
Hari ini Kanaya Hafizah sudah berumur satu Minggu, dia akan diakikahkan hari ini. Acara diadakan dirumah kediaman Alzyan dan Tania ba'da magrib.
Tamu sudah berdatangan, Kanaya dibaringkan dalam box bayi yang sudah dihias cantik sedemikian rupa. Kanaya mengenakan gaun berwarna putih sama seperti yang dikenakan Tania. Dua orang bidadari milik Alzyan ini terlihat sangat cantik.
Alzyan memandang dua bidadari ini dengan takjub.
Doa selamat sudah dipanjatkan. Hidangan dengan menu utama Kari kambing dan sate kambing pun habis tak bersisa. Acara berjalan sukses, semua tamu undangan memberi kado, sebagai tanda mata.
Selesai acara, tamu sudah pulang semua. Diana dan Akmal memutuskan menginap dirumah Alzyan.
"Malam ini Kanaya tidur sama nenek ya, biar Abi dan Umi istirahat, ya sayang". Diana menggendong cucunya, Akmal pun mendekat.
"Sama Kakek juga ya Naya, Alzyan malam ini anakmu milik kami ya"
"Iya, tapi gimana kalau Kanaya mau susu?"
"Suruh Tania memompa ASI nya masukkan kedalam botol, biar ibu yang berikan sama Naya. Ibu bawa Naya kekamar dulu"
"Gimana Nia?" Tanya Alzyan meminta pendapat istrinya.
"Iya, tunggu aku pompa dulu ya Bu" Tania pun tak dapat menolak, dia paham betul mertuanya pasti sangat rindu dengan cucunya.
Tania masuk kedalam kamar, memompa ASI nya. Alzyan mengikutinya"
"Ehmm, bagus juga ya kalau ibu setiap malam mau menjaga Naya, biar kita bisa berduaan" Alzyan tersenyum nakal.
"Huss, Nia masih Nifas mas"
"Yang nifas kan kamu, masa mas ikutan nifas juga Samapi 40 hari, seminggu saja aku tak sanggup, hhh" melengos.
"Ya memang Nia yang Nifas, mas juga harus menahan itu. Puasa 40 hari" Tania memutar bola matanya. Dia terus memompa ASI.
"Tidak mau"
"Terus gimana donk, mau tidak mau lah" Tania mendelikkan matanya.
"Ya ada caranya Nia, nanti mas ajarkan"
"Bagaimana caranya?" Tania sekilas memandang suaminya, dia jadi penasaran.
"Pompa saja dulu ASI buat Naya"
"Ishh" Tania mengerucutkan bibirnya. Tania melanjutkan memompa ASI.
ihh monyong monyong itu bibir, nanti aku gigit baru tahu rasa.
Setelah memompa ASI, Tania menyerahkan ASI itu pada mertuanya.
"Pergilah, malam ini Naya sama kami. Minggu depan ibu menginap lagi"
"Iya Bu" Tania kembali kekamarnya"
Setelah sampai dikamar, dilihatnya suaminya senyum cengar cengir.
"Kenapa mas?,oh ya mas tadi ibu bilang minggu depan dia menginap disini lagi"
"Alhamdulillah, ibu sangat pengertian. Aku sangat menyayangi ibu"
Tania menangkap ada yang aneh dengan tingkah suaminya malam ini, namun dia mengabaikannya. Dia berbaring diatas tempat tidur, Alzyan tersenyum misterius mendekatinya.
"Mas mau apa?" Tania waspada, karena ini bukan waktunya suaminya berbuka puasa.
"Hh, nurut saja nanti mas ajarkan"
"Ajarkan apa?"
Dengarkan baik baik ya, lihat kesini. Alzyan lalu mencontohkannya tak lupa lengkap dengan penjelasannya.
"Apaaa" Tania terpekik, namun kemudian dia tertawa kecil .
"Hehe, itu mah kecil mas". Tania tersenyum menggoda.
"Anak pintar, sudah mengerti kan ? ayolah praktekkan"
***
Alzyan pagi ini nampak sangat segar, karena malam tadi dia tidak bergadang mengurus Kanaya. Selain itu dia juga diliputi kebahagiaan karena hasratnya tersalurkan. dia sesekali tersenyum.
Di meja makan
"Napa sih senyam senyum Zy? Habis dapat dorprize ya malam tadi ?" Tanya Diana.
"Ibu, Aku selalu senyum senyum begini. Ibu saja yang lupa kebiasaanku setiap pagi"
"Ckk, pasti karena dapat dorprize dari Umi nya Kanaya"
"Apaan sih Bu?"
