
Alzyan termenung, dia duduk berselonjor di atas ranjangnya. Terngiang ngiang ucapan paman Omar dan ucapan Nabila.
"Haruskah aku menikahi Nabila, jujur aku kasihan padanya. Apa benar Tania bisa menerima diriku menikah lagi dan apa benar diriku bisa adil?" Alzyan berbicara pada dirinya sendiri, namun dia sendiri tak mendapat jawaban dari pertanyaannya itu.
"Apa aku harus mencoba mengatakan ini pada Tania, lalu bagaimana cara menjelaskannya pada Tania agar dia bisa mengerti?"
"Aku harus minta izin pada istriku untuk menikah lagi?"
"Aaghh"
Sebaiknya aku tidur saja, karena besok pagi harus pulang ke Jakarta.
***
Rendy dan Rahayu sudah melangsungkan akad nikah, sekarang mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri.
Rendy nampak gagah dengan jas berwarna hitam dan Rahayu juga nampak sangat anggun Dengan balutan gaun pengantin berwarna putih.
Resepsi pernikahan ini dilangsungkan di sebuah hotel secara sederhana saja. Tamu tamu undangan bergantian memberi ucapan selamat pada pasangan yang baru halal itu. Teman teman Rendy sesama dokter, sahabat mereka dari panti asuhan, kolega bisnis Akmal, kolega bisnis Alzyan dan kerabat kerabat bergantian mengucapkan selamat buat mereka berdua.
Saat acara hampir di penghujung, datang tamu yang ditunggu. Seorang yang berjasa dalam hidup Akmal dan Diana. Omar. Dia datang bersama anak perempuannya. Seperti tamu yang lain mereka berdua juga mengucapkan selamat pada pengantin.
Acara sudah selesai, para tamu pun sudah pamit pulang satu persatu.
"Omar, menginaplah dirumahku bersama Nabila"
"Aku setuju, bagaimana dengan kamu Nabila?"
"Paman Akmal, aku membawa anakku juga
pengasuhnya. Akan repot nanti jika dia rewel"
"Tak apa, benarkan Diana?"
"Iya tak apa, ada kamar buat kalian" Diana tersenyum membenarkan.
"Lagian membiasakan anakmu juga, nanti dia akan sering menginap dirumah kami" Akmal menimpali.
"Iya paman, baiklah"
"Alzyan kenalkan Paman Omar dan Nabila pada istrimu, mana Tania?"
"Oh ehm, Tania dimana ya?"
"Aku disini mas" Tania menyentuh bahu suaminya dari belakang. Alzyan langsung berbalik memeluk pinggang sang istri.
"Kenalkan ini paman Omar dan Nabila"
Mereka lalu berkenalan
"Mba Nabila tadi katanya punya anak, mana ya?"
"Di hotel sama Rahma pengasuhnya," Nabila tersenyum dari balik niqabnya. Sebelum ke Jakarta Nabila memang mencari pengasuh untuk anaknya Ali.
"Oo, kenapa nggak diajak kesini mbak, betul kata ayah kalian harus menginap dulu" Tania tadi mendengar percakapan mereka.
"Iya, kami akan menginap. Ehm hamilnya sudah berapa bulan? Laki laki apa perempuan?"
"Tujuh bulan, insya Allah perempuan. Anak mba Nabila laki laki apa perempuan?"
"Laki laki, namanya Ali"
__ADS_1
"Ohh, pasti tampan mamanya aja cantik. Moga nanti anak kita berjodoh dengan Ali ya mas" Tania tersenyum menoleh pada suaminya.
Degg
Semua memandang Tania
"Eh Nia salah ya, gak boleh jodoh jodohin anak yang belum lahir?" Tania merasa semua orang menatapnya.
"Nggak, kamu gak salah kok. Cuma jodoh itu Allah yang atur bukan kita orang tua yang atur." Alzyan menjawab. Namun jawaban Alzyan membuat orang orang saling berpandangan.
"Aku dan mas saja dijodoh" Tania tersenyum malu malu.
"Iya tapi kan nggak dari kecil, nanti jika sudah besar mereka tak mau dijodohkan bagaimana?"
"Iya juga ya mas"
"Tapi mas suka anak mas berjodoh dengan putranya Nabila, Nabila kan sahabat kecil mas. Dan mas kenal dekat dengan Idham teman sekolah mas di Pondok pesantren dulu"
"Bagaimana mba?" Tania tersenyum menoleh pada Nabila.
"Ehm, mba juga senang kok" mengangguk ragu ragu.
"Eh kok pada ngejodohin anak sih yang satu masih bayi yang satunya lagi belum lahir. Ayolah kita pulang, acara sudah selesai. Lihat tuh pengantin baru sudah siap siap kekamar mereka" Diana menengahi.
***
Malam harinya dirumah Alzyan dan Tania.
Alzyan menerima telepon dari ayahnya.
"Alzyan, segeralah beritahu Tania perihal rencana kamu akan menikah lagi"
"Tapi ayah, aku saja belum menyetujui pernikahan itu"
"Ehmm"
"Alzyan kau hanya perlu memberitahu Tania, tak baik jika dia tahu setelah kau dan Nabila sudah dekat harinya akan menikah. Kau tak perlu izin, tapi hanya perlu memberitahu saja"
"Ayah, aku harus istikharah dulu"
"Baiklah, ayah bukannya mau mendesakmu. Tapi Omar baru saja mananyakan perihal ini pada ayah. Sepertinya dia ingin kalian cepat cepat menikah. Kau dan Nabila tentukan lah harinya."
