Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Periksa Hamil


__ADS_3

Perasaan gelisah meliputi hati Tania, ada sedikit trauma ketika mengantri di ruang tunggu poli kebidanan. Ketika pertama kali USG Alzyan menemaninya berujung salah paham yang panjang, dan kedua kalinya dia keruangan ini menemui dokter Susan berujung sakit hati dan kaburnya dirinya ke Jambi.


Alzyan merangkul bahu istrinya, dia tahu istrinya cemas. Namun Alzyan tak tahu sesungguhnya apa yang dicemaskan Tania.


"Kenapa kok kelihatan gelisah Nia, deg degan ya. Cewek cowok sama aja kok, mas nggak masalah apapun jenis kelamin anak kita" Alzyan mengusap usap bahu Tania berusaha mengurangi kecemasan istrinya itu.


"Bukan gitu mas, aku trauma ke ruangan ini"


"Mengapa?" Alzyan keheranan memandang istrinya. Namun beberapa saat kemudian dia menyadari apa penyebab Tania merasa trauma.


"Maafkan mas, tak akan terjadi lagi yang seperti kemaren. Sudahlah jangan mikirin itu lagi, mas merasa sangat bersalah"


Tania mengangguk, terdengar nama Tania dipanggil. Mereka lalu masuk kedalam ruangan dokter Susan. Dokter Susan menyambut mereka dengan senyum sumringah.


"Sudah lama tak kontrol, nyonya Tania sehat kan ?"


"Sehat dok" Tania mengangguk dan tersenyum.


"Kita langsung saja, naiklah keatas bed" Dokter Susan sendiri yang membantu tania naik keatas bed. Seorang suster memasang selimut pada bagian bawah tubuh Tania lalu menyingkap baju Tania.


Dokter Susan melakukan tindakan USG, mengarahkan stik USG dan menekan beberapa tombol. Alzyan tak mengerti sama sekali, dia menatap layar monitor.


"Itu anak anda Tuan, sehat. Denyut jantungnya kuat dan normal. Perkembangan sesuai usia kehamilan"


"Alhamdulillah" ujar Alzyan.


"Usia kehamilan 18 minggu. Kemungkinan jenis kelamin perempuan"


"Masya Allah" Alzyan berbinar bahagia memandang layar monitor.


USG sudah selesai Tania turun dari bed dibantu oleh Alzyan. Mereka duduk berdampingan didepan meja dokter Susan.


"Saya resepkan vitamin, diminum teratur ya. Dan jangan lupa makan dengan menu seimbang."


"Baik dokter" ujar Tania


"Saya lihat nyonya Tania agak gelisah dan kecapean, Tuan Alzyan harus lebih perhatian dan biarkan istrinya banyak istirahat ya. Bagaimana soal yang kemaren, sudah tidak ada masalah lagi kan?"


"Alhamdulillah tidak ada lagi masalah"


"Baguslah, ini resepnya" Dokter Susan menyerahkan resep obat. Alzyan mengambilnya.


"Kami permisi dokter" Pamit Alzyan, dokter Susan mengangguk tersenyum.


Alzyan menebus resep obat di apotik tak jauh dari ruang praktek dokter Susan. Setelah menebus resep dia kembali mendapati istrinya yang duduk dikursi tunggu.


"Ayolah kita pulang, udah capek kan?"


Tania menggeleng


"Loh, masih pengen jalan jalan ?"


"Mas, aku pengen dessert, mau brownis pandan juga" dengan wajah imut.


"Dessert sama brownis pandan, oke kita ke toko kue Ayu saja ya"


"Mbak Ayu pacarnya kak Rendy ?"

__ADS_1


"He ehmm" Alzyan mengangguk, dia menggandeng istrinya berjalan sampai ke parkiran lalu membuka pintu mobil untuk istrinya. Alzyan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke toko kue RR. Lalu dia memarkirkan mobilnya didepan toko itu.


"RR, apakah itu Rahayu Rendi ?" Tania bertanya


"Benar, Ayo kedalam" Alzyan membuka pintu mobil untuk Tania dan meraih tangan istrinya


"Assalamualaikum" Ucap Alzyan.


"Waalaikumsalam" Sahut karyawan toko.


"Eh Tuan Alzyan, ada yang bisa kami bantu Tuan?"


"Istri saya mau beli kue, oh ya Ayu mana Mir?"


"Bu Ayu ada dibelakang, Susi tolong panggilkan Bu Ayu"


"Nia, kenalkan ini Mirna karyawannya mbak Ayu"


Tania dan Mirna lalu bersalaman dan saling memperkenalkan diri.


"Mari saya antar nona, mau beli kue apa?".


Dari belakang datang karyawan bernama Susi dengan seorang wanita cantik, berkulit sawo matang dengan rambut panjang tergerai. Tania melihatnya dari balik etalase kue. Ayu kelihatan menyapa suaminya, lalu mereka berbincang bincang dan tersenyum.


"Mir, itu mbak Ayu ya?"


