Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Aku Ingin Mbak Ayu Jadi Iparku


__ADS_3

Hari hari berlalu terasa sangat bahagia bagi pasangan yang saling jatuh cinta Alzyan dan Tania. Kehamilan Tania memasuki usia 22 Minggu. Kemaren Tania memeriksakan kehamilannya, dan dokter Susan mengatakan janin dalam rahimnya berjenis kelamin perempuan.


"Biasanya seorang suami ingin anak pertama mereka laki laki, kenapa mas malah ingin anak perempuan ?" Tania memeluk suaminya, dia berbantal pada lengan suaminya.


"Kamu mau tahu kenapa?"


"Ehmm" Tania mengangguk.


"Mas dulu ingin sekali punya adik perempuan, adik perempuan itu lucu dan cantik, tidak seperti adik laki laki, nakal. Alhamdulillah ibu hamil namun dia kecelakaan saat usia kehamilan 7 bulan. Adik perempuanku tidak selamat dan rahim ibu juga harus diangkat. Pupus sudah keinginanku punya adik perempuan. Seandainya selamat dia seumuran kamu. Namanya Kanaya, dia sempat hidup selama dua jam."


"Ooh itu sebabnya mas memberi nama anak kita Kanaya.?"


"Iya, apa kau keberatan?"


Tania menggeleng " Nggak, aku hanya ingin menambahkan Hafizah. Kanaya Hafizah"


"Nama yang bagus, o ya sudah siapin pakaian dan perlengkapan mas buat besok?"


"Sudah, ehmm mas rumah di Pekan Baru sudah siap belum?"


"Ups, kenapa mas lupa ceritain sama kamu ya. rumah kita disana sudah siap, tapi belum di cat, sekarang masih pengerjaan plafon. Kamu sih nggak pernah nanya"


"Mas selalu sibuk pulang malam. Aku juga sibuk belajar sama ibu mengelola yayasan. Mau nanya kadang lupa"


"Nanti kalau siap kita pindah kesana ya ?"


"Tapi bagaimana dengan ibu, siapa yang membantunya mengurus yayasan.?"


"Ibu punya banyak orang kepercayaan, kau tidak tahu kehebatan ibu. Lagi pula istri kak Rendy bisa membantu ibu"


"Maysa?"


"Hmm"


"Tapi aku ingin Mbak Ayu jadi iparku"


"Kita bisa apa, jika kak Rendy memilih Maysa"


"Kasihan mba Ayu mas, aku tahu dia sangat hancur. Pak Rendy tega banget, memangnya kenapa sih dia harus menerima dijodoh dengan Maysa?"


"Itu hak dia, lagi pula apa kau tak merasa diuntungkan. Dengan begitu kak Rendy bisa menjaga Maysa agar tak mengganggu suamimu"


"Hhh, aku malah merasa dia akan semakin leluasa mengganggumu"


"Kau tak tahu seperti apa kak Rendy"


"Aku akan memperjuangkan mba Ayu, kenapa aku merasa sepertinya ayah sudah bisa menerima mba Ayu. Dia keliahatan tenang jika mba Ayu menjenguknya, seminggu yang lalu mba Ayu juga menjenguknya, Ayah kelihatan seperti tersenyum"


"Jika jodoh tak akan kemana, seperti kita. Mas bahkan tak berani berkenalan denganmu saking pemalunya mas sama perempuan. Dan kau juga pasti merasa tak berani berkenalan denganku kan ?"


"Iya, mana mungkin aku berani berkenalan denganmu apalagi membayangkan jadi istrimu, anak pemilik rumah sakit tempatku bekerja. Anak pemilik yayasan yang memberi beasiswa padaku"


"Dan nyatanya kini kau jadi istriku, pemilik hatiku, ibu dari anakku". Alzyan mencium pucuk kepala Tania.


"Ayo tidur" Alzyan masih menciumi rambut Tania, dan ibu hamil itu pun tertidur, kelihatan manis sekali.


