
Sesaat Tania dan Arkhan saling pandang, pandangan Arkhan begitu lembut. Tania terpesona, namun buru buru dia menundukkan pandangannya..
"Dari mana kakak tahu aku tinggal disini ?"
"Bambang memberitahuku, setelah subuh aku berangkat dari Palembang."
"Kakak sendirian dari Palembang ?"
"Iya" Arkhan mengangguk
"Kemaren apa kamu kehujanan?, Bambang bilang kamu hanya mengendarai sepeda motor dengan temanmu, pasti Aisyah kan ?"
"Iya aku sama Aisyah, kami nggak kehujanan. Kami menginap dirumah Kakak sepupu Aisyah"
"Oh Syukurlah"
Kemudian keduanya terdiam, sampai Aisyah datang membawa dua gelas teh manis.
"Silahkan diminum kak Arkhan" Aisyah menaruh dua gelas berisi teh manis diatas meja, lalu dia kembali bediri sambil memeluk nampannya.
"Aku kebelakang ya" Aisyah membalikkan badannya dan berjalan.
"Disini saja Aish" Tania meminta.
"Iya disini saja" Arkhan menyetujui ucapan Tania.
Aisyah tersenyum canggung, namun dia memenuhi keinginan dua orang itu, Aisyah duduk disebelah Tania.
"Ehmm, ada apa ya kak Arkhan berkunjung kesini ?"
"Nia, kakak merasa kau tak baik baik saja, semalam kakak tak bisa tidur memikirkan kamu. Makanya setelah subuh kakak segera berangkat ke Jambi. Kakak mengkhawatirkanmu"
"Aku baik baik saja kak, kakak lihat sendiri kan ?"
"Tapi Nia, kakak tahu kau tak baik baik saja. Kamu baru saja berpisah dengan suamimu, apalagi kondisimu yang hamil muda. Kakak benar benar khawatir." Raut wajah Arkhan keliahatan cemas.
"Ada Aisyah yang menjagaku, dia juga yang menguatkan ku kak"
Aisyah tersenyum mendengar namanya disebut, dia memang berusaha sekuat tenaganya menjaga Tania.
__ADS_1
"Kakak tinggalkan mobil kakak disini, bisa kamu pergunakan jika mau kekota atau kemana saja"
"Terus kakak pulang pakai apa?"
"Bus malam ini"
"Kak, ini terlalu berlebihan. Aku tak membutuhkan mobil. Lagi pula aku tak begitu pandai mengendarai mobil kak, Aisyah juga tak bisa menyetir mobil"
"Tak apa, lebih baik ada mobil daripada tidak. Tiba tiba kamu sakit dan harus kerumah sakit bagaimana, tentang sopir kan kalian bisa minta bantuan teman yang bisa".
"Tapi kami ini bidan kak, jika ada apa apa dengan kehamilanku teman temanku bisa mengatasinya, dan ambulan juga ada jika dibutuhkan rujuk kerumah sakit"
"Tania, jangan menolak pemberianku. Kakak hanya ingin memastikan keselamatanmu, dan kakak tak mau kau dan anak dalam kandunganmu kenapa kenapa"
Degg, hati Tania menghangat mendengarnya. Arkhan mengkhawatirkan anaknya, sementara ayah kandungnya sendiri tak peduli.
"Terimakasih kak telah memperhatikanku" ucap Tania malu malu, wajah Tania bersemu merah.
"Iya," Arkhan mengangguk "Nia, boleh minta nomor ponsel mu yang baru, Kakak juga meminta nomor ponselmu Aish, boleh ?"
"Iya, boleh kak" jawab Tania dan Aisyah. Lalu Tania menyebutkan sederet angka nomor ponselnya dan nomor ponsel Aisyah. , Arkhan menyalinnya pada ponsel miliknya.
"Kakak tak bisa lama, ini kunci mobilnya. Sebentar lagi Bambang sampai kesini menjemput kakak."
