
Merebahkan tubuh lelahnya Alzyan memandangi foto Tania di layar ponselnya, rindu yang membuncah membuat dia mampu menahan rasa kantuk dan lelah.
Dering ponsel milik Dion mengusik lamunan Alzyan, Sepertinya sopirnya itu mendapat telepon dari keluarganya. Akhirnya Dion mengakhiri panggilannya dengan ucapan salam.
"Ada apa Dion ?"
"Anu Tuan, istri saya mau melahirkan, baru pembukaan satu katanya"
"Ohh, jadi bagaimana apa kamu tidak mendampinginya ?"
"Tidak tuan, saya antar saja tuan ke kabupaten M dulu, baru setelah itu kembali ke Pekanbaru"
"Turunkan saja saya, dan kau kembalilah ke Pekan Baru dengan mobil ini, cari warung makan disana saya bisa naik bus"
"Tapi Tuan ini masih jauh, masih 5 jam perjalanan"
"Justru itu, jika 5 jam perjalanan kau manfaatkan untuk pulang ke Pekan Baru kemungkinan kau akan bisa mendampingi istrimu melahirkan".
Dion terdiam, berpikir apakah akan membantah Tuannya atau menuruti keinginannya, sejujurnya dia sangat ingin mendampingi wanita yang dicintainya melahirkan anaknya.
"Jangan lama berpikir, sepertinya disana ada rumah makan. Berhentikan saya disana, nanti saya bisa naik bus ke kota M" Alzyan menunjuk kearah kanan dimana ada papan nama Rumah Makan CITRA.
"Tidak apa apa Tuan ?"
"Tidak apa, aku tak mau kau menyesal tak bisa mendampingi istrimu melahirkan anak pertama kalian"
"Baiklah Tuan" Dion lalu mengarahkan mobilnya menuju rumah makan yang ditunjuk Tuan Alzyan.
Setelah kepergian Dion Alzyan berhasil mendapatkan bus Travel jurusan kota M. Untunglah masih ada bangku yang tersisa. Alzyan menghempaskan tubuhnya di bangku penumpang, tubuhnya sangat lelah. Namun perjalanan masih panjang
***
Tania sudah menyelesaikan solat isya lalu dia membereskan perlengkapan solatnya. Demam Tania sudah turun, tapi dia belum merasa kantuk mungkin karena seharian ini dia hanya tiduran saja. Aisyah yang telah lebih dahulu solat sepertinya sudah tertidur, kelihatannya dia lelah seharian ini karena dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendirian saja, bahkan dia yang mencuci pakaian Tania.
Tania meraih ponselnya dan mengaji melalui aplikasi dalam ponselnya, surah Arrahman menenangkan jiwanya. Tania membaca Alquran dengan Fasih dengan suara yang mengalun merdu. Setelah membaca Arrahman sampai 78 ayat Tania menyudahinya dengan Shadaqallahul adzim. Rasa kantuk mulai menyerang matanya ketika jam sudah menunjukkan pukul 22.00.
Baru saja terlelap Tania merasakan mendengar ucapan salam disertai ketukan pintu, dia sangat terkejut seperti mengenal suara itu.
"Apa aku bermimpi ?" Tania lalu menepuk pipinya sendiri.
"Aku tak bermimpi, atau aku mengkhayal ?" Suara salam itu terdengar lagi dari luar.
"Itu benaran suara mas Zy" Tania lalu bangun berjalan berjinjit hendak mengintip dari kaca.
Ya Allah diluar itu mas Zy, benaran dia atau hanya khayalanku saja ?
Tania kembali kekamar lalu dibangunkannya Aisyah.
"Ada apa Nia, kamu demam lagi ?" Aisyah membuka matanya sedikit.
"Tidak, diluar sepertinya ada mas Zy"
"Masa sih ?"