***


Tania pagi ini menyiapkan sarapan, sesekali Tania ingin juga memasak. Apalagi dia sudah tak mual lagi dan tak ada lagi pusing pusing. Tubuhnya pun menggendut, perutnya kelihatan membulat.

__ADS_1


Sarapan nasi goreng telah selesai dihidangkan, Alzyan nampak turun dari anak tangga menuju dapur.


"Sarapannya apa sayang ?" sambil mengancing lengan kemejanya.


"Biasa, nasi goreng. Nggak bosen kan?"


"Bosen sih nggak, tapi mas harus rajin olahraga jika sarapannya nasi goreng terus"


"Ada buahnya juga loh mas"


Kemudian mereka sarapan berdua, seperti biasa kegemaran Alzyan mencolek squisy miliknya yang semakin empuk. Selesai sarapan Tania membenahi piring kotor, nanti bi Harti yang akan mencucinya.


"Nggak ada yang ketinggalan kan mas ?"sambil memeriksa perlengkapan suaminya.


" Insya Allah tidak, tapi coba saja cek lagi "


"Lengkap" Setelah memeriksa.


"Mas titip ibu dan ayah ya, jika ada apa apa segera kabari. Kamu juga jangan terlalu capek"


"Mas, jangan nakal di sana ya. Awas saja kalau nakal."


"Hh mana pernah mas nakal, yang nakal itu dedek disini suka bikin uminya lelah dan bikin Abi kerempongan."


"Aihh mas, masa anaknya dibilang nakal. Anak didoain yang baik baik mas"


"Selalu Nia, mas selalu doakan kalian" Memeluk pinggang Tania lalu mengecup keningnya.


"Mas, disana kabari aku tiap hari ya?".


"Iya, mmuahh mmuahh" mengecup pipi kiri dan kanan Tania.


"Cepat pulang" mata Tania mendadak berkaca kaca.


"Kalau urusan selesai aku pulang" menangkup kedua tangan pada wajah Tania.


"Kalau lambat aku marah" Airmata Tania lolos.


"Aku pergi untuk kembali" Alzyan menyeka air mata Tania.


"Sudah lah jangan nangis, kok malah cengeng." Alzyan berjongkok mencium perut Tania.


"Baik baik didalam ya, jaga umi"


"Kami berdua akan baik baik saja mas, pak Indro sudah nunggu tuh"


Alzyan berdiri, mengusap usap kepala istrinya.


"Aku pergi" membalikkan badan berjalan keluar masuk kedalam mobil. Tania mengikutinya mengantar ke teras. Pak Indro segera melajukan mobilnya, Tania melambaikan tangannya. Tania memang tidak ikut mengantar suaminya, karena setiap pagi dia harus kerumah ibu Diana.


***


Rendy sedang sibuk mengurus urusan pernikahannya. Hari ini dia harus ke KUA.


Ketika sedang mematut dirinya didepan cermin, dia melihat foto Rahayu di atas meja. Rendy meraih figura foto itu.


"Maafkan aku sayang, kau akan menemukan laki laki yang jauh lebih baik dariku. Aku yakin kau wanita yang kuat" Rendy yakin Ayu wanita yang kuat, namun ternyata dialah yang tak kuat. Airmata pun menetes dari sepasang mata laki laki bertubuh tinggi besar itu.


Flash back on

__ADS_1


Setelah pulang dari rumah sakit Rendy mengunjungi Rahayu di toko kue RR cake, senyum ayu sumringah sang pujaan hati datang menemuinya. Sudah lebih dari seminggu mereka tak berjumpa. Berbicara lewat telepon pun jarang.


"Mas, minum kopi aku buatkan ?"


"Kita keluar saja Yu, kamu ada waktu?


