
Tania bergegas pulang kerumah mendahului Aisyah. Hari Sabtu puskesmas tutup pukul 12 siang, puskesmas A bukanlah puskesmas rawat inap yang buka 24 jam. Hari ini Aisyah berencana mengajak Tania kerumah kerabatnya Adam di kota kabupaten M. Tania senang sekali sekalian dia bisa periksa kehamilannya dengan dokter spesialis kandungan di kota. Sampai dirumah dia segera kedapur menyingkap tudung saji. Pagi Tadi Aisyah memasak ikan goreng dan tumis kangkung dengan irisan cabe rawit.
Aisyah telah ganti pakaian dia menemui Tania yang sedang makan siang sendirian mendahului dirinya. Bahkan Tania belum menggantikan pakaiannya.
"Bumil kelaparan sepertinya, Sampai teman sendiri ditinggalin ?"
"Iya nih, lagian aku semangat banget karena mau ke kota hari ini. Jadi minjam motornya kak Yuli ? "
"Jadi, malah dia menawari mobilnya. Sayangnya aku nggak bisa nyetir. Jadi aku pinjam motor saja"
"Aku bisa kok nyetir mobil Aish, kenapa nggak kamu terima saja tawaran kak Yuli ?"
"Nia Kamu baru saja diajari paman Danu nyetir sebulan sebelum kamu menikah, setelah menikah kamu selalu diantar jemput sama Tuan Zy. Aku tak yakin dengan kemampuanmu menyetir mobil"
Tania mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Aisyah, namun dia tak membantah karena perkataan Aisyah benar.
"Lebih aman jika aku boncengi kamu dengan motor, kamu tahu sendiri keahlianku dalam mengendarai sepeda motor kan ?"
Tania mengangguk, dia kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Aisyah pun ikut makan bersamanya. Setelah makan Tania mencuci perlengkapan makan mereka yang kotor, sementara Aisyah mengangkat jemuran. Lalu mereka berdua bergantian mandi dikamar mandi kecil rumah mereka. Aisyah yang sudah lebih dahulu mandi sudah berpakaian, dia kelihatan sangat manis dengan hijabnya. Tak lama muncul Tania dengan masih memakai handuk.
"Aish, aku pinjam jilbabmu ya."
"Ambil saja di hanger, pilih yang kamu suka. Memang lebih bagus kamu berjilbab. Siang siang begjni panas, apalagi kita pakai motor"
"Bukan karena panas, tapi mulai hari ini aku memang ingin berjilbab".
"Kamu sudah yakin Nia ?"
"Iya, aku yakin. Nanti dikota temani aku ke toko pakaian juga buat beli beberapa dress panjang dan tunik."
"Oke, siap. Ehmm nggak pinjam sekalian bajuku ?
" Aish, nggak lihat aku lebih besar dari kamu ?"
"Oh iya ya" Aisyah mengangguk angguk. Selama di Jambi, sahabatnya yang sedang hamil muda itu jadi bertambah banyak makannya, dan dalam sebulan ini berat badannya banyak bertambah.
****
Alzyan menutup laptopnya, dia mengemas barangnya. Hari ini dia akan pulang lebih awal, dan menemui ibunya dirumah sakit. Setelah mengemasi barangnya dia menuju ruangan Affandi asistennya.
"Fandi, kamu sudah melaksanakan yang saya beritahu tadi ?"
" Sudah, orang saya sudah bergerak mencari nyonya Tania. Akan saya kabari perkembangan selanjutnya"
"Baiklah, beritahu pada Sarah saya tidak masuk hari senin, suruh dia atur kembali jadwalku untuk hari Senin. Dan kamu handel semua urusan dikantor untuk hari Senin"
__ADS_1
" Tuan kemana hari Senin ?"
" Sore nanti saya berangkat ke Pekan Baru, Senin sore saya sudah kembali ke Jakarta. Ada masalah di perusahaanku disana, Sudah lebih dari dua minggu ini aku menunda. Barusan Alif memberitahu agar saya segera kesana untuk turun tangan langsung"
"Baiklah, saya akan menghandel pekerjaan disini. Semoga masalah di Pekan Baru cepat teratasi"
"Iya" Alzyan mengangguk
"Saya harus kerumah sakit menemui ibu. Entah apa alasanku nanti jika ibu menanyakan Nia"
"Bilang saja nyonya sedang tak enak badan harus istirahat, Nyonya kan sedang hamil pasti Ibu Diana percaya kalau nyonya Tania lagi tak enak badan"
" Hmm, ide bagus juga. Makasih ya Fan. Ternyata kau pandai juga berbohong"
"Berbohong demi kebaikan, saya berjanji akan menemukan Tania secepatnya Tuan"
"Saya yakin padamu, saya kerumah sakit sekarang " Alzyan berlalu meninggalkan Asistennya.
Affandi mengangguk, sejujurnya Affandi merasa kasihan pada Tuan mudanya ini. Disaat kedua orangtuanya sakit, dia juga kehilangan istrinya. Ditambah lagi masalah perusahaan, sekarang perusahaan di Pekan baru bermasalah juga. Masalah di perusahaan perlahan lahan bisa diperbaikinya dengan kerja kerasnya selama dua minggu ini.