"Benar, tapi aku ragu juga membuka pintu nantinya bukan dia bagaimana. Ayolah keluar sebentar, coba kau lihat itu benaran mas Zy atau bukan"
__ADS_1
"Kau pasti lebih mengenalnya dari aku, bagaimana bentuk tubuh suamimu kau lebih tahu"
"Tapi aku takut hanya khayalanku saja, naa itu dengar dia mengucapkan salam lagi. Ayolah" Tania menarik tangan Aisyah untuk bangun, akhirnya Aisyah bangun juga"
Aisyah berjalan mendahului Tania, lalu dia mengintip dari kaca. Aisyah mengucek ngucek matanya sementara orang diluar itu kembali mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Tania, kamu bukan lagi mengkhayal tapi ini namanya khayalan jadi kenyataan. Diluar itu memang Tuan Zy, bukain lah pintunya. Aku lanjut saja tidur" Aisyah ngeloyor pergi, sementara Tania melongo.
Tania mengatur nafasnya, perasaannya antara deg degan, marah dan gembira juga.
"Bismillah" Tania membuka pintu, ceklek.
"Sayang.." mata Alzyan berbinar, wajah lelah hilang seketika setelah menatap seseorang dihadapannya.
"Mas..." Tania mendongak, cepat cepat menunduk kembali. Dirinya tak mau Alzyan melihat matanya yang menunjukkan kegembiraan.
"Nggak disungkem suaminya?"
Alzyan mengulurkan tangannya, Tania menatap sejenak tangan itu menghela nafas akhirnya dia menyalami suaminya.
"Sendirian dirumah ?"
"Berdua Aisyah. Masuk mas duduklah " Tania lebih dahulu duduk disofa.
"Hmm, ada yang rindu sepertinya" Alzyan menggoda Tania.
"Siapa ?"
"Kamu"
"Nggak kok" Tania bergegas menggeleng kepalanya.
"Emangnya aku saja, kamu tidak ?"
"Sangat, Aku hampir gila karena menahan rindu" Alzyan menatap Tania penuh rindu, rasanya dia ingin memeluk wanita dihadapannya itu.
"Hh" Tania menghela nafas dan membuang muka kesamping.
"Nia, maafkan mas. Mas tak akan mengulangi kesalahan ini lagi. " Alzyan memberi jeda untuk melihat reaksi Tania. Tania malah menundukkan wajahnya.
"Nia, maafkan aku yang sudah membuatmu banyak menangis, aku membuatmu menderita. Maafkan suamimu ini".
Permintaan maaf Alzyan terdengar lirih. Namun Tania tak memberi reaksi apapun, dia tetap dalam diamnya dan menunduk.
"Tania bicaralah, jangan diamkan mas mu. Terserah mau bilang apa, mau marah atau mencaci suamimu yang bodoh ini. Bicaralah sayang"
"Bagaimana kamu bisa menemukanku ?" Akhirnya Tania bersuara.
"Mas punya orang orang yang bisa melakukan itu. Tahu tidak sayang, tadi pagi kita sudah hampir bertemu. Mas meninjau lokasi proyek tak jauh dari sini lalu mas kecelakaan dan terluka. Ketika mas dibawa ke puskesmas kau malah sudah pergi. Kau pasti didalam Honda jazz merah pagi tadi kan ?"
"Iya aku dalam mobil itu" Tania mengangguk.
"Kau kemana tadi ?"
"Pagi tadi aku demam dan periksa ke dokter spesialis Obgyn. Sekarang sudah baikan"
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau sudah baikan, bagaimana kabar bayi kita sayang?"
Tania mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Alzyan.
"Bayi kita, kau yakin ?" Ujar Tania sinis.
"Nia, di dalam rahimmu itu adalah anakku. Anak kita Nia. Maafkan aku yang dulu sempat meragukannya"
"Bukan meragukannya, lebih tepatnya kau tidak mengakuinya"
"Tania maafkan aku, kumohon. Aku ingin menebus kesalahanku kembalilah bersamaku."
"Iya ku maafkan, Tapi aku tak ingin kembali ke Jakarta" Tania menjawab datar saja.
"Nia jangan hukum aku, jika kau tak kembali bersamaku bagaimana bisa aku membayar kesalahanku selama ini. Aku ingin melewati hari hari bersama denganmu dan anakku, menemanimu periksa hamil, mencarikan apa makanan yang kau idamkan. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan Nia" Alzyan memijit sendiri pelipisnya.