__ADS_1
Tania menunduk, mukanya sudah merona saja karena malu.
"Macam ibu nggak ngerti saja mau mu apa. kamu boleh meminta ibu menjaga Naya kapan kamu mau. Ibu akan menginap disini,"
"Ayah juga mau nginap disini" Akmal menimpali.
"Benar Bu, ayah?" Alzyan tak percaya tawaran ibunya.
"Benar, Kami kesepian dirumah. Apalagi Ali anaknya Nabila sudah tidak tinggal dirumah lagi"
"Pindah kemana mereka?"
"Pindah ke perumahan STIKES, lagi pula perumahan kan dekat dari rumah sakit. Jadi Nabila mudah bolak balik mengurus Omar. Dia juga diberikan ayahmu mobil untuk dia pergi pergi".
"Syukurlah, moga dia betah"
***
Seperti biasa Alzyan tak pernah lagi pulang malam, dia tak mau melewatkan momen kebersamaan bermain dengan bayi Kanaya.
Setelah isya, dia bersiap siap ambil alih si bayi dari ibunya. Tania juga sudah memompa ASI nya, jika nanti Kanaya menangis minta susu bisa Abi nya yang memberikan.
"Tidurlah, nanti Naya minta susu biar mas yang berikan"
Tania mengangguk dia bersiap siap untuk tidur, beruntung sekali suaminya sangat pengertian.
"Kan Naya sudah bobo mas, mas juga tidur saja dulu."
"Duluan lah, mas nanti saja".
Mas belum bisa tidur Nia, kamu kenapa pula pakai baju tidur tipis begitu bikin kepalaku pusing saja.
Alzyan melihat lihat ponselnya, mengalihkan perhatian dari Tania yang sangat menggoda imannya.
Terdengar suara memanggil manggil diluar. Alzyan memasang telinganya.
"Ibu?"
"Naya, nenek dataang..."
Alzyan bergegas membuka pintu kamar, terlihat ibunya yang memakai daster dan ayahnya memakai piyama berdiri didepan pintu.
"Kenapa kalian kesini malam malam"
"Mana Naya?"
"Naya sudah tidur"
Tania yang mendengar suara juga terbangun, dia terkejut melihat kedatangan mertuanya.
"Ada apa Bu?" Tania heran.
"Ehmm, begini Nia. Ibu dan ayah sudah sangat kangen sama cucu kami. Boleh Naya tidur sama kami di kamar sebelah?"
"Hmm boleh Bu,"
"Makasih ya, ASI nya ada?" Diana lalu mengambil Naya dari box bayi lalu menggendongnya.
"Ada, tunggu Nia ambil" Tania mengambil ASI yang sudah diperahnya tadi lalu memberinya pada Diana.
"Naya kami bawa ya"
"Iya Bu" Tania tersenyum melihat tingkah mertuanya.
Naya sudah dibawa kakek dan neneknya kekamar sebelah. Alzyan menutup pintu dan tersenyum menyeringai pada Tania.
"Ada apa?" Tania curiga.
"Tak kuasangka ibu sangat pengertian padaku, ini jadwalnya Abi Kanaya" Alzyan tersenyum nakal meraih pinggang istrinya.
"Ishh nakal" Tania pura pura menghindar.
"Mau lari kemana?" Alzyan Menangkap Tania dengan mudah.
"Aku tidak akan lari mas" Tersenyum menggoda .
"Awas ya"
"Haha, kamu nggak bisa apa apa mas. Disini aku pemainnya, mas pasrah saja" Mengedipkan matanya dengan genit.
"Owh, sudah pintar ya. Ayo mas ingin lihat permainanmu".
****
Pagi harinya dimeja makan.
Bi Harti berjalan tergopoh gopoh menghampiri.
__ADS_1
"Tuan, diluar ada Tuan Abdullah"
"Apaa?" Akmal terkejut.
Pada saat itu juga, seorang laki laki berusia sekitar 75 tahun dengan pakaian khas laki laki Arab berjalan menghampiri mereka. Di belakangnya mengekor laki laki paruh baya, sepertinya asistennya.
Semuanya berdiri, Akmal menyongsong ayahnya. Tania baru satu kali ini melihat Kakek dari suaminya. Laki laki uzur itu kelihatan masih gagah diusia senjanya.
"Kenapa tidak memberitahu jika mau datang Ayah?" Akmal bertanya.
"Kalian juga memberitahu cicitku lahir setelah dia berumur satu Minggu, apa itu sopan?"
Tania yang baru satu kali ini berjumpa Kakek Abdullah, menunduk terdiam. Dia tak berani mengangkat wajahnya.