"Jaga dirimu baik baik, insya Allah Minggu depan kesini lagi melihatmu"
"Baik kak"
Terdengar deru mesin mobil diparkirkan diluar, Arkhan mengintip dari pintu yang memang dibiarkan terbuka.
"Bambang sudah sampai, Aisyah kakak titip Tania ya ?"
"Iya kak" Aisyah mengangguk.
Setelah berpamitan, Arkhan berjalan keluar Tania mengantarnya sampai keteras. Sebelum masuk kedalam mobil Arkhan menoleh kebelakang, dan dia tersenyum pada Tania, Tania membalas senyumnya tersipu.
Khawatir rasanya meninggalkan Tania yang sedang dalam keadaan hamil muda diperumahan puskesmas yang sangat sederhana itu. Arkhan hanya bisa berdoa semoga Tuhan menjaga wanita yang dicintainya itu.
****
__ADS_1
Aisyah merebahkan tubuhnya disebelah Tania, temannya itu sepertinya sedang berbunga setelah mendapat kunjungan sore tadi.
"Nia, kau masih mencintai Arkhan ?"
"Ehm, aku sendiri tak tahu Aish. Yang jelas aku senang banget dapat perhatiannya"
"Apa jantungmu berdebar ketika menatapnya?"
"Iya, aku senang tapi malu malu rasanya"
"Itu namanya cinta"
"Tahu apa kamu tentang cinta Aish, memangnya kau pernah jatuh cinta?" Setahu Tania Aisyah tak pernah jatuh cinta, dia tak pernah punya pacar.
"Dari buku yang kubaca, yang kau rasakan itu tanda orang jatuh cinta. Tapi cintamu terlarang Nia"
"Aish.."
"Kamu masih istrinya Tuan Alzyan, jangan memperangkapkan dirimu dalam cinta yang salah Nia. Jika memang ingin kembali pada kak Arkhan, kau harus berpisah baik baik dengan suamimu."
"Tapi bagaimana caranya, aku malu kembali ke Jakarta"
"Nia, apa memang tak ada lagi rasa cintamu untuk Tuan Alzyan ?"
"Entahlah aku gak tahu, kemaren aku sangat merindukannya tapi perlahan lahan aku mulai melupakan mas Zy."
"Itu berarti cintamu telah memudar"
"Mungkin juga Aish, jujur saja kemaren aku sangat berharap dia datang menjemputku. Tapi sekarang aku yakin bisa melupakannya, aku bisa hidup tanpa dia dengan ada atau tidak adanya kak Arkhan."
"Bagaimana jika suatu saat dia menemukanmu dan mengajakmu pulang, kau tahu sendiri dia masih sangat mencintaimu"
Tania terdiam, membayangkan bagaimana seandainya Alzyan datang mengajaknya pulang.
"Aish, itu tak akan terjadi. Kemaren memang mas Zy Masih mencintaiku tapi kini dia ada Maysa, dia pasti bisa melupakanku dengan hadirnya Maysa dalam hidupnya. Jangan lupa Maysa adalah cinta pertamanya, sama seperti kak Arkhan cinta pertamaku"
"Kau selalu begitu, menduga duga yang belum kau ketahui kebenarannya, belum tentu Tuan Alzyan menikah dengan Maysa."
Tania menghela nafas, perkataan Aisyah benar. Tapi itu dilakukannya untuk membela dirinya. Jika dia terus berharap dengan Alzyan dia takut akan terluka semakin dalam dan tak akan bisa bangkit. Sekarang yang dia lakukan adalah menerima kenyataan bahwa rumah tangganya tak bisa dipertahankan.
__ADS_1
Jika mas Zy memang menginginkanku kembali dia pasti mencariku, tak sulit baginya menemukanku. Dia pengusaha ayahnya juga, mereka pasti punya orang orang kepercayaan yang bisa mencari keberadaanku. Mas Zy punya uang untuk mencari dimana aku bersembunyi. Sebenarnya tak susah baginya untuk tahu dimana aku bersembunyi. Aku menunggu dia menjemputku tapi dia tak kunjung datang.
*****