
"Aku merindukanmu"Ucap Alzyan dari ponselnya.
"Aku juga mas, baik baik disana"
"Iya, mas minta izin padamu. Mas diundang makan malam oleh paman Omar kerabat ayah di Pekan Baru"
"Yang dosen itu?"
"Benar"
"Kenapa minta izin padaku jika mau bersilaturahim ?"
"Kau kan istriku, siapa tahu kau melarangku"
"Tidak, pergilah"
"Paman Omar punya anak perempuan, teman kecilku dulu"
"Oo, jadi mas mau minta izin karena takut aku cemburu?"
"Ehmm"
"Pergilah, aku percaya padamu. Aku yakin dia cantik maka tundukkan saja pandanganmu. ehmm, tapi Nia juga tak bisa melihatmu mas."
"Aku akan menundukkan pandanganku dari wanita yang bukan muhrimku, istriku memang tak melihatnya tapi ada Allah yang maha melihat"
Tania tersenyum, dia tahu suaminya akan menjaga matanya.
"Baiklah, mas pergi dulu. Jaga baik baik anak mas ya.. mmuah"
"Muuah"
***
Seorang wanita cantik, berusia 27 tahun sedang berdandan di depan kaca rias. Mata yang besar, bulu mata yang lebat dan lentik, hidung yang mancung, kulit mulus bak porselen dan bibir yang berwarana merah delima. Sebenarnya tak berdandan pun dia sungguh sangat cantik. Tapi wanita ini berdandan tak seperti wanita kebanyakan, dia berdandan justru dengan cara menutup kecantikannya.
Nabila merapikan niqab yang dikenakannya, hanya nampak bulu mata yang lentik dan mata yang indah. Itu sudah membuktikan dibalik cadar itu adalah seorang wanita cantik.
Terdengar suara ayahnya memanggilnya
"Ya Ayah"
"Turunlah, Alzyan sudah sampai"
"Baik ayah" jantungnya berdetak lebih kencang. Dia menuruni tangga, dari tangga dia memperhatikan pria yang berdiri mengobrol dengan ayahnya. Laki laki itu sangat tampan, dia sudah mencintai laki laki itu semenjak kecil.
"Astagfirullah, aku sudah menatapnya lebih dari tiga detik" Nabila kembali fokus berjalan menuruni tangga.
Alzyan menyadari kedatangan Nabila teman masa kecilnya, namun dia sama sekali tak menatap wanita itu. Dia tetap menundukkan pandangannya.
Aku harus menyudahi semua ini dan mengatakan pada paman Omar bahwa aku tak bisa menikahi Nabila
Mereka akhirnya makan malam dengan khidmat, makanan yang sangat nikmat. Alzyan memang sudah sangat lapar karena ini sudah jam delapan malam.
Alzyan memang laki laki yang sempurna, dia tampan, dia kaya, namun dia sangat menghargai wanita. Sedari tadi dia sama sekali tak melirikku. Alangkah bahagianya nanti aku bersuamikan dia.
Setelah makan malam selesai, Omar mengajak Alzyan untuk berbicara diruang keluarga.
"Alzyan kita bicara di sana saja, Nabila kamu kembali saja kekamar."
"Baik ayah"
__ADS_1
Alzyan mengikuti paman Omar ke ruang keluarga dan duduk disofa diruangan itu.
"Kamu tahu maksud paman mengundangmu makan malam ?"
"Belum tahu pasti, tapi apa itu tentang perjodohanku dengan Nabila?"
"Benar, adik kecilmu sekarang adalah janda beranak satu. Dia mempunyai bayi laki laki berusia 6 bulan Dia sangat terpuruk dengan kematian suaminya"
Alzyan mengangguk angguk, menyimak saja pembicaraan paman Omar.
"Dia sempat mengalami depresi, paman sangat mengkhawatirkannya. Akhir akhir ini kesehatan paman juga menurun, paman di vonis kanker paru paru. Paman ingin melihat dia bahagia sebelum paman meninggalkannya"
Alzyan terhenyak mendengar kondisi kesehatan pamannya.
"Mudah mudahan paman kembali sehat"
"Mudah mudahan saja, Allah maha penyembuh. Namun paman merasa tak akan lama lagi, paman ingin menitipkan Nabila padamu. Paman hanya percaya padamu Alzyan"
"Apa paman yakin?, aku takut tak bisa adil, Karena aku tak mencintai Nabila."
"Allah maha membolak balikkan hati, sekarang kau tak cinta tapi percayalah setelah ijab Qabul akan tumbuh rasa cinta dihatimu buat Nabila"
Alzyan termenung
"Ehm paman, aku sudah memikirkan pekerjaan yang cocok buat Nabila diperusahaanku, Dengan gaji yang lumayan besar dia bisa memenuhi kebutuhannya dan anaknya"
"Nabila bukan butuh uang saja, dia butuh suami yang bisa melindunginya. Paman izinkan kau berbicara dengan Nabila, paman akan panggilkan dia"
Alzyan diam saja, dia tak tahu harus berkata apa.
Masih melamun Alzyan tak sadar jika Nabila sudah beridiri tak jauh darinya.