"Iya nona, dia pemilik toko kue ini"


"Cantik ya, cocok sekali dengan pak Rendy"


"Iya nona ,mereka pasangan serasi"


"Dulu sering, tapi kalau nggak salah sudah hampir sebulan pak Rendy tak berkunjung kesini. Pak Rendy memang sibuk non"


"Oo, mungkin pak Rendy main kerumahnya mbak Ayu malam malam"


"Tidak non, saya dan Susi serumah dengan mbak Ayu. Mbak Ayu memberi kami tumpangan, katanya sewa kos mahal. Kamar di rumahnya ada 3, jadi satu kamar ditempati aku dan Susi. Rumah itu pemberian pak Rendy. Pak Rendy mengizinkan kami tinggal disana. Pak Rendy tidak pernah lagi kerumah sudah sebulan ini, tapi setiap hari mereka selalu telponan. Kadang sampai tiga kali sehari"


"Oo begitu, aku sudah selesai nih. Bungkus yah" Tania menyerahkan keranjang kuenya, dia malah memborong beberapa jenis kue, karena semua menggugah seleranya.


"Iya non"


Tania lalu mendekati suaminya dan Ayu, lalu dia tersenyum pada pacar kakak iparnya itu.


"Mbak Ayu, kenalkan aku Tania istrinya mas Alzyan"


"Duh cantiknya istrinya Alzyan, kenalkan Rahayu. Panggil saja mbak Ayu. Kemaren hanya ada mas Rendy sekarang ada mas Alzyan juga ?"


"Iya mbak, lebih enak manggil mas. Lebih mesra aja "


"Hmm, senang sekali lihat suami istri yang mesra, minum dulu yuk kita ngobrol ngobrol gimana ?"


"Lain kali aja Yu, aku mau ke kantor. Lagi pula kata dokter Nia harus istirahat"


"Nia sakit ya ?".


" Nggak, cuma mungkin kecapean setiap hari harus menjaga ibu. Apalagi Tania sedang hamil muda"

__ADS_1


"Oo, hamil muda. Bakalan punya ponakan nih. Oh ya Zy, apa kabar ibu. Aku ingin menjenguknya kerumah tapi tak berani"


"Ibu sudah jauh lebih baik, tak apa kalau ingin kerumah. Ibu pasti senang. Ayah belum pulang kerumah kok"


"Kalau gitu besok aku akan menjenguk ibu, selama ibu sakit aku hanya sekali menjenguknya kerumah sakit. Ketika kamu ke Pekan Baru kemaren."


"Iya, kerumah saja besok pagi. Tania juga disana besok pagi. Ini berapa kuenya ?"


"Udah bawa aja,"


"Nggak bisa gitu Yu, berapa semua ini ?"


"Nggak nggak, aku nggak mau dibayar. Ini spesial buat ibu hamil"


"Oke deh kalau buat ibu hamil, tapi hanya sekali ya. Ke enakan ini bumil nantinya dapat geratisan terus".


"Apaan si mas, makasih ya mbak. Moga murah rezekinya"


"Iya, sama sama" Rahayu tersenyum sangat manis.


Alzyan dan Tania lalu berpamitan dengan Rahayu. Tania senang sekali menenteng kantong belanjaan berisi kue kue gratis dari mbak Ayu. Dia sudah tak sabar mencicipinya.


Setelah sampai di depan rumah, Alzyan berpamitan kembali kekantor. Alzyan mengecup kening istrinya.


"Mas kembali kekantor ya, baik baik dirumah. Istirahat, kalau mau sesuatu minta sama bi Harti."


"Iya mas"


"Jangan nakal sama umi ya" Lalu Alzyan mengecup perut istrinya yang kelihatan mulai membulat. Tania lalu turun dari mobil lalu dia melambaikan tangan pada suaminya.


"Dadah" Dia menatap mobil suaminya keluar kembali dari gerbang, kemudian Tania masuk kerumah langsung kedapur untuk mencicipi kue kue miliknya.


"Aku kok nggak setuju ya kalo pak Rendy menerima perjodohannya, gimana kalau calon istrinya itu nggak bersahabat atau sombong. Aku tak bisa berteman dengannya. Kalau mbak Ayu kan ramah, suka kasih aku kue gratis pula. Hihi"


Tania duduk sendiri di meja makan, menikmati brownis pandannya, kemudian lewat bi Harti.


"Wah nikmat banget kuenya, bumil Sampai nggak nawarin bibi".


"Eh bi Harti, ayo makan kuenya sini bi " Tania menepuk kursi disebelahnya.


"Ah tidak, makasih nyonya. Bibi bercanda"


"Ayolah bi, kuenya banyak. Kasih buat pak Indro juga, ini pilih sendiri bi"


"Beli di toko mba ayu ya ?"


"Kok tahu bi?"


"Kan ada logo RR di plastiknya"


"Oh, iya ya. Ini ambillah Nia nggak kuat makan sendiri, beneran loh bi".


"Iya nyonya, nanti bibi ambil. Bibi mau masak buat makan malam dulu"


"Hmm, beneran diambil nanti ya bi. Nia keatas dulu, mau istirahat."


Tania naik kekamarnya dilantai dua, dia menuruti pesan suaminya untuk istirahat, kalau dia tak istirahat nanti pasti diomelin sama bapak yang satu itu.

__ADS_1


"Hmm, kangen Ama Aisyah. Dia lagi ngapain ya ?" Tania meraih ponselnya. Terakhir dua sahabat ini saling bertukar cerita sekitar seminggu yang lalu.


****


__ADS_2