"Iya ayah" Alzyan tak membantah, karena dia malas berdebat dengan ayahnya.
"Bagaimana ini haruskah aku menikahi Nabila, haruskah aku memberitahu Tania, dia sedang hamil kasihan dia." Alzyan memejam matanya, menghela nafas berat. Pusing, itu yang dia rasakan saat ini.
"Mas, siapa yang menelponmu tadi?" Tania keluar dari kamar mandi, samar samar dia mendengar suaminya berbicara dengan seseorang ditelpon.
"Ayah yang menelponku"
"Kenapa menelponmu malam malam begini, apa ayah atau ibu sakit?"
"Tidak, ayolah kita tidur"
"Mas, aku belum mau tidur. Aku masih kangen, seharian ini aku tak bisa melepas rindu padamu" Tania duduk disisi tempat tidur. Lalu ia mendekati suaminya dan menyentuh pipi suaminya yang ditumbuhi rambut rambut halus.
"Pintar menggoda suami ya sekarang?"
"Apa mas suka?" Kini tangannya membuka kancing piyama Alzyan yang paling atas, dan menyentuh dada suaminya.
"Tania, kau yakin tak kecapean setelah seharian ini?"
__ADS_1
"Aku baik baik saja mas"
"Oke, jangan salahkan suamimu jika kau nanti kelelahan dan minta ampun" Alzyan tersenyum menyeringai
"Ya jangan sesadis itu juga mas" Tania Mengerucutkan bibirnya
"Kau sangat pandai menggoda, sangat pandai menyenangkan hati suamimu dan sangat pandai mendinginkan hati suamimu yang resah. Nia, sepanjang umurku ku hanya ingin bersamamu" Alzyan Mengecup kening sang istri.
***
Alzyan keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya dililit handuk putih, istrinya yang sudah mandi terlebih dahulu nampak sudah mengantuk. Tania memang selalu mandi suci segera setelah mereka melakukan aktifitas ibadah yang satu itu, berbeda dengan suaminya .
"Mas, tumben mandinya malam biasanya sebelum subuh ?"
"Mas mau solat istikharah"
"Istikharah, kenapa?"
"Besok mas beritahu alasannya, tidurlah"
Tania mengangguk, dia menarik selimutnya. Sementara Alzyan melakukan solat istikharah.
***
Alzyan terbangun di sepertiga malam karena tidurnya yang gelisah. Ia tak mendapatkan Tania disampingnya. Alzyan mengucek matanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
"Kemana Nia?"
Alzyan bangun mencari Tania dikamar mandi, tak ada. Lalu dia keluar, didapatinya istrinya berada diruang solat. Tania tengah melakukan solat.
Dia solat tahajjud
Alzyan teringat ketika di Jambi, Tania mengatakan dia sejak dulu selalu solat tahajjud hampir setiap malam. "Kau saja yang tidak tahu" Ucap Tania kala itu.
Apa benar Tania solat Tahajjud hampir setiap malam ?
Alzyan lalu teringat dengan cctv, dia lalu bergegas memeriksa rekaman cctv selama ini yang tak pernah dilihatnya. Karena menurut Alzyan tak perlu karena tidak ada kejadian yang mencurigakan yang perlu dilihat melalui rekaman cctv.
"Masya Allah,"
"Allahuakbar"
"Ternyata Allah telah memberikan padaku istri yang istimewa."
Dalam rekaman cctv itu Alzyan bahkan melihat Tania solat tahajjud disaat dia hamil muda. Tania berjalan tertatih saking lemasnya, Tania juga membaca Alquran. Mata Alzyan berkaca kaca.
"Ya Allah, yang ini kan saat aku pulang malam karena mabuk itu, jadi Tania mendengar suaraku dikamar bersama Maysa." Alzyan sangat menyesali perbuatannya waktu itu yang telah berbicara kasar pada Tania.
Alzyan masih melihat video itu dengan seksama
"Astagfirullahhaladzim" Alzyan beristigfar saat menyaksikan istrinya tiba tiba jatuh pingsan setelah muntah diwastafel dapur, Tania juga tampak sedang menangis.
"Ini pagi hari dimana hari itu Nia melarikan diri, ternyata kau sungguh tersiksa waktu itu Nia, tapi kau tak pernah mengeluh. Kau bahkan memintaku menikahi Maysa demi ayah"
Tak terasa Alzyan berlinang air mata, memang benar rupanya hampir setiap malam Tania solat tahajjud dan hampir setiap waktu luang istrinya dirumah digunakannya untuk membaca Alquran.
"Aku bahkan baru tahu kebiasaan istriku, suami macam apa aku ini. Disaat istriku bangun disepertiga malam aku malah terbuai dalam tidurku"
"Tak akan kubiarkan kau mengikhlaskan aku menikahi wanita lain lagi demi ayahku, aku memang harus mengabdi pada orangtuaku tapi tidak dengan cara menyakitimu Nia"
Alzyan kembali kekamarnya, ternyata Tania belum kembali kekamar. Alzyan dapat mendengar suara istrinya membaca Alquran.
__ADS_1
"Inilah jawaban dari istikharahku" Gumam Alzyan
*****