Salah Tuan Alzyan juga kenapa mencurigai istri, seharusnya dia menyelidiki kebenarannya dulu bukan malah asal menuduh tanpa bukti.
***
"Zy mana Tania, kau janji membawanya kesini" Bukan menyapa anaknya, Diana malah langsung menanyakan menantunya
" Maaf Bu ,Tania kurang enak badan. Dia pusing, dan muntah muntah tadi pagi. Aku suruh dia istirahat saja Bu, kasihan jika dia harus kesini"
" Oo gitu, apa sudah kau periksakan ke dokter ?"
"Sudah Bu, dokter Susan sudah memeriksanya. Tania sebenarnya ingin kesini, tapi aku melarangnya. Aku suruh dia istirahat saja dirumah. Tak apa kan Bu?"
"Tak apa, bi Harti bisa merawat ibu disini"
Iya Bu, ibu sama bi Harti saja"
"Kalau gitu kamu cepatlah pulang kerumah, kasihan istrimu sendirian. Temani dia. Ibu tidak apa apa"
" Baiklah Bu, Aku pulang ya Bu ?
"Iya" Diana mengangguk, lalu dia merentangkan tangannya. Alzyan menghampiri ibunya untuk memeluknya. Setelah berpamitan Alzyan pulang kerumahnya.
Sampai dirumah Alzyan berlari kekamarnya, dia menaruh tasnya di sofa. Kemudian membuka lemari dia meraih gaun tidur milik Tania. Dia memeluk gaun itu dan menciuminya.
"Tania maafkan aku, kau dimana sekarang sayang?" Alzyan menitikkan air matanya. Airmata itu deras mengalir, airmata kerinduan. Tak hanya rindu yang Alzyan rasakan tapi dia juga sangat mengkhawatirkan Tania. Karena kebodohannya sekarang Tania dan anaknya mungkin saja dalam bahaya.
__ADS_1
Alzyan memeluk erat gaun tidur milik istrinya, seakan dia memeluk pemiliknya. Tanpa membuka sepatu dan kaos kakinya dan Bahkan dia masih memakai jas Alzyan berbaring meringkuk di atas tempat tidur, dia menangis karena sangat menyesali sikapnya selama ini.
"Bahkan aku belum memberimu nafkah, aku sudah menelantarkan anak dan istriku. Maafkan aku Ya Allah. Berikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semua ini ya Allah" Alzyan memang berencana memberikan Tania kartu ATM yang bisa digunakannya untuk semua keperluannya, namun belum sempat diberinya. Alzyan membayangkan apakah isterinya sekarang makan dengan baik, apakah isterinya punya tempat tinggal yang layak.
"Kau bahkan tidak membawa satupun pakaian milkkmu, aku hanya bisa berharap kau dan anakku baik baik saja Nia"
***
Setelah mendaftar di praktek dokter spesialis kandungan, Tania dan Aisyah pergi berbelanja keperluan Tania di toko pakaian tak jauh dari tempat praktek dokter. Tania membeli beberapa potong dress dan tunik, juga jilbab. Tania membeli pakaian yang akan bisa dipakainya selama hamil, karena perutnya pasti akan membesar seiring bertambah usia kehamilannya. Setelah selesai belanja, mereka kembali ketempat praktek dokter.
Tania dan Aisyah duduk di kursi tunggu, mereka mengobrol seputar penampilan baru Tania.
"Aku sudah lama ingin berjilbab, Alhamdulillah sekarang sudah terlaksana"
"Alhamdulillah, sebenarnya kau cantik sekali berjilbab Nia"
"Kurasa juga begitu," Tania tersenyum membenarkan ucapan sahabatnya.
"Ehmm, maaf apa saya tidak salah jika adik ini Tania?" Ucap seorang laki laki yang duduk di kursi tunggu berhadapan dengan mereka.
Tania mendongak mendengar namanya disebut, lalu dia menunjukkan dirinya dengan telunjukknya.
"Iya, apakah adik bernama Tania. Maaf jika saya salah" ujar laki laki itu lagi.
"Benar saya Tania, kak Bambang kan ?" Tania mengingat ingat.
"Benar, ternyata kamu masih ingat saya. Kamu kenapa disini Tania?"
"Ehmm, periksa hamil kak"
" Kamu sudah menikah?"
"Iya, kakak sendiri kenapa disini?"
"Kakak menemani isteri periksa hamil juga, kenalkan ini isteri kakak"
Kemudian Tania dan isteri Bambang berkenalan dengan saling bersalaman
"Tania"
"Sofia"
Mereka saling melemparkan senyum. Dalam hati Bambang ingin menanyakan siapa suami Tania, apakah Arkha atau orang lain. Tidak nampak suaminya disebelah Tania. Kemudian nama Tania dipanggil. Tania dan Aisyah pun masuk kedalam ruang periksa. Bambang masih penasaran dengan Tania pacar dari sahabatnya Arkha.
*****
__ADS_1