"Maafkan aku ayah, kami terlalu bahagia dengan kelahiran cucu kami sehingga lupa memberitahu ayah".
"Maafkan kami ayah" Kali ini Diana memberanikan diri bicara.
"Mana cicitku itu, aku ingin melihatnya"
Diana bergegas keatas, mengambil Kanaya dari baby sitternya. Sementara menunggu Diana Akmal memberanikan diri bertanya lagi.
"Apa ayah sudah sarapan, jika belum sarapan lah bersama kami."
"Hmm, baiklah aku memang belum sarapan. Tapi tunggu aku ingin melihat cicitku dulu" .
Diana pun datang menggendong Kanaya, lalu dia menghampiri ayah mertuanya.
"Ini Kanaya Hafizah cucu kami ayah"
"Owh, gadis kecil yang sangat cantik. Sudah kuduga dia pasti mewarisi kecantikan Zulaikha" Abdullah menciumi jari tangan Kanaya. Dia teringat Zulaikha mendiang istrinya.
"Dia perempuan pertama dalam garis keturunanku, semua anakku laki laki melahirkan anak laki laki dan cucu mereka juga semua laki laki"
Akmal mengangguk angguk, dia baru menyadari akan hal itu, Kanaya lah cicit perempuan pertama dari Abdullah.
"Sebagai hadiah kelahirannya, aku memberikannya Villa ku di Dubay".
Tania menganga mendengarnya, tak percaya. Anak sekecil Naya diberi sebuah Vila di Dubay. Belum habis keterkejutannya Tania harus mendengar kejutan lainnya, yang membuat dirinya hampir pingsan.
"Karena Kakek tak sempat hadir pada pernikahan kalian, dan Kakek belum memberi hadiah apapun. Walaupun terlambat Kakek harap kalian suka. Kakek memberikan kapal pesiar buat kalian. Bawalah anak istrimu berkeliling Alzyan".
"Terimakasih Kakek, Kakek sudah memberikan hadiah yang sangat mahal. Apa tidak berlebihan Kakek?"
"Tidak, Kau dan Kanaya adalah kesayangan Kakek"
Alzyan memeluk sang Kakek, Tania pun menciumi punggung tangan sang Kakek dan memeluk laki laki itu.
"Kakek sudah lapar" Ujar Abdullah.
Mereka pun sarapan dengan penuh kebahagiaan pagi itu, Diana masih menggendong Kanaya. Dia akan sarapan belakangan saja.
Setelah sarapan ,Tania membawa Kanaya yang sudah tertidur kekamarnya, sementara Kakek Abdullah masih berbincang dengan Akmal diruang keluarga.
"Mas, aku tak menyangka akan dapat hadiah semewah itu dari Kakek. Terasa bermimpi saja mendengarnya. Apalagi Kanaya, dia sudah banyak sekali mendapat hadiah dari orang orang ".
"Hmm" Alzyan tersenyum. "Itu Karena Kakek sangat mencintai Kanaya dan semua orang mencintainya." Alzyan memeluk istrinya dari belakang.
"Semoga anak kita jadi anak yang menyenangkan hati orang, anak yang berakhlak mulia, dan jadi wanita yang shalihah" Tania berdoa.
"Amiin"
"Kau ingat mas dulu pernah berjanji mengajakmu ke Dubay?"
"Lupa mas, kapan?"
"Beberapa hari sudah menikah"
" Ohya?"
"Iya, nanti setelah Kanaya berumur 6 bulan mas akan mengajak kalian kesana, kita mengunjungi Vila milik Kanaya"
"Iya mas"
Alzyan menciumi pundak istrinya, Tania menjadi geli dibuatnya. Dia melepaskan diri dari pelukan suaminya, kini mereka berhadapan. Alzyan malah meraih pinggangnya, tangan kanan Alzyan menekan tengkuk istrinya sementara tangan kirinya memeluk pinggang Tania dengan posesif.
Alzyan merasakan bibir ranum nan menggoda milik istrinya, terasa manis dan memabukkan. Lama mereka bermain disana sampai nafas keduanya terengah engah. Lalu mereka mengulanginya sekali lagi, lembut dan sangat panas. Tania mendorong tubuh suaminya, dirasakannya suaminya sudah terbakar gairah.
"Cukup mas, nanti kebablasan"
"Sekali lagi" Alzyan memandang istrinya dengan mata sendu, mereka melakukannya kembali.
Oee Oee tangis Kanaya membuyarkan konsentrasi mereka.
****
Tamat
__ADS_1
Mampir di Karyaku yang lain
"Hati yang Memilih"