
"Aku dan bang Alzyan berteman dari kecil, dia selalu melindungiku. Dia sangat menyayangiku, dan akupun juga. Ketika aku berusia 7 tahun dan bang Alzyan 10 tahun, dia mengatakan bahwa dia mencintaiku"
"Mengapa dia tak pernah menceritakannya padaku ya?" Tania mendengar penuturan Nabila dengan serius.
"Entahlah, mungkin dia hanya ingin menyimpan rapat kenangan indah tentang kami"
"Mungkin saja, lagipula aku tak pernah bertanya masa kecilnya . Mas Zy laki laki yang pendiam, dia tak suka banyak bercerita"
"Ya benar" Nabila mengangguk membenarkan.
"Kami tak pernah lagi bertemu semenjak 15 tahun lalu. Aku baru pulang dari Kairo setahun yang lalu membawa suamiku, aku menikah di Kairo dengan kak Idham"
"Oh begitu ceritanya. Mba pasti sangat mencintai suami mba"
Nabila mengangguk lalu menghela nafas
"Kami di Jodoh, awalnya aku tak mencintainya. Tapi ayah ingin kak Idham melindungiku, karena selama di Kairo kak Idham sangat baik padaku. Dialah yang menjagaku"
"Sayangnya umurnya tak panjang ya mba".
"Allah lebih menyayanginya, hingga dia meninggal dalam kecelakaan itu"
"Semoga Almarhum Husnul khotimah. Mba yang sabar ya. Nanti Allah akan memberikan jodoh lagi untuk Mba"
"Nia, Janji kau jangan marah ya?"
"Kenapa Aku harus marah mba, mba teman masa kecil mas Zy. Mba lebih dulu mengenal mas Zy, biasa saja anak kecil cinta cinta monyet" Tania tersenyum geli.
"Bukan begitu Tania, maafkan aku. Aku dan bang Alzyan akan menikah besok siang" Nabila harap harap cemas menunggu reaksi Tania. Bagaimanapun Tania harus tahu hal ini.
Degg, bagaikan disambar petir.
"Mbaa, mba gak salah ngomong kan mba.. haha, masa sih mba?"
"Benar Nia, bang Alzyan mungkin belum berani menceritakannya padamu, karena dia sangat menyayangimu"
"Tak mungkin mba, mba boleh saja mencintai mas Zy. Tapi jangan ngehalu donk mba., masa sih ngehalunya nikah sama suami Nia sih mba." Tania berusaha tersenyum, dia anggap ucapan Nabila hanya lelucon saja.
"Mba tidak menghalu Nia, besok siang aku akan menikah dengan bang Alzyan. Nia, aku janji akan jadi madu yang baik untukmu. Mba sadar diri dengan posisi mba. Kita akan sama sama memberi cinta kita pada Alzyan, kita akan sama sama mendampinginya." Nabila menyentuh tangan Tania dan menggenggamnya .
"Tapi mba, bagaimana mungkin" Tania menggelengkan kepalanya.
"Nia, izinkanlah kami menikah. Aku mohon padamu demi laki laki yang kita cintai. Aku tahu Mas Zy sering ke Pekan Baru dalam waktu yang lama, disaat dia di Pekan Baru aku akan menjaganya. Dia laki laki normal Nia"
Air mata pun tak tertahankan jatuh dipipi Tania
"Nia maafkan Mba, jika memang kau tak mengizinkan kami menikah mba mundur saja." Nabila menarik tangannya kembali yang tadi menggenggam tangan Tania.
Tania semakin terisak, Ujung pasminanya telah basah karena dijadikannya lap untuk airmatanya yang bercucuran.
"Sejujurnya aku sangat menginginkan pernikahan ini. Aku tahu Bang Alzyan tak mencintaiku, dia sangat mencintaimu. Tapi aku hanya ingin memberi seluruh cinta dihati ini untuk bang Alzyan walaupun dia tak membalasnya." Mata Nabila pun berkaca kaca.
"Maafkan aku Nia" Nabila meraih tangan Tania kembali.
"Maafkan mba, "
"Tak apa mba" Tania menarik kembali tangannya dan berdiri.
"Mba, bolehkah aku memikirkannya dulu"
__ADS_1
"Baiklah, pikirkanlah dulu kau berhak membantah pernikahan kami. Mba tak apa kok jika tak jadi menikah dengan bang Alzyan."
"Aku permisi pulang mba" Pamit Tania, dadanya terasa sangat sesak. Lagi lagi dia dihadapkan dengan masalah yang sama, suaminya akan menikah lagi.
Mungkin ini sebabnya mas Zy malam tadi solat istikharah, mungkin dia sudah mengambil keputusan untuk menikah lagi.
***
Setelah magrib, seperti biasa Tania meluangkan waktu untuk membaca Alquran. Dengan begini pikirannya yang berat akan terasa ringan dan hatinya yang resah agak terasa tenang. Belum selesai bacaannya terdengar suara bi Harti dari luar memanggilnya. Tania pun membuka pintu kamar.
"Ada apa bi?"
"Ada Tuan dan nyonya besar dibawah"
"Oo, aku segera kebawah, bikinkan minum. Jus jeruk hangat saja". Tania menaruh Alquran diatas nakas. Lalu dia bersiap siap menemui mertuanya.
