas dan Maysa, beri kesempatan aku bicara mas. Tak adil bagiku jika mas tak mau mendengar penjelasanku"
"Hmm, mau bicara apa ? "
"mas, mengenai tuduhan mas mengatakan aku tidak perawan lagi. Apa buktinya mas. Aku bersumpah aku tak pernah tidur dengan laki laki lain sebelum menikah denganmu mas"
"Mas juga tidak ingin mempercayainya, tapi begitulah kenyataan yang mas hadapi. Mas sudah menerima itu Nia"
"Tapi aku tidak terima dengan tuduhanmu itu mas"
"Nia sudahlah, kamu ingin bukti apa. Mas sendiri yang merasakannya" Suara Zy masih tetap lembut.
Hati Tania semakin panas dibuatnya, dia tak butuh penerimaan dari suaminya. Tapi butuh kepercayaan dari suaminya bahwa kala itu dia masih perawan.
"Itu berarti mas juga tidak percaya anak dalam rahimku ini anakmu mas? "
"Sudah mas bilang, mas ingin percaya dan lagi lagi bukti menunjukkan bukan, mas harus apa ?"
"Mas, kau kenapa bodoh sekali. Apa kau tak pernah belajar ilmu repoduksi? Usia kehamilan itu dihitung dari hari pertama haid mas..! " Tania semakin geram menahan kesalnya, kenapa ada laki laki sepolos ini.
"Apa pentingnya, ya aku memang bodoh karena terlanjur mencintaimu aku bisa menerima kekuranganmu. Bagaimanapun kau tetap istriku Tania. Aku akan membiayai kehamilanmu sampai anak itu lahir, tapi aku tak ingin bayi itu dirumah ini."
"Mas, lebih baik mas ceraikan aku, biarkan aku sendiri membesarkan anak kita. Ceraikan aku mas..!! " Tania berteriak, tangisnya pun pecah, Tania menarik kerah baju suaminya dan mengguncang guncang tubuh suaminya sekuat tenaganya.
Alzyan masih berusaha tenang dan membiarkan istrinya melepas emosinya. Akhirnya Tania kelelahan dan melepaskan cengkramannya. Tania lemas dan tubuhnya terkulai disofa, kepalanya mendadak pusing. Tania terbaring lemah, namun isak tangisnya masih terdengar lirih.
"Nia, kau tak apa apa kan,?" Zy menyibak anak rambut istrinya dan mengusap airmata dipipi istrinya.
"Mas, ceraikan saja aku.. hik hik" Tania terisak.
"Tidak Tania !" Alzyan menarik tubuh istrinya dan mendekapnya. Tania mendorong tubuh suaminya sekuat tenaganya. Namun Alzyan mendekapnya semakin kuat. Sejujurnya dia kasihan pada istrinya.
"Kau laki laki jahat mas" Ucap Tania lirih hampir tak terdengar.
"Nia, sudah mas bilang mas menerimamu. Mas sayang sama kamu. Sudahlah jangan menangis" Alzyan membelai lembut rambut istrinya dan menciumi pucuk kepala istrinya.
Dua insan yang saling mencintai, namun tengah dilanda masalah karena kesalahpahaman. Seorang suami yang penyabar dan istri yang emosional seharusnya menjadi pasangan sempurna apabila saling melengkapi. Zy dan Nia sama sama larut dalam pikiran masing masing dan mereka saling mendekap erat. Seperti enggan terpisah.
Tania tertidur, Alzyan menggendong tubuh istrinya ketempat tidur. Dan memasangkan selimut. Alzyan menelpon seseorang dan kemudian dia pergi keluar.
__ADS_1
******