Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Pamit


__ADS_3

Alzyan dan Tania sudah selesai mandi bergantian, Tania sedang berdandan di depan cermin kecil berbentuk segiempat. Alzyan duduk saja di sisi ranjang memperhatikan istrinya. Tania memakai make up tipis, alisnya dipertegas dengan pensil alis berwarna coklat dan matanya dibingkainya dengan eyeliner. Tak lupa blush on dan eye shadow yang membuat wajahnya menjadi segar. Selama hamil dia memang suka sekali berdandan.


"Nia, sudah kelihatan belum jenis kelamin anak kita?"


"Kemaren waktu periksa katanya sebulan lagi bisa lihat jenis kelaminnya"


"Nanti mas temani periksa ya, Mudah mudahan perempuan, laki laki juga tak apa"


"Iya" Tania mengangguk setuju. " Ehmm, Sejak kapan mas tahu anak ini adalah darah daging kamu mas?"


"Semenjak kau berlari jauh, mas ingin menyusulmu tapi dokter Susan mencegah. Katanya biarkan kamu menenangkan diri. Dokter Susan lalu bercerita siapa kamu dan siapa Arkhan yang rupanya adalah temannya. Dokter Susan sudah meyakinkan bahwa mas adalah ayah dari anak kita. Kemudian mas berlari menyusulmu saat kau sudah dalam taksi, orang memberitahu jika kondisi ayah menurun. Mas tak jadi mengejarmu."


"Oh begitu ?"


"Tapi mas sangat kecewa saat kau datang mengatakan Alvin ayah dari anakmu, dan kau menyuruh mas menikahi Maysa. Mas sangat kecewa, mas hancur Nia. Sementara mas harus bekerja keras menyelamatkan perusahaan. Sampai saat ibu bisa berbicara, dan ia mengatakan ingin kau menjaganya dirumah sakit. Mas mencarimu di bengkel Alvin, disanalah mas tahu kebenarannya"


"Ibu sudah bisa bicara mas ?"


"Iya, dia ingin bertemu denganmu, mas bilang saja kau harus istirahat sementara orang orang kepercayaan mas mencarimu"


"Maafkan aku mas, aku ingin bertemu ibu, lalu ayah bagaimana kondisinya?"


"Setelah sampai Jakarta, kita akan menemui ibu. Kabar terakhir kondisi ayah juga sudah membaik".


"Alhamdulillah, aku berpakaian dulu ya"


Tania yang masih memakai handuk baju memilih gamis didalam lemari plastik. Sehelai gamis model baby dol berwarna moca jadi pilihannya, dia lalu mengenakannya. Kemudian dia memilih jilbab berwarna senada.


"Kamu berhijab sekarang ?"


Tania mengangguk, dia memakaikan peniti pada jilbabnya terakhir sebuah bros berbentuk bunga mempermanis penampilannya.


"Mas nggak suka ?"


"Sangat suka, lebih anggun dan cantik"


"Sudah lama ku ingin berhijab, tapi aku takut mas tak mengizinkan"


"Oh ya, mas juga sudah lama ingin kamu berhijab tapi takut kamu belum siap"


Tania dan Alzyan saling berpandangan penuh arti, kemudian Tania merapikan penampilannya.


"Kita jadi kan pamit sama teman temanku ?"


"Iya tentu" Alzyan menggamit tangan istrinya.

__ADS_1


"Nia, setelah ini jangan lagi ada kesalahpahaman diantara kita, kita selama ini kurang komunikasi. Mas yang salah, bahkan mas tidak tahu keinginanmu untuk berhijab, mas malah sudzon menganggap kamu belum siap berhijab."


"Tak apa, yang penting kan sekarang aku sudah berhijab sesuai dengan keinginanku dan keinginan mas juga"


"Iya, ayolah kita ke puskesmas" Alzyan merangkul pinggang Tania. Mereka berjalan keluar, sampai diteras Tania melepas rangkulan tangan Alzyan.


"Malu mas sama teman"


"Hhh, eh Nia. Didalam garasi sana mobil siapa. Mobil temanmu ya?" Alzyan pikir Honda jazz merah itu milik teman Tania, siapa tahu dipinjam istrinya.


"Anu, ehmm itu mobil pinjaman kak Arkhan" Tania menunduk, takut suaminya salah paham jika nama Arkhan disebut sebut.


"Oh ya, Arkhan tahu kamu disini, dia mengunjungimu?"


"Mas, nanti bisa kujelaskan. Kita pamit sama temanku dulu"


"Kau tak pernah menghubungi mas selama ini, aku mencarimu kemana mana tapi malah orang lain tahu keberadaanmu. Dia memberikanmu sebuah mobil." Alzyan geleng geleng kepalanya, tak disangkanya dalam waktu belum lagi sebulan mereka terpisah Tania sudah bermain main dengan Arkhan.


