Cinta Buat Kanaya

Cinta Buat Kanaya
Hanya Alzyan Dan Tania


__ADS_3

Alzyan berlari terengah menaiki tangga, ingin segera menemui istrinya. Sungguh ia kesal pada Tania, baru saja malam kemaren dia meminta pada Tania untuk mempertahankan dirinya. Nyatanya lagi lagi Tania memberikan dirinya pada wanita lain. Padahal Tania sendiri yang bilang takkan membiarkan orang lain merebut suaminya.


"Hhh, apa aku saja yang bucin sendiri. Apa Nia tak benar benar mencintaiku?"


Ceklek


Sepi


Alzyan mengedarkan pandangannya sekeliling kamar, lalu membuka pintu kamar mandi.


"Apa dibawah, tapi biasanya jam segini dia sudah tidur"


Dibawah tangga sudah menunggu bi Harti dengan wajah cemas.


"Mana Tania Bi?"


"Nyonya dirumah sakit Tuan, apa Tuan belum diberitahunya?"


"Belum, kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Karena Tuan langsung saja berlari keatas"


"Kenapa, apa dia sakit?"


"Perutnya sakit, dia disarankan dokter dirawat saja. Katanya kontraksi gitu Tuan"


"Astagfirullah, aku kesana sekarang"


"Nyonya dirawat diruang kebidanan Tuan"


"Oke, saya kesana" Alzyan berlari kembali keluar dan bergegas melajukan kembali mobilnya.


Setibanya diruang rawat kebidanan Alzyan berpas pasan dengan dr Evan yang hendak keluar.


"Evan, apa kamu yang merawat istri saya"


"Benar, kamu baru datang?" Dr Evan memandang Alzyan sinis.


"Tadi saya ada sedikit urusan. Bagaimana kondisinya ?"


"Masih kesakitan. Dia mengalami kontraksi, Tapi saya sudah memberinya obat, mudah mudahan kondisinya membaik"


"Mudah mudahan ya Allah"


"Jaga dia baik baik Tuan Alzyan, istrimu sepertinya stress" Evan pun berlalu.


Alzyan termenung sejenak, kemudian dia menuju kamar Tania. Alzyan mengucapkan salam namun tak ada jawaban. Dia membuka pintu yang tak berkunci.


Tania sepertinya sudah tertidur, dia berbaring miring menghadap kearah Alzyan.


"Kau sendirian pintu tak dikunci, ini sangat berbahaya Nia. Kenapa kau tak memberitahuku jika kau sakit".


Alzyan mendekati Tania dan duduk di bangku disamping tempat tidur Tania, Alzyan meraih dua tangan istrinya. Alzyan memandang cincin pernikahannya di jari manis tangan kanan Tania, dan dijari manis tangan kiri Tania ada cincin pemberiannya ketika melamar Tania di taman, saat pertama kalinya mereka bertemu.


"Hanya akan ada satu cincin pernikahan dan hanya ada satu cincin lamaran Tania" Alzyan mengangkat dua tangan istrinya menciumi jemarinya lalu mendekatkan tangan itu kedadanya. Merasakan itu Tania menggeliat dan membuka matanya.


"Mas kau disini?"


"Iya, mengapa tak memberitahuku kalau kau sakit ?"


"Aku pikir mas masih lembur, rencana akan kuberitahu nanti saja. Tapi aku ketiduran"


"Seharusnya kau memberitahuku cepat"


"Maaf" Tania menarik tangannya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini lagi ya?"


Tania mengangguk, lalu dia menatap wajah lelah suaminya.


"Mas sudah makan?"


"Belum, kamu sudah ?"


"Sudah, tadi bidan memberikanku makan malam. Mas makanlah, pulanglah kerumah"


"Pulang kerumah? yang benar saja. Kau sakit disini dan kau menyuruhku pulang?"


"Kau lelah mas, bidan bidan disini akan menjagaku dengan baik"


"Tania, aku suamimu aku yang akan menjagamu"


"Hemm, ya sudah aku juga tak melarang mas menjagaku"


"Aku pesan makanan ya, kau mau makan apa. Makananmu dari rumah sakit tak kau habiskan" Alzyan melihat piring makanan yang diberi rumah sakit, tak habis separuhnya pun.


"Nasi dan ayam goreng saja"


"Baiklah" Alzyan lalu memesan makanan.


"Besok jam berapa akad nikah mas dengan mba Nabila, maaf aku mungkin tak bisa melihatnya"


Alzyan pun tersenyum, dia benar benar lupa mengatakan bahwa dia telah membatalkan pernikahannya. Pikirannya fokus pada Tania, karena dia sangat mencemaskan istrinya ini.


"Aku tak akan menikahi Nabila, hanya kamu istriku selamanya Nia"


"Mas, aku mengizinkan kau menikah"


"Mas tak mau Tania"


"Mas aku ikhlas kok, aku tak apa"


"Mas bukan begitu, aku mencintai kamu mas"


"Dengar, aku sudah membatalkan pernikahanku didepan ayah ibu, paman Omar dan Nabila. Plis Tania, bukan hal mudah bagiku untuk menikah lagi. Kau mungkin ikhlas, tapi aku tak bisa. Menikah itu bukan hanya sekedar memberi nafkah saja. Lelaki dituntut harus adil, aku akan bertanggung jawab dengan dua istriku tak hanya didunia tapi juga diakhirat. Aku tak mau berpoligami bukan hanya sekedar karena aku terlalu cinta sama kamu. Aku bisa saja mencintai Nabila setelah kami menikah, tapi aku takut tak bisa adil Tania"


"Mas maafkan aku" Mata Tania mulai berkaca kaca.