"Tak perlu, cukup kau mengakui anakmu saja itu sudah cukup untuk membayar kesalahanmu. Karena aku tak mau orang menganggap anakku anak haram"
"Kau tak ingin kita kembali hidup bersama?, mengapa Tania. Jangan hukum mas begini, kamu boleh mengidamkan makanan yang paling susah didapat atau barang yang paling mahal sekalipun tapi izinkan aku bersamamu, aku tak sanggup lagi berpisah darimu"
"Mas, aku sudah memaafkanmu walaupun itu berat. Kita pisah saja baik baik dan aku mengizinkan kamu bertanggung jawab dengan anak kita"
"Maksud kamu apa Nia, mas tak mengerti"
"Sebenarnya aku ingin marah, dan mengusirmu dari sini. Tapi aku tahu itu tak akan menyelesaikan masalah, jadi aku mengizinkanmu bertanggung jawab atas anakku. Lepaskan aku baik baik, aku hanya ingin hidup bahagia dengan anakku. Dan kau hiduplah bahagia dengan keluarga barumu"
"Keluarga baruku, maksudmu apa Nia ?"
"Mas, aku tak mau dimadu. Aku memilih mengalah daripada setiap hari harus bermasam muka dengan Maysa"
"Nia, hahahah" Alzyan tertawa terpingkal pingkal membuat Tania bertambah kesal.
"Aku tak pernah menikah dengan Maysa. kemaren dan kapanpun tak akan pernah. Aku sangat marah kau memberikanku pada Maysa, kau tega menyuruhku menikahinya. Istri macam apa kau" Alzyan pura pura cemberut.
Tania melongo mendengarnya, tak mengira jika suaminya tak jadi menikahi Maysa. Tapi dia tak mau percaya begitu saja.
"Alaah mas jangan bohong, mas kan sudah lama bermain dengan Maysa. Waktu ke Pekan Baru saja sama Maysa kan?, tidur di hotel yang sama. Sudahlah mas aku lelah, aku ikhlas kok mas menikahi Maysa dan aku bisa maklum jika mas masih mencintainya. Dia cinta pertamamu kan?"
"Nia dengarkan mas, Maysa memang ikut ke Pekan Baru waktu itu. Tapi dia yang memaksa ikut, mas tak bisa mencegahnya"
"Iya karena memang sudah janjian kan"
"Nia, mas tidak pernah janjian ke Pekan Baru sama Maysa. Entah dari mana dia tahu jadwal mas ke Pekan Baru. Sebelum kita menikah, jujur saja mas pernah mengajak dia ke Pekan Baru. Tapi mas berani sumpah, mas tak pernah janjian sama dia. Dia saja yang maksa ikut."
"Aku harus percaya gitu?"
Aduh cemburu rupanya istriku ini
"Harus percaya Nia, mas juga tidak tidur di hotel sama dia kok. Mas tinggalin dia dihotel lalu memesan tiket pesawat untuk dia pulang besoknya. Mas istirahat dirumah teman, dan sorenya langsung ke perkebunan. Maysa tidak ikut ke perkebunan. Begitu ceritanya"
"Oke, apa buktinya?"
"Ini telpon saja teman mas namanya Agam. Mas istirahat dirumahnya sebentar, sorenya berangakat ke perkebunan dijemput Dion. Atau telpon saja sopir mas namanya Dion." Alzyan menyerahkan ponselnya. Namun Tania menggeleng.
"Apa kau mengira mas berbohong? Mas tak pernah menikahi Maysa dan tak akan pernah. Mas juga tidak janjian ke Pekan Baru sama dia dan tak pernah tidur dihotel dengannya, mas tahu batasan Nia. Dia hanya ingin membuatmu marah, dan kau sudah terperangkap dengan tipu muslihat Maysa"
__ADS_1
Tania menatap wajah suaminya, melihat apakah ada kebohongan disana. Namun dia merasakan suaminya telah berkata jujur. Dia juga melihat rasa bersalah dan penyesalan yang sangat besar dimata suaminya.
****