"Aku selalu merasa jadi orang paling bersalah dalam masalah kita, tak kusangka malah kau sudah bertindak sejauh ini, aku bahkan hampir gila merindukanmu, kamu malah bermain dengan Arkhan" Alzyan duduk dikursi rotan diteras, menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, dia memijit mijit pelipisnya.


"Mas, nanti kujelaskan. Kumohon, ini tak seperti yang mas kira"


Alzyan diam tak menanggapi, Dia mengatur nafasnya untuk meredam emosi. Alzyan memilih diam daripada nanti bicara dengan emosi.


"Aku salah ?, kamu duluan yang bertingkah kok aku yang salah sih?" Tania yang perasaannya sensitif malah emosi duluan.


"Baiklah, kita pamit dengan teman temanmu. Kamu jelaskan nanti. Nia, mas mencintaimu"


Tania menatap suaminya, ada iba dihati Tania melihat laki laki itu sepertinya suaminya sangat lelah dengan semua ini.


"Aku juga mas, i love you too"


***


Tania dan Alzyan sudah berpamitan dengan kepala puskesmas, pak Agung. kemudian mereka berpamitan dengan teman teman Tania. Mereka berdua bersalaman dengan seluruh staf di puskesmas A.


"Aisyah sendirian donk?" Pak Agung bersuara.


"Kalo Aisyah mah mudah pak, Pak Yuda atau Ivan mau jadi temannya, tapi halalin dulu"


"Ah, kakak ini" Muka Aisyah merona.


"Jadi yang mana nih, dokter Yuda atau Ivan. Kalau saya sebagai orang tua sih setuju setuju saja, tapi pilih salah satunya" Pak Agung menimpali.


"Tau ah pak, terserah bapaklah"

__ADS_1


"Loh kok terserah saya Aisyah ?"


Semua yang ada disana jadi tertawa, Aisyah jadi tersipu malu. Ivan yang ada disana berusaha santai saja, dan dokter Yuda pura pura tak mengerti saja.


"Aish, aku pamit ya. Jaga dirimu baik baik. Aku sayang kamu Aish" Tania mencium kedua belah pipi sahabatnya itu. Mereka berpelukan, air mata menetes di kedua pasang mata mereka.


" Kamu juga jaga diri baik baik, jaga keponakanku. Kalau ada apa apa hubungi aku ya?"


"Iya, Ada mas Zy yang jagain aku"


Aisyah menatap Alzyan, seperti ingin menitip sahabat kesayangannya itu.


"Aish, makasih sudah jaga Tania, nanti kalau kau mau menikah hubungi aku. Aku akan membiayai pernikahanmu"


Semua yang ada disana bersorak girang


"Duh, belum apa apa sudah ada saja yang endorse. Tinggal calon penganten prianya saja ini" Kak Yuli mengoda Aisyah.


"Ah Tuan Alzyan bisa saja, tak usah repot tuan, aku titip Tania ya."


"Iya, aku akan jaga sahabat kamu yang nakal ini, soal yang tadi saya serius"


"Doain saja Tuan, moga tahun ini saya dapat jodoh" Aisyah tersipu malu.


"Aamiin" Semua yang berada disana mengamini ucapan Aisyah.


***


Ivan telah bersiap mengantar Tania dan Alzyan kekota kabupaten M, dari sana mereka akan menggunakan bus travel ke kota Jambi. Dari Bandara Sultan Taha Jambi mereka akan terbang ke Jakarta.


"Ada manfaatnya juga ya mobil kak Arkhan ini, bisa buat ngantar kalian. Jika kak Arkhan datang gimana ini Nia ?" Aisyah membantu mengangkat koper milik Tania, lalu menaruhnya di bagasi.


"Ya bilang saja dengan jujur aku sudah pulang ke Jakarta dijemput mas Zy. Dan pulangkan mobil ini padanya"


"Iya ya, terus nanti kalau dia mau belikan kamu rumah seperti yang dia bilang kemaren gimana ?"


"Ya sudah tinggal kamu tolak, aku tak pernah mengiyakan kok".


Mereka berdua tak menyadarinya pembicaraan mereka disimak oleh seseorang, Alzyan mendengar semuanya.


"Sejauh itu ya, sudah memberikan mobil, dan mau membelikan rumah juga ?"


"Maaf Tuan, biar aku jelaskan" Aisyah maju.


"Biar aku saja yang jelaskan Aish" Tania menghalangi Aisyah.

__ADS_1


Aduh gimana nanti mereka bertengkar lagi, salah paham lagi


*****


__ADS_2