"Ehmm, boleh. Tunggu aku pamit sama karyawanku"


Tak lama Rahayu datang kembali dengan menenteng tas nya, rambutnya sudah kembali rapi dan make up-nya juga terlihat rapi.


Disebuah cafe, dua orang kekasih sedang menikmati minuman mereka.


"Kita jarang bisa begini, aku senang akhirnya kita bisa kencan"


Rendy terdiam, sejujurnya lidahnya terasa kelu. Tapi dia harus jujur mengatakan bahwa dia akan menikah. Namun dia iba melihat wanita didepannya ini, dia tak tega menyakitinya. karena wanita inilah penyemangat hidupnya selama ini. Rendy menghela nafasnya berat.


Bagaimana cara aku memulainya


"Kamu kenapa mas, lelah ya. Jika memang tak sempat buat kencan, aku tak apa kok. Mas mau langsung pulang?"


"Bukan begitu Yu"


"Aku tahu kamu sibuk dan pekerjaanmu memang berat. Apalagi pikiranmu kacau memikirkan ayah"


"Ayu, apa menurutmu aku harus membalas budi orang tua angkatku?"


"Tentu saja, kalau bukan karena dia kamu mungkin akan jadi preman jalanan. Dan akupun mungkin tak akan punya toko kue seperti sekarang. Secara tidak langsung, ayahlah yang membantuku lewat kamu mas"


"Tapi ayah tak merestui kita"


"Kita harus sabar hingga mendapat restunya mas"


"Ayu.., mas tahu kau wanita yang sabar dan kuat. Apapun yang terjadi kau harus tetap tegar, berjanjilah padaku"


"Tentu saja mas, demi cinta kita. Kita telah mengalami banyak hal, beberapa kali terpisah oleh jarak dan waktu. Sampai kau pernah dijodohkan ayah dengan Samantha. Tapi kita bisa membuktikan bahwa cinta kita kuat mas."


"Ayu, Aku akan menikah Minggu depan." Nafas Rendy sesak, dadanya terasa tercekat. Namun dia harus jujur.


"Mas, maksudmu kau akan melamarku ? kau memanfaatkan kondisi ayah yang belum sadar ?"


"Ayu mohon dengarkan aku" Rendy menarik nafas panjang.


Rahayu mengangguk lalu menyeruput jus jeruknya. Dia menatap Rendy lekat.


"Sebelum Zy menikah ayah pernah memintaku menikahi Maysa, tentu saja aku tak setuju. Setelah Zy menikah, Maysa masih saja mengganggunya dan ayah terbaring koma. Mungkin saja dia tak akan kembali sembuh seperti dulu. Sementara aku anak angkat yang tak tahu diri belum membalas budi padanya. Ayu, mungkin dengan aku menerima perjodohan itu kondisi ayah akan membaik. Dan Rumah tangga Alzyan juga akan aman. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk rasa terimakasih ku" Rendy menarik nafas panjang dan memejamkan matanya, akhirnya dia bisa jujur pada Rahayu. Namun terdengar olehnya isak tangis seorang wanita.


Rahayu menangis pilu, tak bersuara namun isaknya terdengar lirih. Dia menyeka airmatanya, namun air mata itu lolos lagi.


"Ayu, kau wanita kuat. Kamu akan mendapatkan laki laki yang lebih baik dari aku."


"Mas, apa belum cukup kau berterimakasih dengan mengelola rumah sakit dan menjadikan rumah sakit itu besar ?".


"Ayu, aku bekerja di rumah sakit itu dan aku digaji. Jika bekerja di rumah sakit lain akupun akan melakukan hal yang sama"


"Baiklah mas, aku tak ingin jadi penghalangmu menjadi anak yang berbakti. Terimakasih atas waktumu selama ini, terimaksih untuk semua. Aku pergi"


Rahayu meninggalkan cafe itu, Rendy memandang punggung gadis itu yang terlihat bergetar karena menangis. Rendy memandang Ayu sampai hilang dari pandangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2