"Mas bukan laki laki yang sempurna, mas sangat banyak kekurangan. Tapi mas ingin kau jadi pelengkap kekuranganku, kau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu"


"Mas maafkan aku, hik hik" Tania terisak menyadari kesalahannya. Alzyan memeluk tubuh istrinya yang bergetar karena tangisnya.


"Mas, bukan aku tak mencintaimu. Aku hanya takut membantah ayah dan ibu. Lagipula aku takut mas berdosa, bukankah laki laki boleh beristri lebih dari satu. Daripada berbuat maksiat lebih baik menikah lagi. Apalagi kita sering berjauhan"


"Tania, insya Allah mas mampu menundukkan pandangan mas dari yang tidak halal. Mas sudah cukup punya kamu. Kan sudah mas bilang, mas akan bawa kamu kemanapun mas pergi. Kamu itu milikku jadi ikut kemana suamimu. Paham?" Alzyan mencium pucuk kepala istrinya.


"Paham mas" Tania membenam kepalanya di dada suaminya. Dia semakin meringsek dalam pelukan suaminya.


"Jangan kau berikan lagi aku pada wanita lain, kau jahat sekali."


"Maafkan Nia mas" Tania masih sesegukan.


"Sudah mas bilang pertahankan milikmu, jangan selalu mengalah. Ayah dan ibu tak akan memaksaku menikah jika istriku keras mempertahankan miliknya. Mereka menyayangimu"


"Iya mas"


"Pertahankan cinta kita, jika tak bisa demi diri kita sendiri setidaknya pertahankan demi anak kita" Alzyan menciumi pucuk kepala istrinya berkali kali.


"Demi Kanaya mas"


"Hmm, sebelum lahir mas belum yakin itu Kanaya"

__ADS_1


"Iya juga ya mas"


"Masih sakit perutnya?"


"Agak berkurang setelah disuntikkan obat"


"Itu buktinya kau belum benar2 ikhlas, buktinya kau kepikiran dan stress. Belum lagi mas menikah kau sudah stress, bagaimana jika harus dijatah malamnya. Kau pasti tak akan sanggup"


"Ehmm" Tania merona karena malu.


"Jangan pura pura tegar"


"Nggak lagi kok mas"


"Jangan jangan kau kepikiran buat kabur lagi dari suamimu, ingin membesarkan anakmu sendiri. Kau ini benar benar perempuan sok kuat tapi diam diam menangis" Alzyan mencubit kecil hidung istrinya.


Muka Tania bertambah merah saja, Alzyan seakan tahu semua isi kepalanya.


"Tadinya memang begitu mas, tapi sekarang tidak lagi. Aku ingin membesarkan anak kita bersama. Tapi kamu salah mas, aku bukan perempuan sok kuat. Aku memang kuat !"


"Iya kamu kuat !" Alzyan membenarkan saja, dia tak ingin membantah istrinya.


"Janji jangan tinggalin aku ya, disini aku yang tak kuat. Aku tak kuat berjauhan denganmu. Jika bisa kau kukantongi saja, atau dilipat saja dimasukkan kedalam dompet biar mas bisa bawa kemana mana"


"Aihh mas, emangnya aku uang"


"Lebih berharga dari uang, lebih berharga dari perhiasan"


Tania mengeratkan pelukannya, dia tak ingin dilepaskan.


"Mas, tidur disini ya. Ranjang ini muat kok"


"Yakin, apa gak mau ditemanin bidan bidan disini ?"


"Nggak, aku mau kamu mas" Tania mendelik manja. Terdengar salam dari luar.


"Ish genit, eh itu sepertinya makanan kita". Alzyan lalu keluar mengambil pesanan makanannya dengan kurir.


Setelah menutup pintu kembali ponsel Alzyan berbunyi, dia menekan tombol hijau


"Iya Bu ada apa?"


"Tania katanya sakit, bi Harti menelpon ibu setelah ibu dirumah. Kau sama istrimu sekarang kan?"


"Iya Bu, aku sama Nia"


"Apa ibu perlu kesana?, ini semua salah ibu. Ibu telah membuatnya stress"


"Besok saja Bu, Tania ingin istirahat"


"Dia baik baik saja kan?, kau jaga dia baik baik !"


"Iya Bu, Nia baik baik saja. Doakan saja"


"Baiklah, sampaikan salam ibu dan ayah sama dia. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ibu dan ayah titip salam padamu" Alzyan duduk disisi ranjang.


"Waalaikumsalam, mas kau masih pakai baju pagi tadi.


"Iya, tak apa asam asam keringatku kamu suka kan?"


"Ihh" Tania mengerucutkan bibirnya .

__ADS_1


"Haha, Ayolah makan" Alzyan lalu menghidangkan makanan mereka. Mereka makan bersama dengan kebiasaan lama Alzyan sambil colek colek squisy miliknya.


*****


__ADS_2