Tania menemui mertuanya yang sudah duduk di ruang keluarga. Terlihat dua gelas jus jeruk diatas meja.
"Ayah, ibu apa kabar?" Tania tersenyum hangat.
"Kami baik baik saja" Diana berdiri dari duduknya memeluk menantunya. Menciumi pipinya.
Tania lalu menyalami ayah mertuanya, dan mencium punggung tangannya.
Walaupun Alzyan akan menikah lagi, kau tetaplah menantu kesayangan ayah, Tania.
Tania lalu duduk disamping ibu Diana
"Alzyan dimana Nia?" Akmal mengedarkan pandangannya.
"Masih diKantor, lembur"
"Persis seperti kamu Akmal" Diana mendelik menatap suaminya.
Tania tahu maksud kedatangan mertuanya, dia memutuskan untuk bertanya lebih dahulu. Karena dia juga paham pasti kedua mertuanya bingung memulai dari mana.
"Ada apa ayah dan ibu kesini, apa ada yang mau disampaikan sama Tania?"
Akmal dan Diana saling berpandangan, lalu Akmal menghela nafas berat.
"Tania.." Akmal menggantung ucapannya.
"Ada apa ayah, katakan saja"
"Begini, Omar meminta Alzyan pada Ayah. Dan kondisi Omar sekarang semakin memburuk"
"Meminta Alzyan?" Tania pura pura tak tahu maksudnya.
"Iya Tania, lebih tepatnya Akmal meminta Alzyan menikahi Nabila"
"Ehmm" Tania mengangguk, dia tak terkejut sama sekali. Membuat Diana keheranan. Padahal tadi jantungnya sudah berdegup kencang menunggu reaksi Tania.
"Kami tahu Alzyan belum memberitahumu, mungkin dia merasa tak enak. Maafkan kami Tania. Ayah yakin kau wanita kuat, kau wanita yang berilmu. Ayah yakin kau bisa mengerti kondisi Alzyan"
"Lalu kapan pernikahannya akan dilangsungkan?" Tania bertanya dengan pura pura tegar. Pertanyaan yang membuat kedua mertuanya terkejut. Dan Tania mengangkat sedikit dagunya.
"Apa kau mengizinkan?"
"Iya Ayah" Tania mengangguk pasti.
__ADS_1
"Tania, apa kamu kuat nak. Maafkan ibu, Ibu saja belum tentu sekuat kamu Nia" Mata Diana berkaca kaca menatap Tania dengan iba.
"Bukankah izinku tak berarti sama sekali, tanpa izinku kalian tetap akan menikahkannya bukan?" Tania menarik nafas dalam.
"Dan aku memang harus kuat Bu. Apa aku harus menangis, meratap?" Kemudian Tania menyunggingkan senyum tipis.
Diana menghambur memeluk Tania, airmatanya bercucuran. Dia memeluk Tania sangat erat sambil sesegukan.
"Sudahlah Bu, jangan menangis. Nia tak apa kok bu"
"Kamu benar benar seorang bidadari anakku" Diana menciumi kening Tania. Mengusap punggung menantunya itu.
Tert tert ponsel Akmal berbunyi.
"Iya, Alhamdulillah"
"Oke Paman segera kesana"
"Diana, Omar sudah siuman. Nabila meminta kita kesana sekarang"
***
"Affandi, kau dari mana saja. Sudah tahu pekerjaan banyak begini kau malah menghilang. Di telpon tak diangkat" Alzyan benar benar gusar, ingin dia melempar balpoint pada wajah asistennya itu.
"Maaf tuan, saya sedang menemui penghulu"
"Apa kau akan menikah lagi ?"
"Bukan Tuan, bukankah tuan yang akan menikah lagi?"
"Apa?, siapa bilang aku akan menikah. Kau saja yang menikah !!"
"Saya sudah punya istri Tuan"
"Saya juga sudah punya istri, cantik, pintar, seksi. Tidak ada tandingannya kau tahu itu !"
"Tapi mengapa Tuan besar menyuruh saya mengurus pernikahan anda besok siang"
"Hh, jangan kau turuti. Aku atau dia boss mu sekarang ?" Alzyan ingin meledak saja rasanya saking kesalnya pada asistennya ini.
"Tapi dia bos besar, dia Tuan besar dan Presdir diperusahaan ini"
"Oke, kau kupecat tanpa pesangon !"
"Maaf tuan, jangan lakukan itu"
"Dan kau batalkan pernikahanku besok. Atau kau yang maju sebagai pengantin pengganti ?" Alzyan tersenyum menyeringai.
"Ampun tuan"
"Batalkan !, saya tidak mau menikah !"
"Baik Tuan" Affandi buru buru mengangguk, dia juga sebenarnya berat hati mengurus keperluan Alzyan yang akan menikah lagi. Dipikirnya hal ini sudah persetujuan dari Alzyan.
"Bagus, pergi sana"
Affandi segera meninggalkan ruangan itu, takut kena amarah Alzyan.
"Enak saja kau ingin menikahkan ku. Pernikahan ini tak akan terjadi. Apapun risikonya" Alzyan telah membulatkan tekadnya untuk menolak perjodohannya dengan Nabila.
__ADS_1
*****