"Ehmm"
Nabila duduk disofa ujung, menjaga jarak dari Alzyan. Karena kekagumannya pada lelaki ini membuat dia tak ingin duduk terlalu dekat, hanya akan membuat jantungnya berdebar tak menentu saja.
"Apa kabar ?"
"Baik bang, Abang bagaimana?"
"Alhamdulillah baik, sudah 15 tahun kita tak berjumpa"
"Apa Abang masih mengenaliku?"
"Masih, walaupun tertutup cadar Abang mengenali matamu. Masih mata yang cantik milik adik kecilku"
Nabila tersipu, wajahnya merona karena Alzyan memuji dirinya. Namun wajah merah merona itu tertutup oleh niqab.
"Kau bekerja dimana sekarang kabarnya dulu kau mengajar di pondok pesantren dan sudah berhenti"
"Mas Idham tak mengizinkan aku bekerja setelah kami menikah, kini aku tak punya pekerjaan. Sebenarnya ingin bekerja lagi tapi siapa yang mau mempekerjakan aku yang harus mengasuh anak bayi sekalian, lagian ayah juga kurang sehat aku juga harus menjaga ayah. Sekarang aku punya penghasilan dari menjual kue"
Degg
Hati Alzyan berdetak, hati nuraninya tersentuh melihat perempuan ini.
"Bekerjalah di perusahaanku, besok kau antar berkasmu"
"Tapi mungkinkah perempuan bercadar bekerja diperusahaan?"
"Kenapa tidak, kau cerdas. Kurasa pakaianmu tak akan mengganggu aktifitas mu"
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan Ali anakku, dan ayah. Bekerja diperusahaan tentu pulang sore dan terkadang lembur"
"Kau bisa menggaji perawat untuk merawat mereka"
"Aku tak punya cukup uang untuk itu"
Alzyan nampak berpikir, dia semakin iba dengan perempuan ini.
Memang seharusnya dia menikah lagi
"Gajimu besar, akan cukup menggaji satu orang baby sitter dan satu orang perawat sisanya untuk kebutuhan kalian dan menabung"
"Sebagai apa, apa nanti aku akan bergaul dengan laki laki, akan seruangan dengan laki laki?"
Astagfirullah aku lupa hal ini, Nabila pasti akan menolak pekerjaan ini. Benar kata paman Omar yang dia butuhkan adalah suami yang bisa melindunginya bukan pekerjaan.
"Hmm, aku sebenarnya ingin sekali bekerja tapi menjadi guru seperti dulu. Disekitar sini tak ada pondok pesantren ataupun sekolah. Letaknya cukup jauh sehingga menghabiskan satu jam perjalanan. Makanya mas Idham dulu tak mengizinkan aku bekerja lagi"
"Hmm, akan kupikirkan pekerjaan apa yang cocok untukmu"
"Bang, bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Pernikahan?"
"Iya bang, bagaimana dengan istrimu apa dia mengizinkan?"
"Oh ehm,"
Bagaimana cara aku menjelaskan bahwa aku tak bersedia menikahinya
"Maaf Bila, Abang tak bisa menyakiti hati Tania"
"Apa Abang sudah bicara pada Tania?"
"Belum, tapi Abang yakin dia akan hancur jika Abang menikah lagi"
"Bang, bicaralah dulu padanya. Pernikahan poligami akan baik baik saja jika seorang suami bisa adil kepada istri istrinya"
"Tapi Abang takut tak adil pada kalian"
"Aku tak ingin menguasaimu sendiri bang, aku mengerti posisiku"
"Tapi Abang tak mencintaimu Bila.."
"Abang..,itu tak mungkin. Dulu Abang pernah bilang mencintaiku" Mata Nabila mulai berkaca kaca.
"Apa pernah?" Jujur Alzyan lupa, seingatnya terakhir bertemu Nabila saat dia berusia 15 tahun. Dan Nabila berusia 12 tahun. Alzyan bertemu dengannya ketika hendak pindah ke Jakarta dan ketika itu juga Nabila hendak berangkat ke Pondok.
"Saat itu aku berusia 7 tahun, dan Abang memberikan aku setangkai bunga dan Abang bilang Abang mencintaiku"
Apaa, cinta monyet itu. Nabila memegang kata kataku 20 tahun lalu ? Ada ada saja.
"Maaf Nabila, itu sudah 20 tahun berlalu. Abang telah beberapa kali jatuh cinta setelah itu dan akhirnya menemukan cinta sejati. Dia Tania."
"Tapi aku mencintaimu bang, tak masalah bagiku jika Abang tak mencintaiku. Aku hanya ingin hidup dengan orang yang kucintai dan mengabdi pada orang yang kucintai seumur hidupku"
"Ini tak akan adil bagimu Bila"
"Ingat bang, Allah maha membolak balikkan hati manusia. Yang benci bisa jadi cinta begitu sebaliknya. Ikatan pernikahan itu suci, aku yakin Abang bisa mencintaiku walaupun tak sebesar cinta Abang pada Tania, tak masalah bagiku"
Alzyan lagi lagi terdiam meresapi omongan Nabila.
__ADS_1
Nabila benar, Dulu aku sangat mencintai Maysa namun sekarang tak ada sedikitpun tempat bagi Maysa dihatiku. Dan kini aku sangat mencintai Tania, bukan tak mungkin nanti aku juga bisa mencintai Nabila.
*****